
"Kamu sudah siap?" Tanya Fredian pagi itu, bibirnya tidak pernah luput dari senyuman manis.
"Hem" Irna mengangguk, keduanya masuk ke dalam mobil masing-masing. Mereka berangkat menuju kantor masing-masing.
"Apa ada hal penting hari ini Rin?" Tanya Irna menyambut Rini dengan senyuman cerah.
"Ah tidak ada Bu, semuanya sudah beres!" Ujar Rini pada Irna ikut tersenyum.
Sejak Irna menikah dengan Fredian segala hal yang menjadi kendala di perusahaan menjadi selalu mudah diatasi.
"Triiiing! ah, iya, pagi ini? oke aku akan ke sana" Ujar Irna menjawab telepon dari Rian, dia ingin membicarakan sesuatu di cabang NGM.
Gadis itu segera menuju ke arah mobilnya.
Irna mengemudikan mobilnya ke cabang NGM. Pagi itu Rian pergi ke laboratorium kantornya, dia melihat pecahan kaca.
Dia juga melihat bekas-bekas darah kering di lantai. Darah itu tak lain adalah darah Irna. Dia bahkan melakukan tes DNA, dan benar itu adalah Irna.
Tapi ada darah lainnya di sana, dan Rian menebak itu adalah darah kakaknya Reyfarno.
Namun ketika memeriksanya dia terkejut, karena darah di dalam tubuh Reyfarno terdapat perubahan pada sel sel darahnya.
Tak lama Irna sudah sampai, dia melambaikan tangannya pada pekerja yang ada di sana. Gadis itu berjalan menuju ke kantor Rian.
"Ah, apa yang membuatmu tiba-tiba memanggilku kemari? apa ada masalah dengan proyeknya?" Tanya Irna sambil menghenyakkan tubuhnya di sofa.
"Ini mengenai Reyfarno, apa yang sebenarnya terjadi? aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaanmu."
"Tapi ini mengenai darahnya, sel sel darah di dalam tubuhnya seperti tercampur dengan darahmu secara tidak langsung. Dan itu membentuk sel darah baru yang berbeda." Ujar Rian menunggu penjelasan dari Irna.
"Pagi itu dia meneleponku, memintaku untuk datang melalui sekretarismu. Aku tidak berfikir pria yang menggunakan masker itu tidak lain adalah dirinya."
"Dan kamu bisa menebak sendiri apa yang dia lakukan ketika dia berada di dekatku." Akhir kata itu membuat gadis itu menundukkan kepalanya.
"Aku dalam keadaan sangat lemah pagi itu, aku bisa menghindarinya namun akhirnya tubuhku terbentur meja kaca di dalam kantormu."
"Aku merasa diriku akan berakhir namun aku ingat jika darahku adalah darah yang berbeda... aku sengaja mengoleskan darahku pada wajah kakakmu demi melarikan diri darinya."
"Mahluk itu mengerubunginya dan melukainya, darahnya dan darahku tercampur pada saat itu, aku tidak tahu apakah itu akan berefek negatif atau positif untuknya.."
"Karena yang aku pikirkan hanyalah bagaimana caranya aku bisa lepas dari dirinya" Irna menatap wajah Rian menunggu reaksi darinya.
Rian hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari Irna.
"Apakah informasi dariku bisa membantumu atau tidak aku tidak tahu, tapi hanya ini yang bisa aku jelaskan padamu." Ujar Irna lagi.
"Ya nanti aku akan meninjau sel darahnya kembali apakah itu berbahaya atau tidak." Jelas Rian pada Irna.
"Ah aku lupa sore ini aku harus ke Reshort, apakah ada masalah di dalam proses pembangunan hari ini?" Tanya Irna pada Rian.
"Tidak ada, semuanya berjalan dengan baik-baik saja." Rian tersenyum ke arahnya.
"Kalau begitu aku akan berkeliling sebentar melihat perkembangannya di sini." Irna membalas tersenyum, gadis itu mengambil helm kecil yang tergantung di sana.
Rian ikut berjalan di sebelahnya.
"Sudah banyak gedung yang jadi, benar-benar bagus! Mungkin seminggu lagi semuanya sudah selesai." Ujar Rian.
Irna masih melayangkan pandangannya ke para pekerja yang sedang sibuk di sana.
"Selamat atas pernikahan kalian.." Ujar Rian mengucapkan selamat pada Irna.
"Terima kasih. Bisakah kamu jadi temanku?" Irna tersenyum pada pria di sebelahnya.
"Tentu, aku akan selalu menjagamu Irna.. aku akan tetap menjagamu tanpa perlu menyentuhmu.. begitulah perasaanku yang tak bisa kubendung sekarang."
__ADS_1
"Tapi melihat binar-binar cahaya bahagia di matamu, aku berharap kamu akan terus bahagia.. seperti sekarang!"
Rian terdiam, kata-kata barusan hanya ada di dalam pikirannya. Tanpa berani dia ungkapkan pada gadis di depannya.
"Hey!? kamu melamun?" Irna mengayunkan kepalanya melihat wajah di depannya yang tertegun diam sejak tadi.
"Ah, tidak. Iya aku akan tetap jadi temanmu."
"Kenapa kamu menanyakan hal yang mustahil begitu? seharusnya kamu tahu perasaanku bagaimana tapi kamu tiba-tiba mengajakku berteman. Apakah cinta bisa berubah menjadi teman??" Tanya Rian mendadak.
"Jika tidak bisa, mari kita menjadi musuh saja.." Irna melemparkan senyum kemudian kembali berjalan.
"Dia mengajakku bercanda?" Ujar Rian seraya mengusap kepalanya. Kemudian mengikutinya dari belakang.
"Apakah begitu sulit membuka hati untuk orang lain?" Tanya Irna memecah keheningan di antara mereka.
"Kenapa lebih memilih mempertahankan luka yang belum tentu mendapatkan obatnya?" Tambah Irna.
Irna melihat ke arah mata Rian dalam-dalam. Irna melihat luka di hati pria di depannya itu, luka yang sengaja di goreskan oleh pisau dalam genggamannya sendiri, terus dihujamkan ke jantungnya sendiri berulang kali.
Tanpa sadar air mata Rian mengalir membasahi kedua pipinya. Di depan Irna dia menangis.
"Aku tidak menyesal dengan segala hal yang pernah terjadi, aku hanya terus melaluinya dan terus berjalan. Dan aku tahu itu adalah jalan yang harus aku lalui."
"Aku akan terus berjalan walaupun aku tahu aku akan terluka, tapi cinta itu begitu unik."
"Bahkan aku merasa hangat hanya dengan melihat senyum cerah di wajahmu.." Ujar Rian tersenyum di sela air matanya.
Irna tersenyum tipis berjalan mendekat ke arah Rian menepuk punggung pria itu. Mencoba menenangkannya.
Isaknya makin menjadi, dan dia memeluk tubuh Irna menangis di atas bahu gadis itu.
"Aku tidak akan merebutmu darinya, namun biarkan aku tetap seperti ini... cintaku tidak bisa ditukar dengan gadis lain. Biarkan aku merasakan cintaku sendiri, biarkan aku seperti ini..." Jelas Rian sambil memegang kedua bahu Irna.
"Kamu bahkan cemburu ketika dia merawatku?!" Rian kembali tersenyum mendengar kelakar Irna.
Dalam beberapa menit wajah Rian sudah tidak bersedih.
"Aku harus pulang, dia menungguku" Irna menunjukkan layar ponselnya kepada Rian. Fredian sudah menghubunginya.
Rian mengangguk membukakan pintu mobil untuknya, pria itu tersenyum serta melambaikan tangannya setelah Irna masuk ke dalam mobilnya.
Irna segera mengangkat ponselnya, menerima panggilan dari Fredian.
"Ada apa suamiku?" Sapa Irna.
"Ini bukan suamimu! tapi aku!" Ujar seorang gadis dari seberang dengan nada sinis.
"Oh, Ruina? apa yang membuatmu terburu-buru menghubungiku?!" Tanya Irna dengan sangat santai.
"Ah aku tahu, pasti suamiku sibuk mencari ponselnya sekarang makanya kamu terdengar sangat terburu-buru! hahahaha!"
"Atau jangan-jangan kamu kehabisan pulsa lalu mencuri ponsel suamiku?? ah aku sangat sibuk sekarang. Maaf aku harus mengakhiri panggilan telepon darimu!"
"Kau dasar wanita gila!! kamu bahkan tidak peduli apa yang aku lakukan dengan suamimu???" Sergah Ruina dengan tidak sabar.
"Untuk apa harus marah? suamiku itu sangat tampan luar biasa! ini bukan pertama kalinya dia digoda oleh wanita."
"Tapi suamiku itu sangat pandai dia bisa membedakan barang bagus dan barang obralan jadi dia tidak mungkin salah pilih!" Ujar Irna menahan tawa.
Di ruangan lain Fredian tertawa terpingkal-pingkal mendengar suara Irna melalui laptopnya.
Hari itu Fredian sengaja meninggalkan ponselnya di ruang kerja, kemudian pura-pura keluar menemui klien di lobi. Meninggalkan Ruina sendirian di ruang kerjanya.
Dia menaruh penyadap di ponselnya seperti perintah Irna kemarin. Untuk menghindari masalah jika sesuatu terjadi.
__ADS_1
Fredian pura-pura masuk ke dalam ruangan kerjanya. Dia melihat Ruina membelakangi dirinya. Dengan tiba-tiba Fredian merebut ponsel itu darinya.
Ruina terkejut, lalu buru-buru mengambil tasnya dan pergi keluar ruangan.
Fredian segera menjawab telepon istrinya.
"Kamu yakin suamimu ini bisa menahan itu, setelah seharian berpisah??" Pertanyaan Fredian mengejutkan Irna.
"Kamu!!! bagaimana kamu tiba-tiba bersamanya? kamu benar-benar bersamanya???!" Teriaknya melengking pada Fredian, membuat pria itu mengorek lubang telinganya dengan jari kelingking.
Fredian menahan tawa mendengar Irna marah-marah padanya.
"Habis, mau bagaimana lagi bantal tidak ada guling pun jadi!" Ujar Fredian memegang perutnya menahan tawa.
Dia tidak tahu jika Irna sudah sampai di Reshort dan melihat Ruina marah-marah keluar dari Reshort.
Irna kini sedang berdiri di luar kantornya melihat suaminya itu menahan tawa sambil memegang perutnya.
"Jadi ini gulingnyaaaa!!! Bak! bak! bak!" Irna berteriak sambil memukulkan tasnya menimpuk kepala Fredian.
"Akh! aduh sakit kepalaku bisa pecah nanti!" Fredian kembali menggoda Irna.
"Awas kamu!" Irna memelintir pinggang Fredian membuatnya memekik dan berlari menghindari kemarahan istrinya.
Dia sengaja berlari masuk ke dalam kamar mandi. Irna tanpa sadar mengejarnya masuk ke sana.
Ketika Irna masuk, Fredian segera menutup pintunya.
Pria itu menyibakkan rambut di keningnya ke belakang. Melepaskan kancing kemejanya satu-persatu membuangnya ke lantai.
Spontan Irna membalikkan badannya, membelakangi Fredian.
Fredian menyibakkan rambut di punggung Irna, mencium lembut tengkuk gadis itu.
Entah sejak kapan seluruh pakaiannya sudah bercecer di lantai.
"Kenapa kamu selalu terburu-buru!" Sergah Irna kembali menatap Fredian.
"Seharian kamu pergi, dan aku harus menghukummu!" Ujarnya sambil mengecup telinga Irna.
"Aku sudah bilang tidak boleh lebih dari dua puluh empat jam..." Menempelkan ujung hidungnya di leher Irna.
"Tapi jika berkali-kali aku besok harus duduk di kursi roda!" Irna berteriak menahan nyeri.
Fredian membalik tubuh Irna mencium punggungnya.
Fredian menjatuhkan tubuhnya menimpa Irna di dalam bath up.
"Akhirnya kamu menyelesaikannya.. huft!" Irna merangkak keluar dari dalam air. Memegangi pahanya.
Melihat Irna merangkak pergi, Fredian segera berdiri mengangkat tubuh Irna ke atas tempat tidur.
"Apa kamu tidak lelah sama sekali????" Irna menggigit kuku jempolnya mencoba mencari kelemahan Fredian.
Fredian tidak menjawabnya tapi hanya tersenyum menatap wajah Irna yang sudah tidak bisa memukulnya lagi.
Pada akhirnya tubuhnya kembali berada dalam himpitan Fredian.
"Kamu terlalu, terlalu kuat." Gadis itu sudah diam saja dan menyerah.
"Ini sudah empat kali, biarkan aku tidur sebentar!" Irna mengecup bibir suaminya.
Fredian tersenyum merengkuhnya, membelai rambutnya.
bersambung....
__ADS_1