Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Vanish without a trace


__ADS_3

"Mmmmmhhhhh. Fred.. jangan di sini." Irna menahan wajah pria tampan di depannya itu.


Irna meringis sambil menelan ludahnya merasakan benjolan menggesek di antara kedua pahanya.


"Fred!" Pekik Irna karena Fredian meraba-raba pahanya. Irna merasakan suhu tubuhnya semakin meningkat ketika dia mengusap area sensitif miliknya.


"Mmmhhh.. Fred.. aku rasa Rian memasang cctv di ruanganku." Irna menunjuk ke sudut ruangan. Gadis itu tersenyum mengedipkan sebelah matanya ke arah kamera yang terlihat pasif itu, tapi sebenarnya masih aktif merekam kejadian di dalam ruangan kerjanya.


Rian melihat kemesraan tersebut dari dalam ruangan kerjanya. Pria itu semakin mengacaukan rambutnya, lebih parah dari yang tadi. Dadanya terasa bergolak, melihat bibir dua sejoli itu saling bertautan dengan mesra.


"Setidaknya jangan lakukan itu di depanku Irna." Gumamnya pada dirinya sendiri. Kini pria itu hanya bisa membenamkan wajahnya di atas meja kerjanya.


Satu detik kemudian dia memberanikan diri melihat layar tersebut, Irna dan Fredian sudah tidak berada di sana lagi. Mereka sudah pergi entah kemana. Rian tahu tadi adalah jadwal operasi terakhir Irna malam itu.


Irna sudah berada di dalam mobilnya, Fredian meminta asistennya untuk membawa mobil pribadinya. Jadi dia bisa berada di satu mobil yang sama dengan Irna.


Rian tahu Irna telah pergi karena Ramon membawakan laporan dari meja Irna ke ruangan Rian. Biasanya Irna sendiri yang mengantarkan itu ke ruangan kerjanya.


Dia menghela nafas panjang, mengingat kejadian tadi pagi. Saat Dinda sedang berada di dalam ruangan kerjanya. Saat dia membenamkan wajahnya di pinggang Irna.


Aroma tubuh wanita yang dicintainya kembali membuatnya teringat ke masa-masa indah mereka berdua. Ke masa wanita itu tengah hamil putrinya Kania. Begitu indah kemesraan mereka berdua waktu itu. Hampir dua puluh tahun Irna mendampinginya sebagai istrinya waktu itu.


Rian mengambil sebuah bingkai foto dari dalam lacinya. Di sana ada foto Irna sedang menggendong bayinya sambil tersenyum lalu Rian mengambil foto mereka bertiga sambil mencium pipi Irna.


"Dia sudah kembali kepada cintanya, kepada cinta sejatinya. Tapi cinta sejatiku tetap terus tumbuh dan berkembang. Aku akan tetap menatap wajahmu. Wajah bahagiamu! Ini lebih baik daripada aku melihat air matamu! Lebih baik daripada melihat hatimu terus terluka saat bersamaku Irna." Rian tersenyum sambil meneteskan air matanya. Pria itu mendongakkan kepalanya menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi kedua pipinya.


Irna sedang berada di dalam kamar mandi, dia sudah bermain satu ronde dengan Fredian. Kini dia asyik berendam di dalam air hangat untuk melepaskan kepenatan tubuhnya.


Tiba-tiba Rian meremas dadanya, pria itu merasakan sakit yang teramat sangat. Hal itu terjadi sejak dia mengambil darahnya terlalu banyak kemarin. Dia belum menemukan penyebab utama rasa sakitnya itu.


Irna di dalam air merasakan getaran, dia melihat wajah Rian pucat sekali melalui indera penglihatan Angelina.


Dia memutuskan menyambar baju kimono satin miliknya dan satu detik kemudian dia sudah berdiri di sebelah Rian. Tepat saat tubuhnya hampir terguling jatuh ke lantai. Tubuh Rian jatuh ke pelukan Irna.


"Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali?" Irna menatap wajahnya lekat-lekat.


Pria itu masih menahan sakitnya, dia menyentuh kedua pipi Irna. Wajah dan rambut Irna masih basah kuyup. Air mata Rian terus mengalir tanpa henti menatap wajah Irna di depannya.


"Ctik! Blap!" Irna menjentikkan jarinya dan muncul di NGM. Dia meletakkan tubuh Rian di atas tempat tidur pasien yang berada di dalam laboratorium tersebut.


Gadis itu lupa NGM belum ditaburi serbuk penghilang jejak.


Irna mengeluarkan bunga teratai biru, dia menggunakan bunga itu untuk menstabilkan kondisi Rian.


Dia berpikir Rian juga terkena racun bunga tersebut tanpa sepengetahuan dirinya. Saat dia meletakkan kelopak bunga di atas keningnya. Bunga tersebut langsung hangus terbakar.


"Astaga! Racun di tubuh Rian bahkan lebih kuat dari dugaan-ku!" Bisiknya pada dirinya sendiri.


"Praaang!" Kaca pintu pecah di terjang, para penyerbu masuk bersiap menyerang.


Irna siap siaga dengan mode tempur, sebilah pedang kristal es berada di genggaman tangan kanannya.


Rian dengan tenaganya yang masih tersisa menarik Irna ke dalam pelukannya. Mereka berdua pergi dari tempat tersebut. Lalu muncul di sebuah gua.


"Uhk! Uhk! Byuuuuur!" Darah segar keluar dari bibir Rian.


"Kenapa kamu membawaku kemari?! Kita harus mencari jalan keluar untuk mengobati lukamu!" Irna mencengkeram kedua bahunya.


Fredian berhasil melacak keberadaan Irna. Dia terkejut saat gadis itu tiba-tiba menghilang begitu saja dari dalam kamar mandinya. Apalagi dia hanya mengenakan kimono tipisnya. Selain mendesak gadis itu tidak mungkin begitu terburu-buru. Apalagi hari itu mereka berdua sedang merasa sangat hangat sekali setelah beberapa hari mengambil jarak.


Dia mencium jejak Irna sedang berada di ruangan Rian. Tapi begitu sampai di sana dia kembali mendengar suara jeritan Irna di dalam NGM.


Fredian mendapatkan kaca pintu tersebut pecah berantakan, dan dia juga melihat tempat tidur pasien tersebut, pria itu mengendusnya terdapat aroma tubuh Rian di sana, belum lama pria itu pergi.


Kini Irna mencoba mengeluarkan bunga teratai biru tersebut kembali, dia mengerahkan seluruh kekuatan dirinya. Lalu menyalurkan ke dalam tubuh Rian.

__ADS_1


Racun tersebut telah keluar, tapi berpindah ke tubuh Irna. Irna merasakan getaran yang hebat. Dadanya tiba-tiba terasa nyeri sekali.


Irna melihat wajah Rian berangsur-angsur membaik, dia sengaja memberikan sinyal pada Fredian agar pria itu menemukan keberadaan Rian.


"Kamu jaga dirimu baik-baik, sampai jumpa di lain hari. Mantan suamiku." Irna melelehkan air matanya. Hingga membuat wajah pria tergolek itu basah dengan air matanya.


Irna menghilang dari hadapan Rian sebelum pria itu sempat terjaga.


Fredian tiba di sana hanya mendapati Rian bersama bilah pedang kristal es milik istri tercintanya. Fredian tahu Irna meninggalkan itu untuk memberikan sinyal pada dirinya.


Dan kini senjata pamungkas miliknya telah terpisah dari tubuh istrinya. "Apa yang terjadi Irna? Kenapa kamu meninggalkan ini? Apakah kamu tidak akan pernah menemuimu lagi?? Tidaaaaaaaakkkkkk!" Teriakannya menggema memenuhi gua tersebut.


Rian perlahan tersadar, rasa sakit di dalam dadanya telah menghilang, tidak terasa lagi sama sekali.


Dia melihat Fredian tengah terisak-isak memeluk bilah pedang kristal es milik Irna. Rian segera merangkak mendekat ke arahnya.


"Apa yang terjadi? Di mana Irna?" Tanya Rian pada Fredian.


"Sepertinya Angelina membawanya pergi lagi." Ucap Fredian dengan nada lemah tanpa tenaga. Tubuhnya terasa lemas tak bernyawa, dia merasa Irna telah pergi ke tempat yang sangat jauh sekali.


Dia tidak bisa menggapainya atau mencari keberadaan istrinya yang sangat dia cintai itu.


"Kita pulang saja dulu." Rian menarik tubuh Fredian agar bangkit berdiri.


Pria itu terlihat lemah tak berdaya, dia masih tidak tahu apakah Irna pergi menghalau penyerbu. Atau pergi karena kemauannya sendiri.


Rian mengantarkan Fredian ke Resort. Dia merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidurnya. Rian menyelimuti tubuh pria itu.


Tatapan matanya terlihat kosong tak bernyawa seperti bertahun-tahun lamanya. Saat Irna meninggalkan dirinya dan memilih hidup di Jerman.


"Apa yang terjadi?? Kenapa aku tidak ingat sama sekali? Apakah Irna mengambil ingatanku?" Rian masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Irna tidak ada di sekitarnya.


Seingat dia wanita itu sedang memeluknya saat dia terguling di lantai dalam ruangan kerjanya. Tapi kini dia malah tidak ingat kejadian setelah kejadian itu.


Rian masih duduk di tepi tempat tidur Fredian. Pria itu menjaganya di sana.


Tidak ada juga yang bertanya-tanya tentang keberadaan gadis bernama Kaila Elzana di dalam rumah sakitnya.


Rian ingat pertanda vampir mati! Hilangnya vampir itu dan juga hilangnya semua ingatan pada manusia yang pernah berpapasan dengan dirinya atau pernah dekat dengannya.


Ingatannya terhapus juga dari setiap mahluk hidup yang pernah mengenal dirinya.


Tapi vampir tidak, ingatan hilang berlaku hanya pada manusia. "Apa yang terjadi sebenarnya Irna? Kenapa kamu tidak meninggalkan sedikit ingatan padaku!"


Rian masih belum tahu jika Irna telah mengambil racun yang bertahun-tahun bersarang di dalam tubuhnya. Dan dia juga masih belum menyadari jika racun tersebut telah berpindah ke tubuh Irna.


"Perasaanku gundah sekali. Apa yang terjadi padamu Irna!" Teriak Rian di dalam ruangan kerjanya.


Fredian berkali-kali didapati melamun di tengah acara meetingnya. Nira berkali-kali menyenggol sikunya agar dia tersadar dari lamunannya.


Akhirnya dia berdiri menyelesaikan rapat tersebut, lalu melangkah keluar dari dalam ruangan rapat. Pria itu berdiri di lobby hotel, menjabat tangan para peserta rapat yang berpamitan satu persatu padanya.


Dan tiba-tiba dia menjabat sebuah tangan lembut, seorang wanita berkacamata hitam, dengan topi fedora warna coklat muda. Bibirnya berwarna hitam gelap. Wanita itu tersenyum lembut melihat wajahnya.


"Irna..." Bisiknya terpaku menatap kepergian wanita cantik tersebut dari hadapannya.


Dia berniat mengejarnya, saat sampai pada seseorang yang memakai topi dan gaun yang sama dia memegang bahunya.


"Irna?"


Wanita itu menoleh, ternyata bukan istrinya. Bukan Irna Damayanti.


"Anda memanggil saya tuan presdir?" Tanyanya dengan wajah terkejut, dia adalah Luna. Salah satu wanita yang mengikuti rapat pertemuan hari itu. Gadis itu juga ikut menanamkan saham di perusahaan Fredian.


Karena Resort miliknya kian maju pesat dari hari ke hari.

__ADS_1


"Ah maaf nona Luna, saya salah mengenali seseorang." Ucap Fredian sambil menundukkan kepalanya. Lalu berpamitan kembali ke dalam Resort miliknya.


Fredian melangkah gontai menuju kembali ke dalam Resort miliknya.


Dia mendapati Nira tersenyum menatap wajahnya.


Fredian tahu cucunya itu telah hamil dan berniat untuk membesarkan putranya seorang diri. Tanpa ingin menikahi Javi Martinez.


Pria berstatus pangeran itu seringkali datang ke Resort Fredian, dia takut terjadi sesuatu pada calon ibu dari putra satu-satunya.


Dan hari ini juga dia terlibat sedang berdiri di belakang punggung Nira.


"Kamu sudah lama datang?" Tanya Fredian padanya.


"Baru saja. Apa terjadi sesuatu? Kenapa kamu terlihat sedikit..." Javi tidak berani melanjutkan ucapannya. Dia tidak ingin menyinggung perasaan kakek calon istrinya.


"Kenapa? apa aku terlihat gila? Kamu-pun sama ketika cintamu tertolak olehnya." Seraya melirik Nira. Sindiran Fredian benar-benar mengena, pria itu kini terlihat pucat tidak berdaya memegangi lengan wanita cantik di sebelahnya.


"Jaga dia baik-baik, aku tahu cucuku tidak mau menikah dengan dirimu. Dia tidak ingin menjadi bahan olokan keluarga besar kerajaan Interure." Ungkap Fredian sambil menatap wajah Javi Martinez lekat-lekat.


Dia tahu kalau Nira juga sangat sedih akibat pertentangan cintanya sekarang. Dia tahu kedepannya akan terus terluka dan menangis. Tapi walaupun begitu, dia tetap berusaha untuk bertahan dengan menggenggam cinta mereka berdua.


Cinta yang mustahil berakhir bahagia! Cinta yang mustahil akan tetap bersama! Karena dirinya manusia yang akan habis dimakan usia, lain halnya dengan Javi Martinez yang tetap muda seperti sekarang. Kurun waktu tidak bisa merubah apapun, hanya kehidupan manusia yang terus menerus berubah dari waktu ke waktu.


Masa berganti masa, musim berganti musim. Pagi berganti siang, dan siang berganti malam.


Keadaan itu tidak merubah kehidupan vampir. Tapi merubah kehidupan manusia, usia yang tidak bisa di tarik ulang, atau diperlambat dan dipercepat.


Nira sudah bertekad untuk melaluinya. Melaluinya sendirian.


Fredian terasa getir melihat kepedihan hati cucunya tersebut. Dia sendiri juga mengalami luka yang sama sakitnya.


Irna menghilang begitu saja tanpa kabar tanpa berita.


Pria itu menghabiskan banyak waktunya di klub malam seperti sebelumnya. Dan ini adalah hari ke tujuh wanita itu pergi belum kembali.


Hatinya merasa nyeri ketika Alfred bertanya padanya, 'Siapa itu Kaila Elzana?'


Putranya sendiri tidak mampu mengingat dirinya. Karena hilangnya ingatan dalam pikiran manusia.


"Apakah dia benar-benar sudah mati?! Aku tidak bisa menemukan atau melihat mayatnya! Aku tidak bisa menemukan bahkan selembar pakaian yang dipakainya hari itu!"


"Trakkkkk! Praaannng!" Fredian gemas sekali, dia segera meremas gelas minuman yang ada di genggaman tangan kanannya.


"Tuan?! Apakah tuan baik-baik saja?" Tanya seorang pelayan bar, dia memakai baju putih dan celana panjang warna hitam. Wanita itu bertugas sebagai pelayan yang mengantarkan minuman dari meja ke meja.


Sesaat Fredian melihat wajah wanita itu adalah Irna.


"Irna? Aku sangat merindukanmu sayangku!" Fredian menarik lengannya hingga jatuh ke dalam pelukannya.


"Maaf! Tuan, anda salah orang! Saya pelayan di sini. Nama saya Lisa." Jelasnya sambil melepaskan genggaman tangan Fredian.


Fredian mendengar suara gadis itu memang sangat berbeda dengan suara Irna Damayanti. Sangat berbeda dengan istri tercintanya itu.


Fredian segera melepaskan genggaman tangannya, lalu matanya kembali beralih pada botol minuman di atas meja. Dia mengambilnya dan menenggaknya sampai tumpah ke mana-mana. Membasahi jas dan juga shirt kemeja lengan panjang miliknya.


"Sampai kapan kamu akan begini terus?" Rian menarik lengannya turun dari kursi bar. Pria itu membawanya pulang kembali ke Resort miliknya.


"Kenapa kamu membawaku pulang!? Saat aku berada di sana aku seperti melihatnya! Aku melihat wanita itu lebih dari satu kali di dalam klub malam itu!" Teriaknya begitu yakin.


Dia menatap wajah Rian yang sedang mengemudikan mobilnya menuju ke Resort hotel miliknya.


"Kamu sedang berhalusinasi! Sadarlah! Irna sudah pergi!" Kini pria itu melelehkan air matanya, dan membuat pandangan matanya sedikit kabur. Dia menepikan mobilnya memeluk erat sahabat karibnya itu.


"Tidak mungkin! Irna pasti masih hidup! Dia pasti baik-baik saja!" Sergah Fredian, yang tetap bersikeras wanita itu masih hidup di luar sana.

__ADS_1


Bersambung...


like dong wooouuii... like.. woooooooiii... okey i love you.. thanks for reading...


__ADS_2