Learn to Love You

Learn to Love You
Kita Buat Dedek?


__ADS_3

"Pokoknya aku mau, kamu marahin aja aku dengan semua perkataan kasarmu itu, kalau perlu pukul aku sekeras-kerasnya. Aku tak masalah,"


"Asalkan jangan diam seperti ini, sakit rasanya melihat kamu tidak mau membuka suara. Berasa aku ini sudah tidak pent---"


Cup!


Satu ciuman mendarat tepat di pipi kiri Kharel yang membuat Kharel menghentikan ucapannya, lalu matanya membola dan refleka langsung menoleh kearah Fayra.


Perlahan Fayra melepaskan kedua tangn suaminya yang melingkar di perutnya. Lalu, tubuhnya memutar menghadap ke arah Kharel.


"Stop perbicara seperti itu, aku tidak mau lagi mendengar perkataan buruk itu!"


Fayra membenarkan kerah Kharel yang sedikit berantakan, lalu kembali menatap mata suaminya.


"Jika boleh jujur, aku memang kesal dengan Kakak, karena baru segitu saja sudah mengeluh. Bagaimana nanti, kalau Kakak setiap hari mendapatkan perlakuan seperti itu dariku, hem?"


Fayra mengalungkan kedua tangannya di leher Kharel sambil kedua sediki menarik tengkluk leher suaminya agar wajah mereka bisa lebih dekat lagi.


"Terus, apa Kakak akan semudah itu mengeluh dengan semua sikap burukku nanti? Atau Kakak akan mudah mengeluh setiap kali Kakak menghadapi masalah?"


"Ingat, Kak. Kita memang boleh mengeluh, tetapi kita tidak boleh sampai mengutarakannya. Jika itu terjadi, sama saja kita menyerah dengan keadaan. Cukup kita dan hati yang tahu, selebihnya kita harus tetap semangat!"


"Sekarang Kakak lihat aku, mau bagaimanapun Kakak, seperti apapun Kakak, aku tetap memeluk Kakak, memegang tangan Kakak tanpa sedikitpun rasa mengeluh. Semua itu aku lakukan karena aku cinta sama Kakak!"


"Lantas apakah Kakak mengeluh seperti itu karena Kakak tidak bisa menerima aku apa adanya? Dan apakah dengan begitu rasa cinta Kakak sudah berkur---"


Tangan Kharel langsung menutup bibir istrinya sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak, itu tidak benar! Jika aku tidak mencintaimu, bahkan rasa cinta ini berkurang untukmu bagaimana caranya aku bisa berjalan? Kamu tahu, aku bisa berjalan ini karena kekuatan cinta kita!"


"Jadi, aku tidak mau lagi mendengar kamu berkata seperti itu. Sakit rasanya, ketika aku harus mendengar perkatan itu dari bibirmu. Seolah-olah perjuanganku ini tak berarti apa-apa bagimu,"


"Aku paham, aku salah. Hanya hal sekecil itu aku sudah mendumel, sementara kamu mengurusku dengan sangat baik. Ribuan hinaan bisa kamu terjang dan membuktikan bahwa aku layak untuk menjadi suamimu, meski aku masih berada di kursi roda."


"Lalu aku? Aku hanya karena di tatap oleh beberapa orang yang menganggapku seperti suami takut istri, atau suami rasa bodyguard sudah mengeluh dan juga malu. Tidak sepertimu yang sedikitpun tidak ada rasa malu untuk tetap memujiku."


"Sekali lagi, maafkan aku Sayang. Aku salah, aku udah membuatmu kecewa di hari yang bahagia ini. Aku minta maaf, aku memang pria bod---"


Hempt ...

__ADS_1


Fayra yang tidak mau lagi mendengar perkataan suaminya, saat melihat matanya sudah berkaca-kaca langsung saja membungkam mulutnya dengan bibirnya.


Kharel yang sedikit terkejut dan gugup, perlahan mulai terbawa suasana. Tangannya memeluk pinggang istrinya, kemudian menariknya agar cium*an mereka bisa semakin mendalam.


Permainan lidah telah di mulai, dan sedikit diberikan gigitan kecil agar menambah kesan gereget dari antara keduanya.


Sampai beberapa menit, akhirnya Fayra mulai menyudahi aksinya. Dia tersenyum menatap suaminya.


"Sudah ya, jangan di bahas. Jadikan itu pelajaran untuk kedepannya agar bisa lebih baik lagi. Ini adalah hari bahagia kita, seharusnya kita tersenyum bukan menangis. Sekarang stop menangis, dan teruslah tersenyum seperti ini!"


Tangan Fayra menarik kedua pipi Kharel agar dia bisa membantunya mengukir senyuman yang sangat lebar. Rasa gemas kian menyelimuti hari Fayra saat melihat wajah lucu suaminya tersebut.


"Uluhh, uluhh tayangku. Hem, manis banget sih kalau lagi ngambek. Jadi tambah sayang, hihi ...."


Fayra meledek suaminya hingga berhasil membuat wajahnya memerah bagaikan buah jambu. Semua itu terjadi karena Kharel menahan malu di dalam raut wajahnya.


Sampai seketika Kharel merasa sedikit kesal akibat di perlakukan istrinya bagaikan seorang anak kecil, akhirnya mereka malah saling kejar mengejar dan menggelitiki tubuhnya satu sama lain diatas kasur.


Tak terasa kini posisi tubuh mereka sangatlah pas untuk segera melakukan malam pertamanya, cuman sayangnya. Saat Kharel mau mencium istrinya, tangan Fayra langsung menutup bibir suaminya dan menggelengkan kepalanya.


"No! Tubuh Kak Kharel bau asem, lengket dan juga berminyak. Udah sana Kakak mandi dulu yang bersih, baru nanti kita---"


"Yaaakk, enak aja. Udah sana Kakak mandi, habis itu kita---"


"Ya, kita akan buat Dedek!" tegas Kharel, kembali.


"Ishh, bukan!" sahut Fayra kesal, bergegas menyingkirkan dirinya dari kungkungan suaminya. Sehingga membuat Kharel langsung duduk menghadapnya.


"Kakak lupa ya, sama apa yang pernah dijanjikan waktu itu?" cicit, Fayra.


Seketika Kharel menyipitkan matanya, sedikit mengerutkan dahinya sambil mengingat apa yang Fayra katakan.


"Janji? Memangnya aku janji apa?" tanya Kharel, bingung.


"Ckkk, sudah aku duga!"


"Huhhh, itu loh janji yang waktu itu tentang malam pertama kita. 'Kan Kakak janji mau--"

__ADS_1


Degh!


Hanya dengan sedikit kode, mata Kharel langsung membola besar. Dia mulai teringat dengan janji yang sangat mengejutkan tersebut.


Wajah Fayra mulai berusaha seraya menggoda Kharel dengan janji yang pernah Kharel ucapkan, pada akhirnya Kharel hanya bisa menelan air liurnya secara kasar.


Glek!


"A-apakah janji itu masih berlaku?" ucap Kharel, gugup.


"Ya, masihlah. Janji tetaplah janji, Kakak tidak boleh mengingkarinya. Jadi, sekarang Kakak lebih baik mandi. Ayolah cepat, aku tidak sabar menunggunya, hihi ...."


Fayra terus menerus menggoda Kharel hingga wajahnya mulai memerah, kemudian Kharel yang tidak tahu harus bagaimana lagi hanya bisa pasrah dengan apa yang istrinya akan lakukan padanya


Dengan perasaan gereget, karena Kharel tidak bangkit dari ranjangnya. Fayra segera bergegas menarik suaminya dan membawanya ke dalam kamar mandi.


Kemudian Fayra mendekatkan wajahnya ke telinga suaminya sambil membisikkan Kharel serta memberikan sesuatu yang telah di janjikan.


"Sayang, cepatlah mandi. Jangan lupa dengan janjimu ya, aku tunggu di ranjang. Okay? Cup!"


Bisikkan kecil dari suara lembut istrinya, berhasil membuat tubuh Kharel sangat merinding hingga bulu kuduknya pun terbangun.


Kharel hanya mengangguk dengan wajah polosnya, kemudian Fayra pergi meninggalkan kamar mandi sambil mengedipkan sebelah matanya.


Benar-benar, Fayra sangat pintar memainkan sebuah permainan yang sebentar lagi akan membuat suasana berbeda dari malam pengantin lainnya.


"Hihi, akhh ... Aku enggak sabar ingin menikmati malam pertamaku ini, pasti malam ini adalah malam yang tidak akan pernah aku lupakan!" gumam batin Fayra sambil keluar dari kamar mandi dan segera merias dirinya.


Sementara Kharel yang berada di dalam kamar mandi hanya bisa meratapi nasipnya yang sebentar lagi akan menjadi momen yang mengharukan untuknya di malam pengantinnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Hay guys, author bawa kabar bahagia nih buat kalian. Saat ini author sedang mengadakan Giveaway untuk 3 orang pembaca setia....


...Caranya mudah kok, kalian tinggal ikuti terus novel terbaru author yang berjudul Kemarau Biduk Cinta....


...Jangan lupa kasih dukungan sebanyak-banyaknya di sana dengan cara like, komen, fav, hadiah, rate bintang 5 pada novel dan juga vote setiap hari senin....

__ADS_1


...Pemenang akan author ambil dari poin terbanyak di rangking umum pada karya tersebut....


...Terima kasih, semoga kalian beruntung menjadi pemenangnya 🥰🙏🏻...


__ADS_2