
Sang suster menggelengkan kepalanya sambil terkekeh kecil, kemudian dia pun menaruh makanan Kharel di mejanya. Lalu berpamitan dan pergi dalam keadaan tertawa, dimana saat pintu tertutup bersamaan dengan menghilangnya suster.
Tanpa disadari Kharel tersenyum begitu lebar, wajahnya memerah dan menghilang ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka. Meskipun Kharel berusaha untuk tetap terlihat biasa saja, tetapi wajahnya tidak bisa dibohongi jika dia seperti merasakan adanya rasa senang bercampur malu.
"Kenapa wajah Bapak merah seperti itu? Jangan bilang kalau Bapak alergi?" jawab Fayra sedikit cemas.
"Ya, alergi cintamu." gumam hati Kharel. Selang beberapa detik kemudian, Kharel langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Yakk, tidak, tidak, tidak!" Kharel sedikit memekik keras membuat Fayra yang melihatnya menjadi panik.
"Pak, Bapak gapapa 'kan? Bapak kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Fayra antusias, wajahnya terlihat begitu khawatir.
Secara refleks tanpa disengaja Fayra memegang tangan Kharel yang sedang menutupi wajahnya, sehingga mata mereka langsung bertemu satu sama lain dengan tatapan berbeda.
"Ehh, ma-maaf." ucap Fayra saat telah menyadari tangannya yang sedikit nakal.
"I-iya gapapa, ma-maaf juga sudah membuatmu khawatir." jawab Kharel, matanya masih menatap mata Fayra.
"Kha-khawatir? Siapa?" tanya Fayra menutupi rasa malunya.
"Kamu." jawab Kharel.
"Yak, enak aja. Mana ada ya, Bapaknya aja yang terlalu ge'er. Aku begitu bukan karena khawatir, tapi karena aku takut Bapak ada apa-apa nanti aku yang disalahin." ujar Fayra dengan segala alasannya.
"Bedanya khawatir dengan takut saya kenapa-kenapa itu apa?" sahut Kharel.
"Ya bedalah, pokoknya beda titik! Dahlah aku mau pulang, bye!" Fayra berbalik berjalan ke sofanya untuk mengambil tas kecilnya serta ponsel. Lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Tunggu!" titah Kharel membuat langkah Fayra terhenti lalu berbalik menatap Kharel dengan mata sedikit menyipit.
"Ada apa lagi?" ucap Fayra yang sudah jengah hanya bisa pasrah, dengan wajah lesunya.
"Bolehkah saya meminta nomor ponselmu? Sewaktu-waktu butuh, saya bisa menghubungimu. Apa lagi saya begini juga, karena menghindari dirimu dan menyelamatkan nyawamu. Jadi kmu berhutang budi sama saya, dan untuk membalas semua itu kamu harus merawat saya sampai sembuh."
Kalimat yang Kharel lontarkan berhasil membuat Fayra kesal. Seharusnya Kharel yang menanggung semua ini, karena dia yang salah mau menabrak Fayra. Bukan malah Fayra yang mempertanggung jawabkan semua yang sudah terjadi.
__ADS_1
"Apa urusannya sama aku, yang nabrak juga Bapak bukan aku kan. Jadi seharusnya yang berbicara seperti itu ya aku. Bukan Bapak!" ucap Fayra kesal, bertambah kesal.
"Ya sudah buka ponselmu dan catat nomor ponselku." ucap Kharel spontan.
"Lah buat apaan, kan saya enggak minta nomor Bapak. Gimana sih!" pekik Fayra jengkel.
"Tadi kamu sendiri kan yang bilang, harusnya kamu yang ngomong. Jadi cepat buka ponselmu dan catat nomorku!" titah Kharel, sangat datar.
"Ckk, menyebalkan! Yayayax berapa nomornya?" tanya Fayra mengeluarkan ponselnya.
"Bla bla bla ...." Kharel menyebutkan nomornya dengan wajah serius. Akan tetapi saat telah selesai mengucapkan semua nomor tiba-tiba tingkah Fayra berhasil mengundang rasa emosi di dalam diri Kharel.
"Ups, yah ... Ponselku mati, Pak. Jadi maaf ya nomornya keburu kehapus, itu artinya nomor Bapak tidak bisa di save di ponsel saya dong." ucap Fayra sambil menunjukkan ponselnya yang sedang dalam mode mematikan. Semua itu akibat tangan jahil Fayra yang menekan tombol off di samping ponselnya.
"Itu bukan mati, tapi kamu yang mematikan!" tegas Kharel, wajahnya terlihat memerah menahan amarah.
"Ya, suka-suka akulah. Ponsel-ponselku kan, bukan ponsel Bapak. Setidaknya aku sudah mencatatnya, tetpi ponselku ma*ti. Apalah dayaku?"
"Sudahlah aku pamit dulu Bapak Kharel yang terhormat, semoga lekas sembuh dan semoga kita tidak akan bertemu lagi. Bye!"
"Aarggghh, si*alan! Dasar wanita licik, awas saja kamu ya. Lihat tanggal mainnya!" pekik Kharel dengan suara yang sangat nyaring.
Sementara Fayra yang masih berdiri di depan pintu hanya bisa terkekeh puas, ketika dia berhasil mengerjai dosennya sendiri yang terbilang menyebalkan.
Rasanya perut Fayra begitu sakit ketika mendengar teriakan-teriakan Kharel yang terdengar menggemaskan ditelinganya.
Setelah itu Fayra berjalan dengan perasaan senang sambil sesekali tertawa, sampai beberapa orang yang berlalu lalang menatap aneh kearahnya. Sementara Fayra cuman bisa masa bodo, yang penting dia puas membalas rasa kesalnya kepada dosen menyebalkan.
...*...
...*...
Tepat dijam 1 siang, Fayra baru saja selesai dengan mata kuliahnya. Dia langsung membereskan semua bukunya, lalu memasukannya kedalam tas dan segera pergi meninggalkan kelas.
__ADS_1
"Haah, akhirnya selesai juga. Untung cuman satu mata pelajaran, ditambah Pak Kiko juga orangnya baik. Jadi pas aku terlambat sedikit dia tidak mempermasalahkan, yang penting aku ada niat untuk mengikuti pelajarannya."
Fayra berjalan sambil berbicara kecil menatap kearah depan, dimana Fayra melewati beberapa mahasiswa/i yang sedang berkumpul. Satu sisi ada yang mengenalnya, dan satu sisi lagi banyak yang mengagumi kecantikan natural yang Fayra pancarkan.
Sampai ketika Fayra ingin kembali pulang ke rumahnya, tiba-tiba ponselnya berdering dan membuatnya langsung berhenti untuk mengambil ponsel tersebut dari tasnya.
"Hem, nomor tidak dikenal? Nomor siapa ini? Kenapa nomor Amerika, perasaan aku tidak punya teman disini. Terus ini nomor siapa? Apa jangan-jangan di Amerika ada nasabah yang menawarkan jasa pinjaman online? Atau bisa jadi ini penipuan mengatas namakan keluarga yang kecelakaan?"
"Arggh, tahulah. Biarin aja, lagian juga enggak penting. Toh ini nomor tidak dikenal. Jika dia menelpon sampai beberapa kali berarti dia memang mengenalku. Kalau hanya 1 atau 2 kali, fix. Ini mah penipuan kelas kakap."
Fayra bergumam kecil menatap layar ponselnya yang berdering. Cuman, Fayra tidak menggubrisnya. Dia tetap meneruskan langkah kakinya, untuk mencari sebuah taksi supaya bisa segera mengantarkannya kembali ke Apartemen.
Apa lagi tubuhnya sedikit kaku dan juga sakit, akibat tertidur disebuah sofa panjang hanya demi menunggu seorang pria yang sangat menyebalkan.
Panggilan tersebut berhenti dan tidak lagi menunjukkan panggilan lainnya. Dari sini Fayra yakin jika itu hanyalah panggilan orang iseng ataupun operator lainnya yang akan menarik perhatiannya.
Kurang lebih sekitar 15 sampai 20 menit, Fayra akhirnya sampai di Apartemen dan langsung menjatuhkan tubuhnya terlentang sambil melebarkan kedua tangan ke samping dan posisi mata terpejam.
"Huaah, rasanya nyaman sekali ketika berada di kamar sendiri. Akhirnya aku bisa juga tertidur kembali di kasur yang empuk ini, dari pada tertidur di sofa panjang dan sempit.".
"Memang sih sofanya empuk, tetapi akses gerak nya sangat tidak leluasa. Salah dikit jatuh, salah dikit pegal. Ya, kaya sekarang inilah. Badanku rasanya kay di injak raksasa."
"Eh, tapi ngomong-ngomong apakah Pak Kharel udah ketemu sama keluarganya? Terus bagaimana kabarnya sekarang, apa dia udah makan dan minun obat ya?"
Fayra masih terus memejamkan kedua matanya, dimana mulutnya terus mengoceh pantang henti dan juga pikirannya selalu terbang memikirkan sesuatu yang dia sendiri tidak yakin.
Sampai akhirnya Fayra kembali mencerna ucapannya, membuat dia langsung membuka kedua matanya reflek melotot dan langsung duduk.
"Yakk, apaan sih Fayra! Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu. Siapa dia, siapa kamu? Ingat, misimu kesini untuk mengejar impian untuk membuktikan pada dunia termasuk masa lalumu!"
"Meskipun dunia percintaanmu hancur, tetapi dunia kehidupanmu akan terus berjalan. Hingga akhirnya kamu bisa memetik hasil yang indah dari jernih payahmu sendiri!"
Fayra berbicara dengan dirinya sendiri, mencoba untuk menasihati. Jika masa lalu tidak perlu kembali diingat, cukup dikenang dan ambil pelajaran didalamnya. Karena akan ada sebuah kebahagiaan yang sudah menunggunya di depan.
__ADS_1
Saat Fayra mulai kembali dengan pikiran positifnya. Secara tidak langsung dia malah memikirkan Kharel, pria yang sangat menyebalkan.
Fayra mendumel mencoba menghilangkan pikiran itu, sehingga pikirannya bisa teralihkan ketika ponsel Fayra kembali berbunyi berulang-ulang kali dengan nomor ponsel yang sama. Dan kali ini tidak berhenti sampai Fayra mau mengangkatnya.