Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Topeng yang manis


__ADS_3

"Woooiii pagi buta gini! nangis kencang banget! Berisik! Bruaaak!" Teriak tetangga Irna tak jauh dari rumah gadis itu, kemudian membanting daun jendela.


"Ssssttt! sudah jangan menangis lagi, aku tidak menyentuhnya. Kamu jangan marah lagi." Bujuk Fredian sudah kewalahan menghadapi tangisan Irna.


"Kamu menciumnya, kamu menyentuhnya, kamu bohong! huaaaaaaaaa! Braaakkk!" Irna menangis kencang, gadis itu berdiri berjalan menuju kamarnya, membanting pintu.


"Woooi! kalau mau perang pindah ke laut aja!! Berisik woi! Braaaak!" Teriak tetangga sebelahnya lagi, kemudian membanting pintu.


"Tok! tok! tok! Irna, buka pintunya.." Fredian mengetuk pintu kamarnya.


"Gak mau! aku gak mau ketemu kamu!" Teriaknya dari dalam kamar.


"Jangan marah begitu, sebelumnya kan baik-baik saja, kenapa tiba-tiba marah begini sih?" Fredian kebingungan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tidak ada jawaban dari dalam kamar.


"Irna? kamu baik-baik saja di dalam kan?" Fredian mulai hawatir, jika terjadi sesuatu pada Irna.


Pria itu mencoba mencari kunci cadangan, di dalam laci. Kemudian menemukannya.


"Krataaaakkk.." Pintu kamar Irna terbuka.


Irna menelungkupkan wajahnya di bawah guling.


Fredian menyentuh bahunya, gadis itu tidak bergeming.


"Irna?" Panggilnya perlahan.


Irna tetap diam tidak mau berbalik.


"Kenapa tubuhnya dingin sekali?" Fredian hawatir, namun dia tahu aroma melati yang memenuhi kamar gadis itu.


"Dia bukan Irna!! kemana Irna?? Yang merajuk tadi adalah Irna tubuhnya hangat ketika aku memeluknya tapi kemana dia pergi?"


"Kamu sedang apa?!" Tanya Irna masuk ke dalam kamarnya.


Sebelumnya gadis itu pergi ke kamar mandi, kemudian mencari Fredian kembali di ruang tengah.


Irna mencium aroma melati dari ruang tengah buru-buru menyerbu ke kamarnya.


Irna melihat wajah pucat tersenyum ke arahnya di atas tempat tidurnya. Seolah sebuah ejekan kepadanya.


Irna berkata dalam hatinya.


"Jika kamu tidak segera enyah! aku akan membakar tubuh dinginmu tanpa ampun!" Seketika itu, gadis yang tidur itu menghilang.

__ADS_1


"Aku terlalu hawatir tadi, jadi aku masuk ke sini.." Ujar Fredian melihat gadis yang berdiri di depannya sekarang adalah Irna.


"Kamu sudah tidak merajuk?" Tanya Fredian pada Irna untuk memastikan.


"Aku merajuk? sejak kapan aku merajuk?" Tanya Irna pura-pura tidak mengerti.


"Sejak arwah ayah Reynaldi pergi, kita duduk di dalam rumah, kita melihat chatt keluargaku, dan kamu menangis dalam pelukanku" Jelas Fredian kembali.


"Apa kamu sedang berhayal?! aku dari tadi duduk di beranda depan." Ujar Irna sengaja membuat pusing kepala Reynaldi.


"Tapi aku juga mendengar tetangga berteriak karena kamu menangis sangat kencang!" Ujar Fredian kembali meyakinkan Irna bahwa dia tidak sedang berhayal.


"Aku bukan anak kecil, kenapa harus menangis sangat kencang??"


"Karena kamu cemburu padaku saat menemukan Clarisa di dalam ruanganku!" Jelas Fredian mulai putus asa.


"Oh begitu?" Jawab Irna pendek.


"Rasain! aku kerjain! memang aku tadi menangis tapi aku pergi ke kamar mandi bukan ke kamar tidur, dan aroma melati ini bukan dariku!" Bisik Irna dalam hatinya.


"Sepertinya ada yang sengaja menipuku?!" Mengangkat tubuh Irna ke atas tempat tidur, kemudian memeluknya dengan erat.


"Tapi aroma ini bukan berasal dariku.." Tambah Irna lagi.


"Aku tahu." Jawab Fredian singkat.


"Karena celah yang kecil itu mereka mulai bersemayam, menjelma menjadi nyata, kemudian mengambil alih tempat. Dan menyingkirkan penghuni aslinya... mengambil jiwanya, membawanya pergi ke dunianya. Dunia yang sangat jauh, bahkan kita tidak akan tahu apakah kita bisa kembali... " Setelah berkata demikian Irna kembali membuka matanya.


"Ingat ini, baik-baik.. ingatlah ini baik-baik! jangan biarkan mereka mengambil duniamu, mengambil kesadaranmu!" Irna kembali meyakinkan Fredian.


Pria di sampingnya itu hanya mengangguk dan tersenyum.


Fredian menggenggam tangan Irna mereka berdua kemudian terlelap.


Irna membuka matanya, melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan pagi.


Fredian masih terlelap di sampingnya memeluknya dari belakang.


"Fredian, kamu tidak bangun?" Mengguncang lengannya perlahan.


"Jam berapa?" Mengusap matanya.


"Jam delapan." Ujar Irna lagi.


"Astaga! aku ada rapat penting jam sembilan pagi!" Teriaknya buru-buru melepaskan pelukannya, berlari menuju kamar mandi.

__ADS_1


Seingatnya dulu suaminya Rian Aditama malah mengulur waktu untuk lebih lama bersama dengannya. Tapi pria satu ini menomorsatukan pekerjaannya.


Ketika dia sakit tiga bulan, saat awal pertemuan dengannya juga malah ditinggal pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis.


Mereka memang sangat berbeda! Rian overprotektif dan selalu ingin jadi yang pertama, selalu memperhatikan dirinya, sangat hawatir padanya.


Sedang Fredian terbiasa dilayani pelayan yang berjibun. Lebih banyak berada di kantor dan keluar negeri untuk urusan bisnis. Fredian tidak pernah menyalahkan Irna, walaupun terkadang Irna sudah melewati batas kesabaran dirinya.


"Sangat berbeda dari keduanya! apa yang aku fikirkan sekarang sih???" Irna menepuk jidatnya sendiri.


Fredian tersenyum melihat Irna merapikan berkasnya, memasukkan ke dalam tas.


"Aku melihatmu sedang terburu-buru jadi aku menatanya dan memasukkan ke dalam tas." Ujar Irna pada Fredian.


"Apakah kamu sudah memilahnya dari yang sudah ditanda tangani dan yang belum?" Tanyanya pada Irna.


"He he he aku tidak memilahnya" Ujar Irna tersenyum.


"Kamu tahu ini berkas yang akan aku gunakan untuk rapat jam sembilan nanti? ini sangat penting dan seharusnya kamu tidak menyentuhnya!" Ujar Fredian menatap marah ke arah Irna.


"Akhirnya kamu juga menyalahkanku! awalnya aku mau memujimu! aku tarik kembali hayalanku yang terlalu tinggi! aku benci sekali ketika dia masih kecil, dia merebut permenku hanya karena dia mengira itu miliknya! dia juga memakan bekalku hanya karena bekalku lebih enak daripada miliknya!" Jeritnya kencang dalam hatinya.


"Walaupun dia sangat menyayangiku dan berjanji untuk menikahiku! Dia selalu saja marah dengan hal kecil, aku pikir dia sudah berubah!" Ungkap dalam hati gadis itu.


"Suruh saja pelayanmu memilahnya, mereka kan banyak sekali, lagian mereka juga cuma berdiri seperti patung seharian! untuk apa menggaji orang mematung begitu!?" Cerocosnya seraya pergi ke kamar mandi.


"Dasar wanita egois!" Gerutu Fredian setelah Irna menghilang ke dalam kamar mandi.


"Ah semua pria seperti itu, entah aku akan menikah seratus kali pun, pasti akan ada sisi menyebalkan yang tidak terlihat! awalnya selalu manis bahkan sekilo madu kalah manisnya... aku hampir tidak percaya jika dia berteriak padaku hanya karena salah memasukkan berkasnya!!! ahhh menyebalkan sekali!!!!" Gerutu Irna sambil menyalakan shower mengaduk sampo mengusapkan ke rambutnya dengan kasar.


Di dengarnya suara mobil Fredian sudah pergi meninggalkan rumahnya.


Irna segera memakai baju bersiap pergi ke kantor.


Irna pergi ke luar rumah, dilihatnya ban mobilnya kempes.


"Ini aneh sekali? kemarin baik-baik saja, kenapa pagi-pagi begini tiba-tiba kempes!? Ulah jahil siapa ini??? Frediaaaaaaannn!!! Dasar pria gilaaaaaaa!" Teriaknya dengan sangat kencang.


Irna mengingat teman masa kecilnya selalu memasukkan sesuatu yang menakutkan ke dalam tasnya hingga membuatnya tiba-tiba menjerit histeris membuang tasnya jauh-jauh dan pingsan.


Juga mengingat ketika temannya itu mengambil jepit rambutnya, mengikat tali dua sepatunya menjadi satu hingga akhirnya wajah imutnya terjembab ke lantai.


"Awas kamu! huh! dasar ke kanak-kanakan" Irna geram sekali jika kembali mengingatnya.


"Ah! aku sudah memaafkan pria itu! tapi aku tidak tahu jika aku terkena sial berlipat ganda begini dari pada bertemu hantu!" Menggertakan giginya menahan marah.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2