Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Truth


__ADS_3

"Fred hentikan, ini sudah pukul dua pagi. Akh.. pinggangku rasanya mau patah!" Irna meremas bahunya dengan jemari tangannya.


"Kenapa? Kamu kuwalahan? Lalu kenapa tadi sore mendorongku pergi?" Ujarnya masih meringsak dari belakang punggungnya sambil menopang satu kaki Irna ke atas.


"Fred... Akkhhh.. akkhh.. uuuhh.. sudah.. aku lelah.. akkhhh.." Desahnya sambil meremas lengan Fredian yang sedang menopang satu kakinya. Irna merasakan gempa nafas Fredian mulai memburu. "Astaga apa pria ini baru berhasrat! Setelah melakukannya sepanjang malam!" Gumam Irna pelan sekali.


Fredian mendengar umpatannya, dia mulai tersenyum. Dia merindukan kekesalan Irna. Pekikan, dan desahannya. "Fred selesaikan.. akkkhhh... Akkhh.." Fredian sengaja mengentak-hentak sampai membuat tubuhnya terguncan-guncang ke depan.


Fredian meremas bongkahan kenyal milik Irna saat melepaskan klimaksnya.


"Akhirnya dia menyelesaikannya juga.. " Irna merasa lemas tak berdaya dalam pelukannya.


"Fred?"


"Hem?"


"Kamu marah padaku?"


"Tidak sama sekali."


"Kamu bohong!" Irna berbalik mendongak menatap wajahnya. Sambil memukuli dadanya.


"Aku tidak bohong." Mencekal erat tangan Irna, mengentikan aksinya memukul. Dia mendekatkan wajahnya memagut lembut bibirnya.


"Tapi kenapa wajahmu terlihat kesal padaku?" Irna melepaskan pagutan bibirnya. Menyandarkan kepalanya di dada bidangnya. Irna bisa mendengar suara detak-detak jantungnya. Terdengar normal, dan beraturan.


"Aku tidak bisa mengatakan semuanya sekarang. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu padamu." Jelasnya semakin membuat Irna tidak mengerti sama sekali.


Irna menarik kepalanya dari dada Fredian. Lalu tidur memunggunginya.


"Dasar! Bukannya meluruskan masalah tapi malah bilang menunggu waktu yang tepat! Apa dia pikir aku itu rekan kerjanya!" Gerutunya tanpa memelankan suaranya sedikitpun.


Dia sengaja mengatakan itu agar Fredian tahu, agar pria itu tahu dia tidak suka membuat celah, atau ada kemarahan di antara mereka berdua.


"Irna? Kamu marah padaku?"


"Iya aku marah sekali!" Teriaknya terang-terangan.


"Kalau begitu kita bermain lagi?" Ujarnya sambil beringsut menyentuh punggung mulusnya.

__ADS_1


"Bukan itu yang kuinginkan!" Membalik tubuhnya kembali menghadap ke arahnya.


"Lalu apa?"


"Katakan padaku apa yang kamu simpan di dalam pikiranmu itu? Ayolah Fred, kita suami istri! Aku bukan orang lain!"


Irna menunggunya, dia menunggu pria itu mau membuka bibirnya untuk menyatakan segalanya. Dan setelah dua puluh menit berlalu barulah dia berkata,


"Apa kamu mencintai Rian?"


"Deg!" Jantung Irna kembali tertusuk pisau, begitu dalam hujaman pisau tersebut hingga membuatnya begitu terasa sangat sakit.


"Iya! Aku mencintainya! Puas kamu! Puas! Dasar brengsek! Brengsseeeekkkk!" Irna berteriak histeris melompat turun dari atas tempat tidurnya, gadis itu menyambar baju juga mantelnya.


Fredian tersenyum kesal mengusap wajahnya, dia tidak percaya jika Irna bahkan mengatakan itu dengan sangat lantang. Mengatakan hal yang membuat hatinya gelisah sepanjang waktu sejak kejadian penyerangan itu.


Matanya berkaca-kaca seraya mulai memakai pakaiannya satu persatu.


"Tega sekali kamu! Menanyakan hal itu padaku! Tega sekali! Dasar pria brengsek!" Umpatnya lagi sambil tersenyum pedih. Air matanya merembes keluar dari celah-celah bulu matanya.


Tatapan matanya begitu dingin, Irna keluar dari dalam ruangan kerjanya. Sepanjang jalan air matanya terus merembes keluar.


"Dia pergi dariku! Braakkkkk! Braaaaak!" Fredian penuh amarah menendang pintu kamarnya sampai hancur berantakan.


Para penjaga di luar pintu ruang kerjanya ikut melonjak kaget karena kemarahan Presdirnya itu. Tidak ada yang berani bertanya karena dia bisa langsung memecat siapapun jika sedang marah seperti sekarang.


Sejak awal sampai akhir hanya Irna yang bisa meredam emosi Fredian. Hanya wanita itu satu-satunya yang akan membuatnya tenang.


Tapi Irna terlanjur pergi, dia kesal sekali. Gadis itu melajukan mobilnya menuju ke kastil Vertose. Dia dengan sengaja tidak ingin pergi ke rumah sakit untuk bekerja.


Karena Fredian berpikir picik, membuatnya enggan untuk bertemu dengan Rian. Dia tidak ingin Rian terus terlibat dalam kemarahan Fredian. Pria yang bagi Irna di anggapnya sudah bukan orang lain itu dicemburui oleh suaminya.


Irna mengambil kesempatan itu untuk menyelesaikan masalah yang membuat dirinya terluka akibat penyerangan itu.


Irna ingin segera menyelesaikannya hingga tidak ada pertumpahan darah lagi. Baik Fredian ataupun Rian.


Fredian pagi itu datang ke rumah sakit untuk menemui Rian. Tapi pria itu tidak ada di sana. Irna juga sedang tidak masuk bekerja.


Membuat Fredian semakin geram, dia pikir mereka berdua sedang bersama-sama sekarang.

__ADS_1


Ada salah satu asisten Rian, dia sudah mengenal baik Fredian. "Presdir, tunggu sebentar." Panggilnya ketika melihat Fredian sedang melintas hendak menuju lobby rumah sakit tersebut.


Fredian mengentikan langkahnya menunggu pria itu menyampaikan sesuatu padanya.


"Apa anda mencari dokter Kaila?" Tanyanya dengan hati-hati, dia melihat kemarahan terpancar jelas dari sinar mata Fredian.


"Apa kamu mengetahuinya dia di mana?" Tanyanya pada pria itu.


"Dokter Kaila belum datang ke rumah sakit sejak pagi." Jelasnya pada Fredian.


Pria itu tersenyum getir, dia terlihat kecewa. Karena dia juga tidak menemukan keberadaan Rian di sana.


"Lalu di mana Rian? Apa mereka berdua membuat janji hari ini? Sengaja tidak masuk bekerja?" Ujarnya dengan nada pedas seolah-olah memvonis bahwa Irna dan Rian sepasang kekasih.


"Mereka berdua, emm, anu." Asisten Rian sedikit bingung untuk mengatakan bahwa mereka tidak terlibat cinta.


Karena Irna memang dekat dengan Rian, dan sengaja membuat rumor kemesraan di depan para karyawan beberapa waktu lalu, itupun mereka berdua lakukan untuk menutup berita pertunangan Fredian dan Karin.


Rian juga terlihat bahagia dan sumringah saat sedang bersama dengan gadis bernama Kaila Elzana itu.


"Aku sudah tahu jawabannya, aku pergi dulu." Fredian melangkah pergi sambil mendongakkan kepalanya. Wajahnya benar-benar terlihat penuh amarah.


"Tunggu presdir!" Teriakan asisten Rian tidak lagi didengarnya. Dia terus melangkah menuju lobby rumah sakit.


Tepat saat dia melangkah keluar pintu rumah sakit tersebut, Rian datang menenteng tasnya, mereka berdua berpapasan di pintu masuk.


Pria itu terkejut melihat kemarahan terpancar jelas dari sinar mata Fredian. Dia tidak tahu apa yang telah membuatnya menjadi se-marah itu.


"Kamu mencariku?" Tanya Rian sambil menatap wajah pria itu.


"Apa kamu baru pulang berkencan? Wajahmu terlihat begitu cerah!" Sindir Fredian pedas. Rian tersenyum melihat tingkah lakunya. Dia menggelengkan kepalanya lalu melaluinya begitu saja.


Rian tidak ingin menjelaskan apapun, karena dia tidak merasa terjadi sesuatu yang indah pagi ini.


Sepanjang malam dia berada di laboratorium untuk membuat ramuan khusus. Dia ingin membekali Irna sebelum pergi ke Holland. Dia sangat takut jika Irna terluka lagi.


Bersambung...


Tinggalkan like sebelum pergi, jangan lupa vote juga ya? Untuk dukung author terus berkarya? I love you Readers ❤️❤️..

__ADS_1


__ADS_2