
Ace tertawa di bawah derasnya hujan mendongak ke atas berputar-putar sambil merentangkan tangannya. Disaat mobil itu semakin dekat, Ace tidak berusaha untuk menghindar.
Seakan-akan dia malah seperti menantangi takdir bahwa dia lebih baik pergi dari dunia yang kejam ini, dari pada dia harus menatap kehancuran Mommynya yang sudah ada di depan matanya.
Bagi Ace, rasa sakitnya itu jauh lebih sakit ketika dia melihat kehancuran Mommynya ketika harus kehilangan Daddynya dari pada dirinya sendiri yang sudah kehilangan segalanya.
Tiinnn ...
Tiinnn ...
Tiinnn ...
Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi hampir saja menabrak Ace, kalau bukan seseorang yang menarik hingga menyeret Ace untuk menjauhi jalan tersebut ke sebrang jalan demi menyelamatkan hidupnya.
"Lu apa-apaan sih, hahh! Apa lu udah gila, mau bunuh diri segala, berasa nyawa lu kek kucing aja ya!" pekiknya. Matanya membola besar menatap tajam ke arah Ace dengan sedikit mendongakkan wajahnya.
"Aarrghh, si*al! Lu ngapain sih hahh, narik-narik gua! Lu tuh enggak tahu apa yang gua rasain sekarang, jadi enggak usah sok nolongin gua an*ying!" sahut Ace. Dia terlihat tidak terima ketika hidupnya sudah di selamatkan oleh orang tersebut.
"Gua tahu lu lagi ada masalah karena kelihatan dari wajah lu, tapi ingat Ace! Tuhan enggak pernah tidur, mungkin Tuhan kasih lu cobaan seperti ini, karena dia tahu lu mampu melewatinya meski rasanya sangat berat!" jawab orang itu.
Saat orang itu menatap Ace penuh keseriusan, seketika Ace malah tertawa karena apa yang dia ucapakan sama seperti tong kosong nyaring bunyinya.
"Mampu lu bilang? Hahah! Dunia gua udah hancur Tita, hancur!"
"Gua udah kehilangan istri yang sangat mencintai gua, perekonomian keluarga menyusut, ditambah gua di keluarin dari kampus, belum lagi gua tahu siapa Freya sebenarnya. Dan sekarang? Lu tahu, Bokap gua meninggal!"
"Miris bukan? Itulah, kejamnya takdir haha!"
Degh!
__ADS_1
Tita? Yaps, dialah orang yang telah menyelamatkan Ace dari maut. Saat Tita sedang arah pulang, dia melihat Ace di tengah jalan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.
Namun, ketika terdengar suara klakson membuat Tita langsung menoleh menatap sebuah mobil yang cukup besar akan melintasi jalan yang akan menabrak tubuh Ace.
Tanpa berpikir panjang Tita segera menghentikan mobil itu, lalu berlari mencoba menyelamatkannya.
Untung saja Tita tepat pada waktunya, jika sedikit saja terlambat pasti keadaan Ace sudah sangat berantakan akibat tertabrak mobil yang kecepatan lumayan tinggi.
Tita terdiam mendengar semua musibah yang terjadi pada Ace, hatinya seperti tercubit. Pantas saja Ace melakukan hal seperti ini, karena jikalau pun posisi Tita ada di Ace, dia akan melakukan hal yang sama.
Semua musibah itu seakan-akan seperti berkali-kali lipat menimpa Ace secara bersamaan. Apakah ketika kalian berada diposisi Ace, akan kuat untuk menghadapi semuanya sekaligus? Pasti tidak 'kan?
Ya sama, Ace pun sangat sulit untuk melewati semuanya. Ditambah dia tidak memiliki menyemangat ataupun sebuah sandaran.
Jadi wajar ketika Ace benar-benar putus asa saat menghadapi semua ini. Hanya saja cara Ace yang menerima keadaanlah yang salah, dia masih menyalahkan semua takdir yang sedang dia alami.
Di dunia ini apapun yang kita lakukan selalu akan ada timbal baliknya, entah itu kebaikan maupun keburukan. Jadi berhati-hatilah ketika menanam sesuatu, karena suatu saat nanti kita akan menuainya.
"Kenapa diam? Bingung 'kan? Ya, itu karena lu enggak pernah ada di posisi gua!"
"Tuhan yang lu bilang itu enggak akan pernah bisa adil! Dia hanya memberikan kebahagian pada orang yang dia pilih, dan itu bukan gua!"
Kedua mata Ace memerah seperti memancarkan aura kemarahan yang benar-benar bagaikan seorang Iblis yang sedang merasuki tubuhnya.
Disini Tita yang tidak tahu harus menjawab apa. Hanya bisa menarik napasnya, lalu memejamkan matanya sejenak dan mengeluarkan napas secara perlahan. Kemudian dia membuka mata menatap Ace yang saat ini tertawa disela-sela kesedihannya.
"Sudah cukup lu menyalahkan Tuhan atas apa yang telah lu perbuat sendiri! Sekarang coba lu ingat-ingat lagi, bagaimana hidup lu dulu bisa bahagia? Apakah lu pernah menyakiti seseorang atau tidak?" ucap Tita, wajahnya terlihat sangat serius tanpa ekspresi.
"Tidak! Gua enggak pernah menyakiti siapapun, karena bagi gua hidup dengan menyakiti orang itu tidak akan enak. Pasti akan ada bayang-bayang rasa bersalah yang selalu terngiang di pikiran gua!" jawab Ace, spontan.
__ADS_1
Tita tersenyum ketika mendengar jawaban Ace yang sebenarnya dia pun tahu, hanya karena keegoisannya menutup segala kebenarannya.
"Nah, itu lu tahu kuncinya! Mungkin Tuhan dulu memberikan lu kebahagiaan karena lu itu enggak membuat kesalahan yang fatal. Dan kalau sekarang Tuhan memberikan lu cobaan seperti ini, itu tandanya lu ada kesalahan hingga tanpa sadar lu telah melukai hati seseorang. Contohnya--"
"Fayra? Ya, dia adalah wanita yang selama ini memperjuangan gua. Walaupun dia tahu kalau gua awalnya sangat membenci dia, cuman lama kelamaan dia berhasil membuat gua jatuh cinta. Hanya saja, jarak memisahkan kita hingga gua di pertemukan dengan Freya yang membuat hati gua dilema. Maka dari situlah semua kebahagia yang gua dapatkan, seperti cicilan kepedihan yang akan gua dapatkan sekarang!"
Bayang-bayang akan perselingkuhannya bersama Freya kembali muncul di dalam ingatan Ace. Dimana kejadian Fayra yang mengetahuinya pun ikut berputar di kepalanya, sampai Ace tersadar bahwa semua yang dia terima ini sebagian dari apa yang sudah dia perbuat kepada Fayra.
Tita melihat keadaan Ace sekarang hanya terdiam tidak seperti tadi yang penuh dengan emosi, membuat Tita sedikit tenang.
Sampai akhirnya Ace berterima kasih pada Tita karena dia sudah mau menyadarkan Ace, jika semua yang terjadi ini bukan karena kejahatan Tuhan. Melainkan semua terjadi akibat timbal balik sama apa yang Ace lakukan kepada Fayra.
"Thanks, lu udah buat gua sadar kalau gua udah salah dalam memiliki pola pikir. Mungkin, selama ini gua mikir Tuhan itu jahat, kejam dan sebagainya. Karena dia telah mengambil semua yang udah menjadi milik gua, tanpa gua berpikir kalau gua ini sudah menghancurkan beberapa kehidupan terutama mantan istri gua sendiri. Semua karena keegoisan dan kelabilan gua sebagai seorang pria!"
"Untuk itu gua ucapkan terima kasih sama lu, berkat lu gua sadar kalau Freya bukanlah wanita baik-baik yang patut gua pertahanin. Sekarang gua mau balik ke Indonesia mengurus semua dan memperbaiki keadaan."
"Bisa jadi ini merupakan pertemuan yang terakhir, sehingga gua cuman bisa bilang terima kasih semoga lu bisa menemukan pasangan yang baik, agar kelak lu tidak sampai jatuh di tangan yang salah."
"Gua akan ingat semua kebaikan yang lu kasih, sekali lagi terima kasih. Gua sangat berhutang budi sama lu, gua pamit. See you!"
Ace tersenyum kecil, lalu melambaikan tangannya sambil berlari kecil menyebrangi jalan memasuki mobilnya, kemudian pergi begitu saja.
Sementara Tita, dia pun merasa bahagia karena sudah bisa menyadarkan Ace meski tidak sepenuhnya. Akan tetapi dia senang melihat Ace yang sudah tidak sehancur tadi. Tita pun ikut melambaikan tangannya melihat kepergian Ace.
Setelah mobil Ace pergi, Tita perlahan melangkahkan kakinya sambil tersenyum menyebrangi jalan tanpa melihat terlebih dahulu sehingga dia di kejutkan oleh sebuah mobil yang hampir saja menabraknya.
Aarrghhhh ....
Ciiiiitttt!
__ADS_1