
Episode selanjutnya.....
"Kamu kenapa tiba-tiba datang ke sini?" Irna pura-pura tidak tahu ketika suaminya masuk ke dalam kamarnya malam itu.
"Kamu belum makan. Makanlah dulu sedikit agar kamu tidak sakit nanti." Pria itu membawa nampan berisi makanan, juga jus apel kesukaan Irna.
"Terima kasih Fred, kamu tidak makan sekalian?" Irna memandangi wajah pria itu. Dia sedang duduk di tepi tempat tidurnya dan hanya menatap Irna menikmati makanan.
Pandangan mata Irna jatuh pada baju mandinya, dadanya terlihat sedikit terbuka menampilkan lekukan atletis tubuhnya. Tiba-tiba wajah Irna memerah, "Apa otakku semesum ini?! astaga, memalukan sekali!" Gerutunya seraya buru-buru menyambar gelas jus apel di atas nampan.
Fredian tersenyum mendengar gumaman Irna. Pria itu mengusap wajahnya sendiri, kemudian berkata, "Apakah aku begitu tampan? atau terlalu menarik?" Pura-pura tebar pesona, walaupun itu bukan keahliannya.
Dalam setiap gerakan tubuhnya dia sudah terlihat sangat tampan. Terlalu tampan dan menawan, postur tubuhnya yang tinggi. Alisnya tebal, tatapan mata yang tajam.
"Uhk! uhk!" Irna tersedak melihat tingkah lakunya barusan. Wajah gadis itu semakin merah. "Bagaimana tentang masalah vampir di negeri Belanda? apakah sudah ada yang mau mewakili aku pergi ke sana?"
Irna mencoba mengalihkan percakapan Fredian dengan dirinya ke arah lain. Jika mereka berdua terus membahas tentang penampilan pria itu maka mungkin malam itu tidak akan berakhir baik untuknya
"Bagaimana kalau aku meminta Kania untuk pergi?" Tawar Fredian pada gadis itu, dia meminta pendapat darinya.
"Tidak bisa, dia kan masih kuliah. Jika dia meninggalkan kampus studinya akan terhambat."
"Sudahlah aku akan pergi sendiri ke sana. Nanti aku akan menyelesaikan masalah di rumah sakit terlebih dahulu, lagi pula Rian juga tahu pada saat mereka datang ke rumah kita."
"Mungkin dia akan memberikan waktu kepadaku untuk menyelesaikan urusan itu," Jelasnya panjang lebar pada Fredian.
"Ya sepertinya aku harus sendiri lagi beberapa malam, pasti aku akan sangat kesepian tanpamu disini." Pria itu mengeluh, seraya menyandarkan kepalanya di bahu istrinya.
Irna mengusap kepalanya dengan lembut, Fredian merasa nyaman, pria itu mengangkat wajahnya menatap pipi Irna. "Kenapa memandangku seperti itu?" Gadis itu sedikit menjauhkan wajahnya, Fredian hanya meringis menjawab pertanyaan darinya.
"Irna.."
Irna telah merebahkan tubuhnya kembali di atas tempat tidurnya.
"Hemm.."
__ADS_1
"Apa kamu tidak akan merindukanku ketika sendirian di luar negeri?" Pria itu masih menyandarkan kepalanya di atas bahunya. Irna sendiri menyandarkan kepalanya di atas kepala Fredian. Berbaring di atas tempat tidurnya, seperti dua sejoli yang enggan berpisah satu sama lain.
"Tentu saja aku pasti merindukanmu." Ujarnya sambil tersenyum mendengar pertanyaan dari Fredian.
"Kalau begitu jangan pergi ke sana." Pria itu mengangkat wajahnya, kali ini ia menatap wajah Irna lekat-lekat.
Irna menatap wajah pria yang kini telah berada di atas wajahnya, begitu bersih, begitu tampan dan menawan. Gadis itu mengangkat tangannya perlahan mengusap pipinya dengan jemari tangan kanannya. Dia tersenyum melihatnya merajuk seperti anak kecil.
Irna mendaratkan bibirnya di keningnya. "Aku akan segera kembali, kamu tidak perlu khawatir, ctik!" Irna menjentikkan jarinya gadis itu sudah berdiri di sebelah tempat tidurnya, Fredian segera bangkit duduk di atas tempat tidurnya. "Ctik!" Jentikan jemari tangannya yang kedua, dia sudah berada di atas pangkuannya memeluk leher suaminya.
Irna mendekatkan wajahnya, dan ketika dia hendak mendaratkan sebuah ciuman di bibir Fredian, "Ctik!" Jentikan jemari Fredian, pria itu menghilang dari pandangan matanya.
"Dasar! kekanak-kanakan sekali! sengaja sekali mempermainkanku! Fred?! kamu muncul sekarang, atau aku pergi keluar!" Teriak Irna, gadis itu sudah berdiri di tengah ruangan. Berkacak pinggang menatap tajam ke arah pintu.
Beberapa detik kemudian pria itu muncul di belakang punggungnya, Irna tahu dia akan memeluknya erat dari belakang punggungnya. Irna segera berbalik gadis itu melangkah maju mendekatinya.
Dia menatap marah wajah suaminya, "Kamu mengerjaiku?" Irna melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam.
"Sudah malam, aku mau tidur saja. Berhenti bermain-main." Irna berbalik menuju ke tempat tidurnya. Gadis itu merangkak naik ke atas ranjang. Niatnya rebahan tertahan, kedua lengan kokoh Fredian sudah berada di pinggangnya.
"Irna.."
Ciumannya di belakang tengkuknya membuat sekujur tubuhnya meremang, "Fred..." Pria itu sudah meremas gundukan mulus di balik gaun tidurnya.
Hanya dengan satu sentakan tangannya, gaun tipis itu sudah merosot turun ke lantai berada di bawah kakinya. Satu sentakan lagi penutup area sensitifnya meluncur jatuh ke lantai.
Ciuman bibirnya turun ke punggung, perlahan dia membalik tubuh Irna menghadap ke arahnya. Mendorongnya perlahan-lahan, rebah di atas ranjang.
Pagutan mesra Fredian hinggap di bibir tipisnya, sementara jemari tangannya merayap turun di antara pahanya. "Akhhhh, akkkhhh," Irna berusaha menjauhkan pinggulnya, permainan jemari tangan pria itu sedikit kasar. Sepertinya dia sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi.
Dia benar-benar langsung menghujamkan senjatanya setelah beberapa menit menciumnya, "Fred... akkkhh, akkhh," Irna merasakan hujaman bertubi-tubi di area sensitifnya, membuatnya mendongakkan kepalanya sambil memejamkan matanya rapat-rapat merasakan kenikmatan permainan Fredian.
Fredian tahu Irna sangat menikmatinya, pria itu kembali memagut bibirnya, sambil mempercepat laju permainannya.
Setelah satu jam mendayung, tubuh pria itu jatuh di sebelah Irna. Wajahnya basah kuyup dengan peluh. Irna memeluk lengannya, seraya meletakkan kepalanya di atas dadanya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu.." Bisiknya di telinga suaminya, Fredian tersenyum mendaratkan bibirnya di keningnya kembali.
Malam itu mereka lewati dengan berada di bawah selimut tanpa selembar benangpun, rintihan Irna menggema memenuhi ruangan kamarnya. Beberapa kali Fredian kembali naik di atas tubuh mulusnya, kembali melangsak menuntaskan hasrat di tengah malam.
Pria itu mengangkat satu kakinya, menghujami area sensitifnya dari belakang punggungnya, "Akkhhh... akkkhhh..ahhh..akkhh" Pekikan Irna membuatnya semakin menggila memainkan jemarinya pada area sensitifnya bagian depan.
"Fredd...akkhh..mmmhh.."
"Kenapa...sayang.." Menciumi bahu jenjang istrinya.
"Akkhhh, akkhhh.." Irna membelai tangan Fredian yang kini memainkan jemarinya di area sensitifnya bagian depan, pria itu masih terus berayun dari belakang punggungnya.
"Fred...kamu pandai sekali memuaskan hasratku..akkkhhhh, akkhhhh!" Pekikan Irna berakhir klimaks dengan pagutan bibir Fredian. Pria itu sengaja menyumbat bibirnya agar tidak berteriak terlalu kencang, hingga mengundang perhatian penjaga di luar pintu ruang kerjanya.
Permainan yang luar biasa, "Akkkkhhh, kapan kamu akan selesai?" Irna merunduk berpegangan pada tepi tempat tidurnya, Fredian memegangi pinggangnya dari belakang punggungnya.
"Akkh! akkh! akkkh!" Irna terus memekik, gadis itu melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi.
"Fred, aku lelah sekali... akkhhh, mmhhh!"
"Sebentar lagi sayang.." Bisiknya masih belum mau berhenti bermain. Ini sudah kelima kalinya dia naik, masuk ke dalam permainan.
"Sebenarnya kamu mau berapa kali mengeluarkannya????!!! Cepat selesaikan sekarang!!!!" Teriak Irna sudah tidak sabar lagi.
"Setengah jam lagi.." Bisiknya di telinga Irna. Irna mengangkat tangan kanannya, Fredian tahu jika istrinya itu ingin kabur dengan menjentikkan jarinya. Dia segera menambah kecepatan dan kembali menggelitik area depan sensitif milik Irna. "Akkkhhh! ahhhh!" Irna membatalkan niatnya, dia kembali meremas lengan Fredian.
"Jangan berpikir bisa kabur, atau aku akan menambah waktunya. Jadi satu jam!" Bisiknya dengan nada sedikit mengancam.
"Akkhh.. mmhhh..akkhh.. tidak, aku tidak akan kabur.. akhhh ayolah selesaikan sekarang..akkhh!"
Tepat tiga puluh menit, sesuai dengan janjinya permainannya telah berakhir. Fredian tersenyum, mengangkat tubuh Irna yang sudah tidak bertenaga ke atas tempat tidurnya. Menyelimutinya, dia membelai pipinya kemudian mengecup keningnya.
Pria itu menyambar kembali baju tidurnya kemudian memakainya. Lalu melangkah keluar dari dalam kamarnya.
*Bersambung.....
__ADS_1
Tinggalkan like sebelum pergi+komentar+vote, thanks for reading.. ❤️❤️❤️❤️👍👍👍*