
Namun, ada satu orang yang berhasil membuat Simba terdiam tak berkutik hingga perlahan beberapa pawang membantu Kharel untuk turun dari atas kandang.
Awalnya Kharel tidak mau, seolah-olah badannya sudah menyatu dengan kandang itu. Cuman apa daya, tidak mungkin Kharel selamanya ada diatas sana dengan konsi tubuhnya yang sudah mulai melemah.
Sampai akhirnya Kharel berhasil keluar dari kandang, setelah beberapa kali Kharel harus naik turun ketika melihat Simba selalu ingin memeluk tubuhnya. Di sini terlihat jelas jika Simba sangat agresif sama Kharel.
"Hai, tampan. Jangan ganggu suamiku ya, dia itu calon Ayah dari anak-anak yang ada di dalam perutku ini. Bagaimana jika dia kenapa-kenapa, pasti anakku akan sedih. Jadi, aku mohon ya jangan celakakan dia."
"Tenang aja, niat dia baik kok. Dia cuman mau nuruti permintaanku untuk mandiin kamu supaya bersih, tampan dan juga kamu akan tambah berwibawa loh."
"Kamu mau 'kan turuti permintaanku, ini demi anakku loh. Please, mau ya? Aku janji, suamiku tidak akan aneh-aneh kok. Dia cuman mau memandikanmu agar wangi, lalu berfoto bersama deh. Gimana, boleh?"
Perkataan Fayra berhasil membuat semua orang terkejut, ketika Simba tunduk padanya dan mengangguk layaknya dia telah mengerti sama apa yang Fayra sampaikan.
Simba kembali tiduran dengan santai sambil matanya menatap kearahnya begitu mendalam. Sungguh, ini kejadian yang langka.
Beberapa pawang saja yang menjinakkan Simba, belum tentu bisa seperti Fayra. Apa lagi dia merupakan orang baru yang Simba kenal, dan termasuk sangat mudah untuk berhasil mengambil hati Simba yang keras.
"Sa-sayang, bagaimana caranya ka-kamu bisa menjinakan hewan buas itu? Kenapa dia bisa tunduk padamu?"
"Yakk, jangan bilang kalau Simba suka sama kamu? Huaa, dasar hewan buas menyebalkan! Lihat saja kamu ya, akan aku buat kamu menjadi daging panggang baru tahu ras---"
"Awwrgg, awwrgg ...." Simba berlari dan meraung ke arah Kharel membuatnya refleks langsung memeluk Papah Jerome bagaikan Koala.
Simba terlihat begitu marah pada Kharel, karena dia selalu menantanginya. Sementara Fayra kembali mendekati kandang dan mencoba untuk memegang Simba agar dia menjadi tenang.
Dan, benar saja. Simba langsung luluh serta kembali tiduran dengan gaya tampannya menghadap Fayra yang saat ini tersenyum ke arahnya.
"Yaak, Kharel!"
"Apa-apaan sih ini, hahh! Cepat lepaskan tubuhmu ini, jangan sampai encok Papah kumat ya!"
__ADS_1
"Ehh, tu-tunggu. I-ini bau apaan ya?"
"Huaaa, dasar anak tidak tahu malu. Kamu 'kan tadi abis ngompol, kenapa kamu malah memeluk Papah!"
Papah Jerome segera melepaskan pelukan anaknya lalu, memukul tubuhnya begitu keras membuat Kharel merasa kesakitan.
"Huaa, Ma---"
"Yakk, jangan dekat-dekat denganku atau aku akan menghapusmu dari KK!"
Kharel yang tadinya mau memeluk Mamahnya, kini terhenti saat mendengar perkataan Mamah Xavia yang begitu kejam terhadapnya.
Kemudian mata Kharel melirik ke arah istrinya, membuat Fayra langsung menolak keras.
"Kalau sampai Kakak memelukku dalam keadaan seperti itu, jangan salahkan aku. Jika aku akan memotong jatahmu sampai usia anak kita yang lahir 5 bulan!"
Pengancaman berhasil menjadikan Kharel tak berkutik. Dia hanya bisa merengek kesal, dalam kondisi duduk di tanah sambil menendang-nendang angin. Bagaikan seorang anak kecil yang sedang mengambek.
Mendengar itu membuat Kharel langsung menatap tajam ke arah Simba, dan dia pun kembali meraung membuat nyali Kharel menciut.
Disinilah terjadi adu perdebatan antara Kharel dan Simba, mereka benar-benar terlihat seperti sedang memperebutkan wilayah masing-masing.
Namun, apa daya. Jika Fayra sudah berkata, maka Simba sudah tidak bisa berkutik. Dia memilih diam mengalah demi wanita cantik yang ada di hadapannya.
Benar bukan, ternyata aura Bumil itu sangat menggoda hingga bisa menaklukkan raja hutan sekaligus.
Setelah keadaan kondusif, saatnya Kharel memandikan Simba dengan bantuan beberapa pawang. Meskipun usia Simba masih 4 tahun, tetapi dia sudah terlihat bagaikan raja hutan yang sesungguhnya.
Perlahan Kharel mulai memandikan Simba, sambil sesekali dia refleks menghindar jika Simba melakukan sedikit saja pergerakan.
Cuman, jangan khawatir selagi Simba menatap Fayra maka semua akan aman terkendali. Ya, walaupun rasanya Kharel ingin mencekik leher Simba, tetapi dia mengurungkannya dan segera memandikannya agar semua misinya selesai.
__ADS_1
Akan tetapi, ketika sudah selesai tidak sengaja kaki Kharel menginjak buntut Simba yang membuatnya terkejut dan langsung bangun.
Awwrgg ...
Kharel menyadari kesalahannya bergegas pergi sambil menjerit ketakutan ketika Simba mengejarnya.
Mereka terlihat bagaikan kucing besar yang sedang mengajak main majikannya. Terlihat sekali betapa lincahnya Kharel melompat dan memanjat sesekali berlari memutar bagaikan sebuah pertunjukkan sirkus.
Semua orang tertawa gemas melihat tingkah Simba yang sepertinya dendam dengan Kharel, bahkan ketika Simba hampir saja berhasil menerkam Kharel. Tiba-tiba saja, Kharel sudah berada di luar kandang dengan kandang yang tertutup rapat-rapat.
Di sana Kharel meledek Simba, hingga membuat Simba merasa kesal meraung-raung. Dimana Fayra refleks mendekati kandang dan mengelusnya kembali sesekali memeluk Simba.
Kharel yang tak terima, segera menjauhkan Fayra kemudian dia langsung membawanya pergi dari sana. Tanpa di sadari Simba meneteskan air matanya sambil meraung.
Orang tua Kharel hanya bisa menggelengkan kepala melihat anak semata wayangnya, begitu posesif pada istrinya. Sama halnya seperti Papah Jerome ketika Mamah Xavia hamil dahulu.
Tak lupa Kharel mengambil pakaiannya untuk menggantinya agar bau pesing di tubuhnya segera menghilang.
Setelah semuanya misi selesai, Kharel merasa puas dia kembali mengemudikan mobilnya dengan perasaan senang.
Berbeda sama Fayra yang cemberut, karena sebenarnya misi Kharel belum sepenuhnya berhasil. Dia belum sempat berfoto bersama Simba.
Disitu Kharel berusaha membujuk istrinya untuk tidak lagi memberikan misi yang extrem seperti itu. Sampai akhirnya Fayra memberikan misi terakhir yaitu menjadi sebuah badut di depan lampu merah.
Degh!
Rasanya ingin sekali Kharel menyerah, tetapi dia tidak bisa. Ini adalah kemauan anaknya, jadi dia harus menurutin semuanya.
Sementara mereka melihat Kharel dari jarak jauh di dalam mobil, hanya bisa tertawa ketika Kharel memakai kostum badut bersama yang lain cuman untuk berjoget menghibur serta mengamen.
Dan kini, berakhirlah sudah misi Kharel untuk membuat istri serta anaknya senang. Jadi tidak perlu lagi Kharel harus repot-repot kembali ke kandang singa yang menyebalkan itu.
__ADS_1