
...***Flashback Off***...
Dari situlah Kharel mulai mencari cara untuk bisa membuat Fayra mengerti, tetapi siapa sangka. Takdir malah mempercepat pertemuan mereka Dan dengan mudahnya Kharel, mengatakan semua itu tanpa adanya rasa malu, gugup serta canggung dihadapan Fayra.
Sementara Fayra masih terdiam mencerna semua kisah Kharel yang hampir sama dengannya. Hanya saja bedanya Kharel tidak mencintai wanita yang akan dijodohkan, berbeda sama Fayra yang sudah mencintainya sebelum perjodohan terlaksana.
"Saya tahu mungkin semua ini berat untuk kamu, tetapi saya mohon dengan sangat sama kamu. Bantu saya untuk terlepas dari semua perjodohan ini." ucap Kharel dengan nada memohon.
"Ta-tapi, Pak. Sa-saya----"
"Tidak perlu dijawab, saya tahu jawabannya."
"A-apa?"
"Ya kamu menolak untuk tidak membantu saya, kan? Jadi ya sudah buat apa saya paksakan. Masih banyak kok, wanita bayaran diluar sana yang bisa saya sewa, yang penting saya masih bisa menyelamatkan masa depan saya sendiri."
Perkataan Kharel berhasil menggoyangkan hati Fayra, sehingga dia tidak tega jika suatu saat nanti Kharel akan bernasib sama seperti dirinya. Atau bahkan, bisa jadi nasib Kharel akan lebih hancur dari Fayra.
Apa lagi perjodohan itu diawali dengan sepasang kekasih yang tidak mencintai. Berbeda jika salah satunya mencintai seperti kehidupan cinta Fayra yang sudah tidak bisa diselamatkan.
"Pak, saya ma--"
"Bisakah belikan saya makanan? Saya lapar!" ucap Kharel, dingin.
__ADS_1
Dia berusaha mengalihkan pembicaraan agar tidak mendengar penolakan yang akan Fayra katakan langsung dari mulutnya.
Enggak tahu mengapa, rasanya Kharel tidak akan kuat jika harus mendengar Fayra sampai menolaknya, sehingga dia mengambil jalan pintas untuk tidak lgi membahasnya karena menurut Kharel. Dia sudah mendapatkan jawaban, kalau Fayra tidak berminat untuj membantu hidupnya yang terbilang menyedihkan.
"Tapi, Pak. Saya mau ngomong, kalau saya--"
"Jika kamu keberatan, tidak apa. Saya bisa menyuruh suster yang lain. Apa kamu mau pulang, silakkan. Saya tidak akan melarang. Saya cuman mau bilang terima kasih karena kamu sudah menolong saya, dan uang rumah sakit akan saya ganti. Kamu tinggal sebutkan saja nomor rekeningmu sekarang!"
Kharel membuka ponselnya, lalu mencari menu M-Banking, untuk langsung menulis beberapa nomor rekening yang akan Fayra sebutkan. Sayangnya, semua nihil. Fayra malah memasang wajah marah dan juga suara raungannya mulai terdengar.
"Apaan sih, kenapa Bapak semakin hari semakin menyebalkan aja. Saya itu belum selesai berbicara, main putus-putus aja. Tahulah, udah jangan banyak omong! Mendingan Bapak diem, saya pergi dulu beli makan. Bye!"
Celoteh Fayra dengan kesal, padahal dia ingin mengatakan bahwa dia itu sudah berbipikir panjang dan bersedia untuk membantu Kharel membatalkan perjodohan itu.
"*Awalnya saya kira kamu mau membantu saya, setelah mendengar kisah menyedihkan itu. Cuman saya sadar, sebelum kamu menjawab tidak, maka saya langsung menyudahinya agar mood ini tidak sampai hancur berantakan."
"Aku tahu, wanita seperti kamu tidak akan mau berdampingan dengan saya. Seorang pria perjaka tua yang usianya jauh diatasmu, saya paham berbedaan usia kita sngatlah jauh*."
"Ibarat kata saat ini kamu memasuki usia remaja dengan umur 19 tahun, sedangkan saya? Saya pria yang sudah seharusnya berkeluarga dengan usia 27 tahun. Miris bukan? Ya, memang itu kenyatannya."
"Karena sampai sekarang pun tidak ada satu wanita yang berhasil menarik perhatian saya. Kecuali setelah kehadiranmu, Raa. Wanita yang baru saya kenal, sudah hampir membuat saya menjadi gila, ketika saya selalu merasakan debaran jantung saya bekerja sangat cepat saat berada didekatmu."
"Apakah ini yang dimanakan cinta? Apakah ini awal dari kebahagiaan didalam hidup saya yang gelap? Dan apa mungkin, saya bisa seperti pasangan lainnya yang saling mencintai satu sama lain?"
__ADS_1
"Jika benar, hanya satu pinta saya pada-Mu Tuhan. Kalau memang dia adalah jodoh saya, maka dekatkan kami apapun yang terjadi nanti. Jika tidak, saya harap jauhkan saya dari semua perasaan yang tidak bisa saya jelaskan ini!"
Kharel bergumam kecil menatap kearah pintu, dimana Fayra sudah hilang pergi meninggalkannya untuk membelikan makanan agar Kharel bisa segera minum obat dan beristirahat.
Beberapa menit kemudian, Kharel masih berkutak dengan ponselnya untuk mengecek semua pekerjaannya di Perusahaan.
Meskipun Kharel memiliki perusahan, tetapi dia jarang mengunjunginya jika tidak ada yang penting. Karena hampir setengah hidupnya Kharel menghabiskan untuk mengajar di beberapa University terkenal.
Perusahaan Kharel terbentuk akibat keinsengan tangan serta pikirannya. Awalnya Kharel hanya mencoba-coba untuk terjun ke dunia perbisnisan. Cuman setelah hasilnya sangat memuaskan, akhirnya Kharel meneruskan semua itu agar perjuangannya tidak berakhir sia-sia.
Sebenarnya bagi Kharel pendidikan itu nomor satu, akan tetapi perusahaan juga penting. Supaya kelak di saat dia sudah puas dengan semua pendidikan, Kharel bisa segera fokus pada pekerjannya untuk biaya masa depan keluarga kecilnya nanti.
Ceklek!
Pintu terbuka bersamaan dengan masuknya Fayra yang sudah membawa makanan untuk Kharel. Mendengar suara pintu, Kharel langsung menoleh dengan perlahan menatap Fayra yang sudah berjalan mendekatinya.
"Ini saya belikan soup untuk Bapak, cepatlah dimakan karena itu baru saja selesai dimasak." ucap Fayra sambil menaruh soup diatas meja bangkar Kharel yang sudah Fayra siapkan.
Kharel hanya menatap wajah Fayra dengan tatapan kagum. Entah mengapa rasanya adem sekali ketika wajah cantik khas yang dimiliki Fayra, berhasil mententramkan suasana hati Kharel yang saat ini sedikit kesal. Semua itu akibat orang tuanya yang sudah menelepon Kharel dan menanyakan masalah perjodohan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa mampir ya guys, ini ada novel milik sesama author terbaik ❤️
__ADS_1