Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Love the hunter


__ADS_3

Irna sampai di rumah sakit, gadis itu segera memarkirkan mobilnya di parkiran yang ada di lantai bawah tanah.


Gadis itu menjadi pusat perhatian para karyawan, dia sendiri sedikit merasa aneh. Suasana di sekitarnya tidak seperti biasanya. Irna menoleh ke sekelilingnya, kemudian dia mendapati Julio Iglesias tak jauh dari tempatnya berdiri.


Irna mengabaikannya, dia segera masuk ke dalam rumah sakit. Gadis itu melangkah menuju lift untuk pergi ke lantai atas. Dan saat pintu lift terbuka Julio Iglesias sudah berdiri di luar pintu. Irna bingung sekali, dia tidak ingin pria itu mengundang perhatian banyak karyawan.


Apalagi Julio hilang dan muncul tiba-tiba di mana saja. "Bisakah kamu tidak memperlihatkan dirimu di depan manusia? kamu hilang dan muncul begitu saja, dan jika terekam kamera cctv, aku tidak mau kamu membuat masalah atau menyulitkanku."


"Baik Ratu, ratu tidak perlu khawatir saya tidak bisa terekam kamera cctv." Jawabnya seraya menundukkan kepalanya.


"Kalau kamera ponsel!?" Irna berkacak pinggang, karena mulai kehilangan kesabarannya. Melihat itu Julio segera pergi meninggalkannya.


"Lama-lama aku risih juga sama pengawal itu!" Gerutunya sambil terus melangkah menuju ke ruangan kerjanya.


"Pagi dokter.." Sapa salah seorang rekan kerjanya, Irna terkejut karena dia meletakkan lengannya di bahunya. Irna segera menyingkirkan tangan Edi dari bahunya.


Mendapat perubahan perlakuan tersebut Edi sedikit takut, lalu buru-buru pergi dari hadapan Irna. "Nira.." Gumam Irna sambil menggelengkan kepalanya.


Irna mendapati kertas laporan sudah tergeletak di atas meja kerjanya, dia merasa sedikit aneh. Biasanya Rian yang akan mengantarkan kertas tersebut ke ruangannya.


Irna segera mengisi jadwal, sekaligus laporan untuk melakukan operasi pagi itu.


Saat melihat Julio sudah berdiri di dalam ruangan kerjanya, Irna menghela nafas panjang. "Kamu, bisakah tidak usah muncul lagi? carilah udara segar di luar rumah sakit. Aku sudah punya bnyak pengawal sampai bosan mengusir mereka." Jelasnya pada Julio.


Ketika melihat ekspresi datarnya, Irna tidak berharap banyak. Dan sepertinya pria beratus-ratus abad itu tidak bergeming dan tetap menjaga keamanan dirinya.


Irna mengabaikannya, dia segera menyerahkan laporan tersebut ke dalam ruangan Rian. "Tumben dia tidak berada di ruangan kerjanya? kemana dia pergi sepagi ini?"


Gadis itu meletakkan laporannya di atas meja kerja Rian. Selanjutnya menuju ke dalam ruang operasi.


Rian sedang berada di kantin rumah sakit, Karin duduk berhadapan dengannya. Gadis itu menunjukkan foto-foto Irna bersama Fredian, kemudian foto bersama Julio Iglesias.


Rian meneguk secangkir kopinya seraya melihat foto-foto tersebut satu persatu, dia berpura-pura serius mencermati foto Irna di dalam ponsel Karin.


Dan saat melihat foto Julio, "Uhk! uhk!" Rian tersedak karena terkejut.


"Darimana kamu mendapatkan foto pria ini?" Menunjukkan foto tersebut pada Karin. Vampir yang dilumpuhkan olehnya beberapa abad silam, kini telah bangkit dan mengikuti Irna kemanapun dia pergi.


"Itu tadi pagi-pagi sekali, mereka sedang bersama masuk ke dalam mobil Kaila. Aku rasa istri anda bukan gadis baik-baik. Sebaiknya anda memberinya sedikit pelajaran, agar tidak mengganggu tunangan orang lain." Jelasnya seolah-olah dia mengetahui segala hal yang dilaksanakan oleh Irna.


Rian menyerahkan kembali ponsel tersebut kepada Karin. Tidak ada perubahan sama sekali pada wajah Rian. Dia tetap bersikap santai dan tidak peduli.


"Apakah anda tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?" Tanya Karin karena sudah terlalu lama menunggu Rian untuk mengatakan sesuatu padanya.


"Tidak ada." Ujarnya santai sambil tersenyum manis menatap wajah tidak senang di hadapannya.


Tidak banyak karyawan yang berada di kantin pagi itu, mereka tidak terkejut Presdir tampannya mendapatkan tamu gadis muda dan cantik. Karena popularitas Rian sudah menjulang luas hampir ke seluruh negara.


"Kenapa? apa anda tidak percaya dengan apa yang saya katakan barusan? saya benar-benar melihat istri anda bermesraan bersama Presdir Resort!" Mulai marah dan tidak terima dengan keputusan Rian.


"Apa anda yakin dia adalah Kaila? apa anda tidak tahu Presdir Resort memiliki istri bernama Irna?" Rian menunjukkan foto pernikahan Irna dengan Fredian pada Karin.


"Artis terkenal Irna Damayanti!" Jelas Rian lagi seraya tersenyum menikmati kopinya.


Karin terkejut setengah mati, dan hampir pingsan. Melihat peristiwa dalam berita sudah lebih dari lima belas tahun lalu. Dia tidak melihat perubahan pada wajah mereka berdua setelah berlalu bertahun-tahun lamanya.


"Apa dia adalah Irna?" Karin menyerahkan ponsel Rian kembali. Wajahnya mendadak berubah pucat pasi.


"Mungkin saja itu dia. Ah, apa kamu ingin menemui Kaila? untuk memastikan itu dia atau bukan?" Tawar Rian padanya lagi.


"Aku melihat istrimu, dia masuk ke dalam ruangan Fredian. Aku yakin itu Kaila, dia terlihat aneh." Ujarnya masih meragukan Irna.


"Ya itu terserah kamu, aku harus kembali ke ruangan kerjaku. Ada beberapa hal yang harus aku urus. Usahakan kamu tidak membuat keributan dengan istriku." Rian mencoba memperingatkan padanya.


"Memangnya kenapa kalau Irna bolak-balik ke ruangan suaminya. Aneh sekali, kenapa ada wanita tidak tahu malu sepertinya. Masih ngaku-ngaku sebagai tunangannya, hanya karena makan malam bersama." Gerutu Rian seraya melangkah santai kembali menuju ke ruangan kerjanya.


Irna hampir menyelesaikan operasinya, gadis itu dibantu empat rekan setimnya. Rian melihat melalui monitor operasi dari dalam ruangan kerjanya. Pria itu tersenyum melihat Irna kembali melakukan operasi.

__ADS_1


"Gadis yang genius, dia melakukan operasi serumit itu hanya dalam waktu dua jam!" Gumamnya sambil tersenyum, meraih botol di dalam sakunya.


Rian melihat cairan berwarna hijau muda itu sejenak, kemudian memasukkannya kembali.


"Hadiah kecil untukmu."


Setelah menyelesaikan operasi, Irna segera keluar dari dalam ruangan. Gadis itu menuju ke ruang ganti, setelah mencuci tangannya.


"Selamat dokter, operasi kali ini berjalan lancar." Ujar ke empat rekannya pada Irna.


Irna hanya tersenyum menjawab ucapan selamat dari mereka berempat. "Dokter, kita akan mengadakan makan malam bersama! apa dokter mau ikut pergi bersama kami?" Tanya rekannya bersamaan.


"Nanti aku kabari kalau tidak terbentur dengan jadwal yang lain, kalian nanti duluan saja. Kirim alamatnya padaku, jika mungkin aku bisa datang menyusul." Masih tersenyum menatap wajah mereka berempat.


"Apakah operasinya berjalan lancar?" Rian melangkah menuju ke arah Irna, dia pura-pura bertanya padanya. Melihat Rian menghampiri Irna para rekan satu timnya segera pergi.


Irna tahu pria itu hanya basa-basi saja padanya. "Aku tidak melihat monitor di dalam ruangan kerjamu rusak." Mengabaikan Rian melangkah mendahuluinya menuju ruangannya.


"Ya, ya, ya." Rian mengikuti Irna dari belakang.


"Tadi Karin menemuiku pagi ini." Mulai membuka kata, menceritakan kejadian tadi pagi.


Irna membuka pintu ruangan kerjanya, dan masuk ke dalam diikuti oleh Rian. "Apa yang dia katakan padamu? pasti dia berusaha membuat suami dari Kaila Elzana cemburu." Tebakan Irna tidak meleset.


"Hem, seperti dugaanmu." Menghenyakkan tubuhnya di sofa di sebelah Irna.


"Ini untukmu." Memberikan botol tadi pada Irna.


"Apa ini?" Menimang-nimang botol berisi cairan hijau tersebut.


"Untuk bodyguard yang terus mengikutimu. Itupun jika kamu mau." Jelasnya pada Irna.


Gadis itu hanya tersenyum kemudian mengembalikan botol tersebut pada Rian kembali. "Kenapa?" Tanya Rian tidak mengerti kenapa Irna menolak untuk menyingkirkan pria itu dari sekitarnya.


"Apakah dia pernah membuat masalah di masa lampau? kenapa kalian menyingkirkannya?" Tanya Irna pada Rian.


"Kau! kenapa kau melakukannya?" Tanya Irna sambil beranjak dari tempat duduknya menghampiri Rian.


"Karin sudah mendapatkan fotonya, ketika kalian di resort tadi pagi. Jika dia nekad membuka itu di hadapan publik, apa kamu punya jawaban untuk menjelaskan keberadaan bodyguard itu di depan umum?" Rian menggelengkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan Irna sendirian di dalam ruangannya.


Irna masih termenung di dalam ruangan kerjanya. Dia memikirkan apa yang dikatakan Rian padanya barusan. Semuanya benar dan masuk akal. Irna terlalu meremehkan keberadaan Karin.


Di sisi lain..


Royd Carney mengajar di dalam kelas Kania, pria itu sudah bisa bersikap normal seperti sebelumnya. Dia sudah tidak mengusik Kania siang dan malam.


Pelajaran di dalam ruangan kelas tersebut berjalan lancar selama tiga jam. Kania beranjak berdiri mengumpulkan kertas latihan kemudian menyerahkan kepada Royd.


"Apa kamu ada acara siang ini?" Tanyanya pada Kania sambil berbisik.


"Hem, ada. Makan siang bersama David." Ujarnya santai lalu pergi menuju kursinya untuk mengambil tasnya.


"Apa aku boleh bergabung?" Meminta pendapat Kania, dia berharap Kania mau menerima perasaannya. Pria itu masih berjuang demi mendapatkan cinta gadis itu.


Walau mungkin akan tertolak untuk kesekian kalinya. Baginya itu tidak masalah, asalkan dia bisa tetap dekat dengan Kania.


"Tidak, aku ingin membicarakan hal penting dengan David." Tolaknya langsung tanpa basa-basi. Jawaban Kania membuat Royd terduduk lesu di atas kursinya.


"Kenapa aku tidak boleh bergabung? padahal aku hanya ingin melihatmu lebih lama lagi." Gerutunya seraya membenamkan wajahnya di atas meja.


Kania melangkah menuju parkiran kampus, dia melihat dua gadis sedang berdiri di depan mobilnya. Sepertinya mereka sengaja berada di sana untuk menunggu kedatangannya.


"Kania! kamu Kania Aditama kan?" Tanya mereka berdua serentak.


"Hem, iya. Apa ada sesuatu yang ingin kalian bicarakan?"


"Berhentilah mendekati dosen Roy." Ujar Tari pada gadis itu, Tari adalah salah satu seniornya di kampus tersebut.

__ADS_1


"Ah, itu aku tidak pernah berusaha mendekatinya." Berusaha menjelaskan kebenaran pada mereka berdua, tapi sepertinya mereka tidak percaya pada Kania hingga terus menyalahkan dirinya. Mereka pikir Kania lah yang telah menggoda dosen muda tersebut.


"Kamu bahkan tinggal di apartemen bersebelahan dengan tempat tinggalnya." Ujar Tari lagi dengan wajah marah.


"Lalu apa yang harus aku lakukan agar kalian mau percaya padaku?" Dia hampir tidak percaya, ternyata pria pemburu itu memiliki banyak penggemar perempuan.


"Jauhi dia!" Ujarnya lagi.


"Oke, dengan senang hati. Tapi untuk apartemen itu, itu punya mamaku jadi aku tidak bisa pindah dari sana. Kalian suruh Royd saja yang pindah dari sebelah kamarku. Braaakkk!" Membanting pintu mobilnya di depan wajah mereka berdua.


"Menyebalkan sekali! aku sama sekali tidak tertarik dengan pria itu! kenapa dia membawa masalah padaku?" Gerutu Kania seraya menyalakan mesin mobilnya, melajukan kendaraannya menuju apartemen.


Gadis itu dengan sengaja menghindari Royd, ketika pria itu menanyakan jadwal acaranya siang ini, Kania sengaja berbohong. Dia tahu pasti pria itu akan mencari cara untuk bisa bersama dengannya.


Dan saat sampai di parkiran apartemen dia melihat Royd Carney berdiri bersandar di depan mobilnya seraya melihat ke arah jam di pergelangan tangannya.


"Sialan! aku pikir aku pikir aku bisa lepas darinya hari ini. Bagaimana dia bisa tahu aku menuju ke apartemen?!" Memukuli kepalanya sendiri sambil menenteng tas di atas bahunya. Kania pura-pura tidak melihat keberadaan pria itu.


Dia mengambil jalan memutar untuk masuk ke dalam kamar apartemennya.


"Mau menghindariku?" Berdiri di depan tikungan mengagetkan Kania.


"Tidak, mana mungkin!" Jawabnya cepat sambil memejamkan matanya. Kemudian melanjutkan langkahnya menuju lift.


Royd mengikutinya dari belakang punggungnya. "Bisakah kamu jangan terlalu dekat denganku?" Mencoba mengusirnya pergi.


"Tidak, aku bahkan tidak bisa sehari tanpa melihat wajahmu." Terangnya sangat jujur.


"Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan pria pemburu ini!" Bisiknya dalam hatinya.


"Ah aku tadi bertemu para fansmu, dia seniorku di kampus. Mereka bilang aku harus menjauhimu. Dan aku menyetujui permintaan mereka berdua." Pintu lift terbuka, Kania masuk ke dalam bersama Royd.


"Aku tidak tertarik dengan mereka." Jelasnya seraya memegang tangan Kania.


"Royd, mereka menyukaimu. Dan aku tidak tertarik denganmu. Jadi sebisa mungkin jangan mempersulit diriku di kampus. Aku hanya ingin menuntaskan studiku, tidak lebih." Ujar Kania mencoba melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangannya.


"Aku akan membantumu, untuk menuntaskan studimu di kampus. Tapi aku mohon jangan menepisku pergi." Royd mulai terlihat sedih karena Kania terus menolaknya dari hari ke hari.


"Kamu bisa mendapatkan wanitamu, bukankah kamu punya banyak fans wanita? lagi pula aku bukan manusia, dan kamu adalah pemburu. Menurutmu hubungan yang sangat tidak mungkin ini bisa berjalan lancar??!" Kania melepaskan genggaman tangan Royd, kemudian keluar dari dalam lift.


"Kania! aku tidak peduli perbedaan ini. Aku sama sekali tidak peduli." Memegang kedua bahu gadis itu.


"Royd, kamu sudah tidak waras." Menepis kedua tangannya dari atas bahunya lalu melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


Royd masih tetap mengejar langkah kakinya, pria itu meraih lagi tangan kanannya, menariknya masuk ke dalam kamar miliknya.


"Kenapa kamu membawaku masuk ke dalam kamarmu!?" Teriak Kania berusaha melepaskan diri darinya.


"Aku ingin kita bicara sebentar. Hanya sebentar saja." Menekan kedua bahu Kania agar gadis itu duduk, di atas sofa.


"Cepat katakan, dan biarkan aku pergi."


"Aku mencintaimu."


"Apa lagi? yang lainnya?"


Kania segera berdiri dari sofa menuju ke pintu. Melihat itu Royd segera berlari menghalangi langkahnya.


"Apa lagi?" Kania mulai sangat kesal karena tingkahnya.


"Kamu belum menjawab pernyataan dariku."


"Aku! tidak! mencintaimu! puas??" Mendorong tubuh Royd dari depan daun pintu. Dan saat membuka pintu kamarnya, Tari sudah berdiri di luar menunggunya.


"Hahahaha! sialan! hari yang sial!" Gerutu Kania seraya melemparkan tatapan penuh amarah kepada Royd.


"Kamu bilang akan menjauhinya? kenapa sekarang malah berada di dalam kamarnya??"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2