
Semua tertawa ketika sebagian dari mereka ada yang mengetahui pertengakan Fayra dan juga Luna, jadi mereka bisa menyimak bahwa Luna ini memang merupakan wanita pelakor. Sama kaya wanita cantik di luaran sana, rela merebut yang bukan menjadi miliknya.
Luna bergegas pergi dengan wajah kesal bercampur emosi, sedikit lagi dia berhasil mendapatkan uang yang besar. Cuman, semua gagal akibat Fayra tidak kemakan oleh perlakuannya terhadap Kharel.
Setahu Luna, dari tadi Fayra selalu memperhatikannya dan melihat semua perlakuannya terhadap Kharel. Karena memang itu tujuan utama Luna, hanya saja yang membuatnya heran, kenapa malah dia sendiri yang terkena batunya. Misinya gagal, di tambah dia pun tidak akan mendapat bayaran besar, hingga apa yang sudah dia rencanakan menjadi gagal total.
...*...
...*...
Di sisi lainnya, Fayra membawa Kharel ke taman rumah sakit. Tak lupa Fayra membeli sebuah air dingin dan juga cemilan, untuk mereka duduk santai sambil melihat beberapa anak kecil bermain.
Apa lagi suasanya hari ini begitu adem, yang artinya tidak terlalu panas dan juga tidak hujan. Hanya sedikit mendung saja.
Fayra duduk di kursi tepat di sebelah Kharel, dimana Fayra sudah mengunci kursi roda Kharel agar
kursi rodanya tidak sampai berjalan-jalan.
"Ini, Kak. Minum dulu biar suasana hati kita adem, enggak baik juga kalau lama-lama penuh emosi. Takutnya nanti hati panas, terus kebakar ehh hangus deh heheh ...."
Canda tawa yang terukir di bibir Fayra membuat Kharel sangat bingung. Dia terlihat biasa tanpa beban, saat baru saja menghadapi masalah yang sangat sulit.
Fayra minum dengan perasaan tenang, tanpa terukir amarah di dalam wajahnya. Berbeda ketika Fayra bertemu dengan Luna tadi, wajahnya terlihat sangat emosi.
Perlahan Kharel pun meminum minumannya sambil terus melirik ke arah Fayra dengan tatapan aneh, bingung dan juga penasaran.
__ADS_1
Siapa sih yang enggak penasaran, jika kejadian itu terjadi pada kalian. Lalu, pasangan kalian bersikap biasa saja tanpa adanya rasa cemburu. Pasti akan ada pemikiran bahwa, apakah pasangan kita mencintai kita tau tidak?
Nah, itulh yang Kharel rasakan saat ini. Adanya rasa bimbang di dalam hati kecilnya, satu sisi Kharel senang kalau Fayra tidak marah padanya. Cuman, satu sisi lainnya Kharel cemas jika seandainya Fayra tidak benar-benar mencintainya. Lalu, pernikahan ini? Wah, tidak!
Kharel segera menangkis semua pikiran negatif yang ada di kepalanya tentang Fayra, membuat Fayra yang berada di sampingnya langsung menatap aneh.
"Kak, Kakak gapapa 'kan? Kenapa Kakak geleng-geleng kepala?" tanyanya, khawatir.
"Ehh, e-enggak. Aku gapapa kok, aku baik-baik aja heheh ...."
Senyuman Kharel berhasil membuat Fayra menatapnya penuh penyelidikan. Rasa curiga mulai kuat di dalam hati Fayra, hingga dia langsung menanyakannya secara to the point.
"Ada apa, Kak? Kenapa setelah kejadian itu, Kakak jadi begini? Apa Kakak tidak senang, kalau aku tidak marah atas kejadian tadi? Atau Kakak merasa aku tidak sayang sama Kakak, sehingga aku tidak merasa cemburu?" tanya Fayra, kembali.
"Ke-kenapa dia tahu apa yang ada di pikiranku saat ini? Apakah semua itu bisa di tebak lewat wajahku, sehingga dengan mudahnya dia bisa membaca semuanya?" suara hati Kharel.
Fayra menunjuk hatinya sendiri, sambil menatap Kharel. Dimana mata Kharel reflek melihat ke arah jari telunjuk Fayra.
"Dari sini, aku bisa tahu apa yang sedang Kakak pikirkan semuanya. Perasaanku kepada Kakak begitu kuat, jadi aku tahu apa yang Kakak lagi rasakan. Karena saat ini Kakak lagi menghadapi dilemaan hati yang cukup besar, saat tahu aku tidak marah ketika wanita itu menyentuh Kakakk. Iya, bukan?"
Kharel menunduk memainkan jari, layaknya seorang anak kecil yang sedang di marahi oleh Ibunya. Kharel melintir-lintir bajunya sendiri, matanya pun mulai berkaca-kaca menandakan bahwa hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Sementara Fayra hanya tersenyum menatap calon suaminya yang selalu saja menangis, kalau sedang memikirkannya.
Seakan-akan Kharel begitu takut akan kehilangan Fayra, nyatanya memang Fayra pun tidak akan pernah pergi darinya. Itu merupakan sebuah janji yang dia ucapkan di dalam hatinya sendiri.
__ADS_1
Fayra mengubah posisi Kharel, dia menghadapkan kursi rodanya ke depan wajahnya. Sehingga mereka saling menatap satu sama lain, dimana mata Kharel sudah mulai meneteskan air matanya.
"Sstt, calon suamiku yang tampan tidak boleh nangis lagi. Sekarang dengerin aku ya, mau seberapa banyakpun wanita menggoda Kakak aku tidak akan marah. Malah aku senang, dengan begitu mereka tanpa sadar telah membuktikan bahwa calon suamiku ini tidak mudah tergoda oleh siapapun."
"Jadi buat apa aku merasa cemburu, marah dan sebagainya hanya karena benalu itu? Aku kenal Kakak, bukan sehari dua hari. Aku tahu, mau Kakak sehat ataupun di kursi roda seperti sekarang. Cinta Kakak akan tetap sama, yaitu untuk aku, aku dan aku."
"Sampai sini Kakak paham 'kan? Kenapa aku melakukan semua ini, karena aku percaya akan kekuatan cinta kita. Ya, kalau aku boleh jujur aku memang cemburu, cemburu banget malahan. Tapi, aku sadar Kak. Rasa cinta ini berhasil mengalahkan rasa cemburu yang seharusnya tidak ada, diantara kita."
"Maka dari itu, lupakan kejadian tadi. Sekarang waktunya kita bersenang-senang karena sebentar lagi kita akan hidup selamanya."
Fayra tersenyum penuh kebahagiaan sambil terus mengusap air mata yang mengalir dari mata Kharel.
Entah mengapa, semenjak Fayra menjadi kekasihnya Kharel terlihat sangat lemah, mudah menangis dan juga memiliki ketakutan yang cukup besar.
Kharel tidak menyangka, pilihannya ternyata tidak salah. Meski dia harus sakit, dan bertahan bertahun-tahun menelan pahitnya hidup tanpa kehadiran Fayra. Kini semua telah terbalaskan dengan kekuatan cinta Fayra kepadanya, begitu juga sebaliknya.
"Uhh, utuu utuu tayangku. Cini peyuk dulu, hem ... Tayang. Udah ya, jangan nangis lagi. Kasian ketampananmu itu tertutup oleh awan mendung, mendingan sekarang kita tersenyum."
"Anggap aja kita lagi melakukan sebuah permainan, siapa yang akan menang? Cinta kita ataukah mereka yang entah siapa orangnya, tetapi yang jelas tujuan mereka hanya 1, yaitu menghancurkan kisah yang sebentar lagi akan kita bina."
Fayra memeluk Kharel begitu erat, seakan-akan dia telah mentransfer kekuatan agar Kharel kembali bersemangat untuk semuanya.
Meskipun terdengar suara tangisan yang termat sendur, tidak membuat Fayra merasa jijin saat Kharel beberapa kali menyedot ingusnya sendiri yang sudah meler.
Pelukan Fayra lepaskan sambil mengelap wajah Kharel dengan tangannya sambil mencium keningnya. Betapa bahagianya Kharel, karena dia telah di manjakan oleh calon istrinya sendiri.
__ADS_1
Setelah Kharel mulai tenang, mereka kembali minum sejenak sambil menyemil dan melihat keseruan anak-anak main. Meskipun tak seramai di taman biasa, tetapi taman rumah sakit juga masih ada beberapa anak kecil yang bermain setelah mengunjungi keluarganya.
Selang kurang lebih 15 menit, mereka pulang menggunakan mobil Appa Daniel yang di temani oleh sang supir untuk bisa memmbantu Kharel.