Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Bukan Sekenario


__ADS_3

Irna masih menahan nyeri di punggungnya, dia segera mengendarai mobilnya. Dia berfikir akan kembali ke rumah tapi darah dan luka di punggungnya akan membuat mahluk-mahluk itu menerjangnya.


"Jika aku ke Reshort, itu terlalu jauh dari sini. Satu-satunya yang dekat dari sini adalah Cabang NGM!" Irna melajukan mobilnya menuju proyek cabang NGM.


Setelah sampai gadis itu melangkah tertatih-tatih sambil meringis menahan nyeri di punggung.


Beberapa pekerja terkejut melihat Irna. Dan membantunya berjalan menuju kantornya yang terletak di dalam proyek.


"Kenapa dia?" Tanya Rian pada para pekerja yang memapah Irna.


"Ah aku tidak apa-apa ini hanya luka kecil." Ujarnya mencoba menenangkan Rian.


"Ambilkan aku kotak obat," Pinta Irna sambil mencoba tersenyum. Bibirnya terlihat sangat pucat.


"Biarkan aku yang melakukannya!" Ujar Rian menatap wajah Irna dengan serius.


Irna berbaring di sofa menelungkupkan wajahnya. Rian membuka baju Irna di bagian punggung, mengangkat ke atas.


"Benturan? melihat bekas luka ini seperti benturan meja kaca! Lukanya sengaja diperdalam dengan jari kuku! melihat ukuran kukunya itu seperti jari..." Bisik Rian dalam hatinya, Rian melirik tangan Irna, benar ada bekas darah di sana.


"Apa gadis ini dengan sengaja mengorek lukanya sendiri sampai sedalam ini?!" Bisiknya lagi.


"Kenapa kamu bisa mendapatkan luka seperti ini? aku yakin ini bukan kecelakaan!" Tanya Rian sambil membersihkan luka di punggungnya.


Rian berfikir keras,


"Apakah dia tidak bersama Fredian? jika dia bersama dengannya dia tidak akan pernah mendapatkan luka seperti ini! pria itu bahkan tidak rela melihat Irna menggunting kuku jarinya! lalu apa yang sebenarnya terjadi?"


"Besok kamu akan tahu, seseorang akan mengatakan dan menjelaskan segalanya padamu, tanpa menunggu kamu bertanya padanya. Ha ha ha!" Ujar Irna sambil tertawa keras.


"Kamu tertawa sekarang? lukamu ini tidak kecil! dan kamu bisa tertawa sekencang itu!?" Tanya Rian dengan wajahnya yang bingung.


"Kamu sudah tidak marah padaku?" Tanya Irna padanya.


"Memangnya siapa yang marah padamu?" Tanyanya balik.


"Semalam kamu pergi tanpa berpamitan denganku, dan kamu menepis tanganku ketika aku ingin membantumu." Jelas Irna padanya.


"Apakah aku harus menempel padamu terus menerus? aku bukan suamimu lagi jadi sebaiknya kita menjaga jarak sekarang, jika cinta di dalam hatiku bersemi dengan subur kembali bukankah kamu yang akan sibuk menyingkirkan diriku lagi???!" Ujarnya melihat wajah lekat-lekat Irna.


"Ha ha ha! aku terlalu banyak berfikir ternyata." Timpalnya merasa malu telah salah faham terhadap Rian.


"Apa jangan-jangan kamu masih berharap aku tidak menjauh darimu? kamu ingin aku dan Fredian tetap berada di sisimu??!" Tanya Rian menunggu jawaban gadis itu.


"Mana ada?! tidak mungkin aku memanfaatkan kalian! apa aku wanita sekejam itu?!" Tanya Irna sedikit cemberut.


"Yah.. kamu memang tidak kejam, tapi kamu terlalu baik dan membuat orang di sekitarmu bahagia. Tanpa sadar mereka telah masuk ke dalam sebuah lubang dan terperosok ke dalam."


"Hingga tidak bisa mengendalikan hatinya. Mereka berada dalam genggamanmu! mereka tidak bisa keluar dari lubang jebakan yang ada pada dirimu. Mereka terlena dan ingin tetap berada di sana."


"Dan Irna Damayanti tidak sadar jika dirinya sendiri yang membawa mereka masuk, juga tidak bisa menghalau mereka untuk pergi!"


"Apakah aku salah menerka?!" Tanya Rian menatap dalam-dalam mata Irna menggali jawaban.


"Apakah benar seperti itu?! aku hanya merasa bahagia melihat orang di sekitarku bahagia. Dan terkadang aku tidak berfikir untuk diriku sendiri." Jawaban itu yang terlontar dari bibir Irna.


"Ya, itu karena kamu terlalu baik. Karakter dirimu begitu unik, dan menarik. Aku sendiri yang melihatnya pertama kali juga jatuh dalam perangkapmu." Ujar Rian sambil menutup luka di punggung Irna dengan plester.


Irna tidak menjawab, matanya terpejam.

__ADS_1


"Apakah dia tertidur?" Bisik Rian mendengar suara nafas Irna teratur.


Rian menyelimuti tubuh Irna dengan jasnya.


"Haruskah aku menghubungi Fredian? aku merasa tidak enak dengannya." Bisik Rian masih duduk di tepi sofa tempat Irna berbaring, seraya meraih ponsel di atas meja.


Irna membuka matanya memegang tangan Rian. Menghentikannya.


"Jangan membuatnya hawatir. Aku tidak apa-apa, jika dia percaya padaku aku akan tetap berada di sisinya. Dia sekarang sedang memberikan waktu untukku. Dan aku ingin tahu seberapa besar dia mempercayaiku. Hem?" Kata-kata Irna membuat wajah Rian berubah mendadak.


"Jadi itulah alasannya, aku mencari jawaban tapi tidak menemukannya. Sekarang aku tahu apa yang membuatmu pergi dariku adalah karena keraguanku dan rasa marah yang tidak bisa aku kendalikan."


"Aku terus marah padamu tanpa memberikan kesempatan padamu. Dan jika aku tidak menceraikanmu waktu itu, pasti aku masih berada di sekitarmu saat ini." Ujar Rian lagi.


"Kenapa wajahmu terlihat begitu kecewa? ha ha ha itu lucu sekali, apa kamu sedang merengek ingin kembali padaku?!" Irna terkekeh melihat wajah Rian.


"Memangnya bisa?! dasar wanita kejam!" Gerutu Rian sambil meneguk kopi di atas meja.


"He he he! bolehkah aku cuti hari ini? punggungku masih sakit." Ujarnya pada Rian.


"Ya, pulanglah dan beristirahat."


"Terima kasih, aku akan membawa ini untuk menutupi punggungku." Irna tersenyum menunjuk jas Rian yang menyelimuti punggungnya.


"Ya bawalah, mungkin itu akan jadi bajuku satu-satunya yang akan menemanimu di rumah setelah aku membawa semuanya kemarin." Melirik ke arah Irna.


Irna juga menatapnya, kemudian mengerjapkan matanya berkali-kali. Melambaikan tangannya tersenyum pergi keluar ruangan.


"Wajahnya pucat begitu, masih bisa tersenyum semanis itu membuat semua yang melihatnya terpikat! dasar sial! apa yang aku pikirkan sebenarnya!" Rian mendengus kesal.


"Triiing!" Ponsel Rian berdering di atas meja.


"Kenapa kamu meneleponku?" Tanya Rian padanya.


"Irna gadis itu! dia adalah iblis! dia wanita siluman! aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, dia bersama mahluk-mahluk itu ingin membunuhku! kamu harus menyelamatkanku!" Ujar Reyfarno dengan suara bergetar ketakutan.


"Oh jadi kamu yang telah membuat luka di punggungnya! Dasar pria bodoh!" Rian memutuskan panggilan dengan kesal.


"Halo! halo! Rian!?" Teriak Reyfarno dengan putus asa.


"Jadi yang membuat masalah pagi ini adalah Reyfarno. Pantas saja Irna tertawa sekencang itu. Dia bahkan dikatai iblis oleh kakakku. Ha ha ha! itu salahnya sendiri terus merundung Irna tanpa tahu apapun."


"Jika sampai punggung Irna terluka! apakah dia berbuat sesuatu dan sampai melukainya seperti itu?!"


"Dia pasti telah memaksa gadis itu untuk melayaninya! namun niatnya tidak terwujud karena mahluk yang selalu mengikuti Irna tiba-tiba datang menyerbu!" Rian menerka luka di punggung Irna.


"Halo Rin? ada apa?" Tanya Irna ketika Rini kembali meneleponya. Gadis itu turun dari mobilnya masih menggunakan jas Rian untuk menutupi punggung karena darah di bajunya.


Pandangan matanya menatap pria yang berdiri bersandar di depan mobilnya.


"Iya, letakkan saja di atas meja kerjaku." Irna menutup telepon, tersenyum melangkah ke arah Fredian.


Fredian melotot melihat jas di punggung Irna. Namun melihat bibir pucat Irna dia tidak jadi marah.


"Kenapa bibirmu terlihat pucat?" Fredian melihat wajah Irna tersenyum tapi lebih mirip seperti menahan nyeri.


"Ayo masuk." Irna membuka pintu rumahnya.


Fredian mengikuti dari belakang. Irna melepaskan jas yang menutupi punggungnya kemudian menggantungnya di dalam kamar.

__ADS_1


Gadis itu mengambil baju dari dalam lemari, berniat mengganti bajunya.


Fredian yang berdiri di belakang tubuhya melihat darah kering melekat di pungung baju Irna.


Irna melepas kancing bajunya satu persatu. Menjatuhkan ke lantai. Dia tidak tahu jika Fredian berdiri di pintu kamarnya.


Fredian melihat plester di punggung Irna, dan jas yang dipakai Irna, dari parfumnya itu adalah milik Rian.


"Rian yang mengobati lukanya, tapi siapa yang melukai gadisku? jika aku bertanya apakah dia akan menjelaskan semuanya?! tidak! dia akan memilih bungkam dan tidak ingin mengatakan apapun."


"Kenapa punggungmu?" Tanya Fredian melangkah masuk ke dalam kamar.


"Ah aku tadi tidak sengaja terjatuh dan melukai punggungku." Ujarnya sambil tersenyum setelah mengganti pakaiannya.


Irna berjalan ke dapur mengambil sebotol air mineral menaruh di atas meja. Gadis itu meletakkan baju yang terkena darahnya di atas mesin cuci.


"Apa kamu senggang hari ini?" Bertanya kepada Fredian karena tiba-tiba berada di rumahnya sore itu.


Padahal setiap hari selalu ada berkas yang perlu ditandatangani.


"Aku meneleponmu kemarin, tapi kamu tidak meneleponku setelah itu. Apa kamu tidak merindukanku sama sekali?" Bisiknya di telinga Irna.


"Kamu sangat sibuk, aku hanya tidak ingin mengganggu." Tersenyum mengecup pipi Fredian.


"Aku senang jika kamu meneleponku, aku selalu berharap setiap hari kamu akan meneleponku sambil merengek ingin bertemu denganku.." Memeluk tubuh Irna sambil membelai rambutnya.


"Jika kamu mendapati gadis yang terlalu manja, itu bukan Irna Damayanti." Ujar Irna tersenyum.


"Ya, itu mustahil seorang Irna merengek kepadaku, aku harus lebih mempertajam instingku untuk mengetahui perasaanmu."


"Pagi ini Ruina datang ke Reshort." Ujar Fredian pada Irna.


"Lalu?" Tanya Irna sambil menarik kursi dan duduk.


"Dia memesan seluruh Resort untuk mengadakan pesta." Jelas Fredian.


"Kenapa kamu menceritakan padaku?" Tanya Irna tidak mengerti sambil meneguk air minum.


"Apakah kamu tidak curiga dia akan melakukan sesuatu padaku?" Fredian menggeser kursinya duduk lebih dekat dengan Irna.


"Jadi kamu ingin aku bagaimana?" Tanya Irna lagi masih meneguk air.


"Aku ingin kamu berada di sisiku sebelum hari itu!" Ujarnya mengejutkan Irna.


"Uhk! uhk!" Irna tersedak mendengar Fredian melamarnya.


"Kamu harus menjadi istriku sebelum pesta itu!" Ujar Fredian menatap serius.


"Kapan rencanamu mengadakan pesta pernikahan kita?" Tanya Irna pada Fredian tanpa memberikan jawaban bahwa dia bersedia menikah dengannya.


"Besok!" Jawabnya cepat.


"Ya, siapkan saja semuanya aku akan berdiri di sebelahmu besok." Ujar Irna santai.


"Aku serius, ini pernikahan kita, bukan skenario!" Sahut Fredian gemas melihat wajah Irna di sebelahnya tanpa ekspresi apapun.


"Memangnya siapa yang membuat pernikahan seperti permainan anak kecil dengan cara licik mencuri cap jari??!" Irna tersenyum mengejek mengingatkan awal mereka berdua menikah.


Fredian menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya melihat Irna mendelik marah padanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2