Learn to Love You

Learn to Love You
Kerasukan Jin Botol


__ADS_3

Seseorang pun datang di dekat mobil Kharel mengetuknya dan ternyata mereka hanya sekedar bercanda.


Saking malunya, Kharel segera menyalakan mesim mobilnya lalu pergi meninggalkan rumah sakit menuju rumah Fayra. Sesekali di perjalanan mereka saling melirik satu sama lain dan membuat Fayra salah tingkah sendiri di tatap oleh mata cantik milik Kharel.


Sepanjang perjalanan pun mereka terdiam, hanya Kharel yang terus berusaha membuka topik obrolan sedangkan Fayra cuman menjawan dengan perasaan gugup. Bagaimana tidak, hatinya saja sudah tidak bisa ditebak sebenarnya apa yang dia rasakan.


Sampai di rumah Fayra, Kharel berpamitan untuk segera kembali pulang supaya bisa menemui kedua orang tuanya dan rasanya benar-benar sudah tak sabar mau memberitahukan pada keluarganya kalau gadis kecilnya telah kembali didalam pelukannya.


...*...


...*...


Jam terus berputar sampai akhirnya hari telah berganti. Tepatnya dijam makan malam pukul 7 keluarga Kharel baru saja tiba di halaman rumah kediaman keluarga Fayra.


Terlihat jelas wajah tampan dan juga rupawan telah bersinar bagaikan sebuah cahaya bintang yang ada diatas langit. Entah mengapa kali ini penampilan Kharel layaknya seorang Pangeran yang ingin melamar seorang Putri cantik jelita.


Padahal, sebenarnya ini hanyalah makan malam biasa yang diadakan setelah sekian lamanya mereka berpisah.


Wajah senang dan ketidak sabaran Mamah Xavia terukir jelas, dia memang sudah kebelet untuk bertemu dengan sahabatnya dan memeluknya begitu erat sebagai obat pelepasan rindu.


Dan, benar saja. Ketika mereka baru saja sampai di dekat pintu utama, keluarga Fayra langsung menyambutnya dengan senyuman termanis.


"Astaga Xavia, i-ini beneran kamu kan?" tanya Amma Trysta penuh keterkejutan melihat sahabatnya berpenampilan berbeda.

__ADS_1


"Huaa, Trysta! Astaga, aku kangen banget sama kamu. Hem, udah lama banget kita enggak pernah ketemu hiks ...."


Mamah Xavia langsung memeluk Amma Trysta penuh kerinduan yang sudah tidak bisa lagi dia bendung. Bertahun-tahun mereka berpisah tanpa kabar satu sama lain, membuat mereka banyak ketinggalan momen kebersamaan.


Begitu juga dengan Papah Jerome dan Appa Daniel, mereka pun saling berjabat tangan hingga berpelukan layaknya seorang pria.


Hanya saja ketika Kharel ingin seperti mereka yang berpelukan satu sama lain, tiba-tiba Fayra refleks mendorong Kharel hingga dia terjatuh bagaikan badan tak bertenaga. Cuman dorongan kecil dari tangan mungil Fayra, telah berhasil merubuhkan tubuh besar nan kekar seperti Kharel.


"Ehh, Big Babyku. Kamu kenapa, Sayang?" Mamah Xavia segera menolong Kharel, wajah sedikit khawatir.


"Akhh, itu biasa Tante. Dia terkadang suka tiba-tiba jatuh, jadi maklumin aja." sahut Fayra sambil melirik kesal kearah Kharel.


"Hem, sudah berani macam-macam ternyata rubah kecilku ini. Boleh juga!" gumam batin Kharel, tersenyum miring menatap Fayra.


"Kenapa dia senyum seperti itu, jangan bilang dia sedang merencanakan sesuatu? Astaga, awas aja kau kancil. Aku tidak akan terjebak dengan jebakanmu!" balas batin Fayra, menatap tajam kearah Kharel.


"Huaa, Mamah. Fayranya jahat, masa tadi Kharel mau peluk malah di dorong sih. Sakit tahu, huaa. Jahat!" rengek Kharel, wajahnya begitu lucu bagaikan anak kecil yang sedang mengadu pada Ibunya.


Semua orang terlihat terkejut atas perubahan sikap Kharel, mereka melongo tak percaya jika yang dilihat saat ini memang beneran Kharel yang mereka kenal.


"Yakk, apa pula aku yang dibawa-bawa. Lagian siapa suruh main sosor aja kek Soang, nikah aja belum udah main sosor-sosor anak orang aja!" Fayra tidak terima sama ucapan Kharel yang seolah-olah menjual namanya.


"Tuhkan, dia marahin Kharel. Huaa, masa iya baru ketemu bukannya di sayang malah diomelin. Padahal dulu dia paling seneng di peluk sama Kharel, cuman sekarang malah jual mahal. Menyebalkan bukan? Huaa ...."

__ADS_1


Mamah Xavia yang melihat anaknya merengek bagaikan anak manja, membuatnya menjadi geli. Ini seperti bukan anaknya yang dia kenal, sehingga Mamah Xavia pun menyingkir melihat Kharel dengan tatapan aneh.


"Sayang, sepertinya dia bukan anak kita. Apa dia kerasukan jin botol?" ucap Mamah Xavia menatap suaminya.


"Udah biarin aja mungkin otaknya lagi gesrek. Mending kita tinggal aja!" jawab Papah Jerome sangat cuek menatap anaknya.


"Apa yang dikatakan Om Jerome itu benar, dia memang suka rada konset. Jadi biarkan saja dia mau ngelakuin apapun, itu bukan urusan kita. Mending kita makan aja yuk, aku udah laper nih." sahut Fayra.


"Memang tidak apa-apa kalau kita tinggalin?" tanya Appa Daniel.


"Tenang aja, dia cuman konslet sedikit. Nanti juga sadar sendiri," Papah Jerome segera menggiring semuanya untuk meninggalkan anaknya yang sedang melakukan drama guna mencari perhatian.


Siapa sangka mereka pun mengikuti usul dari Papah Jerome dan juga Fayra. Kemudian mereka berbalik dan meninggalkan Kharel yang masih dengan drama manjanya.


Namun, baru beberapa langkah saja Kharel melirik kecil mereka yang sudah mulai menjauh membuatnya semakin kesal.


"Yakkz dasar keluarga tidak ada akhlak! Bisa-bisanya meninggalkanku seperti ini, padahal disini yang berjasa mempertemukan kalian itu aku!" pekik Kharel kesal, tetapi semuanya tidak menggubrisnya dan malah bertambah cuek.


Dengan segala kejengkelannya, Kharel bangkit lalu berjalan dengan mode marahnya. Wajah dingin, datar dan aura menyeramkan mulai bermunculan.


Kharel berjalan lebih dulu melewati semuanya dengan langkah panjang dan juga cepat. Melihat itu lagi-lagi mereka semua dibuat terkejut, beberapa saat Kharel terlihat senang, kemudian manja dan sekarang dingin. Semua sifat itu bisa bergantian secara cepat dan sangat langka.


Awalnya Kharel berharap banget dengan rencananya ini supaya Mamahnya agar bisa menolongnya untuk dekat dengan Fayra. Sayangnya, sekarang malah gagal.

__ADS_1


Mamahnya yang melihat anaknya seperti itu malah menjadi ketakutan dan juga keraguan tersendiri untuk mengakui, bahwa Kharel yang manjanya tidak ketulungan ini bukanlah merupakan anaknya sendiri.


Semua karena Kharel yang mereka kenal tidak akan melakukannhal itu, cuman siapa sangka. Kharel bisa berubah seperti ini, berkat dia sudah menemukan sebuah rumah ternyaman yang baru saja kembali.


__ADS_2