
Rasa terima kasih mereka ucapkan bersamaan dengan perginya sang dokter. Sementara Kharel kembali mengambil posisi untuk bisa terus menjaga Fayra dan melihat tubuh Fayra yang terbujur lemas tak bedaya.
Inilah yang membuat heran dan juga bingung kedua orang tua Kharel, ketika mereka melihat orang sakit mengurusin orang sakit. Apa lagi Kharel masih mengenakan baju pasien, sementara Fayra tidak. Jadi kejadian ini merupakan satu langkah kemajuan untuk hubungan Fayra dan Kharel kedepannya.
...*...
...*...
Di Amerika, sepasang kekasih sedang dimabuk asma dengan segala keceriaan hari-hari mereka. Cuman siapa sangka ternyata Tita selaku teman masa kecil Freya, sekarang sudah masuk ke University yang sama dengan mereka. Hanya saja berbeda jurusan.
Namun, kehadiran Tita bukan membuat Freya malah semakin tenang. Dia malah merasa bahwa semakin Tita dekat dengan mereka, malah semakin membuat Freya selalu was-was akan ucapan yang Tita ungkapkan.
Sebisa mungkin Freya harus bisa memegang kendali atas sikap Tita, lantaran semakin hari semakin membuat jantungnya berdetak sangat cepat.
Saat ini Ace sedang pergi bersama dengan teman-temannya untuk menyelesaikan tugas. Sementara Freya, dia memiliki kesempatan untuk bisa berbicara panjang kali lebar bersama teman masa kecilnya.
Ting nong, ting nong!
Suara bel rumah pun berbunyi, dimana seorang pembantu langsung berlari dari arah dapur untuk membukakan pintu utama.
Beberapa kali bel terus berbunyi, membuat pembantu itu berlari semakin cepat sambil berkata. "Ya, sebentar!"
Sesampainya di depan pintu, pembantu tersebut langsung membukakan pintu bersamaan dengan munculnya wanita cantik. Pembantu itu pun terkejut, saat dia melihat sosok wanita yang sudah lama tidak dia jumpai.
"Loh, i-ini bukannya Non Freya, ya?" ucap pembantu itu, sangat syok melihat Freya yang sudah berdiri tepat dihadapannya.
"Hehe. Iya, Bi. Ini aku Freya, sudah lama banget kita tidak bertemu ya. Syukurlah Bibi masih awet bekerja sama keluarga Tita. Aku kira sudah ganti pembantu, soalnya udah hampir berapa tahun kita tidak ketemu ya." sahut Freya tersenyum.
"Ya, Non. Kurang lebih 6 tahun kita tidak bertemu, dan sekarang Non Freya sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Sama seperti Non Tita." jawab pembantu yang terus mengagumi sosok Freya.
"Hehe, makasih banyak Bi. Ohya, apakah Tita ada di dalam?" tanya Freya.
__ADS_1
"Oh, ada kok, Non. Ayo mari masuk, maaf ya Non Bibi sampai lupa nyuruh Non masuk hehe ...." ucap pembantu sambil cengengesan.
"Ya gapapa kok, Bi. Ohya, Om sama Tante kemana Bi?" tanya Freya, kembali.
"Tuan sama Nyonya lagi keluar ada urusan, Non. Jadi Non Tita sendiri di kamarnya. Awalnya sih Non Tita diajak, cuman dia tidak mau ikut." sahut pembantu itu sambil berjalan ke arah ruang tamu.
Freya yang mendengar itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya kecil, dan mengikuti pembantu itu melangkahkan kakinya.
"Non mau langsung ke kamar Non Tita, atau mau menunggu di ruang tamu. Nanti Bibi panggilkan." tawar pembantu itu saat sudah sampai di ruang tamu.
"Langsung ke kamar aja deh, Bi. Kayanya seru deh, buat Tita terkejut hihi ...." jawab Freya.
"Ya sudah Non, ke atas aja kamar Non Tita yang disebelah kiri ya. Nanti Bibi buatkan minuman segar dan membawakan pudding, biar bisa menemani kalian berbicara sambil mengisi perut hehe." ucap pembantu tersebut terkekeh, sambil menunjukkan arah kamar Tita.
Mendengar itu Freya pun tersenyum mengangguk, lalu dia permisi untuk segera naik ke lantai 2 menuju kamar Tita. Sesampainya didepan kamar, Freya mengetuk pintunya secara perlahan.
Tok, tok, tok!
Ceklek!
"Ya, Bi. Ada ap-- loh, Freya? Astaga lu ke sini kenapa enggak bilang sih, kan gua bisa nyiapin semuanya." pekik Tita, senang. Ini untuk pertama kalinya Freya kembali mengunjungi rumahnya, setelah beberapa tahun mereka berpisah.
"Ishhh, apaan sih. Kaya sama siapa aja, dahlah gua mau masuk capek tahu dari tadi berdiri mulu." sahut Freya langsung masuk ke dalam kamar Tita, dan langsung duduk di tepi ranjang.
Tanpa di sengaja Freya melihat kearah laptop tersebut, dan berkata. " Nj*ay, lu nonton drakor ini? Astaga ternyata diam-diam lu demen yang bucin-bucin juga ya. Padahal gua tahu lu itu anti bucin-bucin begitu yee, sekarang ketahuan haha ...."
Satu rahasia Tita ketahuan oleh Freya, sehingga dengan cepat Tita menutup pintu. Lalu berlari dan mengambil laptopnya, dan segera dia ambil laptop itu kemudian menaruhnya di atas meja belajarnya.
"Yakk, apaan sih. Lu kata gua Tita yang dulu, tomboi dan sebagainya. Gua juga mau berubah kali, masa iya begitu terus. Seakan-akan hidup gua kek enggak ada warna gitu loh." sahut Tita, wajahnya mulai memerah.
"Haha, santai Bestie. Gua juga enggak masalah lu mau bucin atau enggak, itu malah bagus. Berarti lu udah mulai mulai menyukai lawan jenis dong, hem? Yakan, yakan haha ...." jawab Freya dengan nada menggoda membuat wajah Tita semakin memerah merona.
__ADS_1
"Aarrghh, dahlah. Jangan dibahas, gua belum menemukan pangeran dambaan gua." jawab Tita yang kini sudah duduk diatas ranjang tepat di dekat Freya.
"Eh tunggu, ngapain jadi ngomongin itu sih! Dahlah lupain aja, ohya. Lu ke sini ada apaan? Kenapa enggak ngehubungi gua dulu. Siapa tahu lu nyasar kan gua bisa ancang-ancang." sambung Tita, penasaran menatap Freya.
"Yaelah, dikata gua apaan kali. Cuman ke sini doang mana mungkin gua nyasar, dikata anak kecil enggak tahu jalan." ucap Freya, sebal.
"Hehe, ya siapa tahu kan. Terus lu ada apa ke sini, hem? Ada masalah dengan Ace? Atau kalian sedang marahan?" jawab Tita, bingung.
"Huhh, ya sebenarnya enggak ada masalah apa-apa sih. Cuman---"
Tok, tok, tok!
"Permisi, Non. Maaf Bibi ganggu, ini ada makanan buat kalian." ucap pembantu Tita dari luar pintu.
Freya menghentikan ucapannya menatap Tita, sementara Tita pun tersenyum dan berkata. "Sebentar, nanti kita lanjut lagi."
Tita bangkit dari dari ranjangnya mendekati pintu, sambil membukanya. Dimana Tita segera menerimanya, kemudian pembantunya pun pergi, setelah Tita memintanya untuk mengambilkan makanan ringan.
Bagi Tita tidak apdol, jika tidak memakan ciki-cikian atau yang lainnya untuk menemani mereka mengobrol, karena yang Bibi bawakan saat ini hanyalah sebuah pudding dan juga dessert. Sebagai pengisi perut karena jam makan siang sudah lewat.
Selepas pembantunya pergi Tita membawa semua itu ke meja dekat sofa sambil menunggu Bibi mengambilkan pesanannya. Freya yang melihat itu pun bangkit lalu berjalan untuk duduk di sofa panjang bersama Tita.
Beberapa menit, pembantunya datang dengan membawakan ciki tersebut. Setelah itu kembali pergi, lalu Tita menutup pintunya. Karena apa yang mau Freya katakan sepertinya sangatlah penting, terlihat dari wajah dan juga cara berbicaranya.
Mereka pun memakan puding itu secara perlahan, sambil Tita mencoba untuk mencairkan suasana yang sedikit menegang untuk Freya. Setelah mulai mencair barulah Tita kembali meminta Freya untuk menerusakan ucapannya yang sempat tertunda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa mampir ya guys, ini ada novel milik sesama author terbaik ❤️
__ADS_1