Learn to Love You

Learn to Love You
Mengatakan Perasaan


__ADS_3

Sementara di lain tempat, Mommy Rosa begitu kesal atas sikap anaknya yang seenak jidat memutuskan sambungan ponselnya tidak sopan.


Mommy Rosa yang tidak mau mengambil pusing, segera mengurus menantunya lebih dulu agar suhu tubuhnya tidak semakin meninggi.


Bahkan dia juga memberitahukan kepada suaminya tentang kondisi Fayra saat ini, termasuk sikap Ace yang membuat kedua orang tuanya menaruh curiga jika sesuatu terjadi pada anaknya.


...*...


...*...


Di suatu tempat, sepasang muda-mudi sedang berada di taman sambil menikmati pemandangan di malam hari yang sangat indah.



Hiasan lampu taman yang saling berpancaran, kian menambah kesan keindahan yang tiada tandingannya.


Pasangan tersebut memegang 2 buah gelas yang bisa mengeluarkan cahaya terang, membuat keduanya sedikit terkejut.


Suasana malam yang sangat hening dan juga penuh dengan keindahannya, kian berhasil membuat kedua hati mereka merasa tidak tenang saat kedua mata saling memandang satu sama lain.


Senyuman canggung memenuhi sudut bibir keduanya, hingga sang wanita sedikit menundukkan kepalanya akibat malu, saat mendapati tatapan mata sang pria begitu tajam menusuk jantungnya.


Entah mengapa, suasana malam kali ini seperti sangat mendukung mereka untuk merasakan debaran hati yang kian memburu secara bersamaan.


Terlihat wajah gugup memerah dan napas yang tidak beraturan berhasil membuat keduanya menjadi salah tingkah.


"A-ada a-apa ini? Ke-kenapa jantungku berdetak sangat kencang saat menatap matanya? A-apa i-ini ya-yang di-di bilang ci-cinta pa-pada pan-pandangan pertama?"


Batin wanita itu berbicara sambil menatapnya, kedua tangan wanita itu mulai terasa sangat dingin.


Bersamaan dengan itu, pelipisnya perlahan mengeluarkan bulir-bulir keringat dingin yang sediki bercucuran.


Wanita itu benar-benar terlihat gugup, gelisah dan juga tidak percaya jika pria yang awalnya berusaha keras dia jauhi, kini malah bertambah semakin dekat.


Sampai akhirnya perasaan yang dia pendam selama ini, semakin menjadi-jadi. Wanita cantik dengan segala kebaikannya ternyata sudah menarik ulur hati pria, yang selama ini masih terbayang akan cinta pertama bertepuk sebelah tangan.


"Semakin aku bersikap biasa aja dengan dia, malah semakin membuat jantungku rasanya ingin melompat keluar."


"Cinta pertama yang aku rasakan telah membuatku tersadar, jika kita berani mencintai seseorang maka kita juga harus siap menerima rasa sakit hati yang tidak pernah dibayangkan!"


"Namun, kali ini apakah aku akan kembali merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan untuk kedua kalinya?"


Hati pria itu terus berbicara, ketika menatap kecantikan dua bola mata wanita tersebut terpancar jelas, sampai dia enggan mau mengalihkan tatapannya.


Satu menit, dua menit hingga 5 menit. Mereka tetap terdiam dengan tatapan bola mata yang kian mulai mendalam.


Tak terasa sang pria semakin larut didalam perasaannya, hingga dia menepis semua jarak yang ada diantara mereka berdua.

__ADS_1


"Apakah aku harus menyatakan perasaanku untuk pertama kalinya pada seorang wanita? Bagaimana jika perasaanku tidak terbalaskan, sama seperti yang kemarin?"


"Padahal aku belum pernah mengatakan tentang perasaanku, tetapi takdir sudah langsung menolakku dan tidak membiarkan cinta ini terbalaskan olehnya."


Pria itu benar-benar bingung, dipenuhi oleh dilema didalam hatinya. Bukan berarti dia takut akan penolakan, hanya saja dia takut jika pernyataan cintanya akan membuat jarak diantara keduanya ketika takdir tidak lagi bersamanya.


"Pe-perasaan ini, be-benar benar telah kembali. Padahal aku sudah berusaha untuk menghilangkannya, disaat aku tahu hatinya sudah memilih wanita lain. Cuman kenapa takdir malah selalu mendekatkan aku dengan dia?"


"Apakah ini namanya cinta sejati yang sesungguhnya? Dimana sekuat tenaga aku mencoba untuk menghindarinya, tetapi takdir malah sengaja membuat kita kembali dekat dengan caranya tersendiri."


"Cinta memang benar-benar sulit ditebak kapan dia akan hadir dan kapan dia menghilang. Jika takdir sudah berkata tidak, maka segala cara untuk mendekat akan menjadi sia-sia. Dan jika takdir berkata iya, maka segala hal yang menjauhinya malah semakin mendekatkannya."


Wanita itu rasanya ingin sekali mengungkapkan perasaannya yang sudah lama dia pendam, mulai sejak pertama mengenalnya.


Akan tetapi dia masih ragu, bukan karena penolakan. Melainkan dia bingung, apakah seorang wanita bisa mengatakan cintanya lebih dulu? Ataukah jika dia mengatakannya lebih dulu, akan membuat harga dirinya terlihat rendah dimata pria yang saat ini ada dihadapannya?


Pikiran itulah yang ada didalam isi kepalanya saat ini. Sampai akhirnya, wanita tersebut mulai menarik napasnya secara perlahan. Mencoba untuk memberanikan diri menangkis semuanya, kareba dia sudah tidak bisa lagi menahannya.


Sementara sang pria juga bertekat ingin mengatakan perasaannya detik ini juga, entah diterima ataupun ditolak itu masalah belakangan. Yang terpenting, perasaannya bisa lega setelah mengatakan yang sebenarnya pada wanita yang telah berhasil menarik perhatiannya.


"Tian?"


"Chelsea?"


Mereka saling memanggil nama satu sama lain dengan kompak, hingga membuat kedua mata mereka membola besar.


"A-aku ju-juga mau ngomong sama kamu, Tian."


"Ka-kamu mau ngomong apa, Chel?"


"Ka-kamu juga, ma-mau ngomong apa?"


"Eee, Ka-kamu duluan aja deh,"


"Ka-kamu dulu,"


"Ka-kamu,"


"Ka-kamu aja,"


"Ka-kamu kan pria, ja-jadi kamu duluan."


"Memangnya kalau aku pria, wanita tidak boleh ngomong duluan?"


"Tidak, udah kamu duluan aja. Nanti baru gantian aku yang ngomong,"


"Begitulah wanita, padahal kamu duluan yang memanggil namaku."

__ADS_1


"Siapa? Kita sama ya, kita saling memangil nama satu sama lain secara berbarengan."


"Yayaya, baiklah. Aku mau ngomong, ka-kalau a-aku me-men ... Kamu dulu deh,"


"Men apa? Katakan dengan jelas jangan sepotong-potong, yang ada anakmu nanti keluarnya sepotong mau?"


"Yak, janganlah! Ya kali, punya anak sepotong. Udah kaya kue aja potongan."


"Makannya, katakan dengan jelas."


"Hem, ba-bagaimana jika kita barengan mengatakannya? Kamu juga mau ngomong sama aku, 'kan?"


"Ta-tapi, a-aku belum si----"


"Udah eggak ada tapi-tapian, dalam hitungan ke 3 kita katakan apa yang kita mau ucapkan satu sama lain secara cepat. Setuju?"


Tian dan Chelsea menatap satu sama lain, berusaha untuk tetap terlihat tenang. Bahkan detak jantungnya selalu menyuruh mereka, untuk secepatnya mengatakan apa yang ada didalam hatinya.


"Huhhh, ba-baiklah. Ta-tapi bener ya bersama-sama dalam hitungan ke 3, awas kalau bohong!" ancam Chelsea dengan wajah yang semakin terlihat memerah.


"I-iya, enggak kok. Ayo kita hitung bersama-sama," ucap Tian tetap cool, disaat hatinya sudah menggebu-gebu dadanya.


Chelsea mengangguk kecil, menatap wajah Tian tanpa mereka mengalihkan pandangannya satu sama lain. Bersamaan dengan itu detak jantung mereka semakin memompa kencang hingga dadanya mulai terasa sesak.


Perlahan mereka menarik napasnya sebanyak mungkin, serasa sudah enakan dan juga sedikit tenang. Mereka mulai berhitung bersama-sama, hingga tatapan keduanya semakin mendalam dan sejenak melupakan rasa ketakutan akan penolakan didalam hati mereka.


Satu ...


Dua ...


Tiga ...


"Aku mencintaimu Chelsea,"


"Aku mencintaimu Tian,"


Degh!


Boom!


Keduanya mengatakan kalimat yang sangat indah dalam keadaan kedua mata memejam, lantaran mereka tidak berani melihat kenyataan jika setelah perasaan itu terlontar, maka sebentar lagi akan ada penolakan.


Namun, setelah keduanya berhasil mengatakan perasaan satu sama lain. Mata mereka seketika terbuka sangat lebar, betapa terkejutnya mereka ketika kata cinta saling terlontar bersama-sama.


"A-apa ka-kamu bil-bilang barusan, Chel? Ka-kamu se-serius me-mencintai aku?" tanya Tian, mulutnya mulai bergetar ketika dia mendengar kata-kata indah keluar dari bibir Chelsea.


"Ka-kamu ju-juga se-serius me-mencintai aku, Ti-tian? Ka-kamu e-enggak bohong, kan? Kamu e-enggak main-main, kan? A-aku ta-takut jika a-apa yang aku de-dengar barusan adalah salah."

__ADS_1


Tanpa sadar Chelsea mulai meneteskan air mata, ketika bibirnya terasa kelu dan tidak bisa mengatakan apapun lagi kepada Tian. Chelsea masih tidak percaya apakah ini sebuah mimpi indah didalam tidurnya, ataukah sebuah kenyataan di luar dugaannya.


__ADS_2