Learn to Love You

Learn to Love You
Pengambilan Saham


__ADS_3

Seumur-umur Kharel tidak pernah merasakan hal ini, bahkan hampir dibilang bahwa Kharel adalah pria Gay yang tidak menyukai wanita. Belum lagi sikapnya yang tidak pernah merespon siapapun, menyangka bahwa Kharel tidak tertarik oleh wanita.


Cuman kali ini, pertama Kharel mulai merespon kehadiran wanita dan ternyata dia sedikit bingung. Siapa yang harus dia mulai fokusin, Fayra ataukah Rara? Karena kedua wanita itu benar-benar telah membuatnya terjebak di dunia dilema.


...*...


...*...


Di Indonesia, hubungan antara keluarga Fayra dan juga Ace ternyata tidak sedekat ketika sebelum ada masalah besar itu terjadi.


Beberapa kali Daddy Gerry dan Appa Daniel bertemu di suatu acara bahkan meeting penting. Mereka terlihat seperti orang asing yang hanya sekedar mengenal tanpa memiliki kedekatan seperti sebelumnya.


Cuman lebih tepatnya Appa Daniel yang terkesan cuek, dan sekedarnya untuk berbicara hanya demi menghargai sahabatnya. Meskipun rasanya masih sangat sakit membantunya untuk bisa menjalani Perusahaan, tetapi Appa Daniel tidak akan pernah membiarkan rasa dendam menyelimutinya.


Kecewa boleh, asalkan jangan membuat hati menjadi kotor untuk membenci siapapun termasuk sahabatnya sendiri.


Hari ini adalah hari yang menegangkan untuk Daddy Gerry, lantaran Appa Daniel akan mengambil semua aset miliknya untuk kembali berada di tangannya. Sehingga hampir 40% sahabat yang Appa Daniel tanam, kini akan kembali pada dirinya.


Bukan berarti Appa Daniel terlalu kejam kepada Daddy Gerry, melainkan dia mau Daddy Gerry berusaha sendiri untuk mencapai kesuksesannya tanpa lagi melalui campur tangan dirinya.


Sama halnya seperti Fayra, yang belajar membenahi diri demi mengejar cita-cita dan kebahagiaannya tanpa Ace disisinya. Apa lagi sampai sidang berjalan beberapa kali, Ace enggan untuk mencari keberadaan Fayra. Dia malah terlalu asyik dengan dunia barunya yang sama sekali tidak penting.


...Di Perusahaan Daddy Gerry...



Appa Daniel dan Daddy Gerry sudah berada di ruangan meeting dengan beberapa pengacara dan juga pihak pendamping lainnya. Ini merupakan meeting paling penting dan juga bersejarah diantara keduanya.


Mau tidak mau, suka tidak suka. Daddy Gerry harus terima jika saham yang di tanamkan oleh Appa Daniel akan kembali kepadanya. Perusahaan Daddy Gerry saat ini sangat berkembang jauh lebih dari Appa Daniel. Jadi, dia tidak akan takut ketika semua saham akan diambil alih oleh Appa Daniel selaku pemiliknya.

__ADS_1


"Bagaimana Tuan, apakah penjelasan saya ada yang kurang berkenan dihati kalian semua?" ucap pengacara Appa Daniel.


Beliau baru saja menjelaskan sebuah perkara dan juga tata cara untuk mengembalikan saham supaya keduanya tidak merasa dirugikan.


"Bagaimana, Tuan Gerry?" tanya pengacaranya, sambil menatap wajah Daddy Gerry yang terlihat sangat murung dan berusaha untuk tetap tenang.


"Saya ngikut saja, jika penarikan saham tersebut tidak sampai membuat Perusahaan goyang. Silakan saja, tetapi saya mohon cabutlah secara perlahan dan jangan sekaligus!" tegas Daddy Gerry, secara pasrah. Lantaran sudah tidak ada lagi yang bisa dia perbuat untuk menahan sahabatnya agar tidak menariknya.


Semua orang pun mengangguk secara bersamaan, begitu juga Appa Daniel yang hanya menyimak. Dia tidak mau banyak berbicara, karena baginya rasa sakit dihati masih belum bisa membuatnya berdamai dengan keadaan saat ini.


"Baiklah, Tuan. Jika semuanya sudah setuju. Silakan tanda tangani dokumen ini untuk bukti jika pengambilan saham akan segera dilakukan secara bertahap."


Pengacara Appa Daniel menjelaskan segalanya sambil memberikan beberapa berkas, yang harus ditanda tangani oleh pihak bersangkutan. Supaya kedepannya tidak ada masalah yang merugikan kedua pihak.


Satu persatu mulai menanda tangani semua berkas, kemudian meeting pun telah selesai. Dimana saat Appa Daniel ingin bangkit dari kursi dan memilih pergi meninggalkan perusahan, tiba-tiba Daddy Gerry menahannya.


"Tuan Daniel, bisakah berikan saya waktu sebentar saja untuk bisa berbicara denganmu?" ucap Daddy Gerry dengan formal, selagi mereka tidak berdua.


"Ma-maaf, Kak. Aku mengganggu waktumu sebentar. Ada yang harus aku bicarakan padamu." ucap Daddy Gerry dengan wajah seriusnya.


"Silakkan!" jawab Appa Daniel, sedikit tersenyum.


"Sebelumnya aku minta maaf, Kak. Jika anakku telah menghancurkan semuanya, aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan hubungan mereka. Aku cuman belum siap untuk mengatakannya pada menantuku pada saat itu."


"Namun, saat aku ingin menjelaskan semuanya ternyata menantuku sudah lebih dulu mengetahuinya. Tapi, jujur Kak. Aku juga kecewa dengan anakku. Aku tidak menyangka dia bisa sebreng*sek itu mempermainkan pernikahan yang sakral!"


"Bahkan dia telah menyakiti perasaan istrinya beberapa kali, tetapi masih diulangi. Sehingga dia lupa bahwa bukan hanya istrinya yang sudah dia sakiti. Melainkan kita sebagai orang tuanya pun merasakan apa yang dirasakan oleh menantuku."


"Untuk itu maafkan aku dan keluargaku, karena kami telah membuat hidup putri semata wayangmu hancur berantakan. Jika memang pernikahan mereka sudah tidak bisa diperbaiki, aku dan istriku sudah merelakan semuanya. Mungkin dengan begitu Fayra bisa menjalani hidupnya jauh lebih baik."

__ADS_1


"Cuman, satu hal yang harus Kakak tahu. Sampai kapan pun Fayra tetap akan menjadi putri kecil kami yang akan kami rindukan setiap harinya. Dan Kakak juga akan tetap selalu menjadi penutan untukku agar bisa bersikap tegas sebagai suami dan juga pemimpin."


Semua unek-unek yang ada didalam diri Daddy Gerry perlahan keluar bersamaan dengan kesedihan yang ada didalam hatinya.


Sama halnya seperti Appa Daniel, dia juga sebenarnya tidak mau seperti ini. Akan tetapi, mau bagaimana lagi semua sudah garis tangan Tuhan. Mungkin semua ini akan dijadikan pelajaran agar Appa Daniel tidak terlalu percaya dengan seseorang, termasuk menantunya sendiri.


Beberapa kali dia memberikan kesempatan untuk memperbaiki dirinya, sampai dia mengorbankan perasaan anaknya sendiri. Berharap anaknya bisa bahagia setelah dia merasakan sakit diawal, tapi nyatanya salah.


Semua tidak bisa diprediksi dengan baik. Karena takdir tidak bisa ditentukan kemana arahnya dan mereka juga tidak bisa memaksakan keadaan yang menolak keras semuanya.


"Sudahlah, semua sudah terjadi. Mau dibahas sampai kapanpun tidak akan bisa merubah keadaan, dimana putriku saat ini sedang berjuang kembali berdiri dan menata hidupnya yang sudah hancur. Jadi aku mohon biarkan putriku tenang dengan hidupnya yang baru.


"Bahkan sebentar lagi pun perceraian mereka akan diresmikan. Untuk itu aku hanya meminta kalian agar mengikuti semua proses dengan baik, izinkan putriku hidup dengan bebas tanpa gangguan dari anakmu."


"Semenjak dia hadir, aku dan istriku merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Bahkan kalian juga tahu bukan, gimana perjuanganku dan istriku untuk bisa memiliki anak? Cuman sayangnya, anak yang kami rawat dan juga besarkan. Kemudian kami serahkan kepada seorang pria yang kami kira bisa lebih membahagiakannya, ternyata salah!"


"Hidup bahagia yang seharusnya dia terima, berubah menjadi mimpi buruk yang tidak akan pernah bisa dilupakan sepenuhnya!"


"Terima kasih kamu dan istrimu sudah sangat menyayangi anakku, dan terima kasih sudah menjadi mertua yang baik untuknya. Tapi, maaf. Mungkin hubungan kita memang hanya cocok sebagai rekan bisnis tidak lebih."


"Ya sudah aku pamit, karena tidak enak sudah ditunggu sama yang lain di depan. Permisi, dan selamat sore, Tuan Gerry yang terhormat."


Appa Daniel berdiri sedikit membungkukkan badannya, seolah-olah dia benar-benar menghargai Daddy Gerry sebagai rekan bisnisnya. Lalu, melangkahkan kakinya keluar dari ruangan meeting.


Sementara Daddy Gerry hanya bisa menatap kepergian seorang sahabat yang tidak bisa lagi dia genggam. Rasa sedih dan air mata tidak terasa menetes, segera mungkin dia hapus dan kembali melangkahkan kakinya ke ruangan kerjanya.


Begitu juga Appa Daniel, dia terus mengukir senyuman kecil sambil meninggalkan sahabatnya. Dimana rasa sedih dan juga hancur membuat dadanya begitu sesak. Dia tidak menyangka bahwa semua ini bisa terjadi diluar nalarnya.


Persahabatan bisa hancur karena membela sebuah hubungan yang lebih dari segalanya. Bagi Appa Daniel kehidupan anaknya jauh lebih berharga, dari pada persahabatan mereka.

__ADS_1


"Maafkan aku, Ger. Semua aku lakukan hanya demi kebaikan kita kedepannya. Jika aku meneruskan aku takut persahabatan ini akan menjadi kebencian didalam hidupku. Mungkin dengan kita seperti ini, itu bisa memperbaik keadaan."


Appa Daniel berbicara didalam hatinya sambil berjalan perlahan penuh kewibawaan keluar Perusahaan, kemudian menaiki mobilnya untuk kembali ke Perusahaannya sendiri.


__ADS_2