Learn to Love You

Learn to Love You
Sosis Spesial


__ADS_3

Fayra kembali membayangkan akan masa-masa kecil yang cukup membuatnya merasa malu, jika dipikir-pikir kenapa bisa Fayra melakukan itu bersama Kharel seolah-olah mereka memerankan pasutri dengan sangat baik.


Sementara Kharel yang sudah capek, segera masuk ke dalam mobilnya sambil menoleh ke arah Fayra yang tersenyum memegangi pipinya menatap ke arah depan.


Beberapa kali lambaian tangan Kharel tidak berhasil membuyarkan lamunan Fayra. Semua itu karena Fayra lagi mengingat masa kecilnya bersama Kharel yang sangat berkesan. Malu sih, tapi itu kenangan-kenangan terindah yang tidak akan bisa Fayra lupakan sampai detik ini.


...Flashback...


Saat Fayra berusia 5 tahun, kemudian Kharel berusia 12 tahun mereka berdua sedang asyik bermain didalam kamar milik Fayra.


"Kak Kalel kita main Mamah Papah yuk, nanti Kak Kalel jadi Papahnya aku jadi Mamahnya. Teyus ini, jadi anak kita deh, lucu kan. Ya dong, kan sama kaya Mamahnya hihi ..." Fayra terkekeh ketika memeluk sebuah boneka yang cukup manis. Sementara Kharel hanya terdiam dengan keadaan bingung.


"Kata Papahku kalau pipisnya belum lurus, terus masih suka di pegangin itu tandanya dia belum besar. Jadi enggak boleh nikah dulu," Kharel menatap wajah Fayra yang saat ini terlihat bingung.


Fayra menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil memeluk bonekanya. "Memangnya Kak Kalel kalau pipis dipegang? Kok Fayla ndak ya?" Wajah bingung mulai menyelimuti gadis kecil yang terbilang masih sangat polos.


"Ya bedalah, kamu itu kan perempuan dan aku laki-laki jadi beda cara pipisnya juga." ucap Kharel.


"Oh gitu ya, memangnya Kak Kalel kalau pipis gimana? Coba contohin, Fayla mau liat." titah Fayra dengan wajah tak berdosa.


Mendengar perkataan Fayra membuat Kharel seketika terdiam, meskipun usia Kharel masih terbilang dibawah umur. Cuman dia sudah sangat mengerti tentang apapun yang berbau unsur dewasa. Meski tidak semuanya, tetapi dia sedikit tahu.


"Sepertinya aku salah ucap deh," Batin Kharel berbicara dengan wajah yang tidak bisa dijelaskan.


"Kak Kalel, kenapa diam. Ayo tunjukin," rengek Fayra.


"Yakk, e-enggak enggak mau! Nanti yang ada kau bisa tahu bentuk sosisku, huaa ... Tidak, tidak, tidak!" balas Kharel, wajahnya kian memerah malu sambil tangannya refleks memegang benda kesayangannya.


"So-sosis? Huaaa, mau Kak mau. Fayla mau sosis, mau sosis. Mana Kak, mana, mana?"

__ADS_1


Fayra terlihat sangat antusias, ya begitulah Fayra waktu kecil. Dia sangat menyukai sosis ataupun naget. Jadi, jika Kharel mengatakan seperti itu bisa dikatakan dia menaruh jebakan pada dirinya sendiri.


"Astaga, aku lupa kalau dia kan sangat menyukai sosis. Huaa, Mamah, Papah bagaimana ini benda kesayanganku diminta oleh gadis menyebalkan itu!" ucap Kharel didalam hati kecilnya, ditambah ekspresi wajahnya begitu takut ketika Fayra terus merengek.


"Jangan bilang kalau Kak Kalel sembunyiin sosisnya di dalam situ, iya? Huaa, mana mana coba Fayla mau lihat sosisnya. Masa iya Kak Kalel punya sosis malah diumpetin, jahat banget enggak mau dibagi-bagi."


"Isshh, awas tangannya Kak awas. Fayla mau minta sosisnya, dikit aja. Kalau enggak satu gigitan aja deh please. Ayolah Kak, jangan pelit-pelit nanti Fayla nangis nih. Mau? Hiks ...."


Betapa terkejutnya saat tangan mungil Fayra sudah berada diatas tangan Kharel. Sementara Fayra berusaha keras menyingkirkan tangan Kharel dengan susah payah, sambil berpura-pura menangis.


Itulah jurus andalan Fayra, dia akan menangis secara tiba-tiba demi apa yang dia inginkan. Mata Kharel membola besar, dia bingung. Bagaimana caranya menghentikan aksi bar-bar Fayra yang berpikir bahwa Kharel sedang menyembunyikan sosis kesukaannya.


"Astaga, Fayra. Hentikan semua itu, kau bisa syok saat tahu sosis yang ini tuh beda dari yang lain!" pekik Ace mencoba terus menghindari Fayra.


"Tuhkan, Kak Kalel diam-diam telnyata punya sosis spesial. Huaa, jahat. Kak Kalel jahat, hiks ... Fayla benci Kak Kalel, pokoknya benci!"


Fayra langsung berlari, kemudian duduk meringkuk di pojokan dekat kasurnya. Lalu Fayra menenggelamkan kepala diantara kedua kakinya yang saat ini sedang dia peluk.


Akan tetapi, jika tidak di perlihatkan maka Fayra tidak mau berhenti menangis. Apa lagi Fayra mengatakan sesuatu yang membuat dada Kharel terasa sesak.


"Sudah tidak ada jalan lagi. Aku harus menunjukkan sosis ini kepadanya supaya dia tahu kalau ini tuh bukan sosis yang dia kira."


"Hahhh, baiklah sosis siap-siap tunjukkan pesonamu, jangan sampai membuat Princes Chubbyku menyesal ketika melihatmu."


Kharel berbicara didalam hatinya sambil perlahan melangkahkan kakinya mendekati Fayra, sementara Fayra dia terus membuang muka dalam keadaan wajah kesal bercampur sedih.


Beberapa kali Fayra mengusir Kharel agar tidak mendekatinya, malah membuat Kharel segera memeluk Fayra dan mencoba menenangkannya.


Dimana Kharel sedang berusaha keras untuk membuat Fayra mengerti bahwa sebenarnya ini itu bukanlah sosis yang sering dia makan. Melainkan sosis masa depannya. Cuman, karena Fayra tidak percaya mau tidak mau Kharel harus membuktikannya.

__ADS_1


Beberapa menit setelah Fayra mulai tenang, Kharel meraup wajahnya sambil berkata. "Udah ya jangan nangis lagi, nanti cantiknya hilang loh. Kalau Fayra mau melihatnya, ya sudah aku akan kasih lihat, tapi ada syaratnya. Gimana?"


"A-apa salatnya, Kak?" tanya Fayra matanya masih berkaca-kaca, menatap polos ke aeah Kharel.


"Fayra harus janji setelah Fayra melihat sosis ini Fayra tidak boleh kaget sama apapun bentuknya nanti. Dan Fayra juga jangan bilang siapa-siapa, okay?" Kharel tersenyum menatap Fayra yang terlihat sedikit bingung.


"Hem, oteh deh. Tapi, Kak Kalel halus bagi 2 sosis itu sama aku ya. Janji?" Fayra menyodorkan jari kelingkingnya kehadapan Kharel, lagi-lagi Kharel tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa. Karena ini itu tidak seperti yang Fayra pikirkan, jika sosis Kharel dibagi 2 maka dia tidak lagi memiliki masa depan yang cerah.


"Aku tidak bisa berjanji soal itu, karena nanti kamu akan tahu sendiri. Jika sosis ini menempel denganku jadi tidak pernah bisa dibagi 2 denganmu." jawab Kharel.


"Yaa, kok gitu sih. Kalau enggak dibisa dibagi dua belalti Fayla tidak bisa mencicipinya dong? Hemp, tak maulah kalau begitu. Pelcuma Fayla lihat sosis itu kalau Fayla tidak bisa memilikinya semua sia-sia dong?"


"Tahu begitu mendingan Fayla minta sama Amma aja buat golengin sosis yang banyak, tapi Fayla ndak mau bagi-bagi sama Kak Kalel karena Kak Kalel juga pelit. Wlee!"


Fayra langsung bergegas berlari keluar dari kamarnya dengan lidah yang dia julurkan buat Kharel. Mendengar jawaban itu membuat napas Kharel terasa begitu lega. Layaknya seseorang yang baru keluar dari penjara bertahun-tahun dan baru bisa merasakan udara kebebasan.


"Huaahhh, rasanya lega sekali saat Fayra mengatakan seperti itu. Kita selamat dodot, semoga kejadian ini tidak terulang lagi. Aku malu jika mempertunjukkanmu sebelum waktunya tiba."


"Apa lagi bentukmu yang sekarang masih sangat buruk, mungkin beberapa tahun lagi bentukmu udah sangat bagus, gagah dan tampan. Maka disaat itulah aku akan menunjukkan pada Fayra, bahwa sebenarnya ini loh sosis yang kamu inginkan sejak kecil. Sayangnya dia tidak bisa dimakan, hanya bisa dirasakan hihih ...."


Kharel berdiri lalu berbicara sambil pergi meninggalkan kamar Fayra, dengan perasaan senang. Bagaimana tidak, hampir saja Kharel menunjukkan aset berharganya yang belum jadi itu pada seorang wanita menyebalkan seperti Fayra.


Jika Fayra melihatnya pun dia malah tambah bingung kenapa bentuknya seperti ini, dan bagaimana dia bisa menempel di tubuh Kharel. Entahlah, itulah yang dinamakan keajaiban.


Sosis yang harusnya dimakan dengan nasi, tetapi ini hanya bisa dinikmati tanpa mengunyahnya dan malah sosis itu yang akan menggigit seseorang yang telah berhasil mendekatinya.


...Flashback off...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jangan lupa mampir ya guys, ini ada novel milik sesama author terbaik ❤️



__ADS_2