
"Andai saja Kakak bisa melihat wajah Kakak sendiri, pasti akan terkejut. Semakin hari wajahmu itu malah semakin terlihat menua, keriput dan juga kusut. Ya, maklumlah, mungkin karena Kakak itu kerjaannya tidur terus jadi tidak ke urus deh."
"Cuman, dahlah. Semakin aku menceritakan tentang pria itu, malah semakin membuat aku terpesona sama ketampananya. Bisa-bisa nanti aku jatuh cinta lagi? Huaa, aku jadi malu kan,"
"Masa iya baru kenal udah jatuh cinta, sedangkan sama Kakak aja butuh waktu yang tidak sedikit. Ehh, tapi tunggu deh. Kalau aku jatuh cinta sama pria itu tandanya, cintaku buat Kak Kharel jadi terbagi menjadi dua dong?"
Degh!
Mendengar perkataan Fayra yang mulai tidak beres, hatinya pun semakin memanas. Kharel segera bangkit dari tidurnya dan menatap tajam kearah Fayra.
"Tidak! Kau tidak boleh membagi cinta itu, karena cinta yang ada di dalam dirimu hanya untukku. Titik!" tegas Kharel.
Wajahnya terlihat sangat merah di penuhi dengan rasa kecemburuan yang mendalam, Fayra yang sedikit terkejut hanya bisa menatap Kharel tak percaya.
Fayra senang saat Kharel sudah bisa bangun lagi, akan tetapi hatinya juga kesal karena dia sudah begitu lama menunggu Kharel terbangun, setelah terbangun malah dikerjain olehnya.
Ya sebenarnya Kharel tidak ada niat mau mengerjai Fayra, dia hanya sedikit syok ketika mendengar Fayra mengatakan kalau dia telah mencintainya.
Cuman, karena Fayra terlalu berpikir berlebihan akhirnya Kharel pun ikut masuk kedalam permainan dan membuat mereka sama-sama kesal.
"Yakk, ternyata benarkan kalau Kakak itu hanya berpura-pura masih tidur!" pekik Fayra.
Dia langsung berdiri, wajah Kharel yang terlihat begitu kesal saat mendapati Kharel juga sedang menatapnya penuh amarah.
__ADS_1
"A-aku tidak berpura-pura kok, niatnya aku mau membuka mata. Cuman saat kamu mengutarakan isi hatimu ya aku coba untuk diam dulu, tapi kamu malah yang mancing aku buat tetap berpura-pura dalam keadaan seperti itu!" jawabnya.
Fayra terdiam sejenak mencerna ucapan Kharel yang sepertinya ada kesalah pahaman diantara mereka berdua. Sampai akhirnya Kharel kembali mengutarakan kekesalannya terhadap Fayra.
"Siapa pria itu, hah? Kenapa dia bisa membuatmu jatuh cinta, padahal Fayra yang aku kenal tidak semudah itu untuk membuka hatinya!"
"Sekarang, lihatlah aku! Aku dari kecil sampai detik ini pun belum berhasil membuatmu membuka hati, bukan? Lantas kenapa dia bisa semudah itu memasuki kehidupanmu, tanpa melewati proses sepertiku!"
"Aku sudah berjuang dari kecil sampai sekarang cuman demi mendapatkan cintamu. Bahkan aku terlihat bagaikan pengemis yang rela menunggu waktumu, cuman karena menginginkanmu untuk membuka hatimu buatku. Dan aku pun rela mempertaruhkan nyawaku sendiri hanya demimu, tapi kenapa. Raa? Kenapa!"
"Kenapa kamu tega sama aku, apa sih yang kurang dari aku? Katakan, Raa. Supaya aku bisa memperbaiki diriku agar pantas berada disampingmu, aku tahu mungkin umurku memang jauh diatasmu. Tapi, apa salah kalau aku---"
Fayra menggelengkan kepalanya dengan cepat, menutup bibir Kharel menggunakan jari tangannya dan tangan satunya mulai menghapus setiap bulir air mata yang menetes di pipi Kharel.
"Tidak, Kak. Kakak tidak salah, dan Kakak juga tidak ada yang kurang. Bahkan Kakak itu sangat-sangat sempurna untukku. Mungkin, kemarin mungkin aku tidak menyadari akan cinta ini, tetapi sekarang tidak lagi Kak."
"Aku juga mau memberitahukan kepada Kakak, kalau aku sudah berhasil membuka hatiku sepenuhnya hanya untuk Kakak. Dan aku juga sudah siap melangkah bersama Kakak, terus menggandeng tangan Kakak sampai kapanpun dan dalam keadaan apapun aku tidak akan melepaskan genggaman inii"
Tangan Fayra menggenggam tangan Kharel, lalu mengangkat serta menunjukkan tangan itu padanya. Kharel hanya bisa terdiam penuh senyuman, meski air mata terus menetes di pipinya saat melihat wajah Fayra begitu serius.
Fayra berusaha mengungkapkan semua perasaan yang selama ini dia pendam, tanpa lagi menyembunyikan atau merasa ragu akan cintanya pada Kharel.
"Maaf bila aku, tadi sudah menyakiti ataupun menyinggung perasaan Kakak. Sumpah, itu bukan cerita yang sebenarnya. Itu hanya membuat sebuah karangan yang aku buat seolah-olah untuk membalas Kakak yang sudah menjahiliku. Semua itu aku lakukan karena aku kesal, Kak."
__ADS_1
"Hampir 2 atau 3 minggu ini Kakak tertidur dengan keadaan yang sangat membuatku takut, takut dan sangat takut. Aku tidak bisa jika harus kembali merasakan kehilangan untuk kesekian kalinya."
"Apa Kakak tahu, sebenarnya rasa cinta yang ada didalam hatiku untuk Kakak itu hampir sama rata dengan rasa cintaku pada Appa. Bahkan melebihi rasa cinta yang aku berikan pada masa laluku."
"Maka dari itu mungkin, ketika 1 sayapku patah aku masih bisa bangkit seperti saat ini. Cuman jika 2 sayap patah dalam waktu bersamaan, aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya aku. Bisa jadi aku akan setres, gila, ataupun mencoba untuk mengakhiri hidupku sendiri agar aku bisa bersama Kakak!"
Air mata Fayra menetes ketika matanya menatap manik mata Kharel. Dia benar-benar takut jika sampai itu terjadi, ibarat kata ini merupakan titik dimana seharusnya Fayra akan bahagia, bukan lagi menderita.
Kharel tersenyum mendengar betapa berharganya dirinya saat ini di dalam hidup Fayra. Tanpa berkata apapun, Kharel langsung membawa Fayra kedalam pelukannya.
Dan, kini pecahlah isak tangis keduanya begitu deras dan terdengar sangat pilu.
Tangisan yang sebenarnya terdengar pilu ini bukanlah tangisan kesedihan sesungguhnya, melainkan sebuah tangisan kebahagiaan. Karena pada akhirnya mereka telah bersatu dari sekian lamanya berpisah, kemudian tanpa disengaja takdirlah yang kembali menyatukan mereka tanpa disangka-sangka.
Kurang lebih 10 menit mereka menumpahkan rasa rindu satu sama lain, diserta kebahagiaan. Sekarang sudah mulai tenang, Fayra pun melepaskan pelukannya dengan air mata yang masih memenuhi bola matanya.
"Sstt, sudah ya jangan nangis lagi. Aku tidak mau melihat wanitaku menangis seperti ini, jelek tahu. Coba deh, sekarang kamu tersenyum demi aku, pasti itu terlihat jauh lebih baik dan juga akan semakin membuat wajahmu ini begitu cantik. Bisakah kamu melakukan itu untukku?" pintanya.
Fayra menganggukkan kepalanya dengan antusias sambil tersenyum lebar. Senyuman itu bukanlah karena keterpaksa, melainkan lambang kebahagiaan saat Fayra sudah bisa menyaksikan cintanya kembali terbangun.
"Terima kasih, Kak. Karena Kakak sudah mau bangun untukku, aku bahagia banget bisa melihat Kakak yang sekarang. Tapi, ingat! Aku tidak kamu Kakak seperti ini lagi, aku hanya mau Kakak selalu sehat dan tidak lagi membuatku merasa khawatir ataupun panik. Karena aku sangat takut kehilangan Kakak, aku enggak mau sampai terjadi hal buruk sama Kakak. Janji?"
Kharel menganggukan kepalanya, lalu jari kelingking mereka saling terpautkan satu sama lain. Ya memang Kharel berjanji tidak akan pernah meninggalkan Fayra, akan tetapi jika takdir yang berkata maka Kharel tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
__ADS_1
Wajah bahagia mereka terpancar dari sentulan sinar cinta yang berasal dari hatinya satu sama lain. Hingga tak terasa mereka tertawa bersama sambil berpelukan satu sama lain.
Namun, disela tawa mereka. Ada satu kejadian yang membuat mereka berdua begitu terkejut, entah kejadian apa. Yang jelas itu sangat-sangat membuat mereka tidak percaya sama apa yang mereka lihat.