
Bagimana tidak menang, Kharel merelakan tubuhnya babak belur hanya ingin mengetes kekhawatiran Fayra. Jika Fayra benar mencintainya, maka dia akan segenap kekuatan untuk menyelamatkannya. Dan sekarang terbukti, bukan? Kalau Fayra ternyata memang sudah mencintai Kharel. Begitu juga dirinya, hanya tinggal menunggu waktu.
Kharel bangkit bersama Fayra, kemudian Fayra membawa Kharel turun dari rooftop dengan cara membopongnya perlahan. Tak lupa saat meninggalkan Ace, Kharel menoleh sambil tersenyum penuh kemenangan.
Fayra bergegas membawa Kharel dan meminta pertolongan sama sang suster untuk mengobati luka Kharel. Kecemasan dan kepanikan terlihat jelas diwajah Fayra, membuat Kharel tersenyum. Dia merasa begitu senang, ternyata perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Sus, tolong obatin lukanya!" ucap Fayra dengan wajah khawatir, lalu sang suster menyuruh Fayra untuk membawanya ke suatu ruangan.
Perlahan Kharel duduk diatas bangkar, kemudian sang suster pun mengobatinya dengan hati-hati. Fayra yang melihatnya sedikit tidak tenang sambil menggigiti jarinya sendiri, tetapi berbeda dengan Kharel.
Dia malah terlihat biasa saja tanpa sedikitpun kesakitan, meskipun obat alkohol telah mengenai lukanya. Bagaimana bisa? Ya, itu semua karena Kharel selalu menatap wajah Fayra sambil sedikit tersenyum.
Wajah cemas dan kekhawatiran didalam diri Fayra, seakan-akan sebagai penguat bagi Kharel sehingga dia kebal dengan rasa sakit. Walaupun terkadang masih suka sedikit meringis.
Beberapa menit, sang suster telah selesai mengobati luka Kharel. Dia pun berpamitan untuk kembali mengurus pasien lainnya. Disana hanya menyisakan Kharel dan juga Fayra.
"Bapak tuh kenapa sih, cari masalah mulu. Gimana kalau Bapak kenapa-kenapa, hahh!" Fayra menatap kesal kearah Kharel yang saat ini hanya menatapnya sambil tersenyum dan mengayun-ayunkan kakinya.
"Memangnya kenapa kalau saya kenapa-kenapa? Bukannya bagus?" goda Kharel.
"Bagus pala lu peang! Kalau ngomong, bisa enggak sih di saring dulu gitu loh. Jangan asal jeplak aja," balas Fayra kesal.
"Memangnya kenapa?" sahut Kharel, rasanya dia ingin sekali tertawa saat melihat wajah Fayra begitu lucu ketika dia sedang marah.
"Kenapa aja terus! Bapak itu mikirin perasaan aku enggak sih, jika sesuatu terjadi sama Bapak bagaimana dengan nasibku? Aku pasti akan sangat sedih, takut kalau Bapak tidak bisa membuka mata lagi!"
"Mikir, Pak. Mikir! Aku itu khawatir banget saat Bapak dipukulin seperti tadi. Lagian juga Bapak kenapa enggak menyingkir aja dari dia sih, kenapa Bapak malah memilih diam. Bukannya Bapak itu jago bela diri dari kecil, kan? Terus kenapa tadi Bapak diam aja? Kenapa! Jawab, Pak. Jawab!"
__ADS_1
Tanpa basa-basi lagi, kedua kaki Kharel langsung menarik tubuh Fayra agar mendekat dan membawanya ke dalam pelukan. Wajah terkejut mulai menyelimuti Fayra, dia tidak menyangka Kharel akan melakukan ini padanya.
Sampai akhirnya seketika rasa kesal dan juga marah didalam diri Fayra, seakan-akan telah menghilang begitu saja. Kemudian tergantikan oleh sedikit senyuman-senyuman kecil yang menghiasi bibir Fayra.
"Udah jangan marah-marah mulu, nanti cepat tua. Tenang aja, sesuatu yang terjadi denganku itu tidak akan sampai merebutku darimu. Takdir yang awalnya memisahkan kita, seketika dia kembali mempertemukan kita dengan jalan yang tak disangka-sangka."
"Untuk itu, aku mohon. Jangan pernah tinggalin aku seperti dulu, sudah cukup aku menderita dengan semua kerinduan yang selama ini selalu menghantui jam tidurku. Kali ini tidak lagi, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Karena kamu adalah sumber kekuatanku," Kharel memeluk Fayra dengan mata yang berkaca-kaca.
Rasanya Kharel tidak mau saat ini segera berlalu, semua kerinduan yang berusaha dia bendung seorang diri dari tahun ke tahun akhirnya terbalaskan. Kharel tidak menyangka disaat dia sudah hampir melupakan Fayra, seketika takdir malah kembali mempermainkan hatinya.
"A-aku? Se-sejak kapan Bapak panggil diri Bapak sendiri dengan sebutan aku? Bukannya biasanya saya? Terus kenapa sekarang berubah?" tanya Fayra dengan segala pemikirannya.
"Sejak aku kembali menemukan Princes Chubby-ku. Jadi semua panggilan itu berubah, begitu juga kamu. Jangan lagi panggil aku dengan sebutan Bapak, tapi panggil aku dengan sebutan calon suami. Bagaimana? Indah bukan, ya dong."
"Yakkk, apa-apaan ini. Bisa-bisanya mencari kesempatan dalam kesempitan dasar menyebalkan. Dahlah, aku mau pulang. Bye!"
"Kamu tega sama aku, padahal aku lagi sakit loh. Awshh," rengek Hans. Dia terjatuh dari bangkarnya membuat Fayra menjadi panik dan bergegas menolong Kharel.
"Nahkan, ceroboh banget sih jadi cowok! Udah tahu lagi sakit masih aja sok kuat!" pekik Fayra, yang sudah menyangkutkan tangan Kharel kedalam rangkulannya.
"Ya, habisnya kamunya mau ninggalin. Jadi ya aku refleks aja langsung mau lari, dari pada aku kehilangan kamu. Mending aku terjatuh berkali-kali demi mengejarmu."
Perkataan Kharel berhasil menyentuh hati Fayra, entah mengapa debaran hati yang sudah mati kini telah kembali hidup. Hanya saja debaran itu bangkit dengan orangnya yang berbeda.
Setelah menyadari perasaan itu, Fayra tetap berusaha menunjukkan wajah kesalnya. Sementara Kharel yang tertawa kecil, lagi-lagi membuat Fayra langsung menyikut perut Kharel cukup keras.
Bugh!
__ADS_1
"Arrrghh, sa-sakit tahu!" sahut Kharel berteriak, dia menatap ke arah Fayra.
"Kenapa? Mau lagi, atau kurang banyak? Boleh, aku masih banyak stocknya kok," balas Fayra jenuh.
"Jangan jahat-jahat jadi wanita, nanti jodohnya kabur mau?" ucap Kharel semakin membuat Fayra kesal.
"Berisik! Udah ayo buruan jalan, aku mau pulang!" jawab Fayra dengan segala emosi yang mulai keluar.
"Baiklah istriku, ayo kita pulang ke istana yang sudah aku buatkan untuk masa depan kita." goda Kharel, melirik kearah Fayra sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Sekali lagi matamu seperti itu jangan salahkan aku, jika besok kamu sudah tidak bisa lagi menatap pagi dan malam secara bergantian!" ancam Fayra membuat Kharel hanya bisa terkekeh kecil lalu meneruskan langkah kakinya secara perlahan.
"Heheh, ma-maaf Princes Chubby-ku." ucap Kharel membuat Fayra jengah dan fokus pada langkah kakinya.
Tanpa disadari Fayra sudah mulai menghilangkan panggilan Bapak kepada Kharel, dan tergantikan dengan panggilan yang cukup akrab untuk mereka berdua.
Langkah demi langkah, mereka pijakkan sesekali dihiasi dengan pertengkaran kecil yang membuat semua orang melihatnya, langsung menatapnya dengan tatapan menggoda.
Beberapa dari mereka ada yang mendoakan agar Kharel sama Fayra bisa berjodoh, dan ada beberapa lagi yang membayangkan bagaimana anak mereka nanti. Apakah akan sama seperti Emak-Bapaknya yang seperti ini, atau akan lebih menggemaskan lagi.
"Ternyata mudah sekali ya mengelabuhi Princes Chubby-ku ini. Hanya dengan berpura-pura terjatuh, langsung dapat pelukan seperti ini. Padahal kan dia tahu, yang sakit itu wajahku bukan kakiku, tetapi kenapa dia malah merangkulku? Aishh, tak apalah anggap aja ini adalah sebuah bentuk perhatian dari seorang Ayang, hihi ...." gumam batin Kharel saat matanya sesekali melirik kearah wajah Fayra.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa mampir ya guys, ini ada novel milik sesama author terbaik ❤️
__ADS_1