
Fayra berjalan sendiri diatas karpet merah dengan sangat anggun. Senyuman kecil yang menghiasi bibirnya, berhasil membuat gula insecure ketika manisnya dikalahkan olehnya.
Ting, ting, ting!
Terdengar suara lampu yang saling bertabrakan satu sama lain. Mata Kharel tak sengaja melirik ke arah atas, dimana lampu-lampu kristal gantung itu bergoyang sangat cepat.
"Kenapa lampu itu bergoyang dengan sendirinya? Aku sangat yakin, sepertinya tidak ada yang beres di sini!" gumam batin Kharel, penuh kekhawatiran.
Sementara Ace yang baru menyadari akan kecerobohannya, langsung melototkan matanya. Tanpa banyak berbicara lagi, Ace berlari secepat kilat kembali ke tempat dia sabotase lampu tersebut.
Ace berharap semoga saja dia datang tepat pada waktunya, sebelum tali tersebut putus. Supaya lampu kristal itu tidak sampai mengenai tubuh mulus Fayra.
Taburan bunga mawar merah berjatuhan bersamaan dengan langkah Fayra yang mulai berjalan kearah tengah.
Akan tetapi, suara yang sangat menegangkan terdengar di penjuru gedung. Kharel berteriak dengan sangat lantang dan tegas, ketika matanya melihat lampu kristal itu sedikit demi sedikit semakin merendah.
Banyak para pengunjung berteriak, berlari hingga sebagaian ada yang menutup kuping dan juga matanya.
Mereka sangat takut kalau sampai melihat kejadian tragis tersebut, karena itu bisa membuat trauma tersendiri baginya.
Taburan bunga mawar merah berjatuhan bersamaan dengan langkah Fayra yang mulai berjalan kearah tengah.
Akan tetapi, suara yang sangat menegangkan terdengar di penjuru gedung. Kharel berteriak sangat lantang dan tegas, saat matanya melihat lampu kristal itu sedikit demi sedikit mulai merendah.
"Fayra, awas!" teriak Kharel, sekuat tenaga.
Fayra yang mendengar suara kegaduhan itu menghentikan langkahnya tepat dibawah lampu kristal.
Dia terlihat sangat bingung saat semua orang berteriak penuh ketakutan, karena dia sendiri pun tidak mengerti apa yang mereka maksud.
"A-ada apa? Ke-kenapa kalian terlihat ketakutan, sebenarnya ada apa!" pekik Fayra, dia bingung sams keadaan seperti ini.
"Mundur, aku bilang mundur!" teriak Kharel, tetapi sayang. Teriakan dia kalah oleh teriakan semua pengunjung yang saling berhamburan menjauhi Fayra.
"Astaga, Fayra! Jangan disitu, Nak! Minggirlah, minggir hiks ...." teriak Amma Trysta yang saat ini sudah menangis.
"Cepatlah minggir Fayra, lampu itu akan mengenai dirimu! Pergilah, pergi! Hiks ...." teriak Mamah Xavia.
__ADS_1
"Aku tidak bisa tinggal diam seperti ini, aku harus segera menyelamatkan anakku!" cicit Appa Daniel, berusaha keras mencari cara untuk menyelamatkan anak semata wayangnya.
"Dan, ayo aku bantu! Aku akan selalu ada bersamamu, mari selamatkan putri kita, sebelum terlambat!" sahut Papah Jerome, menepuk pundak Appa Daniel.
Seketika mereka saling menatap dan langsung berlari bersama melewati beberapa tamu, hanya demi menyelamatkan Fayra.
Sementara lampu kristal itu semakin mendekat, sehingga Fayra yang sudah menyadarinya hanya bisa berteriak menutup telinganya.
Fayra benar-benar sudah pasrah atas hidupnya yang sudah tidak lama lagi.
"Arrrghhh, si*al! Dasar kaki tidak berguna, percuma gua punya kaki kalau buat menyelamatkan Fayra aja enggak becus. Bagaimana nanti, kalau ada apa-apa dengan keluarga kecilku, hahh!"
"Apakah gua harus terlihat lemah tak berdaya seperti ini, hahh! Dasar tidak becus, gua benci keadaan ini. Arrghh!"
"Dasar bo*doh, bo*doh! Pokoknya gua enggak mau tahu. Lu harus segera menyelamatkan Fayra, paham!"
"Apapun caranya gua tetap harus bisa. Gua enggak mau kehilangan Fayra untuk kesekian kalinya!"
Kharel memukul keras kakinya sambi mengajaknya berbicara, lalu dia mulai berusaha keras memaksakan kursi rodanya untuk berjalan, tetapi roda tersebut malah tidak bisa jalan.
"Aarghhh, bang*sat! Dasar kursi roda butut! Bisa-bisanya dalam keadaan genting begini enggak mau jalan, dasar tidak berguna!"
Sebenarnya bukan kursi rodanya tidak bisa berjalan atau rusak, melainkan Kharel lupa kalau beberapa saat lalu dia telah mengunci ban kursi rodanya agar tidak jalan kemana-mana.
Kursi rodanya pun ikut terjatuh tepat menibaninya, susah payah Kharel menyingkirkan kursi roda itu. Kemudian dia beberapa kali sempat memukul lantai sangat keras, karena merasa hidupnya tidak ada artinya lagi.
Seharusnya Kharel bisa menyelamatkan Fayra dengan mudah, hanya saja kakinya yang lumpuh membuat dia begitu sulit.
Dengan segenap tenaga Kharel mulai merangkak, perlahan demi perlahan sambil menangis melihat lampu yang semakin mendekat.
Kharel benar-benar tidak bisa membayangkan kalau dia tidak bisa menyelamatkan Fayra, maka didetik itu juga Kharel akan memilih mengakhiri hidupnya supaya bisa menyusul Fayra.
Mamah Xavia dan Amma Trysta saling memeluk satu sama lain meratapi nasip putrinya yang sangat memilukan.
Hati mereka benar-benar hancur ketika tidak bisa menyelamatkan anaknya, mereka hanya bisa berharap suaminya segers menyelamatkan Fayra tepat pada waktunya.
Sementara sahabat Fayra tidak bisa berbuat apa-apa lagi, mereka juga tidak mau membahayakan nyawanya sendiri.
Sampai mata mereka melihat keadaan Kharel, dengan cepat Louis berlari menolong sepupunya. Akan tetapi, Kharel menangkis semua pertolongan yang mereka berikan.
__ADS_1
Dia cuman ingin berusaha sendiri, dia sangat malu jika hidupnya cuman bisa menyusahkan dan selalu tergantung pada orang lain. Walaupun sakit dan berat, Khar tetap akan terus mencoba meski hasilnya dia tidak akan tahu seperti apa nantinya.
...*...
...*...
Di sisi lainnya, Ace mencoba untuk menahan tali itu yang semakin mulai menipis. Ace tahu jika sudah dipastikan teriak demi teriakan yang bergetar di telinganya itu adalah suara rintihan Fayra yang merasa ketakutan.
"Bang*sat! Kenapa jadi begini sih, arrrghhh si*al! Gua enggak mau Fayra kenapa-kenapa, tujuan gua untuk Kharel bukan Fayra!"
Ace merasa kesal bercampur takut ketika orang yang ingin dia miliki kembali, sebentar lagi akan menjadi korban atas kecerobohannya.
Ace terus berusaha bagaimana caranya agar tali itu tidak sampai terputus, sehingga Ace tidak menyadari bahwa aksinya kepergok oleh penjaga di sana yang ingin mengecek lampu tersebut kenapa bisa sampai kejadian seperti ini.
"Hei, mau ngapain kamu!" pekik penjaga 1, langsung berlari menangkap Ace.
"Ohh, jadi dia rupanya yang sabotase gedung ini!" sahut penjaga 2.
"Bu-bukan saya, Pak. Bu-bukan, saya hanya ingin me-menyelamatkan semua tamu undangan." jawab Ace, dengan berbagai alasan untuk membela diri.
Kedua penjaga tersebut tidak mempercayai Ace, karena gerak-geriknya benar-benar sangat mencurigakan.
Akhirnya mereka berusaha untuk menahan lampu tersebut, cuman sayang. Tali itu keburu terputus karena tidak kuat menahan beban lampu yang cukup berat.
Terdengar suara teriakan, tangisan bersamaan dengan suara pecahan lampu kristal yang sangat nyaring.
Prangg!
Pyaarrr!
Suasana semakin gaduh dan tidak karuan. Tubuh Ace langsung melemas dan terjatuh ke lantai saat dia tidak bisa menyelamatkan lampu itu. Artinya saat ini Fayra sudah tertimpa lampu dengan tubuh yang sudah tertancap beling-beling pecahan lampu.
Namun, siapa sangka. Ada seseorang yang telah berhasil menyelamatkan Fayra hingga membawanya menjauhi tempat tersebut tepat pada waktunya.
Hanya saja, tangan mulus Fayra berhasil tergores akibat pecahan beling tidak sengaja lompat mengenainya. Tetapi, itu tidak seberapa. Yang terpenting nyawa Fayra telah selamat dari kejadian yang mengerikan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Nah, siapa yang berhasil menyelamatkan Fayra? Apakah itu Appa Daniel? Papah Jerome? Kharel? Ataukah ada orang baru lagi? Huaa, jadi penasaran 😭🙈...
__ADS_1
...Makannya jangan lupa mampir dulu yuk, ke branda author. Disana author ada karya baru loh. Kalian pasti belum lihat bukan? Jadi, author minta bantuannya untuk dukung karya baru author dengan cara like, komen, favorit, rate bintang 5 di buku, vote tiap senin, dan hadiahnya. Terima kasih 🙏🏻❤️...
...Semangat puasanya, bagi kalian yang sedang menjalankan ibadah puasa ❤️ Dan semangat juga buat semuanya yang sudah mendukung author sejauh ini 🥰...