
Sementara mereka melihat Kharel dari jarak jauh di dalam mobil, hanya bisa tertawa ketika Kharel memakai kostum badut bersama yang lain cuman untuk berjoget menghibur serta mengamen.
Dan kini, berakhirlah sudah misi Kharel untuk membuat istri serta anaknya senang. Jadi tidak perlu lagi Kharel harus repot-repot kembali ke kandang singa yang menyebalkan itu.
...*...
...*...
Hari selalu berganti, dan saatnya usia kandungan Fayra sudah memasuki hari kelahirannya. Hanya tinggal menunggu hari dan juga rasa mulesnya, maka Fayra bisa membawa anaknya untuk hadir ke dunia.
Hari ini adalah hari yang sangat spesial untuk Kharel, karena dia akan meresmikan suatu Perusaan kecantikan terbesar yang sangat menguntungkan bagi bisnisnya.
Hanya tinggal menggunting sebuah pita untuk meresmikannya, tetapi dia malah mendapatkan berita dari asisten pribadinya jika saat ini Fayra sedang dilarikan ke rumah sakit karena dia sudah merasakan mules.
Artinya sebentar lagi Kharel akan menyambut kehadiran anaknya, yang selama 9 bulan ini dia tunggu-tunggu.
Tanpa berpikir panjang, Kharel meninggalkan acara yang sangat berarti di dalam bisnisnya itu hanya untuk segera bertemu dan menemani istrinya.
Beberapa media serta wartawan selalu memberikan perkataan yang membuat nama Kharel menjadi jelek. Akan tetapi asisten Kharel segera mengklarifikasi semuanya, kalau Tuannya pergi bukan karena dia tidak profesional. Melainkan karena dia sangat mengkhawatirkan kondisi istrinya yang sedang berjuang demi anaknya.
Meskipun banyak orang yang beranggapan negatif tentang Kharel, tetapi masih banyak orang yang menganggap bahwa Kharel adalah suami yang sangat hebat.
Dia rela kehilangan apapun, kecuali istri, anak dan keluarganya. Disini membuktikan betapa besarnya rasa cinta Kharel kepada Fayra, melebihi rasa cinta Kharel kepada dirinya sendiri.
Rumah sakit yang sangat terkenal ini merupakan rumah sakit yang Kharel bangun, supaya kelak akan memudahkan keluarganya yang terkena sakit.
Fayra di bawa oleh Mamah Xavia dan juga supirnya ke rumah sakit, tak lama Papah Jerome menyusul ke rumah sakit untuk menemui istri dan juga menantunya.
Saat ini Fayra sudah di tangani oleh dokter spesialis yang selalu mengecek keadaannya dan anaknya, sampai kurang lebih 1 jam. Kharel datang dalam kondisi gelisah dan langsung memeluk Mamahnya.
"Mah, bagaimana keadaan Fayra dan anakku? Apakah mereka baik-baik saja?" tanya Kharel, matanya mulai di penuhi oleh air mata sambil melepaskan pelukannya.
"Mamah belum tahu, Rel. Fayra masih di dalam, tadi dokter bilang masih pembukaan 7. Mamah enggak kuat kalau harus membayangkan Fayra seorang diri di dalam menahan semua rasa sakitnya."
__ADS_1
"Mamah mohon kamu bantu Fayra ya di dalam. Kuatkan dia dan terus beri dia semangat untuk tetap berjuang. Tadi dokter udah bilang jika kamu sudah datang langsung masuk aja, biar istrimu bisa membagi rasa sakitnya sama kamu."
Mamah Xavia menjelaskan, bahwa sebenarnya dari tadi sang dokter sudah menunggu ke datangan Kharel. Begitu juga Fayra yang selalu memanggil namanya, semua itu karena Fayra tidak tahu harus bagaimana.
Ini adalah pengalaman pertama untuknya bisa melahirkan seorang anak, sehingga ada rasa ketakutan dan juga ragu di dalam hatinya. Apakah dia bisa melakukannya seperti yang lain, atau tidak?
"Sudah jangan kebanyakan berpikir, cepat bantu istrimu di dalam!" titah Papah Jerome dengan suara beratnya.
Kharel yang awalnya bingung, gelisah dan juga takut. Mau tidak mau segera memasuki ruangan dengan tergesa-gesa.
"Ma-maaf, a-aku telat." ucap Kharel saat melihat cairan merah sudah ada dimana-mana.
"Syukurlah, Tuan sudah datang. Mari Tuan, berikan istrimu semangat agar dia bisa melewati semua ini."
"Sudah saatnya anak kalian bertemu dengan kalian, jadi saya mohon bantuannya Tuan. Buatlah Nyonya Fayra agar bisa lebih tenang lagi, jika dia terus seperti ini napasnya tidak akan kuat. Itu malah akan membahayakan anak kalian yang ada di dalam."
Degh!
Penjelasan dokter berhasil membuat Kharel berpikir keras. Satu sisi dia sebenarnya sudah mulai pusing saat melihat cairan merah itu, tapi di sisi lain dia tidak tega mendengar jeritan serta tangisan istrinya yang sangat menggetarkan hatinya.
Suara lantang sang dokter berhasil membuat Kharel tersadar, bahkan segera mungkin dia mengesampingkan segala apa yang ditakutkan untuk menjadi kekuatan bagi istrinya.
Kharel berlari dengan cepat, lalu menggantikan sang suster memegang tangan istrinya dan kemudian Kharel menatapnya dalam-dalam dengan air mata yang berjatuhan.
Badan lemas, kepala kunang-kunang membuat Kharel rasanya sudah tidak kuat lagi. Akan tetapi, demi istri dan anaknya Kharel berjuang melawan semua itu.
"Ka-kakak? Ke-kenapa arghh, Kakak ada di sini? Huhh, huhh, arrghh hiks ... Bu-bukannya Kakak takut--"
"Sstt, apapun rasa takut yang ada di dalam diriku ini akan aku lawan sekeras mungkin demi kamu dan anak kita. Aku tidak akan membiarkanmu berjuang seorang diri, kita akan berjuang sama-sama demi anak kita. Jika kamu sakit, maka aku juga akan sakit. Jika kamu bahagia maka aku akan jauh lebih bahagia."
"Pokoknya kita lewati semuanya bersama, apapun itu aku akan tetap selalu ada di sampingmu. Jadi ayo kita semangat demi anak kita, kabulkan doa dia untuk segera bertemu kita. Ingat, Sayang. Perjuanganmu sebagai seorang Ibu akan jauh lebih berat, jadi berikan setengah beban itu padaku supaya kita sama-sama untuk memikulnya."
"Sekarang kamu fokus untuk mengatur napasmu sesuai dengan apa yang dokter pernah ajarkan. Ikuti setiap aba-aba yang dokter berikan agar anak kita bisa segera bertemu dengan kedua orang tuanya."
Fayra yang mendengar perkataan suaminya benar-benar membuat hatinya sangatlah beruntung. Dia tidak menyangka bahwa Kharel mampu melawan rasa takutnya pada cairan merah tersebut hanya demi menemaninya berjuang.
__ADS_1
Kharel mengelap setiap keringat istrinya, lalu mencium keningnya berulang kali sambil menempelkan dahinya sesekali melihat ke arah perut Fayra yang semakin ke bawah.
"Nah, bagus Nyonya. Ayo atur napasnya perlahan, lalu tarik napas yang dalam dan keluarkan dari mulut secara perlahan."
"Setelah itu jika saya hitung 1 sampai 3 maka di hitungan ke 3, Nyonya langsung bantu dorong Babynya tanpa mengangkat bokong ya. Semuanitu agar tidak membuat robekan jalan keluar bayi semakin melebar."
Fayra mengangguk ketika mendengarkan perkataan sang dokter yang mengintip dari sela kedua kakinya sambil melihat pembukaan tersebut.
"Huhh, huhh, huh ...."
"Sa-sakit, Dok. Arghh, hiks ... Huhh, Kak. Sa-sakit, i-ini sangat menyakitkan hiks, a-aku tidak kuat arghhh ...."
Kharel menggelengkan kepalanya cepat, dia lagi-lagi memberikan semangat kepada istrinya meski tubuhnya sudah mulai melemas.
"Tidak, Sayang. Jangan menyerah, sedikit lagi anak kita akan bertemu dengan kita. Please, jangan patahkan impian anak kita. Aku tidak mau hal buruk terjadi pada kalian, aku mohon kuat Sayang, kuat!"
Kharel menangis sambil mencium serta menggenggam tangan istrinya begitu erat. Tanpa di sangka sang dokter tersenyum ketika melihat kepala sang Baby sudah mulai terlihat, hanya tinggal satu dorongan maka buah hati mereka akan segera hadir.
"Ayo, semangat Nyonya. Ini kepala anak kalian sudah terlihat. Jadi ikuti aba-aba saya, dalam hitungan ke 3 Nyonya dorong yang kuat tanpa mengangkat bokong. Mengerti?"
Fayra menatap Kharel, dia mengangguk membuat Fayra itu mengangguk di dalam rasa kesakitan yang luar biasa.
"1, 2, dan 3. Dorong Nyonya, ayo! Nyonya pasti bisa, semangat buat bantu Babynya keluar. Ayo Nyonya lakukan sekarang!" titah sang dokter yang sudah berancang-ancang segera menolong sang Baby.
"Arrrrghhhhhhh ...."
Satu teriakan keras bergema di ruangan itu dengan suasana terharu ketika melihat anak mereka lahir dengan suara yang sangat nyaring.
Oweekk, oweekk, oweekk ...
Wajah bahagia Fayra terlihat jelas, meski napasnya masih tidak beraturan. Tetapi, berbeda dengan Kharel. Dia terlihat pucat dan mulai berkeringat dingin saat melihat anaknya masih diselimuti oleh cairan merah.
Sang dokter segera menyuruh suster untuk membersihkan Babynya agar bisa di berikan kepada kedua orang tuanya.
Namun, ada satu kejadian yang membuat semuanya terkejut. Awalnya keadaan sudah mulai tenang, tetapi kembali menjadi panik saat kejadian itu berhasil mengundang wajah bahagia berubah menjadi penuh kecemasan.
__ADS_1