
"Wilson? ngapain pria mesum ini kemari?!" Gerutu Irna dalam hatinya.
Rian terkejut melihat Wilson yang dia kira adalah Fredian. Wajah sama tanpa celah sama sekali, mungkin ada tanda di tubuhnya jika dia membuka bajunya untuk membedakan antara keduanya.
"Fred? ada apa kamu mencariku kemari?" Tersenyum sambil menggamit lengannya keluar dari ruangan tempat Rian dirawat.
Irna yakin cepat atau lambat Rian bakal mengetahui yang sebenarnya. Hanya saja gadis itu masih belum ingin menjelaskan segalanya sekarang. Karena melihat kondisi pria itu sedang tidak baik.
"Ah Rian, kami pulang dulu besok aku akan kemari lagi!" Rian hanya tersenyum melihat wajah Irna penuh kepura-puraan itu.
Bagaimana mungkin dia tidak tahu, sudah sangat lama mereka hidup bersama-sama. Rian tahu Irna sedang menyembunyikan sesuatu.
"Berhentilah menarik lenganku!" Wilson menarik lengannya dari genggaman tangan Irna.
Irna menoleh sekilas ke arahnya lalu melanjutkan langkahnya menuju ke lobby NGM.
"Siapa pria tadi? selingkuhanmu?" Pertanyaan konyol yang sama sekali tidak ingin dia dengar, dan tidak dia harapkan menyapa lubang telinga.
Irna mengacuhkannya dan bergegas menuju mobilnya. Saat melihat Irna naik di posisi belakang kemudi Wilson merebut kunci mobilnya dan mendorong tubuh Irna ke samping.
"Kenapa kamu tidak pergi sendiri? harus ya ikut naik mobilku?!" Geramnya tidak senang.
"Aku hanya akan mengantarkan dirimu kembali ke rumah sakit." Ujarnya santai.
Irna kembali menatap ke arah jalan raya, dia enggan membuka percakapan dengan pria di sebelahnya itu.
"Kamu belum menjawab pertanyaan dariku tadi." Sergahnya sambil melirik dari kaca spionnya ke arah Irna.
"Untuk apa aku menjawab sesuatu yang tidak ada urusannya denganmu?" Jawabnya malas-malasan bersandar di sandaran kursi mobil sambil memejamkan matanya.
"Aku merasa seolah-olah bukan manusia di hadapanmu!" Keluhnya kesal.
"Kamu memang bukan manusia, apa kamu lupa kalau kamu adalah vampir!! dasar konyol sekali!" Umpat Irna lagi semakin malas.
"Bruuuuuum!" Wilson menambah kecepatan mobilnya karena kemarahan di dalam dadanya mulai meledak.
"Kamu mau mati? atau mau membunuhku?" Irna tersenyum melihat pria itu memasang wajah murung.
"Tidak keduanya." Jawabnya pendek. Mulai mengurangi kecepatan mobilnya.
"Aku sama sekali tidak tertarik denganmu, apa kamu tidak lelah melakukan semua ini?" Irna perlahan-lahan menutup matanya dan tertidur. Aroma ramuan yang dibawa Wilson di dalam saku celananya berhasil membuatnya tertidur.
Pria itu mengangkat tubuhnya ke sebuah kastil berdinding batu di tepi tebing yang berada di pegunungan.
Saat Irna terjaga dia melihat gaun pengantin membalut kulit mulusnya.
"Apa ini? gaun ini?" Ingatan gadis itu kembali saat berada di dalam mobil dia tertidur di sebelah Wilson.
"Kamu sudah bangun istriku?"
"Hahahaha! istri kamu bilang? jangan bermimpi!" Irna hendak melesat ke arah pria itu, tapi sepertinya kekuatan fisiknya menghilang begitu saja.
"Apa ini? tubuhku terasa lemah! kekuatan dalam tubuhku menghilang!" Bisik Irna dalam hatinya.
"Kamu terkejut? kekuatan bunga kristal es tidak berlaku di dalam kastilku." Pria itu berjalan mendekat, Irna segera melangkah mundur sambil menjinjing ujung gaunnya.
"Wilson! jangan berani macam-macam denganku!" Teriaknya saat pria itu mencengkeram erat dagunya dengan tangan kanannya.
"Kenapa? apa kamu ketakutan sekarang? tidak ada yang akan menyelamatkanmu! bahkan suamimu, dia tidak akan bisa masuk ke dalam kastilku!" Gumamnya sambil menempelkan ujung hidungnya pada pipi Irna.
Irna merasakan sapuan nafasnya di permukaan kulit wajahnya.
"Tidak!" Irna mendorong tubuhnya agar menjauh darinya.
Irna mencoba memakai kekuatan yang ada dalam dirinya tapi tetap saja gagal, gadis itu jatuh terduduk di atas lantai.
"Aku sudah bilang kamu tidak akan bisa menggunakan kekuatanmu di sini." Tersenyum sambil mengangkat tubuhnya agar berdiri. Pria itu menarik tangannya agar mengikuti langkahnya.
"Kamu mau membawaku kemana?" Tanyanya pada pria itu.
"Pesta pernikahan kita!" Ujarnya sambil mencium jemari tangan Irna. Irna ingin segera menarik tangannya kembali, tapi Wilson menggenggamnya sangat erat.
"Apa kamu tidak waras? aku sudah menikah! jadi tidak mungkin menikah lagi!"
"Kita menikah dalam pernikahan Vampir! bukan pernikahan manusia!" Jelasnya lagi masih melangkah menuruni tangga menuju lantai bawah.
"Apa bedanya? itu tidak masuk akal! hentikan semua ini, atau aku akan mengacaukan pestamu!" Ancam Irna sambil mendelik padanya.
"Hancurkan pestaku, maka akan kupastikan tubuhmu tidak akan lepas sejengkal pun dari gigitanku!"
Mendengar itu Irna langsung bergidik ngeri. Dia ingat bagaimana tubuhnya dicabik-cabik saat kebangkitan bunga kristal es lima tahun lalu.
"Lalu apakah aku harus menyerahkan diriku padanya? atau mati di tangannya? bagiku sama saja! tidak ada pilihan yang tepat!" Gerutu Irna masih dalam tarikan tangan Wilson.
Irna mencoba memutar otaknya, memikirkan sebuah cara agar bisa lepas dari genggaman Wilson, minimal dia bisa mengulur waktu agar pernikahannya dengan Wilson tidak terjadi.
__ADS_1
"Akh! kakiku!" Irna memekik sambil berpura-pura menjatuhkan dirinya di lantai tangga. Melihat itu Wilson tersenyum manis, lalu menunduk mengangkat tubuhnya.
Irna meremas lengan pria itu, menahan gejolak amarah dalam hatinya.
"Aku senang kamu bermanja-manja seperti ini denganku." Bisiknya di telinga Irna membuat gadis itu semakin muak.
"Apakah kamu tidak memberikan pilihan lain selain pernikahan ini?" Tanyanya lagi.
"Ada!" Seringainya sambil menatap wajah Irna yang masih menunggu penuh rasa penasaran.
"Layani aku selama kita tinggal di sini!" Berbisik di telinga Irna.
"Maksudmu menjadi pelayan? membereskan rumah, memasak?" Ujar Irna dengan wajah penuh semangat.
"Apa kamu bodoh? layani aku di ranjang!"
"Glek!" Tenggorokan Irna mendadak tercekat mendengar kalimat itu meluncur dari bibirnya.
Walaupun wajahnya, tubuhnya sama menariknya dengan Fredian tapi tetap saja dia bagi Irna adalah pria asing yang baru ditemui.
"Aku tidak mau!" Sahutnya segera sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
Saat sampai di lantai bawah, Wilson menurunkan Irna di dekat batu besar seperti sebuah makam.
Mendadak kepala Irna terasa nyeri luar biasa ketika melihat huruf Yunani kuno yang terukir di permukaan batu tersebut.
Ingatan gadis itu kembali muncul di dalam kepalanya.
**"Irna.. "
"Tempat apa ini?" Tanya gadis berusia lima tahun itu sambil menunjuk tulisan di atas batu.
"Ini adalah tempat kita mengikat janji." Jelasnya pada Irna sambil tersenyum.
"Janji? untuk bertemu kembali?"
"Iya kita akan mengikat janji di sini, dan menikah di sini."
Wilson melukai jemari tangannya dan juga jemari tangan Irna saat masih berusia lima tahun, lalu meletakkan jari mereka berdua di atas batu tersebut. Lalu samar-samar di atas batu tersebut terukir tulisan dengan huruf Yunani kuno, tulisan tersebut bersinar terang menyinari seluruh ruangan di sekitarnya.
Irna tersenyum sambil menggenggam tangan Wilson.**
"Ingatan apa ini? kepalaku sakit sekali." Irna masih memijit pelipisnya menahan nyeri.
Wilson menusuk jemari tangannya dengan sebuah alat yang sudah disiapkan di atas batu dan juga jemari Irna lalu menjatuhkan darah mereka di atas batu tersebut.
Seluruh tamu di dalam pesta tersebut menundukkan kepalanya memberikan selamat dan hormat atas pernikahan mereka berdua.
Di dalam Reshort Fredian mendadak merasakan nyeri yang hebat pada rongga dadanya.
Seakan-akan sesuatu telah tercabut dari dalam jantungnya.
"Irna...! tidaaaaaak!" Pria itu jatuh terduduk di lantai.
"Aku tidak ingin kehilanganmu lagi." Gumam Fredian di dalam ruang kerjanya.
Fredian melesat dalam sekejap mata dia sudah tiba di luar pintu kastil tersebut. Pria itu mengerahkan kekuatan penuh mengarahkan pada pintu gerbang kastil tersebut.
Tapi dia tidak berhasil membukanya, seluruh dinding kastil tersebut telah tersegel.
Di dalam kastil Wilson menjentikkan jari tangannya. Fredian terlihat terduduk lesu di luar pintu gerbang kastil dalam bayangan samar pada dinding.
Melihat suaminya Irna segera berteriak kencang.
"Fredian! tolong aku!" Teriaknya tanpa peduli dengan orang-orang yang berada di sana.
Fredian seperti mendengar suara Irna dari dalam kastil segera berdiri. Dan melesat ke udara mencari jalan masuk.
Melihat itu Wilson sangat geram, dia segera menyeret tangan Irna ke sebuah ruangan.
"Wilson! lepaskan akh! sakit!" Pekiknya saat pria itu menancapkan gigi taringnya menggigit lehernya. Irna memejamkan matanya sambil meremas dan mencakar punggungnya.
Pria itu terus menghisap darahnya, perlahan-lahan tubuh Irna mulai merosot jatuh ke bawah kaki pria itu.
Pandangan matanya mulai berkunang-kunang, nyeri pada kepalanya sudah tidak bisa di tahan lagi.
Irna jatuh tersungkur di lantai, sambil mendongak menatap Wilson. Pria itu masih berdiri di hadapannya.
"Inilah akibatnya jika kamu terus menerus menentangku!" Pria itu berjongkok di hadapannya mengangkat dagunya dengan jari telunjuknya.
"Melihat keadaanmu mengenaskan seperti sekarang, membuatku kehilangan hasrat untuk mencicipi tubuhmu! braaak!" Menghempaskan pintu, melangkah keluar dari dalam ruangan meninggalkan Irna sendirian tersungkur di lantai.
Irna merangkak mencari sesuatu untuk berpegangan. Sampai dia menemukan sebuah tiang batu di dalam ruangan tersebut, digunakannya untuk berpegangan kemudian bangkit berdiri.
Irna meraba lehernya yang terluka.
__ADS_1
"Kekuatanku benar-benar tidak berfungsi sama sekali." Keluhnya dengan suara lemah, luka tersebut tidak sembuh seperti biasanya.
Irna mengedarkan pandangan matanya pada seluruh ruangan. Tidak ada celah sama sekali pada dinding batu tersebut. Hanya ada nyala api pada batang obor, letaknya pun sangat tinggi dan tidak bisa dijangkaunya.
"Jangan sampai pria mesum itu menjamah tubuhku!" Irna berjalan tertatih menuju dinding. Dirabanya seluruh dinding untuk mencari pintu keluar.
Pada saat Wilson membawanya masuk ke dalam ruangan dia ingat pria itu menendang sebuah batu di dinding dan pintu muncul begitu saja.
"Pasti ada sesuatu, aku harus menemukannya sebelum pria itu kembali kemari!" Irna terus meraba dinding batu tersebut.
Setelah hampir satu jam mencari, gadis itu mulai kelelahan dan memilih untuk tidur. Tubuhnya semakin lemah karena darah di dalam tubuhnya sudah terkuras.
"Tlak, Duk!" Sebuah dinding batu bergeser dan terjatuh ke lantai.
"Irna! ssstt! Irna!" Panggil seseorang dari luar melalui lubang dinding tersebut.
Irna membuka matanya perlahan dan beringsut menuju arah suara.
"Dark? ngapain kamu kemari?! jika Wilson mengetahui keberadaan dirimu. Aku tidak akan bisa menolongmu." Ujar Irna sambil menatap sedih ke arahnya.
"Aku tidak sendirian di sini, aku bersama dengan dia!" Dark menarik lengan Fredian agar pria itu membungkuk menunjukkan wajahnya di lubang dinding.
"Fredian?!" Gumamnya lirih sambil tersenyum.
"Gadis perayu! kamu jelek banget hari ini?" Melihat wajah pucat Irna dan seluruh rambutnya kusut, tidak seperti biasanya cerah, ceria, dan selalu percaya diri.
"Pria ini, ingatannya muncul, timbul tenggelam silih berganti. Dua jiwa belum bersatu, masih saling menolak, saling ingin menguasai."
"Jika saja jiwa Fredian mau bekerja sama lalu bersatu, dia akan mengingatku dalam keadaan apapun." Begitu kata hatinya, dan timbul satu hal yang ingin dilakukannya saat ini.
Irna meraba lehernya yang masih berdarah lalu mengusap darahnya dan meniup telapak tangannya pada lubang dinding tersebut hingga Fredian mencium kembali aroma darahnya.
"Braaakk!" Mencium aroma darah Irna Fredian tiba-tiba belingsatan menggempur dinding kastil tersebut.
"Hosh! Hosh! Hosh!" Fredian terengah-engah mengatur nafasnya.
Pria itu mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk merobohkan dinding luar kastil, menebas segel yang dibuat oleh Wilson.
Fredian melompat masuk ke dalam kastil meraih tubuh lemahnya. Bola matanya merah menyala melihat gadis tercintanya terluka dan tidak berdaya. Irna berpegangan dengan kedua tangannya di leher Fredian.
Mendengar suara berisik di kastil bawah, Wilson berlari menuju ruangan Irna di tahan. Pria itu sangat geram melihat Irna sudah tidak ada di sana lagi.
"Sialan! braaakkkk!" Penuh amarah Wilson memukul dinding kastilnya.
Pria itu segera melesat keluar dari dalam kastilnya mengejar Fredian.
Saat Fredian melihat mobil Rian dia segera meminta kepada pria itu untuk membawa gadisnya pergi. Dia sendiri berniat menahan Wilson agar tidak mengambil Irna darinya.
Rian sudah curiga sejak awal, dia bergegas mengikuti mobil Irna. Dugaannya ternyata benar, Irna ditahan oleh pria tersebut di dalam kastilnya
Pertempuran sengit antara dua bersaudara itu terus berlangsung selama lebih dari tiga hari tiga malam.
Fredian menusukkan kuku runcingnya ke arah perut Wilson hingga tembus ke punggung, begitu juga sebaliknya Wilson menusukkan kukunya pada dada Fredian.
Mereka berdua jatuh berguling ke atas tanah, Fredian terhempas jatuh dari atas tebing dengan tubuh penuh luka.
Satu minggu berlalu..
Alfred mendatangi NGM untuk menanyakan keadaan Fredian, pada Rian. Akan tetapi Rian juga tidak ada kabar selama satu minggu yang lalu.
Arvina yang menghendel semua perusahan selama Rian pergi.
Arvina memulai ceritanya, gadis itu duduk di sofa ruang kerjanya bersama Alfred.
"Pagi itu.... Rian pingsan jadi aku memutuskan untuk menghubungi mamamu. Tapi setelah itu papamu datang untuk menjemputnya, Rian mengikuti mereka berdua dan tidak kembali sampai sekarang."
"Aku sama sekali tidak mendapatkan kabar apa-apa dari mereka bertiga? bukankah ini sangat aneh dan mencurigakan?"
"Kenapa Rian mengikuti mereka berdua? pasti ada sesuatu yang tidak benar!" Jelas Arvina dengan wajah penuh keyakinan.
Bagaimanapun juga Rian satu-satunya orang yang tahu bagaimana seluk-beluk kehidupan Irna dan Fredian.
Dialah satu-satunya orang yang menjadi saksi perjalanan lika-liku cinta antara mereka berdua.
"Apakah ada yang terlihat janggal saat mama masuk kemari Tan?" Tanya Alfred pada Arvina.
"Tante tidak tahu, sepertinya tidak ada sesuatu yang mencurigakan sama sekali."
Arvina menggelengkan kepalanya sambil mencoba mengingat kejadian satu minggu yang lalu.
Bersambung....
*Apakah Fredian meninggal?*
A. Masih hidup
__ADS_1
B. Meninggal
C. Tidak tahu