
Hampir 5 menit akhirnya Kharel kembali dengan wajah sedikit pucat, tetapi masih baik-baik saja. Rasanya begitu lega, lalu dia memberikan sebotol minuman untuk Fayra dan dirinya.
Habis itu Kharel pun melajukan mobilnya menuju opotik terdekat untuk membelikan obat agar bisa diminum oleh Fayra. Karena Kharel takut jika rasa nyeri, perih akan membuat tubuh Fayra menjadi panas.
Disaat itu juga Kharel memberikan jasnya supaya bisa digunakan oleh Fayra, agar tubuhnya tidak masuk angin.
...*...
...*...
Kurang lebih 1 jam berlalu, dimana hari sudah semakin larut malam dan menunjukkan pulkul 12 malam. Kharel baru saja sampai di depan gerbang pintu milik keluarga Fayra, kemudian Kharel turun lebih dulu dan membantu Fayra.
"Pelan-pelan, nanti kamu bisa jatuh." ucap Kharel dengan segala ke khawatirannya, meskipun masih terkesan cuek.
"Apa sih, Pak. Aku ini yang sakit punggung bukan kakiku, jadi jangan seolah-olah aku ini enggak bisa jalan dengan benar." jawab Fayra, kesal.
"Ya, siapa tahu kan. Bisa jadi punggungmu yang sakit kakimu yang tak bisa gerak, sama halnya pikiranmu mengatakan tidak tapi hatimu mengatakan iya." jelas Kharel, membuat Fayra menghentikan langkahnya.
"Hahh? Ma-maksud Pak Kharel apa?" sahut Fayra, bingung dan tidak mengerti.
"Udah lupain aja. Sekarang cepatlah masuk dan ganti bajumu itu, sebelum angin menyerang tubuhmu." ujar Kharel, datar.
"Dishh, dasar pria aneh." gumam lirih Fayra. Kembali melangkahkan kakinya ke pintu utama.
"Ya, aku aneh. Aneh karena aku bisa mencintai wanita seperti kamu!" jawab batin Kharel.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam rumah setelah memencet tombol bel, hingga membuat sang Bibi keluar dan membukakan pintu.
Awalnya Kharel hanya ingin mengantar Fayra sampai ke depn pintu saja, cuman siapa sangka Fayra malah memintanya untuk masuk lebih dulu.
Perlahan langkah Kharel pijakkan sambil matanya menatap ke seluruh sudut rumah. Rasa kagum dan takjup mulai menyelimutinya. Kharel tidak menyangka rumah yang terlihat biasa saja dari luar, seketika isinya cukup membuatnya syok.
Ya, walaupun jika dipandang dengan mata rumah ini identik dengan barang-barang antik milik Appa Daniel. Dia memang senang mengoleksinya, sampai hampir sudut rumah penuh dengan koleksinya.
Tapi, tak apa. Dengan hiasan yang terlihat simpel, itu kesannya memang sangat indah. Kharel tidak menyangka masih ada orang yang menyukai barang antik.
"Bi, apa Appa sama Amma udah tidur?" tanya Fayra sambil jalan ke ruang tamu.
"Belum, Non. Mereka dari tadi nungguin Non Fayra yang belum pulang, sampai mereka terlihat cemas dan beberapa menit lalu mereka baru aja naik ke atas. Apa mau saya panggilkan, Non?" jelas Bibi.
"Boleh, Bi. Tolong ya, Fayra tunggu di ruang tamu." Fayr pun berjalan setelah diangguki oleh sang Bibi.
"Santai aja, Pak. Appa dn Amma orangnya enggak kaya gitu kok. Justru kalau Bapak pulang mereka akan menanyakan kenapa aku tidak menahan dan sebagainya. Udah ayo!"
Fayra tersenyum kecil, tanpa sadar menarik tangan Kharel, membuatnya panas dingin. Baru kali Kharel kembali merasakan seperti apa genggaman seorang wanita, ketika dulu dia sempat melepaskan genggaman seseorang.
"Sebenarnya bukan masalah itu, Raa. Ini kali pertamanya saya datang ke rumah wanita, apa lagi malam-malam seperti ini. Rasanya hati, jantung dan tubuh semuanya bergetar menjadi satu."
"Huhh, tenang Kharel. Kamu pasti bisa kok, anggap aja sekarang lagi nemuin orang tua mahsiswimu. Jadi kamu tidak akan lagi gugup seperti ini!"
Kharel berjalan, kemudian duduk di satu sofa dalam keadaan terlihat tegang. Wajah gugup dan detak jantung yang bekerja sangat cepat membuat Kharel tidak tenang. Dia terus menguatkan dirinya sendiri dengan cara berbicara didalam hatinya.
__ADS_1
Sampai akhirnya Fayra meninggalkan Kharel seorang diri, lantaran dia mau pergi ke dapur untuk membuatkan minum.
Melihat sedikit peluang, Kharel pun bangkit dia berjalan kesana-kemari dengan posisi melompat ataupun push up. Semua itu akan Kharel lakukan disaat rasa nervous sudah melanda tubuhnya.
Disaat Kharel sedang berusaha menetralkan degup jantungnya, orang tua Fayra datang dalam keadaan terkejut.
"Maaf, Tuan ini siapa ya? Kenapa Tuan bisa push up disitu itu?" tanya Appa Daniel bingung melihat Kharel.
"Sayang, kenapa anak kita bisa berubah seperti ini?" tanya Amma Trysta, bingung.
Kharel yang awalnya merasa udah mulai tenang, kini kembali digoncang oleh rasa malu yang luar biasa. Dia tidak percaya aksinya malah ketahuan oleh kedua orang tua Fayra.
Kharel langsung bangkit dan berbalik menatap kedua orang tua Fayra dengan perasaan takut, gugup dan juga malu. Sementara Appa Daniel yang melihat wajah Kharel merasa tidak asing, karena dia seeprti mengenal Kharel dengan sangat baik. Hanya saja dia sedikit lupa untuk bisa mengingat semuanya.
"O-om Daniel? Ini benarkan Om Daniel Richadzon?" ucap Kharel dengan wajah terkejut, dia tidak percaya dengan hari ini.
Sekian lama dia mencari dan mencari, pada akhirnya takdir menemukan mereka tanpa di sengaja. Appa Daniel masih terdiam dia bingung kenapa Kharel bisa mengenalinya, sementara dirinya tidak ingat siapa pria yang ada dihadapannya saat ini.
"Dari mana Tuan bisa tahu namaku, apakah kita sebelumnya saling mengenal? Dan Tuan ini siapa, ada keperluan apa Tuan datang ke sini?" tanya Appa Daniel dengan rasa penasarannya.
Amma Tryta menatap wajah Kharel dengan intens sampai akhirnya dia mulai teringat, siapa Kharel sebenarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa mampir ya guys, ini ada novel milik sesama author terbaik ❤️
__ADS_1