Learn to Love You

Learn to Love You
Kekecewaan Kedua Orang Tua Alena


__ADS_3

Dia masih tidak percaya, jika anak yang selama ini mereka banggakan akibat kecantikan, prestasi serta kecerianya kini telah mencoreng nama besar keluarga.


Kehamilan Alena yang diluar nikah, adalah suatu mimpi buruk bagi kedua orang tuanya. Mereka masih tidak menyangka jika anaknya bisa mengandung seorang bayi tanpa Ayah.


...*...


...*...


Kedua orang tua Alena sudah mulai menerima semua kejadian yang sangat mengejutkan. Mereka duduk disofa panjang, menatap lurus kearah bangkar dengan pandangan kosong.


Pikiran keduanya sama-sama kalut didalam alunan emosi yang semakin menggebu. Rasa kecewa, kian berhasil menggoreskan luka cukup mendalam bagi keduanya.


Disaat Alena sudah mulai tersadar, dia perlahan mengerjapkan kedua matanya sambil memijit pelipis. Dimana rasa pusing berkepanjangan membuat Alena tidak menyadari, bahwa dia sedang berada dirumah sakit.


Kedua orang tua Alena masih enggan untuk mendekati bangkar sang anak, lantaran rasa kecewa masih menyelimutinya. Mereka hanya duduk manis menatap gerak-gerik Alena.


"Siapa yang sudah membuatmu menjadi seperti ini?" tegas Papahnya, dingin.


Mendengar suara cukup menakutkan, Alena langsung membuka kedua matanya langsung mencari sumber suara tersebut.


Setelah menemukannya, betapa terkejutnya Alena saat melihat kedua orang tuanya duduk dalam keadaan wajah sangat datar.


"Pa-papah, Ma-mamah? Ka-kalian kenapa? Dan i-ini Alena ada dimana? Bukannya tadi aku masih di rumah?" ucap Alena, terbata-bata penuh kegelisahan.


"Papah bilang, siapa yang sudah melakukannya, Alena!" tegas Papahnya, suaranya mulai meninggi.


Alena mendapat sebuah bentakkan langsung terkejut bukan main, lantaran baru pertama kali dia bisa melihat kedua orang tuanya bersikap seperti ini.

__ADS_1


Semarah-marahnya Papahnya, Alena tidak pernah mendapatkan sebuah bentakkan seperti saat ini.


Wajah pucat, panik, takut dan juga gelisah kini terlihat jelas diwajah Alena. Dia sangat tidak menyangka, bahkan juga bingung. Sebenarnya kesalahan apa yang sudah dia berbuat sampai membuat kedua orang tuanya seperti ini.


"Ma-maksud Pa-papah a-apa? A-alena tidak mengerti. Me-memangnya Alena bu-buat salah apa, sampai Papah semarah ini?" jawab Alena, bibirnya mulai bergetar.


"Tidak usah banyak basa-basi lagi, Pah! Anak itu memang harus dikasih hukuman, karena dia sudah mencoreng nama baik keluarga!" sahut Mamahnya, sudah tidak bisa menahan emosinya.


"Papah sama Mamah kenapa? Ada apa sih sebenarnya ini, kenapa juga Alena ada di rumah sakit?" tanya Alena, penasaran.


"Kamu nanya, kenapa kamu bisa ada di sini, hahh! Apa kamu sudah lupa, apa yang sudah kamu lakukan sebulan yang lalu? Sehingga tanpa kamu sadari, kamu sudah mencoret nama keluarga kita. Paham!" tegas Papahnya, matanya membola besar penuh emosi.


"Me-mencoreng nama keluarga? Ma-maksudnya gimana sih, Pah. Alena bingung, terus juga kesalahan apa yang Alena lakukan 1 bulan yang lalu. Sampai kalian bisa semarah ini."


Alena berbicara sambil duduk diatas bangkar, menatap kedua orang tuanya yang saat ini terlihat begitu marah dan juga emosi.


"Dasar anak tidak tahu diri!" teriak Mamahnya, sambil melambungkan tamparan yang cukup membekas dipipi Alena.


Plak!


"Mamah!" pekik suaminya, langsung mencoba menarik tangannya. Lalu memeluknya bgitu erat, sedangkan Alena memegangi pipinya sambil menangis.


"Mamah jahat! Ini baru pertama kalinya Mamah nampar Alena. Emangnya apa salah Alena, hahh! Apa!" teriak Alena, penuh amarah.


"Awwwshh, argghh!" sambung Alena sambil memegangi perutnya.


Melihat Alena mencekram kuat perutnya membuat Mamahnya langsung menahan tangan Alena sekuat mungkin.

__ADS_1


"Stop, Alena. Stop! Jangan lakukan itu, karena di dalam perutmu itu ada anak yang tidak berdosa!"


Degh!


Perkataan Mamahnya berhasil membuat Alena terdiam mematung. Dia masih mencerna ucapan sang Mamah, dalam keadaan mata menatap lurus ke arah depan dengan pandangan kosong.


Kedua orang tua Alena, perlahan mencoba untuk membaringkan Alena. Lalu memanggil dokter untuk mengecek keadaan bayinya, karena mereka takut jika cengkraman tangan Alena membuat bayi tak berdosa merasakan kesakitan.


Selang beberapa menit, disaat Alena sudah diperiksa oleh seorang dokter. Tak lama dokter pun keluar bersamaan dengan Mamahnya Alena yang duduk di kursi samping bangkar.


"Ma-maafkan Mamah, Sayang. Mu-mungkin Mamah sudah keterlaluan sama kamu, ta-tapi sungguh. Mamah tidak bermaksud untuk menampar kamu. Se-semua itu spontan, lantaran Mamah kecewa sama kamu hiks ...."


Sang Mamah memegang tangan Alena, menempelkannya dipipinya sambil tangan satunya mengelus pipi Alena.


Dimana terlihat betapa syoknya Alena, setelah mendengar jika dirinya sedang mengandung seorang bayi yang tidak pernah dia harapkan.


"Ma-mah, a-apa be-benar A-alena ha-hamil?" gumam lirih Alena, menoleh ke samping menatap kedua orang tuanya secara bergantian.


Air mata Alena menetes bersamaan dengan rasa sesak didalam dadanya, bahkan detak jantungnya pun berpacu cepat bagaikan adu lomba lari.


Kedua orang tua Alena menatap satu sama lain, lalu mereka mengangguk pelan sambil menatap wajah anaknya.


Bulir-bulir air mata seketika kembali menetes di wajah kedua orang tua Alena, akibat rasa sakit yang ada didalam hatinya ketika melihat kondisi anaknya.


Isak tangis Alena pecah dan terdengar sangat memilukan. Dia tidak menyangka bahwa kejadian 1 bulan lalu, berhasil membawa petaka bagi kehancuran masa depannya.


"Arrrghhhh, si*al!" teriak Alena memukul keras perutnya, dia tidak terima sama mimpi buruk yang saat ini terjadi padanya.

__ADS_1


Seharusnya ini bukanlah kejadian yang menimpa dirinya, tetapi karena nasib ketidak beruntungannya selalu berpihak padanya. Sehingga membuat Alena benar-benar hancur sehancur hancurnya.


__ADS_2