
Tak lama seorang pramugari memberikan sebuah informasi kepada semua penumpang untuk segera memakai sabuk pengamannya. Dan tak lupa juga pramugari itu memberikan wejangan untuk keselamatan penumpang.
Setelah semua selesai dan dipastikan aman, pesawat pun mulai berjalan menunggunakan rodanya dengan perlahan. Lalu, hanya dengan jarak beberapa meter pesawat langsung terbang melayang kearah langit yang begitu cerah.
"Apapun yang terjadi didalam hidupku sekarang, semoga kelak aku bisa mendapatkan kebahagiaan yang sempat tertunda hari ini."
"Semua rasa sakit akan cinta yang tidak kunjung membahagiakan, harus bisa membuatku lebih kuat lagi untuk menjalanin kehidupanku kedepannya. Aku harus bisa menjadi wanita yang kuat, mandiri dan juga tegas dalam memilik supaya nanti aku tidak lagi berada di lubang yang sama."
"Terima kasih Ace, karena kamu aku sadar jika semua yang aku harapkan tidak sepenuhnya terjadi. Akan tetapi, Tuhan tahu apa yang terbaik untukku dan apa yang buruk untukku. Sehingga apa yang menurutku baik belum tentu itu yg terbaik dari Tuhan."
"Aku tidak menyangka jika kisah cinta kita akan berakhir seperti ini, padahal aku sudah memiliki mimpi jika rumah tangga kita sebentar lagi akan bahagia tanpa adanya jarak diantara kita. Cuman sayang, kamu telah menghancurkan semua impianku. Sampai aku pun sudah tidak bisa lagi berkata apa-apa, aku hanya bisa bilang terima kasih atas 2 tahun lebih ini!"
Fayra menatap kearah jendela, dimana dia melihat pemandangan yang sangat cantik sambil terus mengoceh tanpa henti didalam hatinya.
Tak terasa air mata Fayra runtuh cukup deras ketika bayangan semua sikap suaminya yang yang berhasil membuat luka cukup mendalam dihatinya.
Hampir beberapa menit Fayra terdiam menatap jendela dengan air mata yang tiada henti, sampai tidak sengaja isak tangis yang terdengar sedikit lirih membuat seseorang yang ada di sampingnya langsung menoleh dengan tatapan bingung.
Beberapa kali orang itu sedikit memastikan apakah benar Fayra menangis, ataukah pendengarannya salah. Dan nyatanya memang benar, Fayra menangis tanpa sebab membuatnya terkejut.
Pria tersebut sempat berpikir jika Fayra menangis lantaran akibat ulahnya yang hampir saja mencelakakannya. Rasa bersalah kian melanda hatinya, rasa tidak enak dan juga gelisah mulai membuatnya cemas.
Sampai akhirnya dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, kemudian memberikannya kepada Fayra tepat di depan wajahnya.
"Pakai ini untuk menghapus semua kesedihanmu. Saya tahu, saya salah karena hampir saja ingin mencelakakanmu. Cuman saya berani bersumpah kalau itu tidak disengaja, sekali lagi maaf."
Melihat sebuah kain sapu tangan dihadapannya serta mendengar perkataan seseorang, membuat Fayra langsung menoleh manatap pria itu dengan tatapan terkejut.
"A-apa maksudnya?" gumam Fayra kecil.
__ADS_1
"Ambillah, dan hapus air mata itu. Saya tidak suka melihat seorang wanita selemah ini. Saya paham saya salah, jika memang kejadian tadi membuatmu syok, saya benar-benar meminta maaf!"
Pria tersebut berbicara dengan perasaan tidak enak sambil terus menjulurkan tangannya untuk memberikan sapu tangannya.
Fayra awalnya bingung dengan perkataan pria itu, sampao beberapa detik kemudian Fayra
langsung paham. Jika seseorang yang ada disampingnya sudah salah mengartikan tangisannya.
"Maaf Tuan, sepertinya Tuan terlalu ge'eruntuk bisa berkata seperti itu. Aku menangis bukan karena masalah itu, lagi pula aku baik-baik aja. Jadi apa yang harus ditangisi coba?" Fayra kembali kesal setelah melihat wajah yang selalu membuatnya ingin mencakarnya dengan brutal.
Pria itu terdiam sejenak lantaran dia terkejut ketika dugaannya salah, cuman dia tetap berusaha cool dihadapan Fayra meskipun wajahnya sudah sangat malu.
"Ma-maaf, kirain kamu nangis karena saya." sahutnya spontan.
"Dishh, ge'er kali ya anda Tuan. Kerajinan banget jika aku nangisin pria yang tidak di kenal, memangnya siapa anda?" jawab Fayra, kesal.
"Yayaya, terserah anda saja Nyonya. Yang penting niat saya baik untuk memberikan sapu tangan ini, supaya bisa menghapus air matamu itu!" ujar pria itu yang sudah jengah ngadepin Fayra.
"Pakai ini dan jangan biarkan berlian berharga itu terus menerus keluar dari matamu. Cukup izinkan dia keluar ketika kamu merasakan kebahagiaan, dan jangan pernah izinkan dia untuk keluar disaat kamu memiliki masalah yang membuatmu menjadi semakin lemah!"
Perkataan pria itu kembali menarik perhatian Fayra yang lagi-lagi terkejut dan menoleh kearahnya. Fayra tidak mengerti apa yang diucapkan pria itu. Cuman Fayra bisa merasakan bahwa pria itu begitu tulus menolongnya.
Sampai pada akhirnya perlahan Fayra menurunkan gengsinya dan mengambil sapu tangan itu, lalu mengusap kecil.
Dimana orang itu hanya bisa tersenyim kecil melihat sikap Fayra yang sedikit aneh dari wanita lain. Entah mengapa apa yang Fayra lakukan saat ini tidak membuatnya merasa jijik.
Padahal suara berisik yang timbul akibat Fayra membersihkan hidungnya yang terasa mampet, seharusnya membuat pria itu merasa kesal dan juga marah.
Namun, ini tidak. Dia hanya bisa sesekali melirik dan kembali menatap ponselnya untuk melihat sesuatu yang jauh lebih penting dari Fayra.
__ADS_1
Sementara di rumah kediaman keluarga Fayra, tengah malam Appa Daniel merasa tidak tenang setelah mengetahui jika Fayra sudah 2 hari ini berada bersama suaminya.
Seharusnya Appa Daniel merasa senang ketika anaknya bisa bertemu dengan suaminya, cuman dia malah semakin merasa gelisah tak menentu didalam hatinya. Layaknya, ada getaran yang tidak bisa dia jelaskan menggunakan kata-kata.
"Sayang, ada apa? Kenapa semenjak kita pulang dari rumah Ace, kamu terlihat sangat gelisah dan juga aku yakin jika ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku. Apa jangan-jangan kamu memiliki wanit---"
"Please, Sayang. Jangan berpikir sejauh itu, jika aku memiliki wanita lain selain dirimu sudah dipastikan aku akan jarang pulang kerumah dan lebih sibuk diluar!"
"Buktinya apa jika aku berselingkuh darimu? Sedangkan aku saja mandi masih minta dimandiin, makan terkadang masih minta disuapin dan juga tidur masih minta di kelonin. Apakah itu masih kurang untuk membuktikan betapa berharganya kamu didalm hidupku?"
"Jika suatu saat nanti aku dihadapkan dengan berbagai wanita dengan versi yang berbeda-beda, tetapi aku akan tetap pada pilihan utamaku yaitu kamu!"
"Wanita yang selama ini berjuang bersamaku dari mulai dititik nol, sampai kita tidak menyangka. Jika Fayra bisa hadir didalam hidup kita setelah kamu, divonis tidak bisa memiliki seorang anak akibat rahimmu begitu lemah."
"Namun, semua itu tetap tidak menjadikan kita untuk menyerah dengan semua keadaan bukan? Sampai keajaiban itu datang dengan membawa Fayra hadir sebagai pelengkap di dalam hidup kita."
Penuturan kata tiap kali terus terucap dibibir manis Appa Daniel membuat istrinya tersenyum lebar. Bahkan lebih lebar seakan-akan dia adalah orang yang paling bahagia didunia ini.
Amma Trysta yang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia langsung memeluk suaminya begitu erat sambil tidak terasa meneteskan air matanya.
Meskipun suaminya tidak begitu romantis terhadapnya, cuman sikap dibalik ketegasan sosok Appa Daniel begitu langka dan sangat dicari oleh semua wanita. Termasuk anaknya sendiri.
Dari Fayra kecil dia selalu berkata tentang impiannya yang sangat mengagumkan. Fayra sedari kecil selalu meminta pria yang akan menjadi suaminya itu seperti Appanya. Cuman apa boleh buat, takdir berkata lain.
Sehingga Fayra mendapatkan pria yang memang sangat, sangat, sangat mencintai. Hanya saja bukan kepada dirinya, melainkan kepada dirinya sendiri.
Sosok Appa Daniel berhasil menjadi idola bagi Fayra. Tidak romantis, tetapi sangat memuliakan istrinya dengan semua perilaku yang berhasil membuat hatinya begitu tersentuh.
Appa Daniel memeluk istrinya sambil menciumi pucuk kepalanya, dimana terlihat jika dia memang sangat mencintai istrinya. Mungkin jika istrinya nanti tiada lebih dulu, sudah bisa jika hidupnya akan sangat hancur.
__ADS_1
Amma Trysta yang terbilang wanita kuat, lemah lembut, cuman jangan salah. Dia pandai dalam mengambil hati suaminya sehingga setiap suaminya merasa kesal, marah, gelisah, capek dan juga terlihat seperti ini dia langsung menarik perhatian suaminya dengan sentuhan tangannya.
Sampai pada akhirnya semua pikiran Appa Daniel teralihkan untuk menikmati sentuhan demi sentuhan yang saat ini istrinya mulai berikan padanya.