Learn to Love You

Learn to Love You
Kancil Cerdik


__ADS_3

Fayra menatap sang dokter penuh senyuman dan mengangguk. Lalu, sang dokter pun berjalan pergi meninggalkan mereka berdua dikamar.


Yang mana, sebenarnya dokter yang merawat Kharel itu emang sangat tahu bagaimana perjuangan Fayra untuk terus menjaga Kharel. Bahkan mereka juga bisa melihat betapa tulusnya cinta Fayra untuk Kharel.


Apa lagi kondisi Fayra tidak seperti biasanya, matanya yang mulai menghitam bagaikan panda menandakan bahwa Fayra kurang tidur.


Kemudian, badannya rada kurus akibat jam makan tidak teratur dan tidak habis, lalu matanya terlihat sangat sembab semua karena hampir setiap jam Fayra menangis.


Setelah perginya sang dokter, Fayra langsung duduk di samping Kharel dengan wajah penuh kebahagiaan.


"Kak, Kakak denger suaraku, 'kan? Kakak tahu enggak tadi aku itu mengkhawatirkan kondisi Kakak, aku kira Kakak akan mening ... Akhh, tidak, tidak! Pokoknya saat dokter mengatakan bahwa Kakak sudah melewati masa kritis, aku benar-benar bahagia banget."


"Saat-saat seperti inilah yang aku tunggu, Kak. Aku ingin sekali melihat Kakak membuka mata lagi, karena hanya dengan begitu aku bisa tertidur seperti biasanya, pulas tanpa merasa ketakutan akan hal buruk yang akan terjadi!"


"Coba deh Kakak bukan matanya, terus lihat aku. Apakah Kakak tidak tega melihat mataku yang sudah seperti Panda, badanku yang seperti lidi dan juga wajahku bagaikan mayat hidup. Apa Kakak enggak kasihan denganku, hem?"


"Semua ini karena aku sangat mencintai Kakak loh, makannya aku rela menjaga Kakak sampai aku lupa dengan kesehatanku sendiri. Cuman, kenapa Kakak sampai sekarang enggak mau bangun juga? Apa Kakak marah sama aku? Atau aku ada buat salah?"


"Hump, apakah aku harus sabar lagi menunggu Kakak bangun? Tapi, jangan lama-lama ya. Aku janji deh, nanti Kalau Kakak bangun apapun yang Kakak inginkan aku akan kabulkan saat itu juga. Tapi, ingat cuman 1 ya enggak boleh banyak-banyak nanti aku bisa-bisa rugi!"


Fayra mengusap kepala Kharel dengan lembut sambil sesekali menciumi tangannya.


Tanpa disadari sebenarnya Kharel sudah bangun dari 1 menit yang lalu. Hanya saja dia tidak mau membuka matanya ketika mendengar curhatan hati Fayra.


"Terima kasih, Raa. Kamu sudah mau merawatku dan juga setia menungguku sampai detik ini. Padahal jika mau pun kamu bisa meningglkanku, karena pada waktu itu kamu belum mencintaiku."


"Sekarang tidak lagi, ternyata benar apa yang ada di dalam mimpiku. Jika aku terbangun nanti, semua rasa takut itu akan hilang dan tergantikan oleh kebahagiaan. Terbukti, bukan?"

__ADS_1


"Baru saja aku bangun tanpa membuka mataku, aku sudah mendengar kata cinta yang terucap dari bibirnya, serta ada satu janji yang dia berikan padaku sebagai tanda bahwa dia sangat menginginkan aku untuk kembali."


"Rasanya aku sangat bahagia, tidak sia-sia aku berlari sekuat tenagaku. Jatuh bangun aku lewati, hanya demi mengejar seekor kupu-kupu yang mau menunjukkan jalan."


"Terima kasih, berkat petunjuk serta arahanmu akhirnya aku bisa kembali berkumpul bersama keluarga dan juga Princes Chubbyku yang sekarang sudah bisa membuka hatinya untukku."


"*Pokoknya aku sangat berterima kasih kepada Tuhan. Karena semua ini tidak lepas dari pertolongan Tuhan, yang memberikanku kesempatan untuk bisa kembali bangkit dari tidurku."


"Dan juga berkat doa kalian serta cinta kasih yang ditumpahkan untukku, kini aku telah berhasil melewati mautku sendiri*."


Kharel berbicara di dalam hatinya dengan mata yang sedikit mengedip-ngedip. Dari situlah Fayra melihat adanya kejanggelan di wajah Kharel membuat dia langsung paham.


"Sepertinya ada yang tidak beres, apa jangan-jangan dia sudah bangun dari tadi dan mendengar apa yang aku ucapkan? Cuman kenapa dia tidak mau membuka matanya?"


"Hem, aku tahu. Ternyata si Kancil ini, rupanya cerdik juga ya. Baru juga sadar sudah berulah, baiklah. Kita lihat saja sampai dimana sandiwaramu berlangsung!"


"Huhh, kenapa aku menangis seperti ini? Lagian juga mau dia bangun atau tidak itu haknya, toh bukannya malah bagus ya kalau dia tidur terus. Dengan begitu aku bisa bebas jalan sama pria lain, ditambah juga kemarin itu ada mahasiswa baru mana orangnya tampan banget lagi. Huaa, aku jadi terpesona!"


Fayra mulai melakukan aksinya untuk membuat sebuah cerita yang akan mengundang kekalahan bagi Kharel sendiri.


Siapa suruh baru bangun saja sudah banyak bertingkah, jadi terima saja api yang akan membara di dalam hatimu, Kharel.


Mata Fayra melirik wajah Kharel yang sedikit mengerut bagaikan seseorang yang memberikan respon bingung. Kemudian Fayra terkekeh di balik tangannya yang berhasil menutupi mulutnya.


"Mahasiswa baru? Siapa dia, apakah setampan itu sampai-sampai Fayraku yang tidak pernah melirik pria lain, seketika berubah menjadi genit seperti ini? Huaa, tidak bisa di biarkan!"


Kharel mulai terpancing dengan sandiwara yang Fayra berikan, hingga tanpa sadar Kharel memberikan ekspresi wajah yang sering kali hampir membuat Fara tertawa.

__ADS_1


"Aduhh, kenapa ya. Kok aku jadi terbayang sama wajahnya? Tapi, bentar deh. Kalau dilihat-lihat wajah Kak Kharel sama pria itu 11-12 sih, cuman memang masih tampanan Kak Kharel. Hanya saja ...."


Meera menghentikan ucapannya untuk membuat Kharel semakin menjadi penasaran dengan apa yang akan dia sampaikan nantinya.


"Hanya saja? Hanya saja apa, woi. Katakan dengan jelas Fayra, astaga malah di potong-potong dong! Dasar menyebalkan! Cepetan ngomong lagi enggak, atau aku akan men---" batin Kharel, terputus.


"Hanya saja, apa ya? Hem, penasaran ya? Hihi, udah akhh. Jangan dibahas lagi, mendingan kita main tebak-tebakan aja yuk!" tawar Meera.


"Astaga, orang lagi penasaran malah diajak main tebak-tebakan dong!" pekik Kharel. Ekspresi wajahnya semakin berubah.


"Hihi, syukurin! Siapa suruh ngerjain aku, sekarang terima saja nasibmu. Udah mah lagi penasaran-penasaran ya, 'kan? Eh malah suruh main tebak-tebakan dong, haha ...." Batin Fayra.


Rasanya Fayra ingin sekali tertawa lepas saat melihat bibir Kharel gerak-gerak sendiri, bagaikan Mbah Dukun baca mantra. Hanya kurang gelas dan air saja sudah pasti akan tersembur.


"Wanita ini benar-benar membuatku penasaran. Siapa sih pria itu? Terus juga setampan apa dia sampai berhasil membuat Fayraku kepincut kaya gitu. Arrhh, si*al! Memangnya udah berapa lama sih aku tidur, kenapa bisa kecolongan gini!" sungutnya.


Kharel lagi-lagi bertambah kesal saat Fayra malah terdiam tanpa meneruskan ucapannya. Sampai saat Kharel baru saja mau membuka matanya, dia kembali mendengar Fayra mengatakan sesuatu yang berhasil memicu amarah di dalam hatinya.


"Kalau di pikir-pikir dia itu orangnya baik loh Kak, murah senyum dan juga manis lagi. Berbeda sama Kak Kharel yang cuek, dingin serta wajahnya terlihat sangat flat."


"Dan satu lagi, Kakak harus tahu. Kalau wajah pria itu benar-benar terlihat lebih fress dari pada wajah Kak Kharel loh,"


"Andai saja Kakak bisa melihat wajah Kakak sendiri, pasti akan terkejut. Semakin hari wajahmu itu malah semakin terlihat menua, keriput dan juga kusut. Ya, maklumlah, mungkin karena Kakak itu kerjaannya tidur terus jadi tidak ke urus deh."


"Cuman, dahlah. Semakin aku menceritakan tentang pria itu, malah semakin membuat aku terpesona sama ketampananya. Bisa-bisa nanti aku jatuh cinta lagi? Huaa, aku jadi malu kan,"


"Masa iya baru kenal udah jatuh cinta, sedangkan sama Kakak aja butuh waktu yang tidak sedikit. Ehh, tapi tunggu deh. Kalau aku jatuh cinta sama pria itu tandanya, cintaku buat Kak Kharel jadi terbagi menjadi dua dong?"

__ADS_1


Degh!


__ADS_2