
Setelah itu Fayra tersenyum lebar ketika dia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Rasanya puas banget saat melihat wajah calon suaminya yang terlihat sangat menggemaskan.
Kemudian Fayra kembali berganti pakaian seperti semula, setidaknya dia sudah sangat nyaman dengan apa yang di rancang oleh mereka semua demi mewujudkan gaun impian Fayra. Lantaran dia akan menikah dengan pria yang akan menjadi tempat terakhirnya berlabuh.
Namun, siapa sangka saat berada di ruangan ganti tawa Fayra pecah sepecah-pecahnya ketika wajah Kharel selalu terbayang di ingatannya. Membuat mereka yang sedang membantu Fayra melepas gaunnya pun terkejut.
Mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Seakan-akan tawa Fayra menular kepada mereka semua yang tidak tahu apa yang lucu, tetapi malah ikut terkekeh.
...*...
...*...
Di suatu tempat, ternyata ada juga kebahagiaan yang sedang menyelimutinya rumah tangga yang terbilang masih sangat baru cuman terkesan begitu romantis.
Padahal awal mereka bertemu pun tidak ada kata manis yang terucap, hanya ada sikap suaminya yang begitu menjaga serta berusaha membahagiakannya.
Siapa lagi jika bukan Louis dan juga Nata, mereka baru saja menikah beberapa bulan lalu. Ya kurang lebih hampir 1 tahunz tetapi mereka sudah diberikan kabar baik mengenai tentang kehamilan Nata.
Semua sahabat mereka merasa senang atas kabar baik ini, di tambah kabar Fayra yang sebentar lagi akan menikah.
Saat ini Louis dan Nata berada di luar negeri, mereka tinggal di sana sampai semua pendidikannya selesai barulah akan kembali menetep di Indonesia.
Tak lupa disana juga mereka di temani oleh satu pembantu rumah tangga yang tinggal bersama mereka untuk menjaga Nata yang sedang hamil muda.
Semua sudah dipersiapkan oleh mertua Nata, karena itu merupakan cucu pertama yang akan mewarisi harta keluarga Louis. Entah itu wanita ataupun pria, anak itu tetap menjadi pewaris pertama, meski nanti akan ada pewaris lainnya.
Namanya juga hamil muda, pasti ada saja yang membuat suami menjadi kesal tidak karuan.
Namun, anehnya Louis sama sekali tidak pernah sedikitpun marah ketika Istri atau calon anaknya sedang mengerjainya.
Tahu batagor bukan? Nah, itulah yang sangat menguji kesabaran Louis. Saat Nata meminta dibelikan batagor yang seperti di Indonesia membuatnya begitu frustasi. Karena mana ada di luar negeri batagor, ya mungkin jika ada pun pasti berbeda cara penyajiannya.
Cuman, Nata tidak mau. Dia mau yang sama persis seperti di Indonesia, akhirnya Louis mengambil jalan pintas menonton sebuah youtobe untuk melihat cara pembuatan batagor yang mudah bagi pemula sepertinya.
__ADS_1
Disini Louis tidak sendirian, dia di bantu oleh pembantunya untuk mengerjakan semuanya. Yang lebih mengjengkelkan lagi, saat batagor susah payah dibuat. Nata malah sudah tidak kepengen lagi, dia malah ingin di buatkan rujak yang sama persis seperti orang nuju bulanan.
Bagaimana bisa dia mencari buah-buahan yang sama seperti itu? Cuman, kembali lagi. Louis hanya bisa full senyum menghadapi Bumil satu ini yang sangat menguras emosinya.
"Sayang, aku mau rujak yang nuju bulan. Aku enggak mau batagor, melihatnya aja udah enek banget. Uwekk!" ucap Nata.
Dia menutup mulutnya sedikit menjauhkan piring batagor yang sudah Louis bawakan untuknya.
"Huhh, terus ini batagornya gimana? Ini enak loh, aku udah nyobain. Tanya saja Bibi jika tidak percaya, lagi pula aku membuatnya kan penuh cint--"
"Pokoknya aku maunya rujak nuju bulan. Titik, huaa ... Daddy jahat, masa anaknya mau makan rujak malah di tawarin batagor hiks ...."
Louis hanya bisa terdiam menahan semua emosi di dalam hatinya dengan mengukir seyuman, mau bagaimana lagi.
Apapun yang Louis hadapi saat ini, ya itu memang sudah takdirnya. Karena ketika Bumil sedang mengalami ngidam, maka apa yang dia minta susah payah di dapatkan seketika bisa berubah hanya dalam hitungan detik.
"Ya sudah baiklah, aku buatkan. Tapi, janji ya enggak nangis lagi. Hem? Kasihan Dedeknya di dalam perut Mommy, nanti jadi ikutan sedih loh."
Meski Louis sangat kesal sama permintaan istrinya, tetapi dia tetap berusaha untuk memperlakukannya sebaik mungkin tanpa amarah, ataupun rasa kesal yang dia tunjukkan.
Ya biginilah jika Nata hamil di usianya yang masih terbilang muda, jadi rasa labil dan emosi di dalam dirinya belum bisa di kontrol dengan baik.
Jadi mau tidak mau, Louis harus ekstra memiliki kesabaran seluas samudra dan sedalam lautan hanya untuk menjaga mood istrinya agar tetap baik-baik saja.
Maka dari itu Nata beruntung sekali memiliki suami seperti Louis, dia tidak pernah memarahinya meskipun Nata salah. Seakan-akan Louis seperti memiliki cara tersendiri agar membuat istrinya mengerti bahwa dia melakukan kesalahan tanpa disadari.
"Makasih, Daddy. Ya sudah aku mau ke kamar dulu ya ngantuk banget, sekalian mau nonton drakor. Dadah, Daddy. Muach!"
Nata mencium pipi Louis, lalu dia bangkit lalu berjalan meninggalkan ruangan tengah. Yang mana, saat dia mau melangkahkan kakinya lebih jauh. Nata kembali berbalik menatap Louis yang masih terdiam dengan segala pikirannya.
"Sayang jangan lupa pesenanku ya, pokoknya saat aku bangun tidur nanti rujak itu harus udah ada ya." ucap Nata, tersenyum menatap suaminya yang langsung menoleh. Louis tetap mengukir senyuman kecil sambil menganggukkan kepalanya.
Nata pun bergegas pergi ke kamarnya dengan perasaan senang bercampur bahagia, berbeda sama Louis.
__ADS_1
Dia begitu pusing memikirkan permintaan Nata yang tidak pernah masuk di akal, sampai akhirnya batagor tersebut langsung ludes habis di telan bulat-bulat olehnya.
Dan, saat Louis berdiri mau menaruh piring kotor itu. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh kehadiran Nata.
"Sayang, batagornya mana? Aku mau dong, kayanya enak. Boleh aku minta?"
Degh!
Louis membolakan matanya menatap lurus ke arah depan dalam keadaan syok parah. Karena batagor yang sudah masuk ke dalam perut tidak bisa dia keluarkan lagi.
Louis berbalik dan menatap istrinya sambil tersenyum. "Ma-maaf, Sayang. Ba-batagornya---"
"Yaahh, kok habis sih." Nata melihat ke arah piring kosong dan kembali menatap suaminya. "Bukannya itu batagor buat aku ya, kenapa kamu makan?"
Nata terlihat begitu lesu, matanya kembali berkaca-kaca membuat Louis kalang kabut.
Dia langsung memutar otaknya hingga mengebul bukan main, lalu berkata. "Te-tenang sayang, masih ada satu piring lagi. Tu-tunggu ya, aku akan memberikannya. Kamu ke kamar dulu ya, nanti aku bawakan 5 menit dari sekarang, okay?"
"Hem, baiklah. Aku tunggu ya, awas kalau enggak ada nanti Dedeknya sedih." jawab Nata, cemberut.
"Siap, Ibu negara. Ya sudah aku ke belakang dulu ya. Nanti aku bawakan ke kamar, dahh!"
Louis segera pergi menuju dapur, dimana dia masih teringat bahwa batagor yang di buat itu hanya jadi 2 piring.
Piring pertama buat Nata yang ternyata Louis yang memakannya, lalu piring ke dua dia kasih untuk sang Bibi. Jadi tanpa berpikir panjang, Louis langsung menanyakan semua itu pada sang Bibi.
Untungnya batagor itu baru saja mau di makan, dan sekarang sudah tidak jadi. Semua karena Bumil yang super duper menyebalkan.
Bibi hanya bisa terkekeh saat mendengar Louis bercerita sedikit tentang keluh kesalnya, cuman Bibi hanya bisa memberikan saran agar dia bisa lebih bersabar. Karena ya begitulah Bumilz ketika usia kandungnya sangat muda, meski tidak semuanya wanita mengalami ngidam berlebihan seperti ini.
Wajar saja, karena mood kehamilan itu berbeda-beda. Ada yang lebay, pemarah, pendiam, bar-bar atau segala macam. Mungkin kali ini Nata termasuk di kategori Bumil lebay, yang apa-apa selalu saja menangis jika tidak di turuti.
Bersyukurnya dia memiliki suami yang sabar seperti Louisz jadi apapun yang dia lakukan Louis hanya bisa menerimanya selagi keadaan istri dan anaknya selalu sehat.
__ADS_1
Louis segera membawa batagor itu kepada istrinya, lalu dia kembali memulai memikirkan semuanya. Bagaimana caranya dia bisa mewujudkan keinginan istrinya mengenai rujak nuju bulan? Entahlah, itu hanya Louis yang tahu jawabannya.