Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Tanpa prediksi


__ADS_3

Entah berapa lama lift tersebut kembali menyala.


Beberapa detik kemudian pintu lift terbuka. Fredian terkejut melihat Irna berada di antara lengan pria tampan.


Gadis itu menoleh ke arah pria yang mengurungnya dari sisi lengan kiri, lengan kanannya bersandar ke dinding.


"Ehm! Ehm!" Fredian berdehem untuk mengejutkan Irna dan pria di sebelahnya.


Tapi sepertinya pria tersebut masih asyik menatap wajah Irna di depannya, tanpa ingin mendengar suara lain.


Dengan gusar Fredian berdiri di belakang pria tersebut menarik jasnya agar menjauh dari tubuh istrinya.


Melihat Fredian mengambil alih tempatnya, pria itu kembali bercermin di depan dinding lift. Menata rambutnya, dan merapikan jasnya kembali. Kemudian melihat jam di pergelangan tangannya.


Pria itu berlalu sambil meringis ke arah mereka berdua.


Irna meringis melihat wajah Fredian yang terpaksa tersenyum melihat ke arahnya.


Irna masuk ke dalam mobilnya. Fredian duduk sambil memegang kemudi.


Irna menunggu di sebelahnya, tapi suaminya tak kunjung menyalakan mesin mobilnya.


"Apa kamu lupa memutar kuncinya?" Tanya Irna tanpa rasa bersalah.


Fredian mendekatkan wajahnya ke wajah Irna sampai berjarak lima sentimeter di antara wajah mereka.


"Ada, ada apa? kenapa melihatku seperti itu?" Irna sangat gugup melihat sinar mata Fredian bersiap seolah-olah ingin menelannya bulat-bulat.


"Siapa pria tadi?" Tanya Fredian sangat lembut, bahkan terlalu lembut. Membuat Irna semakin takut.


"Tidak tahu." Jawab Irna dengan jujur.


"Tidak mungkin tidak tahu, dia berada di lantai yang sama denganmu. Di lantai dua hanya ada kantormu saja sayang." Fredian lebih melembutkan suaranya membuat Irna semakin bergidik.


"Kamu curiga aku punya hubungan dengan pria barusan?! pria gila itu? pria tidak waras itu?!" Bisik Irna sambil menoleh ke kanan dan ke kiri melihat sekitar.


Irna sangat terkejut saat terakhir kali, karena tiba-tiba pria itu mendengar gumaman dari bibirnya. Padahal dia sangat pelan mengatakannya.


Fredian bingung dengan tingkah laku istrinya itu, seharusnya dia berteriak padanya. Tapi malah berbicara dengan suara berbisik.


"Apa yang terjadi?!" Tanya Fredian ikut berbisik.


"Sini kemarikan telingamu." Pinta Irna dengan berbisik pada suaminya.


Kemudian tanpa ragu Fredian segera mendekatkan daun telinganya di depan bibir Irna.


"Aku sudah bilang aku tidak mengenalnyaaaaaaaa!" Tiba-tiba Irna berteriak sangat kencang di telinga Fredian.


Fredian segera duduk kembali ke belakang kemudi, meniup kepalan tangan kanannya kemudian mengarahkan ke telinganya.


Menyalakan mesin mobilnya menuju rumah mereka. Irna sepanjang jalan diam tanpa ingin bicara. Gadis itu cemberut sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Fredian menoleh beberapa kali ke arahnya.


"Huh." Tapi Irna malah mendengus melengos menatap ke luar jendela mobil di sebelah kirinya.


Fredian hanya bisa menghela nafas panjang melihat Irna, gadis itu dengan bibir terus cemberut di sepanjang perjalanan menuju ke rumah.

__ADS_1


Ketika sudah sampai di rumah Fredian mematikan mesin mobilnya. Gadis itu tanpa menunggu Fredian membukakan pintu mobil untuknya, langsung turun dari mobil sambil berjalan menghentak-hentakan sepatunya di atas ubin.


Wajahnya benar-benar terlihat sangat kesal.


Sampai di dalam kamarnya, dia melemparkan sepatunya dengan menendangkan kakinya ke udara.


Fredian menghindari sepatu yang tiba-tiba terbang ke arahnya, dia berhasil menghindari satu. Tapi tidak yang kedua.


"Klotak!" Sepatu Irna jatuh menimpa atas kepalanya.


"Akh! gadis itu benar-benar cepat sekali berubah. Emosinya selalu naik turun tanpa bisa diprediksi!" Gumamnya seraya mengelus ubun-ubunnya.


Irna kemudian melemparkan tasnya ke sofa yang ada di dalam kamarnya.


Mengambil baju dari lemari menghilang di balik pintu kamar mandi.


Fredian kembali turun ke lantai bawah. Dia berjalan di dapur membuat beberapa makanan.


"Astaga!"


Fredian melompat terkejut ketika melihat Irna sudah duduk di meja makan menunggunya selesai memasak.


Gadis itu masih cemberut sambil memainkan sendok garpu di tangannya. Sendok itu dengan geram ditancapkan di atas meja berkali-kali.


Fredian menaruh makanan di atas meja. Irna masih cemberut tanpa peduli.


"Apa yang kamu pikirkan?" Fredian memberanikan diri untuk bertanya.


"Aku lapar." Irna segera menikmati makanan di atas meja yang baru selesai di hidangkan oleh suaminya.


Setelah selesai makan, gadis itu berdiri mencuci piringnya. Dan perlengkapan dapur yang digunakan Fredian barusan.


Fredian tersenyum berdiri di belakang punggungnya memeluk pinggangnya.


Irna menoleh ke kanan mencium pipi Fredian yang berada di atas bahu kanannya.


Fredian menunggu penjelasan dari Irna.


"Aku sudah selesai, lepaskan aku." Perintah Irna padanya.


"Tidak mau."


"Kalau kamu merajuk begini aku tidak mau bicara lagi." Ujar Irna membalikkan badannya menghadap suaminya.


"Kalau kamu tidak percaya padaku, di sana ada cctv, di depan lift. Dan juga di dalam lift." Ujar Irna sambil menepuk bahu suaminya kemudian berlalu naik ke lantai dua.


"Aku merasa sangat tidak beruntung, aku selalu ingin memiliki hari-hari yang manis! akh pusing sekali!" Irna tidak sabar mengacak-acak rambutnya sendiri, membuat terkejut suaminya yang baru masuk ke dalam kamarnya.


Melihat suaminya melangkah mendekat ke arahnya dia buru-buru merapikan rambutnya dengan sepuluh jarinya dan langsung menjatuhkan diri terlentang di tempat tidur.


Fredian menata bantal di sebelahnya. Kemudian menarik selimut menutupi tubuhnya sendiri, tidur memunggungi Irna.


Irna merasa sangat terabaikan, sudah dua jam suaminya tidur memunggunginya.


"Ah sudahlah! sejak kapan aku menunggunya untuk memelukku!" Gerutunya juga ikut memunggungi Fredian.


Fredian tersenyum segera berbalik memeluknya dari belakang, mengecup keningnya. Irna memegangi lengan suaminya lalu terlelap dalam pelukannya.

__ADS_1


"Fredian.."


"Hem.."


"Kamu lelah?"


"Sedikit, apa kamu menginginkan sesuatu?" Tanyanya membuka kelopak matanya perlahan.


"Tidak ada, aku hanya ingin kamu terus memelukku sepanjang malam." Irna beringsut membenamkan wajahnya di bawah rengkuhan Fredian.


"Tidurlah" Fredian kembali mengecup ubun-ubun kepala Irna.


Pagi itu Fredian dan Irna berangkat bersama-sama. Mereka berdua menuju ke Reshort.


Irna sepanjang perjalanan di dalam mobil menggamit lengan kanan suaminya. Gadis itu merebahkan kepalanya di bahu kiri Fredian.


Fredian hanya terus menerus mengulum senyum mendapati Irna kembali merajuk padanya sejak semalam.


Mereka berdua turun dari mobil di parkiran Reshort. Irna turun dari mobil masih terus menerus menempel pada Fredian.


Sampai-sampai sekuriti di depan Reshort salah kira, mereka berpikir Irna adalah Jesy. Mereka mencekal lengan Irna menjauhkan dari Fredian.


Fredian melotot ke arah mereka.


"Ini istriku!" Bentaknya pada sekuriti yang sudah ketakutan.


Fredian kembali menarik Irna ke dalam pelukannya menuju kantornya.


Dua sekuriti di depan tersebut nampak kebingungan melihat mereka berdua sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Akhir-akhir ini aku takut sekali jika tiba-tiba dipecat tanpa alasan." Ujar sekuriti satu.


"Iya aku juga takut, Presdir akhir-akhir ini memiliki emosi yang cepat berubah dalam sekejap." Ujar sekuriti dua sambil menoleh temannya itu.


Setelah sampai di dalam kantor Irna tiba-tiba mencium bibir suaminya dengan lembut.


"Apa kamu menginginkannya?" Bisik Fredian lembut di telinga Irna.


Tanpa menunggu lagi Irna mendorong suaminya bersandar di meja belakang punggungnya. Mencium bibir Fredian kembali.


"Pak Presdir kami.. maaf saya salah masuk! Brak!" Sekretaris Fredian hendak mengingatkan Fredian bahwa ada rapat pagi itu.


Akan tetapi dia malah melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat. Dan menutup pintu terburu-buru.


Fredian segera menghubungi sekretarisnya tadi.


"Tunda rapat selama satu jam!"


"Baik Presdir!"


"Huffft, Untung saja aku tidak dipecat." Ujar sekretaris tersebut sambil menarik nafas dalam-dalam sambil merentangkan kedua tangannya dengan mata tertutup.


"Duang!" Tanpa sengaja mengenai pipi rekan di samping tempat duduknya.


"Aduh! apa-apaan sih!?" Teriak rekan di sebelahnya yang tertonjok, sambil mengelus pipi kanannya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2