Learn to Love You

Learn to Love You
Kata-Kata Kharel


__ADS_3

Pikiran serta hati Fayra seketika saling tolak belakang. Perdebatan demi perdebatan terus terlontar didalam batinnya sampai akhirnya Kharel yang menyaksikan diamnya Fayra membuatnya mengerti, jika kemungkinan ucapannya membuat Fayra kembali mengingat masa lalunya.


Cuman, jangan salah. Kharel tidak pernah mundur ketika melihat Fayra seperti ini, dia malah terus membuktikannya pada gadis kecil pujaan hatinya ini. Dimana kata-kata Kharel berhasil membuat Fayra menoleh tak menyangka, kalau dia bisa menebak semua isi hatinya.


"Aku paham, mungkin kamu belum bisa membuka hatimu untukku. Ya aku mengerti itu semua, karena tidak mudah untuk seseorang kembali membuka hatinya ketika baru kemarin dia merasakan rasa sakit. Yang seharusnya menutup rapat luka, lalu fokus dengan impian. Kini, Tuhan malah mengirimkan seseorang yang berhasil membuatmu dilema,"


"Ya aku akui menata hati dan juga kehidupan untuk tetap baik-baik aja itu tidak gampang, sama halnya seperti saat dulu ketika kamu meninggalkanku. Disitulah duniaku benar-benar hancur sehancur-hancurnya. Setelah kepergianmu, aku baru sadar kalau sebenarnya aku itu sudah mencintai kami. Sayangnya, pada saat itu aku tidak menyadari akan perasaan itu."


"Sampai seketika berjalannya waktu, aku berubah menjadi pria yang dingin akan senyuman wanita. Pria yang cuek akan perhatian wanita, bahkan pria yang masa bodo terhadap cinta maupun pasangan. Fokusku hanyalah bekerja, belajar dan sukses. 3 kata itu aku tanami sampai akhirnya Tuhan mengembalikanmu untukku."


"Hanya saja, Tuhan kembalimu dengan jalan yang berbeda dan sedikit rumit. Dimana Tuhan seperti mempermainkan perasaanki dengan mengirimkan seorang wanita yang mampu membuatku penasaran."


"Entah mengapa, ketika melihatmu dipertemuan kita yang pertama aku seperti sudah mengenalmu sejak lama, akan tetapi aku tidak tahu dimana, kapan, dan bagaimana aku bisa kenal kamu."


"Siapa sangka, kita malah kembali dipertemukan dikampus dengan segala dramamu sampai aku tahu jika kalian itu adalah orang yang sama. Ditambah Tuhan seperti membukakan jalan bahwa ini loh wanita yang kamu cari selama ini, wanita yang berhasil membuatmu jatuh cinta untuk yang pertama dan kesekian kalinya."


"Aku sadar memang saat ini waktunya belum tepat untukku mengatakan semua isi perasaan ini, cuman mau bagaimana lagi. Ya, inilah perasaanku. Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Hanya saja aku harus mengerti bahwa proses yang ada sedikit panjang, aku jiga tidak bisa memaksakan perasaan ini untuk kamu balas."

__ADS_1


"Setidaknya kamu tahu, jika aku memang masih memiliki perasan yang sama ketika kamu meninggalkanku, meskipun aku tahu sedikit tentang masa lalumu seperti apa. Aku tetap tidak peduli!"


"Bagiku kembalinya kamu saja itu sudah seperti sebuah anugrah yang tidak boleh disa-siakan untuk kedua kalinya."


"Tidak perlu menjawab apakah kamu mau menerimaku sebagai pasangan atau tidak. Aku tidak mau kamu menerimaku demi rasa kasihan, atau tidak enak hati. Izinkan aku untuk menjadi sandaranmu agar kamu bisa membagi kisah keluhmu bersamaku."


"Dan izinkan aku untuk menjadi obat dikala aku harus perlahan berusaha menyembuhkan luka yang saat ini masih terbuka. Aku tidak akan pernah mau berjanji untuk menjadi pria yang sempurna untukmu, tetapi aku akan membuktikan bahwa aku memang jodohmu.


Dan akulah pria yang pantas bersanding denganmu apapun yang terjadi."


"Untuk itu maaf jika hari ini aku membuatmu syok dengan pengungkapan kata yang mewakilkan isi hatiku. Aku tidak peduli kamu mau berkali-kali menolakku pun tak masalah, itu malah akan menjadi penyemangat agar aku harus terus maju pantang mundur untuk kembali mendapatkan Princes Chubbyku. Jangan sampai aku merasakan kehilangan untuk kesekian kalinya, dan aku tidak mau semua itu kembali terjadi."


Mendengar kata demi kata yang Kharel ucapkan berhasil menusuk hati Fayra, dia sudah tidak bisa lagi berkata apa-apa. Seolah-olah bibirnya kelu untuk menjawab semua itu, tubuhnya terdiam bagaikan orang bisu.


Hanya ada satu kalimat yang terucap dari bibir Fayra, mampu membuat Kharel hanya bisa tersenyum saat semua perkataannya tidak ada satupun yang dijawab.


"Ka-kak, bisakah antarkan aku pulang? Badanku sudah sangat lelah, jika Kakak enggak bisa ngan---"

__ADS_1


"Apapun yang kamu inginkan akan aku turuti, aku tahu apa yang kamu rasakan. Sudah lupakan, anggap aja tadi aku kesambet se*tan cinta hehe ...."


"Ya sudah kita pulang ya, sebelumnya terima kasih ya kamu sudah mau mendengar perasaanku. Walau tidak ada satu patah kata pun yang kamu ucap untuk membalas perasaanku. Cuman, it's okay, no problem."


"Aku percaya kok, entah nanti atau kapan. Pokoknya suatu saat nanti kamu akan jatuh kedalam pelukanku dan aku tidak akan pernah mau melepaskanmu, walaupun kamu yang memintanya. Karena pantang bagiku apa yang sudah menjadi milikku kembali di rebut oleh orang lain, dan kamu pasti mengerti apa yang aku maksud ini."


"Ya sudah ayo kita pulang, aku juga harus mengabari kedua orang tuaku jika orang tuamu ingin bertemu untuk membahas pernikahan kita. Ya kan, Princes Chubbyku yang menggemaskan uhh, tambah sayang deh."


Kharel yang tahu Fayra begitu tegang, mencoba untuk mengalihkan suasana agar tidak kembali terlihat sepi bagaikan kuburan baru. Saking gemasnya Kharel mencubit kedua pipi Fayra dengan perasaan gereget.


Fayra membolakan matanya ketika pertemuan kedua orang tua mereka malah disalah artikan dengan Kharel. Fayra pun reflek memukul Kharel hingga membuatnya tertawa, lantaran dia tidak kuat melihat ekspresi wajah lucu gadis kecilnya kali ini.


Sampai beberapa menit mereka bercanda didalam mobil dan tanpa disadari akibat candaan mereka membuat mobil seketika bergoyang mengikuti irama mereka yang saat ini sedang menggelitiki satu sama lain.


Seseorang pun datang di dekat mobil Kharel mengetuknya dan ternyata mereka hanya sekedar bercanda.


Saking malunya, Kharel segera menyalakan mesim mobilnya lalu pergi meninggalkan rumah sakit menuju rumah Fayra. Sesekali di perjalanan mereka saling melirik satu sama lain dan membuat Fayra salah tingkah sendiri di tatap oleh mata cantik milik Kharel.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan pun mereka terdiam, hanya Kharel yang terus berusaha membuka topik obrolan sedangkan Fayra cuman menjawan dengan perasaan gugup. Bagaimana tidak, hatinya saja sudah tidak bisa ditebak sebenarnya apa yang dia rasakan.


Sampai di rumah Fayra, Kharel berpamitan untuk segera kembali pulang supaya bisa menemui kedua orang tuanya dan rasanya benar-benar sudah tak sabar mau memberitahukan pada keluarganya kalau gadis kecilnya telah kembali didalam pelukannya.


__ADS_2