
Tita manangis kejar sambil memeluk Freya, membuat Ozzie yang kebingungan langsung menelpon ambulan. Dia tidak tahu harus melakukan apa lagi, karena cairan merah yang mengalir deras membuat Ozzie tidak kuat untuk melihatnya.
Sementara saudara Tita sudah pergi entah kemana, kini hanya ada Tita dan Ozzie yang berada di dekat Freya. Belum lagi banyak orang yang mengerubungi mereka untuk melihat kejadian tabrak lari, dimana Freya menjadi korbannya dalam keadaan yang sangat menyedihkan.
Freya mendengar perkataan itu dari mulut Tita membuatnya membuka mata secara perlahan. Meski rasanya sangat berat, Freya tetap berusaha membukanya hanya sekedar dia ingin menyampaikan sesuatu padanya.
"Ti-tita, gu-gua mi-min--"
"Please, jangan ngomong dulu. Gua tahu pasti rasanya sangat sakit, jadi tahan dulu ya. Tunggu sampai ambulans datang dan gua akan bawa lu ke rumah sakit. Setelah lu sembuh lu baru boleh bicara sama gua. Okay?"
"Ti-tidak, Ta. Gu-gua ti-tidak akan ku-kuat lagi u-untuk be-bertahan. Ma-maka da-dari itu, gu-gua ma-mau minta ma-maaf, a-atas se-semua yang gua la-lakuin sama lu. Ma-maaf gu-gua udah jadi sa-sahabat yang bu-buruk buat lu, da-dan ma-maaf kalau gua udah nya-nyakitin lu."
"Se-sekali lagi, ma-maafkan gua Ti-tita. Mu-mungkin dengan gua pe-pergi da-dari lu, ma-maka lu bisa hi-hidup te-tenang tanpa gangguan dari gu-gua lagi."
Tita menangis sesegukan sambil terus menggelengkan pelanya dengan cepat, dia tidak mau sesuatu hal buruk terjadi pda sahabatnya. Seakan-akan Tita merasa apa yang terjadi belakangan ini hanyalah merupakan kesalah pahaman diantara mereka.
Sampai akhirnya mata Freya menatap ke arah Ozzie yang saat ini sedang menahan rasa takut dan juga kasihan melihat Freya sepertinya sangat tersiksa dengan keadaan ini.
"Gu-gua mohon, to-tolong ja-jaga sa-sahabat gua. Jangan pe-pernah sa-sakiti dia. Ba-bahagiakan dia seperti lu membahagiakan di-diri lu sendiri. Ji-jika lu menyakitinya, maka gua akan me-membuat hidup lu tidak te-tenang. Pa-paham!"
Freya mengatakan semua itu dengan susah payah, walaupun terbata-bata mereka semua masih bisa mendengarnya sangat jelas.
"Ake janji sama kamu, aku bakalan jaga dan membahagiakan Tita seperti aku membahagiakan diri aku sendiri. Udah kamu jangan banyak ngomong, sebentar lagi ambulan datang, dan kamu harus bertaham demi sahabatmu!" ucap Ozzie.
Napas Freya mulai tidak beraturan, dia berusaha untuk tetap tersenyum menatap Tita dan juga Ozzie.
Sampai akhirnya Freya yang tak kuat lagi menahan rasa sakit dan juga sesak di dada, membuatnya perlahan menutup kedua matanya bersamaan dengan ambulans yang datang.
Degh!
Jantung Tita seakan berhenti saat terkejut melihat sahabatnya menutup matanya sangat rapat. Tita menggoyangkan tubuh Freya agar dia kembali membuka matanya, cuman sayang.
Setelah di cek oleh petugas ambulans, ternyata Freya sudah tiada. Di situ Tita sangat terpukul ketika kehilangan sahabat kecilnya.
__ADS_1
Freya pergi dalam keadaan yang mengenaskan, kini tidak akan ada lagi pengganggu yang akan merusah hubungan Tita dan juga Ozzie. Semua itu karena Freya telah meninggal dunia akibat semua karma kejahatannya yang berbalik ke diri sendiri.
Setidaknya di detik-detik terakhir dia sempat meminta maaf pada sahabatnya, serta menitipkan Tita pada Ozzie.
Tanpa di sadari padahal Mommynya Freya baru saja ingin memberikan kabar baik, bahwa dia sudah menemukan seseorang yang bisa di percaya untuk mengurus Perusahaan warisannya dari keluarganya.
Semua itu bertujuan supaya mereka bisa quality time bersama, tetapi dia malah mendapat kabar buruk tentang kema*tian anak kesayangannya.
Disitu membuat kedua orangnya terpukul, mereka baru mengetahui tentang jati diri anaknya yang membuat mereka sangat menyesal. Mereka seperti menyalahkan dirinya sendiri atas semua kesalahan yang Freya lakukan pada semua korban yang pernah disakitinya.
Mungkin semua ini terjadi akibat Freya kekurangan kasih sayang dari orang tua, jadi dia haus akan kasih sayang dari para pria yang sebenarnya tidak masalah Cuman yang salah hanyalah cara Freya melakukan segala cara untuk mendapatkannya.
Ya, walaupun Freya merupakan orang yang jahat. Akan tetapi, banyak orang yang menyayanginya. Termasuk mantan suaminya pun hadir bersama dengan istrinya, dia meminta maaf atas semua yang sudah dilakukan.
Dibalik sifat Freya yang terbilang suka merebut hal orang lain, sebenarnya itu hanya pelampiasan rasa kecewanya terhadap orang tuanya yang tidak memiliki waktu padanya. Karena di balik itu Freya memiliki kasih sayang yang begitu besar, tetapi dia belum paham bagaimana cara mengungkapkannya.
...*...
...*...
Dibalik kebahagian Tita, sebenarnya di dalam hati kecilnya dia masih merasa sedih ketika teman masa kecilnya tidak bisa menghadiri acara spesial tersebut.
Namun, Tita harus berusaha merelakan semua itu karena hidup semakin berjalan ke depan bukan mundur kebelakang.
Jika dia tidak bisa melupakan Freya, maka dia hanya menyisakan sedikit ruang di hatinya agar nama Freya akan selalu bisa di kenang.
...*...
...*...
Tak hanya di Amerika saja yang lagi bahagia, melainkan di Paris pun sama. Itu karena sebentar lagi ada anggota baru yang akan hadir di tengah-tengah keluarga kecil Kharel dan juga Fayra.
Saat ini Fayra sedang mengandung dengan usia kandungan kurang lebih1 bulan, hanya saja Fayra harus benar-benar beristirahat karena kandunganya yang sangat lemah.
__ADS_1
Fayra baru saja keluar dari rumah sakit karena dia sempat jatuh drop akibat rasa mualnya yang tidak kunjung berhenti.
Di perjalanan pulang ke rumah, Fayra melihat ke arah kanan dan menatap sebuah ruko es krim dengan beraneka macam rasa.
Air liur Fayra pun hampir saja terjatuh. Segera mungkin Fayra melihat ke arah suaminya dan mengatakan sesuatu penuh sifat manjanya.
"Sa-sayang, hehe ...." Fayra nyengir dengan menunjukkan sederetan giginya.
"Pe-perasaanku mulai tidak enak, jika dia sudah berbicara selembut ini!" ucap batin Kharel menoleh ke arah istrinya.
"Sayang, isshh malah diem aja, hump!" sahut Fayra cemberut. Kharel segera meminggirkan dan menghentikan mobilnya
"Ehh, i-iya Sayang apa, hem? Mau apa, bilang. Aku akan menuruti semuanya asalkan kamu dan Dedek bayi senang."
Kharel mengusap perut Fayra, sesekali mengelus pipi istrinya. Mendengar semua itu membuat Fayra menoleh antusias dan kembali tersenyum.
"Be-benarkah, Kakak mau menuruti keinginan anak kita?" jawab Fayra begitu bahagia.
"Benar, Sayang. Sekarang mau apa, hem? Ayo bilang!" balas, Kharel.
"Huaa, makasih Kakak Sayang. Ya sudah aku mau es krim itu, boleh?" Fayra memeluk suaminya sambil menunjuk ke arah depan.
"Boleh dong, ayo kita ke sana. Let's go Baby!" ujar Kharel, semangat demi si buah hati.
"Hehe, let's go Daddy!" sahut Fayra, membuat Kharel melototkan matanya.
"Yakk, kenapa harus Daddy sih! Kau kira aku ini sugar Daddy apa, hahh! Meskipun aku orang luar negeri, tapi aku tidak mau dipanggil Daddy. Jadi panggil aku, Ayah paham!"
Fayra tertawa saat melihat wajah suaminya kesal, ya memang selama ini Kharel begitu geli ketika dia dipanggil dengan sebutan Daddy.
Namun, ketika dia dipanggil Ayah. Maka wajahnya kembali sumringah layaknya anak kecil yang dikasih permen. Kemudian mereka pun pergi ke arah ruko es krim tersebut dengan wajah bahagianya.
Sebenarnya Kharel khawatir akan kondisi kesehatan Fayra. Cuman mau bagaimana lagi, jika semakin di larang maka Fayra akan semakin bersedih dan itu bisa kembali membuatnya drop. Apa lagi untuk berjalan aja Fayra tidak kuat, jadi dia harus menggunakan kursi roda supaya tidak semakin membuatnya kelelahan.
__ADS_1