
Sebenarnya Fayra sendiri yang mengatakannya merasa takut, tetapi dia sangat senang ketika menjahili suaminya sendiri.
"Loh, kenapa? Bukannya Kakak tadi sempat kepikiran mau menjadi seorang wanita, belum jika tiap bulan harus menghadapi datang bulan yang sangat menyakitkan, di tambah---"
Kharel yang sudah tidak mau mendengar langsung saja menyumpel mulut istrinya menggunakan es krim yang ada di hadapannya, sampai dia berhenti berbicara mengenai perihal perempuan.
Sampai akhirnya mereka makan bersama dalam keadan tertawa bahagia, karena sebentar lagi mereka akan menghadapi pintu gerbang kebahagiaan yang akan kembali hadir.
...*...
...*...
Beberapa bulan berlalu, kini usia kandungan Fayra sudah memasuki 7 bulan. Dia pun mulai perlahan terlepas dari kursi rodanya, meski tetap harus menggunakannya.
Saat ini perut Fayra mulai terlihat membesar, betapa bahagianya mereka semua, setelah mendapatkan kabar baik.
Semua orang sedang berkumpul di ruangan keluarga sambil menonton film, akan tetapi kefokusan mereka terbuyarkan akibat Fayra melihat sesuatu di dalam film tersebut.
"Astaga, kucing besarnya imut sekali Kak. Aaa, aku mau lihat Kakak memandikan kucing itu, boleh? Boleh dong, nahkan. Huhh, aku sudah tak sabar!" ucap dan jawab Fayra sendiri tanpa berpikir.
Kharel dan kedua orang tuanya yang baru saja mendengar Fayra mengatakan hewan ganas itu sebagai hewan yang imut, langsung reflek terkejut dan membolakan matanya.
"Ku-kucing i-imut?" ucap semuanya dengan wajah pelongo.
"Iya, kenapa? Diakan imut, lucu bahkan kalau mengaung aaa ... Rasanya ingin meluk, hihi ...." sahut Fayra tanpa beban sedikitpun.
"Sa-sayang, itu bukan kucing. Ta-tapi, raja hujan. Ba-bagaimana bisa kamu bilang kucing imut?" cicit Kharel.
"Ya biarin aja, 'kan dia sama kaya kucing. Hanya saja berbeda postur tubuh, tapi tingkahnya pun sama seperti kucing," balas Fayra, tak terima.
"Yayaya, terserah kamu aja. Mau bilang dia kucing kek, tikus kek, bahkan semut pun itu hakmu." ujar Kharel, menahan rasa kesalnya sambil tersenyum.
"Sabar ya, namanya juga Bumil. Pasti dia akan bersikap aneh, ikuti saja alurnya biar dia senang," ucap Mamah Xavia.
Kharel hanya bisa tersenyum mengangguk, lalu kembali menatap istrinya yang sedang menatap ke arah layar tv.
__ADS_1
Papah Jerome, dia hanya menggelengkan kepalanya tersenyum menyaksikan anaknya bisa berada seperti dia dahulu.
Fayra yang duduk seorang diri di kursi tunggal hanya bisa merasa gemas, ketika menatap singa yang sedang berlari bagaikan seorang pembalap handal.
Disaat semuanya sedang kembali menatap film, perkataan Fayra lagi-lagi berhasil membuatnya terkejut.
Namun, kali ini berbeda. Kharel benar-benar tak menyangka istrinya bisa mengatakan semua itu dengan lantang, tanpa sedikitpun adanya keraguan untuknya.
"Huaa, Kakak! Fayra mau dong lihat Kakak kaya
orang yang ada di dalam film itu, Kakak bisa mandikan Simba terus juga Kakak bisa menggosokan gigi dolphin. Aaaa, Fayra mau lihat itu hiks ...."
Fayra menangis secara tiba-tiba tanpa sebab, hanya karena menginginkan sesuatu yang sangat langka. Entah mengapa kali ini berat sekali rasanya buat Kharel untuk menjalankan semua apa yang istrinya minta.
"Ka-kamu serius, Sayang? Kalau kamu menginginkan suamimu melakukan hal itu?" tanya Mamah Xavia, menegaskan perkataannya.
"Sudahlah, tak masalah. Namanya juga orang hamil, turutin aja permintaannya dari pada nanti cucu kita ngences 'kan bahaya. Aku tidak mau ya, punya cucu yang pandai membuat pulau. Aku cuman mau punya cucu yang pandai dalam bidang pendidikan dan juga bertarung!"
Perkataan Papah Jerome membuat Fayra menganggukan kepalanya, dia setuju dengan mertuanya itu. Akan tetapi, Mamah Xavia begitu berat untuk menyaksikan kekejaman Fayra pada suaminya.
Akhh, rasanya Kharel ingin le*nyap dari dunia ini sebentar saja. Supaya tidak melakukan hal aneh itu pada hewan-hewan yang begitu berbahaya.
Kharel mendekati istrinya, kemudian memeluknya dengan erat mencoba menenangkannya sambil mengatakan sesuatu, yang membuat Fayra menggelengkan kepalanya.
"Sa-sayang, apakah tidak bisa di ganti saja dengan memandikan kucing Anggora, kucing kampung, jucing persia, atau kucing lainnya gitu. Asalkan jangan kucing hutan yang besar itu!" ucap Kharel dengan wajah yang mulai memucat.
"Hiks, tidak. Aku tidak mau, kalau Kakak mau mandikan kucing-kucing itu silakan aku tak masalah. Aku cuman mau kucing hutan yang imut itu, kalau Kak Kharel enggak mau ya sudah aku biar Papah Jerome saja yang melakukannya. Yakan, Pah?"
Fayra benar-benar hampir saja membuat Papah Jerome jantungan, akibat mendengar perkataannya yang bertingkah sangat di luar ekspetasi. Begitu juga dengan Mamah Xavia, dia malah tertawa saat melihat wajah refleks suaminya yang terkejut.
Sementara Kharel, dia merasa lega ketika semua beban hidupnya di limpahkan pada Papahnya. Ya, dibilang kejam sih kejam. Cuman itulah yang dinamakan senjata makan Tuan.
Sebenarnya Fayra seperti ini semua karena ulah Papah Jerome, dialah yang memanas-manasi Fayra agar mau memonton film hewan. Dimana Papah Jerome mengandalkan berbagai cara, supaya anaknya merasakan apa yang Papahnya rasakan dahulu.
Sebelum Fayra meminta ini, Mamah Xavia juga pernah. Bahkan lebih sa*dis dari pada Fayra. Yaitu, Papah Jerome harus memotong kuku beruang serta berpelukan pada Gorila yang hampir membuat nyawa Papah Jerome melayang. Saking eratnya Gorila itu memeluk dirinya, hampir membuat napasnya hilang.
__ADS_1
"Papah mau 'kan melakukan itu semua buat cucu tersayang, kasihan loh, Babynya mau melihat Papah dan Opanya melakukan semua itu bersamaan. Boleh?" ucap Fayra, matanya berbinar.
"Yaakk, ke-kenapa harus Papah sih. Ke-kenapa tidak Kharel saja sendiri? Pa-papah 'kan sudah tua, mana mungkin Papah bisa melakukan semua itu. Yang ada nanti Papah bisa jantungan, mod*dar langsung lewat gimana?" jawab Papah Jerome, takut bercampur kesal.
"Tak masalah, Papah 'kan melakukannya berdua sama anak. Ingat loh, ini semua demi cucu!" jawab Mamah Xavia, dengan wajah menggodanya.
"Nah, benar tuh apa yang dikatakan Mamah. Ini juga demi cucu Papah, 'kan Papah sendiri yang barusan mengatakan kalau Papah enggak mau punya cucu pintar membuat pulau. Jadi kalau enggak mau itu ya Papah harus bantu Kharel, ayolah Papah tampan, baik dan juga pemberani."
Kharel berusaha merayu Papahnya yang membuat Papah Jerome merasa kesal, dia awalnya ingin menjebak anaknya supaya merasakan apa yang dia rasakan dulu. Akan tetapi dia oula yang terjebak di dalamnya.
Ya, sudah. Mau tidak mau, Papah Jerome hanya bisa mengatakan bahwa dia mau hanya saja dia cuman untuk menemani bukan untuk melakukannya.
"Okay, Papah mau. Asalkan Papah hanya menemani Kharel ya, tidak untuk melakukan semua yang kau mau!" ujar Papah Jerome, menatap engah.
"Hem, gimana ya?" tanta Fayra berpikikr.
"Akhhh, ti-tidak bisa begitu dong. Itu namanya tidak adil!" bantah Kharel, tak terima.
"Isshh, Kakak ini. Aku 'kan awalnya menyuruh Kakak, bukan Papah. Gimana sih, dahlah kalau kalian enggak mau biar aku saja yang melakukannya sendiri. Bye!"
Baru saja Fayra mau berdiri meninggalkan ruangan keluarga, tangan Kharel langsung menahannya dan kembali membuatnya duduk.
"Okay, aku yang melakukannya. Tapi, jangan lupa jatahku di tambahin ya." jawab Kharel, menaikan alisnya.
"Siap, nanti aku tambahin tenang. Tambahin buat Kakak mengasih makan buaya di dalam kandangnya. Gimana?" ucap Fayra, membuat mertuanya seketika menahan tawanya.
"Prrrfftt ..."
"Yaak, tidak! Aku tidak mau, udah cukup itu saja. Yang ada bisa-bisa aku ma*ti muda akibat jantungan, baru mau punya anak aja ribet banget. Tahu gini, mah udahlah kali ini aja untuk yang pertama dan terakhir kamu hamil. Enggak lagi-lagi!"
"Akhh, masa iya? Yakin, nanti pas melakukannya ketagihan gimana? Terus bablas, hahah ...."
"Aaaa, Mamah!"
"Bhuaaha ...."
__ADS_1
Semua tertawa ketika melihat wajah Kharel yang sedang ketakutan, bercampur malu akibat Mamahnya selalu saja menggodanya.