Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Magic Potion


__ADS_3

"Kebahagiaanmu lebih penting Derent!" Ucapnya tegas pada putra satu-satunya itu. Derent mulai putus asa, dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa untuk mencairkan hati batu ibunya.


Sejak awal ibunya selalu berusaha menyenangkan hatinya, walaupun itu mengorbankan dirinya sendiri.


Irna sudah kehabisan tenaga, "Trannnng!" Sabitnya jatuh di lantai bersama dirinya yang ikut terduduk lemas.


Para pengawal segera berlari ke arahnya, menahan kedua tangannya. Lalu menyeret lengannya masuk kembali menghadap ibu Derent.


"Bagaimana nona? apa anda sudah berubah pikiran? dan bersedia menikah dengan putraku?" Tanyanya pada Irna. Dia tahu Irna sudah tidak berdaya sama sekali sekarang.


"Ah, maafkan saya ratu. Saya tetap menolak keputusan anda. Saya harus secepatnya kembali ke London. Jika anda masih ingin bermain-main dengan api, ya saya tidak bisa melarangnya. Tapi sepertinya luka dalam anda cukup parah?"


"Bagaimana jika saya berhasil menyembuhkan luka dalam anda tersebut? Dan saya bisa segera kembali ke negara asal saya?" Tawar Irna padanya. Wanita itu sedikit terkejut melihat Irna, dia terkejut karena hanya dengan sekali lihat Irna sudah tahu apa yang terjadi sebenarnya.


"Bagaimana dia bisa tahu segalanya? menarik sekali! dia wanita yang benar-benar hebat! dia pantas untuk Derent!" Bisiknya dalam hati penuh semangat untuk mengambil Irna sebagai seorang menantu.


"Pengawal! siapkan upacara pernikahan! sekarang juga!" Ujarnya lantang pada para pengawalnya.


Irna sangat terkejut mendengar hal itu, gadis itu berusaha untuk terus meronta-ronta. Tapi tetap saja dia tertawan di sana, tidak bisa pergi dari kerajaan tersebut.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang!" Irna berteriak dalam hatinya. Gadis itu berulang kali terus memutar keras otaknya. Mencari solusi jalan tengah yang terbaik antara kedua belah pihak.


Tapi selalu seperti yang dia lihat sekarang, wanita itu memilih kematian demi menyenangkan hati putranya satu-satunya.


Kini mata Irna beralih kepada Derent, pria itu bahkan tidak berani membalas tatapan tajam mata Irna. Dia sangat takut melihat api di dalam mata Irna. Dia takut hangus terbakar karena mendekatinya, jadi dia memilih untuk diam saja.


Sepuluh menit kemudian upacara pernikahan telah dimulai. Mereka menyeret Irna menuju altar perjanjian pernikahan.


Irna tersenyum sinis menatap tajam ke arah Derent. "Kamu pria banci!" Ujar Irna dengan nada ketus. Gadis itu telah memulai menjalankan rencana daruratnya.


"Aku bisa menghabisi-mu di atas ranjang! jadi jangan sembarang bicara! jika tidak ingin aku bertindak lebih jauh!" Ancamnya pada Irna, dia tahu Irna bukan wanita sembarangan, tapi dia kesal sekali diejek seperti itu.


"Aku harus membuatnya marah, demi mengulur waktu!" Bisik Irna dalam hatinya.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin aku menikah lagi??? bersuami dua pria! mustahil sekali! kemana Fredian? apa yang harus aku katakan ketika dia tahu aku menikah lagi dengan pangeran Derent!" Irna kebingungan, gadis itu mencoba mencari penyelesaian untuk menghindari pernikahan tersebut.


Setelah upacara pernikahan dibacakan, kini tinggal sumpah darah. Dimana darah Irna dan darah Derent akan disatukan di atas batu suci untuk mengikat kontrak pernikahan antara dua kerajaan.


Para pengawal memegangi tangan Irna dan tangan Derent, "Sriiiing!" Belati suci telah menggores kedua jemari tangan mereka berdua. Dan darah Irna juga darah Derent bersiap meluncur jatuh ke atas batu.


"Tidaaaaaaaak! Sreeet! Jraaaak! braaakkkk!" Irna berteriak histeris, menendang batu sebesar sepuluh kali sepuluh meter tersebut, batu tersebut bergeser menjauh menabrak dinding. Hingga lilin yang berjajar di sana ikut hancur berantakan.


"Hahhahaha! maaf Ratu saya spontan, refleks!" Irna memicingkan matanya menatap Derent, tatapan penuh ancaman! Gadis itu kemudian berbalik melangkah santai keluar dari dalam kastil kerajaan tersebut.


Meninggalkan acara pernikahan yang sudah hancur berantakan tersebut.


Melihat pernikahan mereka berdua hancur berantakan, ratu vampir Holland sangat marah. Dia segera meloncat menghadang langkah Irna.


"Kamu tidak bisa pergi begitu saja! pengawal tangkap wanita ini! masukkan dia ke dalam kamar pangeran Derent!" Teriaknya pada para pengawal.


"Apa? apa?!! kamu memaksaku untuk tinggal di kamar putramu?? Astaga wanita ini! woi Derent! sialan kamu! bicaralah cepat!" Teriak Irna sambil meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari genggaman tangan para pengawal.


Pria itu melihat Irna duduk bersila di atas tempat tidurnya, "Hai! kamu mau mati?!" Irna mengangkat tangan kanannya melambai ke arah Derent.


Derent berkacak pinggang menatap tajam ke arah Irna, "Apa kamu pikir kamu bisa menang melawanku??!" Ujarnya tanpa takut melompat ke atas tempat tidurnya, dimana Irna berada sekarang.


Irna malah menopang dagunya dengan kedua tangannya, malas-malasan berdiri dari tempat tidurnya.


"Dasar bodoh! pikirkan saja cara untuk menyembuhkan ibumu, kenapa malah mengajakku bertengkar?!" Irna mencoba memprovokasinya, agar pria itu tidak berminat untuk mencicipi tubuhnya. Irna berusaha membuat kesepakatan dengannya.


Karena Irna juga tahu pria itu sangat tertarik pada dirinya.


"Ibuku sendiri tidak mau sembuh, kenapa kamu repot-repot untuk berkeras mengobatinya?" Tanyanya pada Irna, dia melihat penampilan Irna sekarang.


Wajah putih berseri Irna basah dengan keringat karena pertempuran tadi, beberapa anak rambutnya menempel pada pipinya. Sisanya meriap di atas punggungnya.


Alis hitamnya, bibir ranum merahnya. Bulu matanya sangat lentik dan tatapan matanya begitu jernih. Derent tidak berkedip memandanginya.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Irna padanya sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Kamu benar-benar cantik sekali, aku belum pernah menemui wanita seperti dirimu." Ujarnya sambil tersenyum.


"Lalu?!"


Derent merangkak mendekati Irna, gadis itu segera meloncat turun dari atas tempat tidurnya, menjauhinya.


"Jangan konyol atau aku akan menebasmu!" Irna mengancungkan pisau bulan sabitnya pada Derent. Gadis itu terus melangkah menjauh darinya.


Derent mengisyaratkan dengan jari telunjuknya, hingga pisau milik Irna melayang dan berada di tangan pria itu.


Derent membuat pisau itu hilang dan menyatu masuk perlahan ke dalam tubuhnya sendiri. Irna terkejut sekali, senjata tersebut adalah milik kerajaan Vertose, dan hanya anggota kerajaan Vertose yang bisa menyimpan juga membuatnya menyatu dengan tubuhnya.


"Kamu!???" Irna segera berlari menghambur memeluknya erat sekali.


"Aku pikir kamu tidak akan datang! aku pikir aku akan menikah dengan dengannya! aku pikir!... emmmmmmhh!" Pria berwajah Derent itu mencium bibirnya, memagutnya dengan lembut.


Wajah Derent berangsur-angsur berubah, menjadi wajah suaminya Fredian. Irna tidak tahu kapan Fredian mengambil alih tempat pria itu.


"Bagaimana kamu bisa menggantikannya??" Tanyanya tidak sabar pada suaminya, setelah Fredian melepaskan ciuman bibirnya.


"Saat dia menuju ke hotelmu, aku menghadang mobilnya. Aku curiga pada pria itu, dan ternyata tebakanku tidak salah." Jelasnya masih memeluk pinggang Irna menciumi pipinya bertubi-tubi.


"Bagaimana wajahmu bisa berubah?" Tanya Irna lagi.


"Siapa lagi kalau bukan pekerjaan dokter ilmuwan dengan ramuan sihirnya yang sangat hebat!" Fredian tersenyum, pintu kamarnya terbuka dari luar.


Mereka berdua melihat ke arahnya, Rian tersenyum dengan santainya melambaikan tangannya agar mereka berdua segera keluar dari dalam ruangan tersebut.


Bersambung...


Tinggalkan like sebelum pergi+ vote juga ya? terima kasih sudah membaca... I LoVe You.. I Love You readers.. ❤️❤️❤️😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2