Learn to Love You

Learn to Love You
Dasar Wanita Licik


__ADS_3

"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum aku menemukan jawaban, apakah kamu benar mencintainya atau kamu begini karena kamu ingin membuatku cemburu!" tegas Ace berkali-kali.


"O-okay, aku akan jawab pertanyaanmu tapi lepaskan. Ini sangat menyakitkan kulitku, Ace. Hiks ...."


Fayra meneteskan air matanya bukan karena dia tertekan oleh perlakuan Ace, melainkan dia sudah tidak tahan dengan rasa sakit dipunggungnya.


Apa lagi gaun yang dia kenakan itu sangatlah terbuka sehingga kulitnya langsung tergesek oleh batang pohon yang kasar.


"Arrghh, hiks ... O-okay aku akan katakan memang benar apa yang kamu bilang tadi. Awalnya aku memang berpura-pura menjalani suatu hubungan dengan pria itu karena suatu hal."


"Lama kelamaan perasaan itu tumbuh dengan sendirinya, sehingga aku bisa pastikan kalau ini adalah cinta. Ya, aku mencintai Kharel!"


Fayra berteriak dengan suara lantang bersamaan dengan rasa sakit dan isak tangisnya ketika menahan rasa perih.


"Kenapa, Raa. Kenapa kamu mencintai pria lain selain diriku? Kenapa!"


Ace mambalas teriakan Fayra lebih keras dan terus menggoyangkan tubuh Fayra. Tanpa sadar dengan perlakuannya yang seperti itu, dia telah menyakiti Fayra untuk kesekian kalinya.


"Karena dia beda dari yang lain, bahkan dari dirimu sendiri! Meskipun dia menyebalkan, tapi dia adalah pria yang sangat baik. Intinya aku tidak bisa kasih alasan kenapa aku bisa mencintainya, karena cinta hadir berkat kenyaman bukan alasan!"


Perdebatan demi perdebatan terus mereka lontarkan, sampai akhirnya Kharel yang sedari tadi mencari keberadaan Fayra pun terdiam mematung di tempat.


Ucapan Fayra berhasil membuat jantungnya berhenti sekilas, Kharel tidak menyangka bahwa Fayra juga memiliki perasaan yang sama untuknya.


Dari sini lah Kharel melihat Fayra menangis langsung berlari dan memukul Ace dengan sangat kuat. Ace terjatuh dalam kondisi sudut bibirnya terluka parah.

__ADS_1


Kharel menoleh dan kembali berlari ke arah Fayra dengan wajah cemasnya. "Kamu gapapa kan, Raa? Kamu gapapa?"


Fayra menangis sesegukan dengan merasakan gaun yang berwarna putih sudah ternodai dengan warna merah dipunggungnya.


Kharel yang terlihat sangat panik langsung memeluk Fayra dan membuatnya menjerit saat lukanya tanpa sengaja terpegang oleh tangan Kharel.


Disitu Kharel segera melepaskan, lalu mengecek punggung Fayra yang sudah berlumuran darah cukup membuat hatinya hancur.


"Astaga, Raa. Pu-punggungmu? Ini kenapa bisa terjadi, siapa yang udah nyakitin kamu hah, bilang sama saya!" pekik Kharel emosinya sudah tidak terkontrol.


Gelengan kepala membuat Fayra tidak mau memperpanjang urusan ini. Baginya yang dia butuhkan sekarang hanyalah sebuah pertolongan pertama untuk mengobati punggungnya.


Namun, Kharel tidak terima dengan perlakuan ini kembali menghajar Ace dengan memba*bi buta. Seperti seseorang yang kehilangan kendali saat melihat orang yang di cintainya terluka.


"Stop, Pak Kharel stop! Jangan mengotori tanganmu demi dia. Karena dia itu udah bukan siapa-siapaku lagi. Jadi lebih baik kita pulang sekarang!"


Mendengar nasihat Fayra, emosi Kharel mulai sedikit mereda lalu menyudahi aksinya. Dimana Ace sudah tak berdaya, tiduran di jalan taman. Fayra menarik tangan Kharel untuk menjauhi Ace.


Ace tergeletak sambil memejamkan matanya, kemudian dia berteriak sekencang mungkin dengan penuh penyesalan. Dia merasa kecewa dengan apa yang dia dapatkan, lantaran wanita yang pernah ada didalam hidupnya seketika memilih pergi meninggalkannya bersama pria main.


"Aarrghhh, apa sih kurangnya gua, Raa. Apa! Kenapa lu tega milih pria itu dari pada gua!"


"Padahal kita udah 2 tahun lebih bersama. Enggak mungkin beberapa bulan lu ketemu dia, udah langsung melupakan semua kenangan kita. Itu mustahil!"


"Gua yakin, lu pasti lagi membohongi diri lu sendiri kan, Raa? Lu bohong kan, iyakan? Haha ... Dasar wanita licik, bisa-bisanya dia mempermainkan hati seorang Ace Geraldo Rodriguez."

__ADS_1


"Gua benci keadaan ini! Pokoknya sampai kapanpun lu hanya boleh mencintai gua, bukan pria lain!"


Ace merentangkan kedua tangannya ke samping dengan posisi tiduran, menatap langit dan berteriak.


Seakan-akan Ace marah dengan keadaan dan juga hidupnya yang telah melepaskan Fayra. Sampai akhirnya Fayra dipertemukan dengan pria yang berhasil membuatnya luluh.


Kharel membawa Fayra untuk menuju mobilnya dalam keadaan Fayra meringis kesakitan. Sesampainya di dalam mobil Kharel segera mengubek-ubek mobilnya untuk mencari kotak P3K.


Setelah ketemu, Kharel dengan cepat meminta Fayra untuk membelakanginya supaya dia bisa mengobatinnya.


Melihat luka itu membuat Kharel sangat mual, sebenernya dia tidak bisa melihat da*rah. Cuman demi Fayra, Kharel menahan semua rasa itu dan perlahan mengobatinnya.


"Awwshh, pe-pelan - pelan, Pak. Sa-sakit hiks ...." ucap Fayra lirih.


"Ma-maaf, ini sedikit lagi kok." jawab Kharel sambil sedikit menahan mualnya.


Setelah selesai mengobati, tiba-tiba Kharel keluar mobil dan mencari tempat yang aman dengan alasan kebelet untuk pipis. Padahal dia mencari tempat hanya untuk membuang semua isi perutnya.


Hampir 5 menit akhirnya Kharel kembali dengan wajah sedikit pucat, tetapi masih baik-baik saja. Rasanya begitu lega, lalu dia memberikan sebotol minuman untuk Fayra dan dirinya.


Habis itu Kharel pun melajukan mobilnya menuju opotik terdekat untuk membelikan obat agar bisa diminum oleh Fayra. Karena Kharel takut jika rasa nyeri, perih akan membuat tubuh Fayra menjadi panas.


Disaat itu juga Kharel memberikan jasnya supaya bisa digunakan oleh Fayra, agar tubuhnya tidak masuk angin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jangan lupa mampir ya guys, ini ada novel milik sesama author terbaik ❤️



__ADS_2