
Tangan tersebut merambat keatas memasuki celana Fayra, dan kembali mengusapnya sesekali mempermainkan benda kenyang di dalamnya.
Fayra hanya bisa memejamkan matanya, ketika merasakan segelisiran aliran listrik mulai menyengat tubuhnya. Sedangkan Ace, dia benar-benar menikmati sentuhan bibir istrinya yang mulai memanas.
Sampai seketika, Ace sudah membuka baju Fayra hingga membuatnya setengah polos. Kemudian Ace kembali membuat tanda kepemilikan di leher dan juga dada istrinya.
"Hem, Bu-bunny ...." gumam lirih Fayra, saat wajahnya menatap suaminya yang kini sudah berada diatasnya.
"Bo-boleh, aku mengambilnya hari ini?" ucap Ace, wajahnya terlihat begitu sayu.
"Ta-tapi, Bu-bunny. Ki-kita kan enggak bawa pe-pengaman?" jawab Fayra, cemas.
"Tenang aja Honey, aku bawa beberapa kok. Ini!" sahut Ace sambil menunjukkan 3 sutra dari kantong celananya.
Mata Fayra membelalak lebar, ketika suaminya bisa membawa benda kecil tersebut, yang dia sendiri pun sudah tidak ingat sama sekali.
"Bu-bunny, ke-kenapa ka-kamu membawa benda itu?" tanya Fayra, syok.
"Hehe, ya buat jaga-jaga aja Honey. Karena setelah aku merasakannya, membuat aku ketagihan." jawab Ace, cengengesan.
"Ja-jadi Bu-bunny ma-mau buka segel di sini? ba-bagaimana bisa? Jika mereka curiga denganku gimana?"
"Apa lagi kata Mommy rasanya sangat sakit, bahkan sampai tidak bisa berjalan normal untuk beberapa hari ke depan."
Fayra kembali mengingat cerita kedua orang tuanya tentang pembukaan segelnya. Akan tetapi lagi-lagi Ace memiliki seribu cara agar istrinya tetap percaya, kalau pembukaan segel yang akan dia lakukan, tidaklah semenyakitkan apa yang ada di bayangannya.
Fayra cuman bisa mengangguk menerima, jika dia memang harus memberinya. Karena ini merupakan hak serta kewajiban suaminya sendiri.
Sudah setahun lebih pernikahan mereka bertahan, dari semua ujian yang berhasil menggoyangkan. Maka kemungkinan di sinilah tempat yang akan menjadi saksi kisah penyatuan Ace dan Fayra.
Perlahan Ace kembali duduk, membuka semua pakaiannya. Kemudian memasangkan sarung untuk sang adik seorang diri, tanpa bantuan sang istri.
Kali ini Ace mulai mengerti sedikit demi sedikit, semenjak rasa penasarannya terhadap berhubungan badan.
__ADS_1
Fayra hanya bisa menatap suaminya dengan sedikit sayu. Lalu, setelah selesai Ace sudah tidak bisa memberikan jeda waktu untuk Fayra.
Sehingga tanpa aba-aba lagi, Ace segera kembali mempelancar aksinya. Ace mulai membuka celana istrinya sampai kedaan mereka benar-benar polos, tanpa sehelai benang pun menempel di tubuhnya.
Ace berusaha mengingat adegan tiap film, dan mencoba mengikuti setiap adegan yang ada di dalam film biru.
Mulai dari memberikan sentuhan manja, gigitan gemas hingga kenikmatan yang luar biasa bagi istrinya.
"Sstt, arghh. Bu-bunny, huhh ...." gumam lirih Fayra mendongak keatas dengan dada sedikit terangkat-angkat, ketika lidah suaminya lihai bermain di area goa sensitifnya.
Kedua tangan Ace yang sedang menahan kedua kaki Fayra agar tetap terbuka lebar, lalu merambat ke atas memegang buah Cerry kembar yang sangat menggiurkan.
Bersamaan dengan keluarnya suara-suara indah dari keduanya, tubuh Fayra juga sudah mulai gelajotan. Aliran listrik yang dia terima, kian mulai menjelar keseluruh tubuhnya.
Sengatan ringan, sedang dan juga tinggi semua bercampur menjadi kesatuan. Hingga Fayra merasakan sesuatu akan segera keluar dari tubuhnya.
"Hemp, arghh. Bu-bunny, a-aku ma-mau pi-pipis sstt, arghh ...." ucap Fayra ketika badannya sudah mulai menegang.
Tak lama, benar saja. Sesuatu keluar dari dalam goa milik Fayra. Kemudian menyembur keluar, membuat Ace segera menerimanya tanpa membiarkan lolos sedikit pun dari hisa*pannya.
Kedua tangan Fayra mencekram seprai saat tubuhnya bergetar hebat, merasakan sensasi yang berbeda dari pertama Ace menyentuhnya. Pelepasan pertama berhasil lolos dengan sempurna.
Belum selesai Fayra mengambil napasnya, tiba-tiba Ace sudah berada diatasnya sambil menatap wajah. Keringat mulai membasahi wajah Fayra, dalam keadaan dada masih naik turun.
Perlahan Ace membenarkan rambut Fayra yang sudah menyatu dengan keringat, kemudian Ace mengatakan kalimat-kalimat yang cukup indah.
"Stay with me and never tire of dealing with my attitude. Because I love you very much, my wife.
Today, tomorrow and forever you are only mine."
..."Tetaplah bersamaku dan jangan pernah lelah untuk mengahadapi sikapku. Karena aku sangat mencintaimu, istriku. Sekarang, besok dan selamanya kamu hanyalah milikku."...
Fayra terdiam, dia begitu terpanah ketika mendengar kata cinta yang terucap dari bibir suaminya begitu lembut.
__ADS_1
Ini kali pertamanya Fayra bisa melihat dari sudut mata Ace, benar-benar di penuhi oleh cinta yang sangat besar untuknya.
"Don't ever turn into someone I don't know. Keep being my spoiled darling, because I really like it."
"Thank you for accepting me to be your wife, and thank you for returning the love that you have been ignoring.",
"Never let me down for the umpteenth time, because I have entrusted my whole life and love only to you, my husband."
..."Jangan pernah berubah menjadi seseorang yang tidak aku kenal. Tetaplah menjadi kesayangaku yang manja, karena aku sangat menyukainya."...
..."Terima kasih telah menerimaku menjadi istrimu, dan terima kasih telah membalas cinta yang selama ini kamu abaikan."...
..."Jangan pernah kecewakan aku untuk kesekian kalinya, karena aku sudah mempercayakan seluruh hidup dan cintaku hanya untukmu, suamiku."...
Ace tersenyum menganggukan kepala perlahan, lalu dia mulai menangkis semua jarak yang ada. Sampai akhirnya, mata mereka tertutup menikmati setiap permainan bibir yang saling menempel.
Lidah yang awalnya hanya terdiam, kini sudah melilit satu sama lain di penuhi oleh hisa*pan manja. Sesekali tangan Ace sudah gencar menari-nari untuk mencari sesuatu yang bisa dia genggam.
Hampir 5 menit mereka melakukan permainan bibir, kini turun ke leher hingga dada. Ace kembali menye*sap kuat buat Cerry kembar tersebut, sambil tangan satunya mulai mengarahkan ke arah goa.
Kali ini Ace kembali mengingat setiap gerakan yang dia lihat, agar tidak berakhir sia-sia.
Ya mungkin anak seumuran mereka memang tidak di perbolehkan melihat film biru, akan tetapi status mereka sudah sah menjadi pasutri.
Mau tidak mau, suka tidak suka. Ace hanya fokus menikmati rasa yang tidak pernah dia rasakan.
Tombak gagah yang telah memperlihatkan daya tariknya, perlahan mulai memperkenalkan diri terlebih dahulu.
Di rasa Fayra mulai terhanyut, Ace pun melihat adanya celah. Tanpa pikir panjang, tombak tersebut perlahan langsung ditekan memasuki goa. Bersamaan terdengar suara isak tangis dipenuhi oleh ringisan kesakitan.
Ace terkejut saat istrinya mulai meneteskan air mata, disini dia terlihat panik. Dengan kecepatan ekstra, tangannya segera mengambil remot kecil diatas meja yang berada di samping ranjang.
Hanya dengan satu klik, ruangan berubah menjadi kedap. Sehingga isak tangis malam pertama yang ditunggu, tidak akan sampai mengganggu jam istirahat yang lain.
__ADS_1