Learn to Love You

Learn to Love You
Penyakit Asma Kambuh


__ADS_3

Appa Daniel menatap Kharel dengan penuh senyuman, dimana Kharel sedikit gugup. Tanpa basa-basi lagi, Kharel menceritakan semua kejadian awal mula pertemuan mereka sampai detik ini.


"Ya ampun, manis sekali pertemuan kalian. Berawal dari tabrak menabrak bisa jadi jatuh hati kembali bukan, hem?" goda Amma Trysta berhasil membuat wajah Kharel memerah.


"Begitulah takdir, Sayang. Kita tidak bisa menduganya jika sebenarnya apa yang kita inginkan belum sepenuhnya yang terbaik untuk kita. Mungkin saja dibalik cobaan yang Fayra terima, Tuhan punya jalan lain agar bisa membuatnya bahagia lewat jalur-Nya."


Perkataan Appa Daniel membuat Kharel seketika ngeblank, sedangkan Amma Trysta sangat paham kemana arah ucapan suaminya. Entah mengapa mereka seperti percaya jika apa yang anaknya ucapkan di masa kecil akan segera terwujud. Hanya saja, waktu yang bisa menjawab semua itu.


"Jika tidak keberatan, bolehkah kamu mengajak orang tuamu datang kesini. Kami sudah lama tidak bertemu, itu pun jika kalian tidak sibuk." ucap Appa Daniel tersenyum.


"Nah iya itu benar, kamu bisakan mengajak orang tuamu datang kesini sebelum kalian kembali ke Paris? Tante kangen banget sama Mamahmu itu, please. Mau ya ya ya," Amma Trysta memohon dengan wajah yang penuh dramatis.


"Boleh aja Tante, Om. Nanti aku akan bicarakan sama mereka setelah pulang dari sini, ya sudah Kharel pamit dulu ya Om, Tante."


Kharel pun berdiri dengan segala kegagahan tubuhnya membuat Appa Daniel takjub, pria setampan ini ternyata adalah teman masa kecil anaknya menghalu. Kedua orang tua Fayra pun ikut berdiri menatap Kharel.


"Apa sebaiknya kamu tidak menginap saja di sini? Ini sudah sangat malam loh, kasian kamu harus menyetir sendirian dijalan yang gelap dan sepi. Mending nginap aja ya disini, tenang ada banyak kamar tamu kok."


"Tante sama Om enggak akan nyuruh kamu tidur satu kamar sama Fayra. Jadi aman, jantungmu tidak akan mengalami serangan secara mendadak hihi ...."


Amma Trysta selalu senang menggoda Kharel, apa lagi Kharel yang dulu dan sekarang berbanding jauh. Dimana dulu Kharel selalu membuat mereka pusing dengan jawabannya, sekarang Kharellah yang di buat jantungan oleh mereka.

__ADS_1


"Eee, ti-tidak usah Tante, Om. Kharel sudah biasa kok pulang malam, bahkan di Paris juga seperti itu. Tenang saja, Kharel akan baik-baik saja." jawab Kharel terbata-bata, dan terus berusaha menutupi kegugupannya.


"Sudahlah jangan menolak, kapan lagi Appa dan Amma mau memberikan sewa kamar secara gratis pada pria lain. Bahkan ketika ada pria datang ke sini saja tidak ada yang diperlakukan sespesial dirimu. Jadi, terima aja."


"Ingat, Pak. Ini itu Indonesia bukan Paris, penjahat selalu beraksi di setiap kesempatan yang ada. Jangan sampai nyawamu menjadi taruhannya, sebab ma*ti sebelum meninggal itu tidak enak."


Fayra datang dengan segala pemikiranya yang memicu untuk menahan Kharel agar tidak pulang di jam seperti ini. Bukan karena Fayra mencari kesempatan dalam kesempitan, melainkan dia memiliki kekhawatiran yang besar pada pria masa kecilnya ini.


Perdebatan kecil mulai terjadi, sampai akhirnya kedua orang tua Fayra hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mereka tidak menyangka meskipun sifat mereka terbilang berbeda, tetapi kebiasan di masa kecil melekat di dalam diri mereka.


Sampai seketika Kharel mengalah, dia mengiyakan semuanya demi menyudahi perdebatan yang tiada habisnya. Kemudian dia pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat, dan diberikan baju tidur milik Appa Daniel untuk menggantinya.


Sementara Fayra sudah kembali ke kamarnya dalam keadaan wajar tersenyum, entah kebahagiaan apa yang ada didalam hatinya rasanya dia benar-benar seperti merasakan kehidupan kembali.


...*...


...*...


Tepat saat Ace sampai di halaman rumah, dia melihat ada sebuah ambulans terpampang jelas dengan beberapa para medis yang berjaga.


Wajah panik dan juga terkejut membuat Ace langsung turun dari mobilnya, dia berlari sekuat tenaga masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Dimana Daddy Gerry berada diatas bangkar dengan posisi napasnya sudah tidak beraturan dan terdengar sangat melengking. Pertanda bahwa penyakit asma yang di deritanya selama ini jarang kambuh, tiba-tiba saja kambuh membuat Ace semakin panik.


"Mom, ada apa dengan Daddy? Kenapa Daddy seperti ini? Apa yang terjadi, Mom. Apa!" pekik Ace wajahnya memerah diselimuti rasa takut yang amat menyedihkan.


"Hiks, Mommy juga tidak tahu Ace. Tiba-tiba saja asma Daddymu kambuh saat dia menerima telpon dari seseorang. Tiba-tiba Daddy sudah seperti ini, hiks. Tolong Daddy, Ace. Tolongin Daddy, Mommy enggak mau kehilangan Daddy. Mommy mohon hiks ...."


Mommy Rosa menangis didalam pelukan Ace dengan memukul-mukul dadanya, tanpa sadar jika wajah anaknya terdapat banyak luka. Ace hanya bisa meneteskan dan berusaha untuk menenangkan Mommynya, padahal dia sendiri pun merasa sangat khawatir.


Para medis segera membawa Daddy Gerry masuk ke dalam mobil ambulans, lalu Ace dan Mommy Rosa segera mengikutinya menggunakan mobilnya tepat dibelakang ambulans.


Mommy Rosa tak henti-hentinya terus menangisi keadaan suaminya, rasanya dia belum siap jika harus kehilangan suaminya untuk saat ini. Sementara Ace melihat keadaan Mommynya membuat hatinya seperti teriris benda tajam yang sangat menyakitkan.


Ace tidak menyangka jika kepulangannya akan disambut dengan beberapa masalah yang terus berdatangan. Awalnya Ace datang dengan tujuan ingin menghadiri pesta pernikahan sahabatnya, walaupun tidak diundang.


Cuman dia malah melihat kondisi Daddy Gerry sudah mulai melemah dengan badan yang mulai menyusut. Apa lagi Mommy Rosa yang setiap saat terlihat cantik dan segar. Kini malah terlihat bagaikan bunga yang sangat layu, jauh dari biasanya.


Setibanya di rumah sakit, mereka langsung segera turun dan membantu mendorong bangkar Daddy Gerry menuju ruang UGD. Dimana pada saat itu Daddy Gerry sudah dalam keadaan pingsan tak berdaya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa mampir ya guys, ini ada novel milik sesama author terbaik ❤️

__ADS_1



__ADS_2