Learn to Love You

Learn to Love You
Rumah Sakit Senja Abadi


__ADS_3

Melihat kondisi anaknya yang sangat menyedihkan, langsung menggendongnya secara perlahan. Kemudian mereka semua pergi menuju rumah sakit, agar kondisi anaknya bisa segera di tangani.


Udah hampir beberapa hari ini, Alena merasa tubuhnya sakit-sakitan. Sampai akhirnya dia belum bisa kembali masuk kuliah, setelah kurang lebih 2 Minggu dia baru menikmati masa-masa menjadi anak kuliahan.


...*...


...*...


Sesampainya di rumah sakit Senja Abadi, Alena langsung ditangani oleh seorang dokter di ruangan UGD.


Kedua orang tua Alena, hanya bisa menunggu didepan pintu ruangan. Dimana Mamahnya menangis tepat dipelukan suaminya sambil duduk dikursi tunggu.


"Hiks, a-anak kita sebenarnya kenapa, Pah? Kenapa Alena akhir-akhir ini kondisinya melemah." gumam lirih istrinya didalam pelukan suaminya.


"Sstt, tenang ya, Mah. Tenang dulu, mungkin Alena lagi kurang sehat aja. Dia itu anak yang kuat, jadi dia pasti akan baik-baik aja didalam sana." jawab suaminya, sambil mengelus lengan istrinya.


"Ta-tapi, Pah. Alena udah hampir 1 Minggu ini susah makan, susah tidur. Bawaannya pengen muntah terus. Ada apa dengan dia hiks ...." sahut istrinya.


"Sudah-sudah. Jangan punya pikiran jelek, aku yakin anakku baik-baik saja. Tidak akan ada penyakit yang serius, sedang menimpanya." tegas suaminya, mencoba menenangkan istrinya.


Selang 10 sampai 15 menit, pintu ruangan terbuka bersamaan dengan keluarnya seorang dokter ditemani oleh asistennya.


Kedua orang tua Alena melihat itu, bergegas bangkit dan langsung mencecar pertanyaan mengenai sang anak. Hanya saja, sang dokter belum bisa memastikan.


"Dok, bagaimana keadaan anak saya? Dia sakit apa, Dok? Kenapa dia sampai seperti itu? Ayo jawab, Dok. Jawab! Hiks ...." tanya Mamahnya Alena dalam keadaan dipenuhi oleh rasa kekhawatiran yang berlebihan.


"Katakan, Dok. Pasti anak saya didalam keadaannya baik-baik aja, kan? Dia enggak sakit yang serius, kan?" ucap Papahnya Alena.

__ADS_1


Sang dokter cuman bisa menatap kedua orang tua Alena dengan tatapan bingung, sedangkan dia sendiri tidak tahu pasti apakah yang Alena derita sama seperti dugaannya atau tidak.


Maka dari itu, sang dokter keluar ruangan dengan maksud tujuan untuk memanggil dokter yang lebih paham dengan kondisi yang terjadi pada Alena.


"Tenang dulu Tuan, Nyonya. Saya belum bisa menjawab semua pertanyaan kalian, karena ini baru dugaan saya. Tetapi kalian tenang saja, saya akan memanggil seorang dokter yang ahli atas kasus putri kalian ini." Jelas sang dokter, berusaha setenang mungkin.


"Ke-kenapa harus memanggil dokter lagi, Dok? Apakah penyakit anak saja separah itu?"


"Hiks, Pah. Gimana ini, Pah. Gimana hiks ...."


Mamahnya Alena kembali menangis di pelukan suaminya sambil memukul kecil dada bidangnya.


Melihat kedua orang tua Alena yang masih mengkhawatirkan kondisi anaknya, sang dokter segera meminta asistennya untuk memanggil dokter yang dimaksud.


Tanpa basa-basi asisten pun pergi meninggalkan mereka. Sedangkan Papahnya Alena, hanya bisa pasrah dan terus mencoba membuat istrinya supaya tidak semakin berlarut didalam kesedihan.


Tanpa basa-basi, dokter itu segera memasuki ruangan bersama dengan asisten suster untuk memastikan keadaan Alena.


Kurang lebih, sekitar 25 menit telah berlalu. Pintu ruangan kembali terbuka, bersamaan munculnya kedua dokter tersebut.


"Dok, bagaimana keadaan anak saya? Apakah dia baik-baik aja?" ucap Mamahnya Alena, penuh kecemasan sambil meneteskan air matanya.


"Anak saya tidak punya penyakit yang berbahaya kan, Dok? Dia pasti sehat-sehat kan, Dok? Atau dia cuman kelelahan?" sambung Papahnya Alena, wajahnya terlihat panik.


Kedua dokter tersebut, langsung menatap satu sama lain. Sesekali melirik ke arah asisten susternya. Kemudian sebuah kalimat terlontar dari mulut kedua dokter secara bergantian.


"Tenang Tuan, Nyonya. Putri kalian baik-baik saja, tidak ada penyakit berbahaya atau apa pun." ucap sang dokter, sambil tersenyum.

__ADS_1


"Syukurlah, anak kita enggak apa-apa, Pah. Di-dia tidak memiliki penyakit yang berbahaya, jika sampai itu terjadi. Aku sudah tidak bisa membayangkan harus seperti apa kedepannya."


Mamahnya Alena, terlihat begitu menyayangi anak satu-satunya. Setidaknya mereka senang, ketika anaknya tidak mengidap suatu pnyakit yang berbahaya.


"Ya, Nyonya. Putri kalian sebenarnya tidak sakit apa-apa, hanya saja dia sedang mengalami gejala marning sickness yang membuat kondisi badannya menjadi tidak stabil." jelas dokter satunya.


Degh!


Satu kalimat yang terlontar, seperti tamparan keras bua kedua orang tua Alena. Istilah morning sickness, berhasil nembuat detak jantung Mamahnya Alena seketika terhenti untuk beberapa detik.


Kemudian kembali berdetak, dalam keadan tidak normal. Napas kian memburu, pandangan mulai kosong dan juga air mata menetes semakin deras.


"Mo-morning sick-sickness? I-itu a-artinya a-anak sa-saya ha-hamil, Do-dok?" gumam lirih, Mamahnya Alena.


"Ha-hamil?" sambung Papahnya Alena, matanya membola besar. Perkataan istrinya benar-benar tidak bisa dia percaya.


"Ya Tuan, Nyonya. Saat ini anak kalian sedang mengandung dengan usia kandungan kurang lebih 5 minggu. Sehingga----"


Bugh!


Belum selesai sang dokter menjelaskan tentang kondisi Alena, tiba-tiba Mamahnya Alena pun terjatuh dengan kondisi sudah tidak sadarkan diri.


Akibat rasa syok yang sangat berlebihan, berhasil mengejutkan kedua orang tua Alena. Bahkan Papahnya Alena pun ikut terjatuh dalam keadaan terduduk.


Dia masih tidak percaya, jika anak yang selama ini mereka banggakan akibat kecantikan, prestasi serta kecerianya kini telah mencoreng nama besar keluarga.


Kehamilan Alena yang diluar nikah, adalah suatu mimpi buruk bagi kedua orang tuanya. Mereka masih tidak menyangka jika anaknya bisa mengandung seorang bayi tanpa Ayah.

__ADS_1


__ADS_2