
Royd tersenyum melihat wajah Kania yang sangat ketakutan, wajah gadis itu terlihat sangat pucat menatap ke arahnya. Royd berdiri dari kursinya, lalu mendekat ke arah Kania.
"Kamu mau apa?" Tanya Kania seraya memegangi handuknya rapat-rapat. Karena hanya kain itulah yang membalut tubuhnya saat ini. Kania yang menelan ludahnya beberapa kali ketika Royd sudah berdiri tepat di depannya.
"Menurutmu? Aku mau apa? Tentu saja aku ingin nagih janjimu padaku pagi tadi." Menyeringai lebar seraya mengurung tokoh Kania dengan kedua lengannya di dinding.
Jemari tangannya mulai merayapi paha mulusnya, membuat Kania memejamkan matanya rapat-rapat. "Jangan Royd.." Tahannya, ketika jemari tangan pria itu sudah menelusup masuk ke dalam handuknya.
"Kenapa? apakah kamu tidak menyukainya?" Bisiknya di telinga gadis itu, nafasnya sudah terdengar tidak beraturan.
"Kenapa harus selalu seperti ini?" Bisik Kania dengan suara parau, yang sudah mendongakan kepalanya karena bibir Royd tengah sibuk menyapu seluruh leher jenjangnya.
Tangan Kania sudah berada di belakang punggung atletisnya, meremas-remas menahan gejolak asmara yang sudah mendidih. "Royd..." Rintihnya ketika jemari pria itu berhasil lolos menuju pangkal pahanya. Mengelus lembut area sensitif miliknya.
Kania hampir jatuh ke depan menimpa tubuh pria itu. Karena kedua kakinya hampir lemas. Royd tahu ketika Kania terhuyung-huyung, merasakan permainan jarinya pada organ sensitifnya yang sudah mulai basah.
Royd mendorongnya perlahan duduk di sofa membuatnya setengah bersandar. Lalu kembali mencumbui lehernya. Jemari tangan kanannya masih sibuk mengaduk-aduk area sensitifnya. Membuat gadis itu terus-menerus melonjak, mengangkat tubuhnya seraya menggigit bibir bawahnya.
Di sentakan keras handuk yang menutupi tubuhnya, dilemparkan ke atas lantai. Membuatnya lebih leluasa melancarkan aksinya.
"Akkkhhh..." Pekik gadis itu ketika Royd semakin cepat menghujamkan jemarinya, mempercepat permainan. Dia melihat Kania sudah pasrah, bahkan saat Royd membuka kedua pahanya untuk menerima tekanan senjata miliknya.
"Kania.. akkkh..." Bisiknya di telinga gadis itu.
"Royd cepat akhiri ini.. aku.. akkhhh..." Kania meraih klimaks dengan meremas tengkuk pria yang tengah sibuk di atas tubuhnya itu.
"Kita pacaran mulai hari ini." Ujarnya lagi pada Kania. Gadis itu diam saja dia tidak ingin menjawabnya sekarang.
"Apa kamu masih marah padaku?" Tanya Royd padanya. Kania menutupi tubuhnya kembali dengan handuknya. Tapi tangan Royd masih tetap berada di balik handuk miliknya. Pria itu benar-benar tidak mau menyingkirkan tangannya dari pangkal paha mulusnya.
"Akh! akh! ahhh, Royd!" Pekikan Kania kembali terdengar, karena Royd mencubit daging kecil di belahan sensitifnya.
__ADS_1
"Ayo jawab... atau kamu ingin aku menghukummu" Bisik Royd lagi padanya.
"Aaaaahhh... hah..." Kania megap-megap, karena Royd terus mencubitnya, dan menariknya. Tangan gadis itu terus memukul-mukul bahunya.
"Ayo jawab Kania.." Bisiknya lagi kembali memijit-mijit.
"Iya..aku tidak marah lagi, akkkhh... Royyd.. hah.. hah.." Tanpa menunggu lagi pria itu memagut bibirnya, untuk menyumbat teriakannya.
"Mmmmhhh...mmmhh." Kania tidak bisa berteriak lagi, walaupun pria itu terus mencubit dan menarik-narik daging kecil di belahan sensitifnya.
Dan permainan kedua berlangsung kembali, selama dua jam.
Di sisi lain...
Irna berada di rumah sakit, sedang sibuk memeriksa pasiennya. Ada sekitar dua ratus pasien yang berhasil ditangani oleh hari itu. bersama rekan satu timnya di ruangan ICU.
Sekitar pukul lima sore pergantian shift malam telah dimulai. Irna duduk di kursi di depan ruangan ICU, kemudian datang seorang menyerahkan sebotol minuman ringan untuknya, orang tersebut adalah salah satu wali pasien yang ditangani olehnya.
Irna tersenyum kemudian mulai meneguk minuman ringan tersebut untuk membasahi kerongkongannya yang telah kering beberapa jam yang lalu.
Gadis itu menyerahkan laporan di dalam pangkuan di atas bantuannya kepada salah satu staf karyawannya. "Tolong berikan ini kepada presdir Rian di dalam ruangannya." Pintanya pada salah seorang dokter yang kebetulan menuju ke sana.
Dokter tersebut menerimanya, kemudian membawa berkas tersebut menuju ke ruangan presdir dimana Rian berada. "Kenapa dokter Kayla tidak menyerahkan berkas nya sendiri? biasanya saja mereka selalu bersama-sama ke mana-mana." Bisik dokter tersebut dengan suara perlahan pada dirinya sendiri.
Irna merasa tugasnya hari itu telah selesai. Lalu dia kembali menuju ke dalam ruangannya. Irna meraih tas kecilnya yang ada di sana.
Gadis itu kemudian keluar dari dalam ruangannya menuju ke parkiran mobilnya. Dia ingin secepatnya pulang ke rumah.
Di dalam ruangannya, Rian melihat berkas titipan dari Irna. Pria itu tersenyum melihat Irna bekerja dengan sangat keras hari itu.
Irna sudah berada di dalam mobilnya, gadis itu menyalakan mesin mobil kemudian melajukan kendaraannya menuju ke Resort Ferdian.
__ADS_1
Ketika dia tiba di sana, dia melihat Karin berada di lobby hotel berbicara dengan beberapa orang di sana. Karin terlihat sangat sibuk seperti sedang menjelaskan sesuatu mengenai pekerjaan kepada kliennya.
Irna melangkah masuk dalam hotel, Gadis itu mengabaikan keberadaan Karin. Dia melenggang santai menuju ruangan Fredian.
Karin melihat Irna melaluinya begitu saja, tapi Gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa karena sedang berada di tengah-tengah kliennya. Tentu saja dia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri di hadapan orang banyak.
Irna telah sampai di depan ruangan kerja Fredian. Gadis itu membuka pintu kemudian masuk ke dalam ruangan. Dia tidak mendapati Fredian di dalam ruangannya tapi dia mendapati Nira sedang sibuk mencermati berkas di atas meja kerjanya.
"Kemana kakekmu pergi?" Tanya Irna padanya.
"Dia tadi pamit meeting dengan beberapa klien, dia memintaku untuk menandatangani berkasnya karena tidak ada yang menggantikan pekerjaannya. Oma sendiri kenapa baru pulang sekarang?" Tanya gadis itu kembali pada Irna.
"Begitu banyak pasien hari ini, kami para dokter sangat sibuk hari ini. Ada sekitar dua ratus pasien yang masuk bersamaan dalam rumah sakit." Jelasnya pada Nira cucunnya.
Irna kemudian melangkah menuju ruang ganti gadis itu mengambil beberapa pakaian lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terasa sangat penat hari itu.
Nira sudah menyelesaikan pekerjaannya satu jam kemudian. Gadis itu kemudian keluar didalam ruangan kerja Fredian, dia membawa berkasnya kepada Maya untuk dilihat sekali lagi secara detail.
Fredian sudah menyelesaikan meetingnya, pria itu mencari Nira untuk menanyakan perihal berkas yang diberikan padanya tadi siang. Apakah dia sudah menyelesaikan pekerjaannya.
Akan tetapi saat masuk ke lobby hotel langkahnya dihentikan oleh Karin, Gadis itu sengaja menarik lengannya untuk mencari perhatian Fredian.
Dan kebetulan saat itu Karin sedang berada di tengah-tengah klien dia sengaja ingin menunjukkan hubungannya dengan Fredian pada mereka.
Fredian sudah mengetahui akal bulusnya, pria itu menyingkirkan tangan Karin dari lengannya dan membuatnya malu di depan para klien tersebut.
Karin terlihat sangat marah, dia ingin membalas perlakuan Fredian padanya. Gadis itu kembali mencari cara untuk membuat Irna salah paham pada Fredian.
*Bersambung....
Jangan pelit kasih like*, thank you for reading... kemungkinan akhir bulan Juni aku berhenti ending season ini.. season 2 akan dibuat, mengenai detilnya langsung chat Author dan silahkan masuk ke dalam grub chat saya.. untuk mendapatkan pemberitahuan lebih lanjut.. Kemana
__ADS_1
akan saya tulis di mana novel seri "misteri gadis pemikat season 2" ini... jadi jangan kaget jika Author tiba2 gak update... karena akan saya kasih pengumuman melalui grub chat saya... terima kasih..