Learn to Love You

Learn to Love You
Berpura-pura Menjadi Kekasih


__ADS_3

Melihat wajah Fayra penuh kekesalan, hasam dan juga emosi. Berhasil membuat Kharel tertawa puas didalam hatinya, senyum-senyum kecil hampir terlepas dari bibirnya. Rasanya Kharel tidak kuat lagi menahan rasa geli di perutnya, saat dia telah berhasil mengerjai mahasiswinya sendiri.


Entah itu sifat Kharel dari mana, karena seumur-umur Kharel tidak sedikitpun memiliki sifat seperti itu. Dia lebih kearah kalem, pendiam dan juga sangat dingin.


Cuman setelah bertemu dengan Fayra, kehidupannya perlahan mulai berubah. Sampai Kharel belum menyadari bahwa kejahilannya merupakan satu tanda, jika dia sudah mulai menaruh hati kepada wanita yang saat ini berada dihadapannya.


"Nyenyenye, dahlah cepat! Apa yang Bapak minta dari aku?" Fayra mencibir Kharel dengan wajah kesalnya seolah sedang meledek dirinya.


"Hem, apa ya?" ucap Kharel, berpikir.


"Udah enggak usah pura-pura berpikir, cepat katakan. Sebelum aku menarik semua kata-kataku tadi!" ancam Fayra, tatapan sedikit menajam.


"Saya mau, kamu berpura-pura menjadi kekasih saya didepan keluarga saya sampai saya mendapatkan pendamping hidup yang sesungguhnya. Gimana?"


Degh!


Seketika jantung Fayra terhenti beberapa menit, dan kembali bekerja dengan sangat cepat. Rasanya Fayra seperti sedang merasakan serangan jantung secara mendadak. Yang berhasil membuat napasnya memburu dan juga dadaknya terasa sangat menyesakkan.


"A-apa yang Bapak katakan tadi?" ucap Fayra terbata-bata. Dia masih tidak percaya jika seorang dosen bisa mengatakan hal seperti itu kepada mahasiswinya secara langsung.


Apa lagi Fayra merupakan anak baru, sehingga dia belum mengenal Kharel seperti mahasiswa/i lainnya yang hampir semuanya mengetahui dibalik sosok Kharel.


"Ya, selama ini orang tua saya sudah meminta saya untuk mencari pasangan. Akan tetapi, saya belum bisa mendapatkan wanita yang memang menjadi pilihan saya sendiri."


"Sampai pada akhirnya sehari sebelum kejadian ini, kedua orang tua saya memberikan waktu 3 hari. Jika tidak menemukan wanita pilihan saya, maka saya harus siap menerima perjodohan yang sama sekali tidak saya inginkan."


Kharel menjelaskan dibalik permintaannya ternyata tersimpan sebuah paksaan atas kehendak kedua orang tuanya. Bahwa mereka akan menjodohkan anaknya dengan pilihannya, sama halnya seperti apa yang Fayra rasakan.


Semua ingatan tentang perjodohan itu kembali terulang didalam ingatan Fayra, dimana dia awalnya sangat senang ketika orang yang dijodohkan adalah seorang pria yang sangat dia cintai.

__ADS_1


Namun, semakin kesini Fayra semakin sadar jika cinta yang didasari dengan paksaan tidak semuanya berjalan dengan mulus. Ya memang ada beberapa dari mereka yang berhasil, dan ada pula sebagian dari mereka yang gagal.


Itulah cinta, mudah ditebak, tetapi sulit untuk dipahami. Mudah di katakan, tetapi susah untuk dirasakan. Dan mudah memilih, tetapi tidak selamanya benar.


Kharel perlahan membuka diri untuk menceritakan kejadian sehari hari sebelum pasca kecelakaan itu.


Entah mengapa, Kharel merasakan bahwa Fayra ini adalah wanita yang dia cari. Wanita yang bisa melakukan sandiwara didepan hadapan keluarganya, sampai dia menemukan kekasih pilihan hatinya.


...***Flashback***...


Beberapa bulan yang lalu, Kharel dibuat pusing oleh tingkah kedua orang tuanya yang semakin hari semakin menjadi. Mereka merencanakan makan malam disebuah Restoran ternama, disaat Kharel baru saja pulang dari luar kota untuk mengurus bisnisnya.


Awalnya hanya makan malam biasa, tetapi tiba-tiba ada seorang wanita cantik masuk ke ruangan VVIP dengan segala bentuk tubuh yang sempurna, hiasan wajah yang menarik dan juga senyuman yang cukup manis.


Pada saat itu Kharel terkejut, karena itu merupakan ruangan privasi bagi mereka. Cuman setelah kedua orang tuanya mengatakan bahwa wanita itu adalah wanita yang akan dijodohkan. Tanpa basa-basi Kharel langsung menolak keras semua itu, tepat di hadapan wanita itu dengan suara lantangnya.


Kedua orang tua Kharel juga tidak bermasud untuk menjodohkan Kharel dengan wanita pilihan mereka. Akan tetapi diusia yang sudah sangat matang ini seharusnya Kharel memiliki istri dan juga anak. Sehingga kedua orang tuanya tidak akan merasakan kesepian dimasa tuanya.


Selang beberapa bulan, dan tepat 1 hari sebelum kecelakaan. Kedua orang tua Kharel kembali berulah, disaat malam hari, mereka sedang berkumpul di ruang keluarga tiba-tiba salah satu dari kedua orang tuanya membuka pembicaraan lebih dulu.


"Rel, kapan kamu memperkenalkan seorang wanita kepada kami? Ini sudah berjalan selama 2 bulan lebih, dan Minggu depan sudah finish."


"Apakah kamu akan menikah dengan pilihanmu, atau pilihan kami sesuai dengan perjanjian kita pada waktu itu. Jika kamu hanya membutuhkan waktu selama 3 bulan untuk mendapatkan seorang wanita pilihanmu. Jika itu gagal, konsekuensinya kamu harus menikah dengan pilihan kami!"


Seorang pria paruh baya yang masih terlihat begitu tampan berbicara sangat tegas berusia 52 tahun, bernama Khandra Jerome Philibert. Adalah Papah dari Kharel, selaku Rektor atau pemilik University terkenal.


Papah Jerome merupakan orang tua yang sangat menginginkan kehadiran seorang menantu dan juga cucu untuk anak semata wayangnya. Karena semakin kesini Papah Jerome semakin melihat anaknya seperti tidak tertarik dengan seorang wanita.


Beberapa kali Papah Jerome mengenalkan Kharel, sampai menjodohkannya. Akan tetapi, semuanya tidak ada yang berhasil. Kharel menolak semua pilihan orang tuanya menggunakan ucapan yang sopan, dan penuh penegasan.

__ADS_1


Walaupun perkataannya tidak bermasud untuk menyakiti siapapun menurut Kharel, cuman berbeda menurut wanita itu. Mereka merasa sakit hati, ketika harapannya yang tinggi seketika dihempaskan begitu saja.


"Papah enggak usah khawatir, aku sudah menemukan wanita itu. Jadi tidak perlu repot-repot untuk mencarikannya lagi!" jawab Kharel, dingin tanpa ekspresi.


"Jika memang kamu sudah menemukannya, kenapa enggak langsung di bawa ke sini? Kenapa harus nunggu waktumu habis dulu, baru kamu membawanya?"


Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda dan juga cantik, langsung menimpali ucapan suaminya. Seorang wanita bernama Xavia Fidelya Philibert dengan usia 50 tahun. Merupakan Mamah dari Kharel


"Ya gapapa, kalian tunggu aja tanggal mainnya. Ya sudah Kharel mau ke kamar dulu udah ngantuk. Selamat malam!" ucap Kharel langsung bangkit dari kursinya, lalu melangkah pergi dalam keadaan wajah sangat datar.


"Ingat, Rel. Kalau sampai kamu bohong, terima resikonya sendiri. Papah dan Mamah tidak akan main-main, karena semakin kesini usiamu semakin matang. Paham kamu!" tegas Papah Jerome.


"Harusnya kamu itu malu, disaat semua temenmu sudah menikah dan juga memiliki anak. Sedangkan kamu malah sibuk dengan urusan pekerjaan, seperti pria yang tidak menyukai lawan jenis!" sambung Mamah Xavia.


Teriakan tegas dari kedua orang tua Kharel, sama sekali tidak membuat langkah Kharel terhenti dan menjawab ucapan mereka.


Kharel malah semakin mencepatkan langkah panjangnya menaiki anakan tangga menuju kamarnya. Setelah itu Kharel membanting tubuhnya keatas ranjang dalam keadaan kesal.


Sebenarnya dia belum menemukan wanita yang cocok untuknya, meskipun beberapa kali Kharel berusaha mencari. Cuman semua itu nihil, tidak ada satu pun wanita yang masuk kedalam kategori pilihan hatinya.


Namun, disaat Kharel sedang berpikir bagaimana caranya dia mendapatkan seorang wanita dalam waktu dekat. Tiba-tiba dia terpikir 1 nama yaitu Fayra, mahasiswi yang membuatnya penasaran.


Entah mengapa Kharel malah kepikiran untuk membuat Fayra supaya mau membantunya, agar bisa terlepas dari semua jeratan perjodohan ini.


...***Flashback Off***...


Dari situlah Kharel mulai mencari cara untuk bisa membuat Fayra mengerti, tetapi siapa sangka. Takdir malah mempercepat pertemuan mereka Dan dengan mudahnya Kharel, mengatakan semua itu tanpa adanya rasa malu, gugup serta canggung dihadapan Fayra.


Sementara Fayra masih terdiam mencerna semua kisah Kharel yang hampir sama dengannya. Hanya saja bedanya Kharel tidak mencintai wanita yang akan dijodohkan, berbeda sama Fayra yang sudah mencintainya sebelum perjodohan terlaksana.

__ADS_1


__ADS_2