
Kedua sejoli itu pergi ke taman belakang untuk menikmati dinginnya malam, indahnya bintang dan cantiknya rembulan. Semua itu Fayra lakukan demi membuat mood Kharel kembali membaik.
Mereka duduk di rerumputan dalam keadaan yang sedikit berbeda. Kharel duduk dengan posisi berselonjoran menatap keatas langit sambil kedua tangan menahan tubuhnya. Sementara Fayra dia duduk menyilakan kedua kakinya melirik kearah Kharel.
"Kakak masih marah sama aku? Kakak masih kesel sama aku? Ya, maaf. Habisnya Kakak nyebelin banget sih, main nyosor aja. Udah tahu aku risih, masih aja dilakuin!" Tanpa di sadari perkataan Fayra, telah mencubit hati Kharel.
"Memang salah jika aku memeluk calon istriku sendiri? Salah aku manja kepada calon istriku sendiri? Salah aku berharap bisa disayang ataupun dicintai sama kamu? Salahkah?"
"Maaf jika semua itu salah, aku tidak lagi-lagi bersikap seperti itu. Maaf juga kalau aku sudah membuatmu risih dengan semua sikap anehku ini. Sekali maaf!"
Kharel menoleh tanpa ekspresi membuat Fayra langsung menyadari ucapannya yang sedikit menyinggung perasaan Kharel.
"Bu-bukan begitu, Kan. Ma-maksudku--"
"Sudah tidak apa-apa, setidaknya aku bisa kembali bertemu dengan gadis kecil yang aku cintai pun udah membuatku bahagia. Walaupun aku tidak bisa memilikimu, ya aku rela."
"Bahkan jika suatu saat nanti kamu menemukan pria yang bisa membuatmu bahagia dan itu bukan aku pun, aku tak masalah. Selagi pria itu bisa menjamin sebuah kebahagiaan yang tiada henti untukmu, maka aku akan mundur dari perjuangan ini."
"Terserah kamu mau bilang aku pria peng*ecut atau apapun itu, tak masalah. Karena aku lebih baik melihatmu bahagia dengan pilihanmu, dari pada aku memaksakan kehendakku yang mana kamu tidak akan pernah bisa merasa bahagia denganku."
__ADS_1
"Ingat, Raa. kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku, rasa sakitmu adalah rasa sakitku. Jika kamu bahagia aku akan ikut bahagia, jika kamu sakit maka aku akan lebih sakit ketika melihat orang yang aku cintai sampai meneteskan air mata berharganya."
"Andaikan waktu bisa diputar, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dariku. Karena jika pada waktu itu kita tidak berpisah, kemungkinan besar sekarang kita sudah menikah lalu memiliki anak yang lucu-lucu dan hidup bahagia. Tanpa kamu harus melewati semua jalan menyakitkan ini yang terasa amat pahit."
Kharel berkicau sambil menatap langit yang indah, tanpa di sadari air mata Kharel menetes membuat Fayra yang melihatnya pun tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Fayra tidak menyangka, jika masih ada didunia ini pria yang sebaik Kharel yang sudah mau menerimanya, meski sifatnya terkadang menyebalkan.
Bahkan Kharel pun tidak memaksakan semua perasaannya untuk Fayra balas, karena kebahagiaan Fayra adalah yang nomor 1 bagi Kharel.
Tidak masalah jika Kharel harus hancur, asalkan wanitanya bisa bahagia dan selalu tersenyum sepanjang harinya.
Satu perlakuan Fayra mampu membuat Kharel, refleks menoleh dengan posisi yang masih sama seperti semula. Perkataan demi perkataan yang Fayra ucapkan mampu membuat Kharel tersenyum sambil menangis.
"Kenapa, hem? Ada apa? Kenapa kamu nangis seperti ini? Apa ada yang salah dengan ucapanku? Jika aku salah, ma---"
Fayra menggelengkan kepalanya cepat, tangannya menutup rapat bibir Kharel sambil mendongak menatapnya dengan air mata yang mulai mengucur.
"Ka-kakak tidak salah, malah Kakak itu terlalu baik buat aku yang masih banyak kekurangan ini. Aku yang seharusnya minta maaf, karena aku hanya bisa menyakiti Kakak dari kecil sampai detik ini."
__ADS_1
"Kepergianku waktu itu udah membuat kehidupan Kakak hancur, dan merubah jati diri Kakak menjadi pria seperti ini. Aku takut, Kak. Aku takut jika aku kembali membuka hati maka aku akan kembali merasakan kepahitan itu. Aku enggak mau lagi berada diposisi itu, Kak. Cukup, aku udah cukup menderita karena cinta. Dan aku tidak mau keulang lagi, hiks ...."
Fayra menangis sejadi-jadinya didalam pelukan Kharel, semua perasaan sakit yang selama ini dia pendam seorang diri telah terbuka semuanya didalam pelukan Kharel.
Hampir beberapa menit Fayra menumpahkan semuanya, sampai dia mulai tenang. Kharel perlahan melepaskan pelukannya dan meraup wajah Fayra, membuat Fayra menatapnya dengan berkaca-kaca.
"Sstt, udah ya. Jangan ingat-ingat tentang masa lalumu lagi, sekarang waktunya kamu lihat ke depan. Kamu harus bisa bangkit, aku yakin kamu itu wanita yang hebat, kuat dan juga pantang menyerah. Ingat, Sayang. Sekarang udah ada aku. Aku akan selalu berusaha membuat kamu bahagia, apapun yang terjadi nantinya aku akan selalu ada buat kamu."
"Pegang ucapanku, kalau aku tidak akan pernah menyakitimu ataupun membuat air matamu kembali menetes akibat hatimu yang terluka. Tetapi aku akan ganti air mata kesedihan ini dengan air mta kebahagiaan, anggap saja aku ini bagaikan sebuah obat yang akan menyembuhkan semua rasa sakitmu itu."
Kharel tersenyum manis menatap Fayra sambil mengusap setiap bulir air mata yang masih menetes di pipinya. Tanpa disengaja Kharel mencium kening Fayra membuatnya sedikit terkejut.
Namun, perkataan Kharel tadi mampu membuat hati Fayra tersentuh. Pada akhirnya Fayra memejamkan matanya sekilas sambil menarik napasnya perlahan, lalu berusaha melawan semua rasa sakitnya agar bisa membuka hatinya untuk Kharel.
"Kak, a-apa aku boleh bertanya?" ucap Fayra wajahnya terlihat begitu serius.
"Silakan, apapun pertanyaanmu. Aku akan menjawab sebisaku, tanpa adanya kebohongan." jawab Kharel sambil tersenyum.
Rasanya Fayra begitu ragu ketika dia ingin menanyakan sesuatu, dia takut jika semua jawabannya itu diluar ekspetasinya. Sampai beberapa menit Fayra terdiam dengan segala pemikirannya.
__ADS_1
Kharel yang melihat Fayra seakan-akan ragu terhadap pertanyaannya sendiri, membuat Kharel paham. Kemudian Kharel kembali mencoba untuk berusaha menenangkannya supaya Fayra bisa mengatakan apa yang ingin ditanyakan padanya.
Perlahan Fayra mulai menarik napasnya, lalu dia mengatakan sesuatu yang membuat Kharel hanya bisa tersenyum setiap kali pertanyaan terlontar dari bibir gadis kecilnya ini.