Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
당신은 여전히 살아 있습니까-dangsin-eun yeojeonhi ​​sal-a issseubnikka -Are you still alive?


__ADS_3

Rian tiba di bandara, pria itu berlari menuju mobilnya ke Reshort mencari Fredian.


Sampai di depan meja resepsionis Reshort dia segera menghentikan langkahnya.


"Di mana Fredian?"


"Presdir sedang berada di Hongkong ada pertemuan penting di sana. Pagi tadi beliau baru berangkat." Jelasnya pada Rian Aditama.


Rian bergegas menuju perusahaan desain milik Irna. Sampai di sana dia melihat pria sedang duduk memegangi kepalanya. Keningnya diikat dengan kain perban.


"Siapa kamu?" Tanyanya pada Arya, itu adalah pertemuan mereka yang pertama kalinya.


"Arya Ardiansyah. Aku adalah pria terakhir yang mendengar suaranya. Aku adalah seorang yang terdekat dengan Irna." Jelasnya masih memijit kepalanya.


"Bisakah kamu ceritakan bagaimana kejadian yang sebenarnya?!" Rian menatap wajah Arya lekat-lekat.


"Aku melihat gadis gila itu mendorong mobilnya masuk ke dalam jurang! sepupu Fredian! aku sudah melaporkan kepada polisi, tapi aku tidak memiliki saksi lain. Dan aku juga tidak punya bukti sama sekali!" Jelasnya dengan sangat geram.


Siang itu Rian bersama dengan Arya masuk ke dasar jurang untuk melihat kondisi mobil Irna.


Saat berada di dasar jurang mereka berdua terkejut. Jermy Presdir perusahaan Rossdale duduk lesu sambil menggenggam gelang kaki milik Irna.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Arya pada pria itu.


"Tentu saja aku sedang mencarinya! kamu pikir apa lagi????!" Berteriak kencang dengan wajah penuh amarah.


Rian tidak memperdulikan mereka berdua, dia setengah berlari menyusuri jurang. Sekitar lima puluh meter dari lokasi kejadian, Rian menemukan darah kering, pria itu melihat robekan gaun, berada di ranting semak.


"Aku tahu kamu tidak akan pernah meninggalkanku..." Gumamnya lirih. Rian terus berlari, melanjutkan pencariannya.


Entah sudah berapa jauh dia berlari, tapi dia tidak menemukan jejak-jejak Irna.


"Irnaaaa! di mana kamu??!" Pria itu terduduk lesu di tengah hutan. Air matanya merembes jatuh di sela-sela bulu matanya.


Rian melihat mahluk-mahluk yang selama ini mengerubungi Irna. Mereka mengendus kesana-kemari mencari jejak-jejak darah Irna di dasar jurang.


Tanpa rasa takut sama sekali Rian terus mengikuti mereka. Mata-mata merah menyala, gigi runcing tajam menunggu darah segar, siap mencabik mangsanya.


Lambat laun mereka terbang menjauh, dan menghilang di hari yang mulai gelap.


"Kemana perginya pria itu?! hari sudah mulai gelap tapi dia tidak kunjung kembali?!" Arya bertanya-tanya dalam hatinya. Akhirnya dia memilih naik ke atas meninggalkan Rian.


Jermy masih duduk lesu di dalam mobilnya. Tanpa permisi Arya naik ke dalam mobil Jermy.


"Ngapain kamu masuk ke dalam mobilku?" Tanyanya pada pria itu.


"Dia belum kembali sampai sekarang, dan dia membawa kunci mobilnya. Jika aku menunggunya di sini sendirian terlihat menyeramkan." Ujarnya sambil memijit pelipisnya.


"Apa kamu juga mengejarnya? wanita itu..?" Tanyanya sambil menatap wajah Jermy.


"Bagaimana kamu bisa menyimpulkan bahwa aku juga mengejarnya?" Tanyanya pada Arya.


"Dari wajahmu yang terlihat sangat menyedihkan!" Ejek Arya Ardiansyah.


"Memangnya wajahmu baik-baik saja, aku melihat kamu hampir bunuh diri dengan membenturkan kepalamu!" Sahut Jermy tak kalah kasarnya.


Mereka berdua duduk dengan wajah masam. Keduanya berkelut dengan pikiran masing-masing. Hari semakin gelap gulita. Rian tak kunjung kembali, lalu mereka berdua memilih meninggalkan lokasi tersebut.


Irna Damayanti sudah divonis meninggal dunia. Tidak ada kelanjutan berita mengenai keberadaan Irna.


Rian sendirian di dalam kegelapan, dia menyinari jalan setapak dengan layar ponselnya.


Pria itu kembali menuju atas tebing tanpa mendapatkan apa-apa. Fredian mendengar kabar bahwa Irna telah meninggal dunia. Pria itu terduduk lesu di dalam ruang meeting.


Keesokan harinya dia kembali ke London, Sisilia terus berusaha mengambil perhatian Fredian. Tapi pria itu tidak tertarik sama sekali.


Kebencian terhadap adik sepupunya memuncak saat ditemukan bahwa Irna tidak meninggal karena kecelakaan. Tapi karena pembunuhan yang telah terencana.


Fredian tidak menyangka jika itu adalah ulah adik sepupunya. Polisi mendapatkan bukti-bukti dari rekaman cctv di sekitar lokasi kejadian.


Ada beberapa bandit-bandit yang sengaja mengejar Irna, hingga mobil gadis itu meluncur ke tebing.


Dan bukti Sisilia terlibat, mobil gadis itu berhenti di sekitar tebing beberapa saat tepat saat mobil Irna meluncur terjun bebas ke dalam jurang.


Dilengkapi dengan kesaksian serupa oleh Arya Ardiansyah. Namun Sisilia belum tertangkap sampai sekarang.


Hari-hari berlalu semakin cepat. Fredian masih menunggu Irna, entah sampai kapan pria itu akan terus menunggunya.


Beberapa malam dua tahun terakhir sejak kepergian Irna, Fredian bertemu dengan Rian di sebuah club malam. Kedua pria itu tersenyum sedih duduk bersebelahan di kursi bar.


"Aku tidak berfikir akan kehilangan gadis itu seperti ini." Ujarnya sambil menepuk bahu Fredian.

__ADS_1


"Apakah kamu yakin gadis itu telah meninggal dunia?" Fredian memandang wajah Rian Aditama, dia mencari kebenaran dari mata pria yang duduk di sebelahnya.


"Aku menemukan darah kering miliknya, tapi aku tidak menemukan jejak-jejaknya setelah berkali-kali mencari di dasar jurang." Jelasnya pada pria yang berstatus sebagai suami Irna Damayanti tersebut.


Malam berlalu begitu saja, kedua pria itu keluar dari dalam klub sekitar pukul dua belas malam.


Fredian berjalan terhuyung-huyung menuju mobilnya. Pria itu memencet tombol ponselnya, memanggil sopir panggilan. Pandangan matanya sedikit kabur dia melihat seorang gadis datang ke arahnya.


Gadis itu memapahnya masuk ke dalam mobilnya, dia menidurkan Fredian di kursi belakang.


Gadis itu memakai baju serba hitam. Jaket kulit hitam, dan celana jeans robek di bagian lututnya.


Sebuah topi hitam menutupi rambutnya, rambut gadis itu di gelung ke atas tersembunyi di balik topinya. Fredian tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup oleh maskernya.


Dia melarikan mobil Fredian menuju Reshort angel. Gadis itu masih memapahnya masuk ke dalam ruang kerjanya.


Fredian mencium aroma parfum bercampur keringat pada tubuh gadis itu. Aroma tubuh yang selama ini dipeluknya dan tidur bersamanya. Aroma yang sangat khas milik istri tercintanya.


"Irna...?" Bisiknya sambil menarik kacamata hitam milik gadis itu. Dia membaringkan tubuh Fredian di atas tempat tidur.


Fredian melihat mata gadis itu, saat hendak menarik masker yang menutupi wajahnya, gadis itu segera menepis tangannya dan berlari keluar dari ruangan.


Gadis itu berlalu berjalan cepat menuju resepsionis untuk mengambil upahnya. Slayer yang tergantung di saku celananya berada dalam genggaman tangan Fredian.


Keesokan harinya saat Fredian sudah sadar dari mabuknya dia segera mendatangi perusahaan yang menyewakan sopir panggilan tersebut.


Fredian berlari bahagia menerobos pintu perusahaan tersebut. Dia mendatangi pemilik perusahaan. Pria setengah baya, rambut pria itu sudah setengah memutih.


"Apakah anda tahu siapa gadis semalam yang sedang bekerja, dia mengantarkan saya saat sedang berada di bar. Dia pemilik slayer ini?"


Meletakkan syal berwarna biru tua di atas meja pria itu.


Pria itu tersenyum menatap wajah Fredian, sesaat wajahnya terlihat sedikit pucat.


"Ah putraku yang menjemput anda semalam." Ujarnya sambil tersenyum.


"Dia gadis, bukan pria." Ujar Fredian menyangkal pernyataan pria paruh baya tersebut.


"Reno, ada seseorang mencari." Teriaknya dari dalam ruangan kerjanya.


Tak beberapa lama kemudian seorang pria jangkung dengan pakaian sama seperti yang dilihatnya semalam muncul.


Dia juga memakai kacamata hitam, dan masker. Sebuah topi hitam menutupi kepalanya.


"Kami tidak menerima karyawan gadis, untuk menjadi sopir pengganti. Dia adalah putraku, Reno." Ujarnya masih tersenyum menatap Fredian.


"Berapa banyak karyawan anda yang bekerja sebagai sopir pengganti?" Selidik Fredian lagi.


"Ada lima orang pria, seusia dengan putraku. Tapi saat ini mereka sedang bekerja dan tidak berada di kantor." Ujarnya lagi.


Fredian melangkah lesu keluar dari perusahaan tersebut, dia tidak mendapatkan informasi apapun tentang Irna.


Seseorang sedang bersembunyi di sudut memakai baju dan kacamata hitam, di belakang gedung menatap kepergian Fredian.


Setelah hari itu Fredian lebih sering menggunakan jasa sopir pengganti. Dia berharap akan mendapatkan layanan dari gadis yang sama. Saat dia sedang mabuk berat.


Tapi lagi-lagi Reno yang datang mengantarkan dirinya. Hari demi hari berlalu, tidak ada kabar sama sekali dari Irna Damayanti.


Semua media seolah menelan semuanya tentang Irna Damayanti. Namanya dan ketenaran Irna telah lenyap dari dunia artis Selama lima tahun terakhir. Dan mulai berhenti di beritakan di seluruh media.


Fredian duduk di sebuah toko kelontong, pria itu melihat hujan gerimis di luar toko. Dia menikmati semangkuk mie instan. Seseorang berjalan menyeduh segelas kopi lalu membayar pada kasir.


Baju dan topi yang sama, dia duduk di sebelahnya. Menikmati kopinya, melihat hujan gerimis.


Setengah jam berlalu...


Fredian menghabiskan semangkuk mie instan, lalu meneguk kaleng minuman ringan di atas meja.


Pandangan matanya masih tertuju pada hujan gerimis di luar sana. Seseorang yang ada di sebelahnya juga telah menghabiskan kopinya.


Gadis itu tersenyum, menikmati pemandangan rintik hujan di luar sana. Dia perlahan berdiri, lalu melangkah keluar menengadah ke atas langit.


Dia membuka telapak tangannya di depan toko tersebut merasakan tetesan air hujan. Dengan langkah santai menerjang hujan, dan berjalan menjauh dari sana.


Pandangan mata Fredian terjatuh padanya, pria itu bergegas pergi mengejarnya.


"Irnaaaaaa!" Teriaknya di tengah hujan. Pria itu tidak peduli dengan tubuhnya yang basah kuyup karena hujan.


Dia kehilangan gadis yang dilihatnya baru saja, seolah-olah langkah kakinya tertelan lebat rintik hujan dan lenyap entah kemana.


Fredian melangkah masuk menuju mobilnya, dia tiba di Reshort miliknya. Tubuhnya demam dan berkali-kali bersin.

__ADS_1


Antoni segera menghubungi Rian, dan pria itu yang merawatnya selama dia sakit. Pada malam kedua Rian mendapatkan telepon dari NGM.


Pria itu berlari dengan terburu-buru melangkah keluar dari Reshort menuju mobilnya.


Fredian masih terbatuk-batuk di dalam kamarnya. Seseorang menyelinap masuk membantu pria itu untuk menelan obatnya.


"Kamu sopir panggilan itu?!" Fredian mencoba bangkit duduk tapi tubuhnya terasa lemah.


Gadis itu menyuapi bubur dan merawatnya malam itu. Saat pagi hari dia terjaga dan melihat Rian yang ada di sebelahnya.


"Di mana Irna??" Tanyanya pada Rian.


"Irna apa? aku tidak melihat siapapun saat tiba di sini semalaman." Ujar Rian terkejut.


"Apa kamu memimpikannya?" Tanya Rian sambil menyiapkan obat lalu disuntikkan melalui selang infus pada lengannya.


"Siapa yang menyuapi bubur padaku semalam? apa kamu?" Tanyanya pada Rian.


"Bubur apa? aku tidak membawa apapun kemari. Bubur darimana?!" Rian menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil tersenyum.


"Apa kamu dan Irna sedang menyembunyikan sesuatu dariku?!" Tanyanya sambil menatap wajah Rian dengan tajam.


"Aku sendiri tidak menemukan dia! aku juga masih bingung, apakah dia benar-benar telah meninggal."


Rian duduk di sisi tempat tidur Fredian menundukkan kepalanya dengan sedih.


"Aku yakin Irna masih hidup! dia tidak mungkin meninggalkanku! dia sudah berjanji padaku akan selalu menemaniku! dia tidak mungkin pergi begitu saja! tidak mungkin dia meninggalkanku sendirian di sini... tidak mungkin..." Ungkap Fredian bertubi-tubi.


Dua butir bening air menetes jatuh dari kedua matanya. Cintanya kepada Irna masih sangat kuat, masih tetap ada di dalam hatinya.


Baginya Irna tetap hidup dimanapun dimanapun dia berada. Baginya Irna tetap selalu menemaninya.


"Kamu harus pergi ke psikiater." Ujar Rian sambil memegang kedua bahunya.


"Apa kamu pikir aku ini pria gila?" Ujarnya sambil menatap wajah Rian.


"Aku hanya tidak ingin kamu terus mengatakan bahwa Irna menemanimu. Gadis itu telah pergi, aku melihat Jermy menggenggam gelang kaki Irna di serpihan mobil yang telah terbakar. Gelang kaki itu masih melingkar utuh."


"Jika Irna masih hidup tentunya gelang kaki itu terputus, karena tersangkut sesuatu hingga terlepas dari kakinya." Jelas Rian padanya.


"Aku akan kembali nanti malam, jangan lupa minumlah obatnya."


Rian melangkah dengan langkah kaki lemah menuju ke pintu keluar. Pria itu berjalan menuju mobilnya.


Di dalam mobilnya seorang gadis menunggu, dia tersenyum melihat kedatangan Rian.


"Bagaimana keadaannya?" Tanyanya pada Rian.


"Sudah membaik, daripada semalam." Jawabnya lalu menyalakan mesin mobilnya keluar dari Reshort.


Mobil Rian mendadak berhenti di depan rumah lama Irna. Pria itu turun dari mobilnya diikuti gadis cantik di sebelahnya.


Rian membuka pintu rumah yang sudah bertahun-tahun silam tidak di huni. Ada debu di sana sini. Gadis itu mengikutinya masuk ke dalam rumah Irna.


Dia melangkah perlahan-lahan masuk ke dalam, sambil melihat sekeliling. Ada beberapa lukisan tergantung di dinding.


Matanya tertuju pada sebuah pintu, dia ingin membuka pintu tersebut.


Gadis itu berjalan menuju ke dalam kamar Irna. Dia berdiri mematung di tempatnya saat membuka pintu kamar tersebut. Wajahnya menyiratkan bahwa dia sangat bahagia melihat kamar tersebut.


Entah apa yang dilihat olehnya saat itu.


Rian sedang membersihkan debu di ruang tengah dengan sebuah kemoceng. Dia menghapus debu di sana sini.


Rian tidak mendengar suara apapun lalu dia segera berlari melihat, dia mendapatinya berada di ambang pintu kamar Irna. Pria itu perlahan melangkah mendekat.


Dia berdiri di belakang punggungnya.


Gadis itu masih berdiri mematung di tempatnya. Rian melihat kamar tersebut, dia juga sama terkejut melihatnya.


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanyanya padanya.


"Tidak ada, hanya sedikit aneh..." Jawabnya sambil tersenyum melihat wajah pria di sebelahnya.


Rian tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran gadis itu. Rian masih terpaku berdiri menatap kamar Irna.


Bersambung...


** Siapakah gadis yang bersama Rian???**


A. Arvina

__ADS_1


B. Irna


C. Sisilia


__ADS_2