
Apapun status Fayra, sebenarnya Kharel tidak perduli. Dia hanya butuh sedikit penjelasan dari bibir Fayra, kenapa dia menyembunyikan tentang identitasnya.
Mungkin, setelah Fayra menjelaskan padanya. Disitulah Kharel akan mengerti bahwa dunia percintaan tidaklah sebaik apa yang dilihat.
Dan setelah itu Kharel bisa membuat kisah baru, bersama Fayra dengan tulisan takdir yang indah. Tanpa lagi membuat Fayra merasakan sakit, ataupun meneteskan air mata kesedihan.
...*...
...*...
Disisi taman yang tak jauh dari tempat tadi, Ace membawa Fayra dengan sedikit menyeretnya. Beberapa kali Fayra memekik keras untuk minta di lepaskan, tetapi Ace tidak menggubris itu semua.
Dan di taman inilah Fayra sama Ace, mereka berdiri saling berhadapan lalu menatap satu sama lain. Dimana Ace seperti masihenyimpan sebuah rasa untuk Fayra. Akan tetapi, tatapan Fayra hanya tatapan biasa yang melihat masa lalunya yang tidak lagi penting untuknya.
"Ada apa? Kenapa kamu membawaku ke tempat ini dan meninggalkan Pangeranku?"
"Stop, membahas tentang dia. Aku tidak mau mendengar kamu menyebut dia sebagai Pangeran. Karena sebutan Pangeran hanya boleh untukku!"
"Hahh, untukmu? Apa aku tidak salah dengar?"
"Tidak, karena aku akan tetap menjadi Pangeranmu!"
"Tapi, maaf kamu bukan lagi Pangeranku. Karena kita kan sudah resmi berpisah. Jadi lebih baik kamu menjadi Pangeran wanitamu saja, untuk menjaga dia. Semoga dia tidak mengecewakanmu!"
"Raa, aku masih mencintaimu."
Perdebatan mereka terhenti saat Fayra mendengar kata terakhir yang membuatnya tersenyum lebar, bahkan Fayra terkekeh sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Apa kamu bilang? Mencintaiku? Haha, sungguh manis perkataanmu itu. Tapi, maaf perasaanku ini sudah mati untukmu dan tidak akan pernah tumbuh kembali. Kau tahu itu!" ucap Fayra.
__ADS_1
"Tidak, tidak mungkin kamu bisa melupakan aku secepat itu. Aku kenal kamu Raa, aku paham kamu seperti apa. Kamu itu sangat mencintaiku, jadi tidak mungkin hatimu mati untukku!"
"Oh, aku tahu. Jangan bilang kamu mengatakan semua itu karena kamu sudah memiliki perasan dengan pria itu? Om-om yang sudah menjadikanmu simpanannya, iya!"
Fayra hanya menatap remeh ke arah Ace sambil teris tertawa kecil, seakan-akan apa yang Ace ucapkan adalah sebuah lelusan untuknya.
Sementara Ace yang sudah tidak bisa mengontrol dirinya, tanpa aba-aba lagi mulai mencekram kedua bahu mulus milik Fayra yang terekspore dan merapatkan tubuhnya ke satu pohon yang ada di sana.
"Ace, apa-apan sih! Lepasin enggak, atau aku akan teriak!" pekik Fayra terkejut dengan tingkah Ace.
"Aku tidak akan melepaskanmu, kalau kamu belum mengatakan siapa pria itu? Dan ada hubungan apa kamu dengan dia? Lalu, kenapa kamu mau memberikan bibirmu dengannya. Jawab!"
Lagi-lagi Fayra hanya terkekeh meskipun hatinya begitu takut jika Ace akan melakukan sesuatu yang membuatnya tidak bisa lepas.
Namun, kita Fayra tidak berani melawan semua rasa takut itu. Maka, selamanya dia akan terjebak di dunia drama seperti apa yang Ace lakukan. Jelas-jelas dia sudah mencintai wanita lain, tetapi terlihat tidak terima jika Fayra didekati oleh seorang pria.
Fayra mengehentikan tawanya, dan langsung berubah menjadi sedikit menyeramkan. Ace yang melihat perubahan ekspresi wajah Fayra begitu cepat, merasa panik. Cuman dia berusah menutupi semua itu agar tetap terlihat sanggar dan tegas didepan Fayra.
"Camkan baik-baik mantan suamiku, setelah kejadian itu terjadi maka disaat itulah, detik itulah hatiku sudah mati rasa. Debaran demi debaran yang selalu aku rasakan ketika didekatmu, kini sudah tidak ada lagi. Semua hilang bersamaan dengan kejadian itu. Tidak ada lagi rasa cinta, sayang ataupun rasa kasihan,"
"Selama ini mungkin kamu melihatku wanita yang begitu mencintaimu, bahkan apapun kesalahanmu aku bisa memaafkannya lalu kita kembali bersama."
"Namun, kamu melupakan satu hal yang selalu aku katakan. Bahwa ketika kita sudah saling mengatakan kata cinta, maka disitulah keseriusan mulai menyelimuti hubungan kita. Sayangnya. Aku sudah mewanti-wanti itu semua bahwa satu kali saja kamu kembali berulah seperti saat kamu belum mengatakan cinta. Maka, disitulah bendera putih berkibar yang artinya aku sudah menyerah!"
"Masih ingat bukan kata-kata perjanjian sebelum kamu berangkat menerusakan pendidikanmu? Apa yang aku dapat dari janji manis itu? Tetap, sebuah pengkhianatan yang sudah berjalan cukup lama. Bahkan sampai detik ini pun kamu masih menjalani hubungan dengan wanita itu, bukan?"
Ace terdiam dengan posisi masih memegang kedua pundak Fayra dengan mata menyorot satu sama lain. Bahkan yang Ace herankan, kenapa Fayra bisa mengatakan semua itu tanpa sedikit pun mengeluarkan air mata.
Karena yang Ace kenal, apapun yang terjadi Fayra selalu meneteskan air matanya. Entah itu sedih, bahagia ataupun senang dia selalu menangis. Cuman kali ini berbeda, Fayra mengatakan semuanya dengan tenang, tersenyum dan tidak sedikit pun merasa takut.
"Da-dari mana kamu tahu jika aku---"
__ADS_1
"Tidak perlu kamu tanya aku tahu dari mana, karena jelas-jelas aku hafal semua sikapmu. Kamu rela melepaskanku tanpa usaha mempertahanku itu, udah satu jawaban yang pasti jika kamu lebih memilih hidup bebas bersama dia. Benar begitu, mantan suamiku?"
"Tenang aja, aku tidak akan mempermasalahkan soal itu. Aku cuman mau mengingatkan, karma itu tidak tidur. Dia akan datang disaat yang tepat, dan Fayra yang dulu yang mudah di bod*dohin telah ma*ti."
"Lalu siapa yang ada dihadapanmu saat ini? Maka, perkenalkan. Aku adalah Fayra yang baru. Fayra yang kuat, Fayra yang mandiri dan juga Fayra yang tidak lagi bisa dibo*dohkan dengan kehidupan ataupun dunia percintaan!"
"Terima kasih, atas luka yang sudah kamu toreh dihatiku membuat aku bisa menjadi wanita yang lebih baik dari sebelumnya. Mungkin, jika aku masih bertahan maka bisa dikatakan bahwa aku adalah wanita yang paling bod*doh di muka bumi ini!"
Senyuman manis terukir jelas di bibir Fayra, bahwa dia memang sudah benar-benar tidak lagi melihat ke arah belakang. Bahkan disaat Ace kembali, hatinya tidak lagi bergetar untuk mengingat semua kenangannya.
Seakan-akan Fayra telah berhasil melewati semua masa sulitnya, dan hanya menunggu masa bahagia datang bersamaan dengan jodoh yang akan membuatnya bahagia.
"Apa kamu mencintai pria itu?" tanya Ace, penuh keseriusan lantaran pertanyaan ini selalu Fayra alihkan.
"Cinta atau tidaknya aku sama pria itu bukanlah urusanmu. Jalan hidup kita sudah berbeda, jadi urusi saja urusan kita masing-masing. Karena semua itu tidak penting untukmu!" tegas Fayra, tanpa ekspresi.
"Itu sangat penting buatku, jadi katakan sekarang! Apakah kamu mencintai dia atau kamu hanya menjadi simpanannya!" pekik Ace sambil menggoyangkan tubuh Fayra hingga tanpa dirasa punggung mulus Fara tergores oleh batang pohon yang cukup tajam.
"Arrggg, sa-sakit Ace. Sakit! Hentikan semua ini, pu-punggungku arghh!" teriak Fayra saat merasakan perih dikulit pinggungnya.
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum aku menemukan jawaban, apakah kamu benar mencintainya atau kamu begini karena kamu ingin membuatku cemburu!" tegas Ace berkali-kali.
"O-okay, aku akan jawab pertanyaanmu tapi lepaskan. Ini sangat menyakitkan kulitku, Ace. Hiks ...."
Fayra meneteskan air matanya bukan karena dia tertekan oleh perlakuan Ace, melainkan dia sudah tidak tahan dengan rasa sakit dipunggungnya. Apa lagi gaun yang dia kenakan itu sangatlah terbuka sehingga kulitnya langsung tergesek oleh batang pohon yang kasar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa mampir ya guys, ini ada novel milik sesama author terbaik ❤️
__ADS_1