
Tanpa disadari oleh mereka bertiga, ternyata didalam kamar mandi diam-diam Fayra mengintip serta sedikit mendengar aksi kedua orang tua Kharel.
"Cinta yang manis, sama seperti Appa dan Amma. Hanya bedanya, kedua orang tuaku lebih mengarah keperhatian kecil yang sangat lembut, tetapi begitu menyentuh."
"Ternyata semua pasangan memiliki kisah tersendiri ya, walaupun cobaannya begitu berat, tetapi tujuan mereka tetap sama. Yaitu hidup menua bersama dalam keadaan suka duka, sampai mencapai garis finish kebahagiaan."
Fayra tersenyum melihat keharmonisan keluarga Kharel dari balik pintu kamar mandi. Seketika aksi Fayra ketahuan oleh salah satu dari mereka, sampai akhirnya suara bariton mengagetkannya Fayra dan membuatnya refleks menutup keras pintu kamar mandi tersebut.
"Mam*pus kau Fayra, sekarang ketahuan kan! Lagian ngapain sih pakai acara ngintip-ngintip segala, apa salahnya tinggal keluar doang terus ketemu mereka. Kalau udah begini gimana, pasti mereka akan marah besar karena menganggapmu sebagai mata-mata!" gumam hati Fayra.
Dia menyender dibelakang pintu kamar mandi, sambil memegangi jantungnya yang kian berdetak sangat cepat. Wajah syok, napas memburu dan juga kepanikkan membuat Fayra tidak bisa tenang.
Rasanya dia ingin segera kabur dari situasi ini, apa lagi dia harus menghadapi keluarga Kharel yang sama sekali tidak dia kenal.
Sementara Kharel yang menoleh kearah pintu, langsung menyadari bahwa ternyata dia melupakan tentang keberadaan Fayra.
"Astaga, Kharel! Kenapa bisa lupa sih, kalau di dalam sana masih ada Fayra. Adeh, gimana ini. Pasti saat ini dia sedang ketakutan akibat ketahuan sama Papah. Mana dia belum bilang kalau dia mau jadi kekasih pura-pura lagi, terus gimana caranya mau cari alasan. Ayolah Kharel, pikir, pikir pikir!"
Kharel ngebatin, dalam keadaan wajah yang terlihat begitu gelisah ketika Papah Jerome sudah berdiri tegak, tidak seperti tadi yang masih dalam mode manjanya.
"Siapa didalam, cepat buka pintunya atau saya dobrak!" ucap Papah Jerome penuh ketegasan, sambil melangkahkan kakinya.
"Sayang, siapa yang ada didalam kamar mandi. Kenapa dia bisa ada disana? Apa itu seorang suster?" bisik Mamah Xavia, membuat Kharel menolehnya sekilas dengan wajah memerah dan kembali menatap pintu kamar mandi.
"Pa-papah, i-itu hanya seorang suster kok bukan siapa-siapa. Lagi pula Papah sama Mamah mendingan sekarang pulang, istirahat ya. Enggak baik lama-lama dirumah sakit, yang ada kalian bisa tertular penyakit." ucap Kharel mencoba membujuk kedua orang tuanya dengan segala rayuan yang tidak pernah dia katakan.
"Sejak kapan Baby Boyku ini bersikap semanis ini pada orang tuanya? Hem, mencurigakan. Jangan-jangan yang ada didalam sana bukan suster?" sahut Mamah Xavia dengan segala pemikirannya.
Disaat Kharel terus berusaha membujuk mereka untuk segera kembali ke rumah, akan tetapi satu kalimat yang keluar dari mulut Papah Jerome berhasil membuat pertahanan Fayra goyang.
"Jika kau tidak mau membuka pintunya, jangan salahkan saya. Kalau saya akan mendobraknya dalam hitungan ke-3!" tegas Papah Jerome yang sudah berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Stop, Pah. Jangan lakukan itu!" pekik Kharel, mulai terlihat panik. Mamah Xavia yang melihat Kharel sepanik itu semakin curiga.
"Udah, Pah. Dobrak aja pintunya, jangan bilang Baby Boyku ini sudah mulai nakal. Sehingga diam-diam dia menyembunyikan seorang wanita, atau bisa jadi dia tinggal bersamanya?"
"Huaa, tidak, tidak, tidak! Sampai itu terjadi maka aku akan menginjak batang leher anakku ini!"
Mamah Xavia menatap tajam kearah Kharel, hingga membuatnya bergidik ngeri saat melirik tatapan Mamahnya. Sementara Papah Jerome, sudah berancang-ancang untuk mendobrak pintu tersebut.
"Satu, dua, ti---"
"Jangan!"
Ceklek!
"Ha-hai Om, Ta-tante."
Fayra membuka pintunya dalam keadaan wajah tersenyum gugup. Dia sedikit membungkukkan tubuhnya guna menghormati kedua orang tua Kharel.
Namun, nihil. Setenang apapun Fayra, ketika dia sudah berada dihadapan orang tua Kharel. Maka, jantungnya akan kembali memompa lebih cepat dari sebelumnya.
Papah Jerome berdiri mematung, matanya tidak berkedip sedikitpun ketika paras Fayra yang terlihat sangan cantik berhasil membuat jantungnya berdebar cukup keras.
"Ca-cantik ...." gumam kecil Papah Jerome, dimana dia tersenyum kecil menatap Fayra. Sama persis seperti seorang pria yang baru saja bertemu dengan cinta pertamanya.
"Lah, ada apa dengan Papahnya Pak Kharel. Perasaan tadi dia marah-marah, kok sekarang malah senyum-senyum seperti itu. Apa ada yang aneh dengan penampilanku?" gumam batin Fayra, dia berusaha tetap menebar senyuman meskipun sangat canggung dan tubuhnya sedikit gemetar.
Mamah Xavia yang baru sadar atas tingkah suaminya yang tidak biasa, langsung berjalan lalu menjewer kupingnya tanpa ampun.
"Oh, jadi gitu ya didepanku. Udah berani sekarang, lihat yang muda langsung bening tuh matanya, mana pakai segala bilang cantik-cantik apalah itu. Mau aku buat burung perkutukmu itu menjadi perkutuk geprek, iya!"
__ADS_1
Omelan Mamah Xavia seketika membuat Kharel hampir saja tepas tawa, kalau tangannya tiak refleks membukang mulutnya. Sementara Fayra dia terdiam akibat masih syok melihat kelakuan absurb kedua orang tua Kharel.
"Aw-awshh, sa-sakit Sayang. A-ampun, Sayang, ampun. Jangan buat perkutukku jadi geprek dong, jika itu terjadi bagaimana bisa aku menjelajahi hutan rimba yang sangat mengenakkan itu?"
Papah Jerome mengeluh ketika kupingnya terasa amat menyakitkan. Tubuhnya yang putih hanya baru tersentuh tangan cantik istrinya, sudah membuat kuping hingga wajahnya memerah.
Beberapa menit perdebatan mereka selesai, Mamah Xavia sudah puas menyiksa suaminya sampai dia memberikan hukuman berat. Jika 1 Minggu kedepan Papah Jerome harus kehilangan jatah malamnya yang hampir setiap hari dia dapatkan.
Fayra yang berada ditengah keluarga mereka hanya bisa tersenyum canggung, sedangkan Kharel terkekeh melihat kelakuan kedua orang tuanya.
"Siapa kamu? Apa kamu wanita simpanan Babyku?" tanya Mamah Xavia, menatap sinis dari bawah hingga atas melihat penampilan Fayra.
"Ba-baby?" gumam Fayra, bingung.
"Mamah, jangan pernah sebut nama itu lagi!" pekik Kharel, wajahnya mulai memerah.
Mamah Xavia menoleh kearah Kharel, lalu berkata. "Kenapa? Kamu malu? Jika dia benar-benar mencintaimu, dia tidak akan pernah mempermasalahkan panggilan itu!"
"Tapi, Mah!" sahut Kharel sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, ketika dia menatap wajah Fayra yang tidak bisa di jelaskan.
Papah Jerome hanya bisa terdiam melihat anaknya salah tingkah, dia paham jika saat ini Kharel sedang mengalami nervous.
"Haha, syukurin. Sekarang kau merasakan bukan, gimana rasanya jadi diriku!" Papah Jerome bergumam didalam hatinya dengan perasaan senang, ketika melihat anaknya seperti tidak bisa berkutik dihadapan kedua wanita.
Namun, saat Jerome mau mengatakan sesuatu yang menjelaskan bahwa Fayra bukan kekasihnya. Tiba-tiba tubuhnya dibuat terdiam mematung, mata membola besar dan juga mengalami serangan jantung secara mendadak.
Semua itu berkat 1 kalimat yang Fayra ucapkan kepadanya dengan sangat lembut dan juga penuh senyuman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa mampir ya guys, ini ada novel milik sesama author terbaik ❤️
__ADS_1