
"Sepertinya ada yang tidak beres di sini?" Gumamnya lagi dalam hati. Kania menyalakan lampu dengan menekan tombol yang ada di dinding kamarnya anehnya lampu tersebut tidak mau menyala. Jadi tetap membuat keadaan menjadi gelap gulita tanpa ada cahaya sama sekali.
"Sialan!" Makinya kesal.
"Masa aku harus gelap-gelapan di rumah ini?" Gerutunya pada dirinya sendiri. Dia ingat jika ada seseorang yang akan membawakan lilin dari dari lantai bawah menuju lantai atas.
Kania sendiri tidak menyiapkan lilin. Dia pikir lampu tersebut di rumah tersebut akan bisa menyala ketika dia memencet tombolnya.
"Ya nikmati saja Kania! Lagi pula aku membayarnya juga dengan harga yang sangat murah, bruuuukkkk!" Gumamnya lagi sambil menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
"Sreeek.. sreeeek!" Kania mendengar gaun di seret, serta kerlip cahaya remang-remang lilin dari kaca pintu kamarnya. Cahaya tersebut perlahan-lahan mendekat ke arahnya. Gadis itu sengaja menutup matanya rapat-rapat.
"Sialan! Masa hantu muncul di sore gini sih? Lagian aku sudah beli rumah ini? Jadi kenapa ada orang lain yang masuk ke dalam rumah?" Tanyanya lagi pada dirinya sendiri.
Dan benar apa yang dikatakan Mira orang memakai baju serba hitam itu masuk ke dalam kamarnya membawa sebuah lilin di tangan kanannya. Dari gaun besar dan sampai menyeret-nyeret diatas lantai dia bisa mengetahui bahwa seseorang yang membawa lilin tersebut adalah wanita.
"Kraaataakk!" Pintu kamar Kania terbuka orang tersebut masuk ke dalam. Membawa sebuah lilin dia melihat Kania tertidur pulas. wanita itu menyalakan lilin yang ada di atas meja dengan lilin di tangan kanannya.
Ruangan tersebut menjadi terang karena ada sekitar 5 lilin yang berdiri di atas meja di sebelah gadis itu tertidur. "Cantik sekali." Gumam wanita itu setelah selesai menyalakan lilinnya.
Kania masih berpura-pura tertidur pulas, wangi aroma melati menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Dia melihat wanita itu selain menyalakan lilin juga meletakkan vas bunga berisi seikat bunga melati di atas meja.
Kania bangkit dari posisi tidurnya ketika melihat wanita tersebut sudah menghilang di balik pintu kamarnya.
"Siapa dia sepertinya dia bukan hantu?" Bisiknya pada dirinya sendiri.
Gadis itu kemudian memberanikan diri untuk turun ke lantai bawah mencari keberadaan wanita tadi. "Kemana perginya dia? Begitu cepat sekali menghilang dari pandangan mataku." Ucapnya karena tidak menemukan keberadaan itu di dalam rumah tersebut.
__ADS_1
"Apa mungkin dia benar-benar hantu seperti yang digembar-gemborkan para penduduk sekitar?" Kania masih memikirkan Siapa wanita yang baru saja masuk ke dalam kamarnya barusan. Gadis itu kemudian berbalik setelah menutup pintu depan rumahnya.
Ketika dia melewati ruang tengah dia terkejut melihat banyak makanan sudah tersedia di atas meja.
Di sana juga terdapat catatan kecil. "Selamat menikmati makan malam makan malam-mu. Semoga kamu betah tinggal di rumah ini. Dari pemilik rumah sebelumnya."
Kania tanpa pikir panjang langsung menarik kursi, dan menikmati semua makanan yang tersedia di atas meja. Baginya rumah tersebut sudah mirip dan sangat-sangat mirip seperti kastilnya.
Semua rumah tertata rapi, makanan juga sudah terhidang di atas meja, dia tidak normal untuk mencari atau membeli.
Mungkin penyewa sebelumnya merasa takut karena tiba-tiba datang seorang wanita misterius itu, lalu tiba-tiba menghilang begitu saja.
Tapi bagi Kania tidak, karena dia sendiri juga bukan manusia. Dengan santainya gadis itu melahap semua makanan. Tiba-tiba cangkir diatas meja bergerak sendiri arahnya di dalam gelas tersebut juga sudah tertuang minuman beraroma anggur.
"Siapa?!" Tanyannya seraya beranjak dari kursinya. Gadis itu segera berdiri dia bertanya-tanya siapa yang memberikan minuman itu padanya.
Tapi tidak terdengar jawaban apapun hanya cangkir itu yang terus bergerak mendekat kearahnya. "Siapa di sini tunjukkan dirimu?" Pintanya pada seseorang yang mungkin berada di sekitarnya. Tapi tidak mau menunjukkan dirinya.
Kania ingin sekali membuka matanya dan melihat, siapa yang sedang mengangkat tubuhnya sekarang. Tapi dia seperti berada dalam kekuatan lain yang lebih besar dari kekuatannya sehingga dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya.
"Siapa kamu?" Bisik Kania dalam hatinya, hanya aroma melati yang dia hirup dari baju tubuh pria itu. Sedangkan matanya sendiri masih terpejam rapat rapat.
Pipi Kania bersentuhan dengan baju lengan panjang yang dikenakan oleh orang itu. Dari bahannya Kania bisa merasakan bahwa bahan pakaian yang digunakan olehnya berbahan tebal sedikit kasar.
Tapi mencium dari aromanya, dia tahu orang yang sedang mengangkat tubuhnya itu adalah keturunan bangsawan.
Setelah sampai di kamarnya, orang tersebut meletakkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Lalu menyelimutinya sebelum pergi. Dia meninggalkan setangkai bunga mawar merah di atas bantal sebelahnya.
__ADS_1
"Hahahaha! Astaga apa ini? Apa hantu itu jatuh cinta padaku? Lalu meninggalkan setangkai bunga untukku??!" Kania tersenyum bahkan tertawa terpingkal-pingkal melihat bunga tersebut ada di atas bantal, tergeletak di sebelahnya.
Gadis itu melihat lilin di atas meja juga sudah dimatikan, tapi dia tidak melihat siapa pun masuk ke dalam malam itu.
Gadis itu berniat membersihkan tubuhnya di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Dia melihat bath up sudah terisi dengan air hangat uapnya terlihat keluar dari dalam bak mandi tersebut.
Juga semua perlengkapan mandi sudah tersedia di sana. Gadis itu merasa sangat dilayani dengan baik seperti seorang putri. Dia bahkan juga tidak ingin pindah dari sana, walaupun dia tahu jika yang melayaninya itu sungguh-sungguh seorang hantu gentayangan yang menakutkan.
Kania masih berendam di dalam bak mandinya, tubuhnya terbalut dengan busa tebal. Dia menyandarkan kepalanya di sandaran bak mandinya.
"Krataaaakkk, brak!" Pintu kamar mandinya terbuka dan menutup kembali. Kania segera menoleh ke arah pintu, tapi dia tidak melihat siapa-siapa di sana.
"Siapa itu?"
"Apakah ada orang?"
Dia tidak mendengarkan jawaban sama sekali. Terasa kembali desiran dingin menerpa wajahnya. Dia tahu ada yang sedang melewatinya dengan sangat cepat hingga menyebabkan udara di sekitarnya bergerak.
Kania malah memejamkan matanya, dia tahu orang yang berada di sekitarnya tidak ingin dia mengetahui keberadaan dirinya yang terus menemaninya di sana.
Dia kini merasakan tubuhnya kembali diangkat, tubuh tanpa balutan kain sama sekali itu diangkat naik ke atas tempat tidurnya. Dia merasakan bibir lembut seseorang sedang memagut bibir tipisnya.
"Mmmhhhh! Akkhhh! Jangan! Tidaaaaaaaak!" Kania berteriak sekencang-kencangnya, karena mahluk tak terlihat itu meringsak tubuh mulusnya begitu saja.
"Sialan!" Umpatnya kesal sekali. Yang dia takutkan adalah jika mahluk itu meninggalkan benih di rahimnya. Karena dia tidak akan hamil jika berhubungan dengan manusia.
Tapi dia menduga orang di sekitarnya itu bukan mahluk astral, tapi adalah vampir sama seperti dirinya.
__ADS_1
Bersambung....
Like like like dong? Oke thanks..