Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Pemotretan


__ADS_3

Jermy meraih kaki Irna saat gadis itu melangkah di sebelahnya jatuh berbaring.


"Akh! bruuukkk!" Irna jatuh tersungkur di dekat pria itu.


"Maaf tanganku licin, aku pikir kakimu adalah kaki kursi jadi aku meraihnya untuk pegangan." Pria itu beranjak bangun, kembali merapikan jasnya dan berjalan mendahuluinya.


Irna bersungut-sungut, wajahnya terlihat marah bukan main. Gadis itu beranjak berdiri dan kakinya terasa sedikit nyeri akibat jatuh tadi.


Dia berjalan dengan sedikit terpincang-pincang. Kaki kirinya diseret saat dia menuruni tangga.


Jermy melihat Irna berjalan dengan langkah kaki tidak normal lalu melangkah mendekatinya.


Tanpa aba-aba dari Irna pria itu langsung mengangkat tubuhnya, membawanya menuju lokasi pemotretan.


"Apa yang kamu lakukan! turunkan tubuhku!" Teriaknya sambil memukul lengan pria itu.


"Jika kamu terus berjalan kakimu akan semakin membengkak! diamlah dan jangan banyak bergerak." Ujarnya sambil melihat wajah Irna dengan serius.


"Memangnya siapa yang telah membuat kakiku terkilir?" Tanyanya pada Jermy.


"Aku mengakuinya, itu salahku. Dan siapa suruh kamu terus-terusan mengerjaiku?! aku juga akan membalas jika dikerjai terus-terusan."


Sanggah pria itu, dia tidak ingin terus disalahkan. Dia sendiri merasa menjadi korban kekerasan Irna Damayanti.


Jermy sudah sampai di dalam vila yang akan di gunakan untuk beristirahat sementara proses pemotretan berlangsung.


"Jadi kamu berencana untuk balas dendam padaku heh! Plaak!" Irna ingin memukul bahunya tapi tidak sengaja malah terkena wajahnya.


Jermy memandang wajah Irna dengan tatapan yang tidak bisa dilukiskan, kemarahannya terpendam di dalam lubuk hati pria itu.


"Aku ingin memukul bahumu, tapi tidak sengaja mengenai wajahmu. Maafkan aku!" Ujar Irna buru-buru, dia sebenarnya juga tidak ingin mencederainya.


Bagaimanapun pria itu pernah menolongnya, dan tidak melukainya sama sekali. Jermy juga tidak pernah berlaku melecehkan dirinya.


Jermy diam saja dan tidak menjawab permintaan maaf Irna. Pria itu menurunkan tubuhnya di atas sofa lalu berjongkok di bawah kakinya.


Dia melepas high heels yang dipakai oleh Irna, dan melangkah pergi mengambil minyak urut. Jermy mengoleskan minyak tersebut pada pergelangan kaki Irna dan memijitnya perlahan.


Sesekali dia melihat wajah Irna, setiap Jermy melihat ke arahnya Irna segera melemparkan pandangannya ke arah lain.


Jermy merasa gemas karena Irna terus membuang muka dan memijit kakinya dengan sedikit tekanan.


"Akh! sakiiiiiit!" Pekiknya refleks menunduk meremas bahu Jermy. Pada saat itu Jermy meraih kepalanya dan mencium bibirnya.


Irna terus memukulnya, Jermy menahan sakit pada punggungnya dan tidak ingin melepaskan ciumannya.


Sekitar lima menit pria itu menahan kepalanya dan membiarkan punggung dan tengkuknya berdarah karena cakaran kuku Irna.


Punggungnya terasa hangat, darah mengalir dari tengkuknya membanjiri punggungnya.


Jermy berdiri dan mengusap tengkuknya dengan kapas yang sudah ditetesi cairan anti septik.


Irna mengusap bibirnya dengan lengan kanannya seolah-olah telah tercemar oleh bakteri ganas. Jermy tidak melepaskan pandangannya dari wajah Irna sedetikpun.


Gadis itu juga enggan berbicara padanya, rasanya hanya akan membuang waktunya dengan sia-sia saja.


Para krunya juga beristirahat di tempat yang terpisah dari tempat mereka berdua. Irna tahu itu adalah rencana Jermy dengan sengaja agar dia bisa berdua saja dengannya tinggal di sana.


Jermy melangkah menuju kamar mandi mengganti bajunya dengan baju baru dari dalam kopernya.


"Jika kamu ingin tidur, beristirahatlah di kamar sebelah sana." Ujarnya pada Irna, gadis itu diam saja dan tidak menjawab.


Kakinya juga sudah tidak sesakit tadi, sudah lebih mendingan dari sebelumnya.


"Pemotretan akan di adakan nanti malam, bajumu ada di dalam koper, jika kamu ingin berganti pakaian." Jelasnya lagi.


Irna diam saja dan tidak beranjak dari tempat duduknya. Dua jam berlalu dia masih mematung duduk di sofa sampai perlahan-lahan matanya tertidur di sandaran kursi.


Jermy sejak berganti pakaian sudah mendahuluinya tidur di kamar yang ada di sebelah kamarnya.


Pria itu terbangun melihat Irna sudah terlelap di atas sofa. Dia melihat Irna tertidur pulas dia duduk di sebelahnya dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut dari dalam kamar.


Irna tiba-tiba menyandarkan kepalanya di atas bahunya, pria itu takut dia dituduh mengambil kesempatan dalam kesempitan karena dia telah menciumnya tadi siang.


Dia berusaha merebahkan kepala Irna kembali di sandaran kursi, tapi Irna malah memegangi lengannya dan terus bersandar padanya.


Aroma parfumnya sama dengan aroma Fredian, saat pria itu duduk di sebelahnya dia tidak tahu jika itu adalah Jermy karena dia masih tertidur sangat pulas.


Jermy masih berusaha melepaskan diri dari pelukannya.


"Tetaplah di sini Fred.." Gumamnya dalam tidurnya.

__ADS_1


Jermy tercekat, dia baru sadar jika dia memang memakai parfum yang aromanya hampir sama dengan Fredian tapi bukan parfum sejenis.


"Dia berfikir aku suaminya..." Jermy merasa sangat tidak senang. Dia tidak senang dirinya disamakan dengan suaminya.


Tapi Irna memeluknya dengan sangat erat, jadi mau tidak mau dia tetap berdiam diri di sana. Satu jam berlalu dan dia ikut tertidur, Irna masih erat memeluknya.


Irna terjaga dia jam kemudian, dia terkejut mendapati dirinya tidur di dalam pelukan Jermy.


"Bagaimana mungkin aku bisa menempel pada pria ini?" Bisiknya pelan, dia kemudian melepaskan pelukannya dan beranjak berdiri.


"Astaga parfumnya, ini aroma parfum suamiku. Apakah dia menirunya dengan sengaja?"


Jermy terjaga, dan melihat Irna mencari pakaian yang sesuai untuknya di dalam koper yang ada di sana.


Setelah mengambil sepasang baju dia melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Saat Irna keluar dari dalam kamar mandi, Jermy sudah berdiri di depan pintu.


"Mau apa kamu?" Tanya Irna sedikit terkejut, kepalanya masih basah dan dibungkus dengan handuk.


"Mau mandi, seseorang tidur siang sangat pulas sampai-sampai membuat leherku basah dengan air liurnya." Menunjuk lehernya dan benar basah kuyup.


"Kenapa kamu memakai parfum yang sama aromanya dengan Fredian?" Irna berkacak pinggang dan tidak merasa bersalah sama sekali.


"Apa kamu bilang? parfum kami sama??? Hidungmu mungkin yang bermasalah!"


Pria itu dengan tidak sabar mengambil botol parfum miliknya dari dalam koper dan menyodorkan pada Irna.


"Apa ini sama dengan punya Fredian?"


"Tidak sama! tapi aromanya hampir sama!" Irna bersungut-sungut melangkah melaluinya tanpa rasa malu sama sekali telah menuduhnya.


Irna melihat tengkuknya masih terluka akibat cakaran kukunya tadi siang. Gadis itu tidak peduli sama sekali. Siapa suruh dia mengambil ciumannya dengan paksa.


Mereka melangkah bersama menuju tempat pemotretan sore itu.


Sekretaris Jermy, ikut serta dalam acara untuk membantu Jermy mengurus perusahaan dan memilah berkas yang perlu ditandatangani.


"Presdir tengkuk anda terluka lumayan parah. Apa yang terjadi?" Gadis itu melirik ke arah Irna yang belakangan terlibat gosip dengan bosnya itu.


Irna segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Ah tidak apa-apa, kucing kecil mencakar punggungku saat aku menciumnya." Ujarnya penuh makna sambil melemparkan senyum manis ke arah Irna.


"Lalu haruskah aku tidak membela diri saat dicium paksa olehnya! hingga dia tidak memiliki bekas luka untuk dipamerkan! lalu bagaimana denganku! membiarkan pria itu menikmati bibirku begitu saja?!" Gerutu Irna sambil berjalan menuju ruang ganti pakaian dan ruang rias.


Irna sudah selesai, dan gadis itu melangkah menuju depan kamera. Perhiasan cantik menghiasi lehernya yang jenjang.


Dari ujung kepala sampai ujung kakinya dihiasi oleh gemerlap berlian. Hidungnya juga dihias dengan tindik kecil berlian.


Kulit cerahnya senada dengan warna gaunnya hijau. Dia melangkah dengan sangat anggun sambil menjinjing ujung gaunnya.


Baru kali ini Jermy melihat Irna saat pemotretan secara langsung. Irna melihat kekaguman dari wajah Jermy saat menatap dirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Pria itu tersenyum takjub sambil mengusap bibirnya sendiri dengan ujung jarinya.


"Dia sengaja mengusap bibirnya! apa dia ingin membuat aku mengingat jika dia telah menciumku! menyebalkan sekali! Dia bahkan merelakan punggungnya hancur lebur dengan penuh luka demi ciuman itu!" Gerutunya terus menerus.


Irna mulai mengambil pose di depan kamera. Jermy tak mau melepaskan pandangannya sama sekali dari wajah Irna.


Setelah Irna menyelesaikan pemotretan dia turun dari panggung pemotretan. Irna berjalan menuju ke ruang ganti.


Untuk kembali berganti pakaian sekaligus melepaskan seluruh perhiasan senilai lima puluh milyar itu dari tubuhnya.


Jermy mengikutinya masuk ke dalam kamar ganti. Irna segera membalikkan badannya dia takut tiba-tiba pria itu melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya.


"Aku tidak akan mengambil perhiasan ini, setelah melepaskan semuanya aku akan meletakkannya pada kotak perhiasan itu kembali." Ujar Irna buru-buru.


Jermy melangkah mendekat ke arahnya, dan membuat Irna terpaksa mundur beberapa langkah menjauh.


"Aku kemari bukan untuk mengawasimu mengambilnya atau tidak. Aku kemari cuma ingin bilang, perhiasan yang sudah melekat pada tubuhmu... adalah milikmu."


"Dan honor pemotretan akan di transfer setiap selesai proses pemotretan ke rekeningmu. Itulah kenapa aku tidak mencantumkan honor tetap di dalam kontraknya." Jelasnya pada Irna.


"Apakah kamu ingin membuat gosip baru, bahwa Irna Damayanti telah menguras harta kekayaan Presdir Rossdale. Dia bahkan telah tidur bersamanya demi uang!" Sergah Irna sambil tersenyum sinis.


"Apa kamu pikir aku yang membuat keributan di media kemarin??? itu bukan aku! aku tidak serendah itu!" Sergahnya dengan wajah marah.


"Kamu sudah mengenalku beberapa tahun lalu! jika aku berniat mengambil kesempatan aku tidak akan perduli walaupun kamu sedang hamil!" Ujarnya lagi lebih mendekat padanya.


Irna terpaksa mundur lagi sampai membentur meja rias. Dia menahan dada pria itu agar tidak berjalan lebih dekat ke arahnya.

__ADS_1


"Oke! aku percaya, tapi bisakah kamu sedikit menjaga jarak denganku? dan jangan coba-coba menciumku lagi! aku bukan wanita lajang! aku juga tidak ingin kamu menciumku sekalipun kamu pria yang luar biasa! aku juga bukan tipe wanita yang tergila-gila dengan uang."


"Aku akan mengembalikan semua perhiasan ini padamu." Ujar Irna sambil memunggunginya.


Gadis itu melepaskan perhiasan itu satu persatu dari tubuhnya menaruhnya kembali ke dalam kotak.


"Jika kamu menolak perhiasannya, aku akan mengirimkan itu ke rumahmu."


"Aku menyukaimu! aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak menciummu! jadi jangan sekali-kali mengabaikanku! atau aku akan melakukan lebih dari itu!"


Mendekat dan mencium punggungnya.


"Astaga! kamu bahkan terang-terangan mengatakan bahwa kamu akan melakukannya! aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar!" Irna berbalik dan mendorongnya menjauh.


"Aku akan memutuskan kontraknya! jika kamu berani menggunakan tubuhku untuk memenuhi keinginanmu! aku tidak peduli dengan pinaltinya! sekalian saja kamu kirim aku ke dalam penjara!" Irna berteriak dengan suara histeris.


Gadis itu tidak peduli jika orang yang berada di luar mendengar segalanya. Dia sudah merasa tidak punya harapan lagi.


Irna jatuh terduduk sambil memeluk lututnya dia menangis terisak bersandar pada meja rias.


Jermy melihat itu, dan dia menyodorkan sekotak tissue padanya sambil ikut duduk di sebelahnya.


Irna menepis tangannya, pria itu mengambilnya kembali dan mengusap air matanya yang membasahi kedua pipinya dengan tissue yang ada di tangannya.


Irna melihat ke arahnya, pria itu malah tersenyum sambil terus mengusap air matanya yang terus menerus mengalir.


"Kamu cantik saat menangis.."


"Dasar pria gila!"


"Aku gila karena terus menerus memikirkanmu.."


"Pria bodoh!"


"Aku tidak bodoh, aku bisa mengenali gadis yang luar biasa dan yang biasa-biasa."


"Berhentilah membantahku!" Teriak Irna dengan kencang lalu kembali meledakkan tangisnya.


Jermy mengangkat tubuhnya dan membawanya keluar dari dalam kamar ganti menuju ke vila.


Irna menyembunyikan wajahnya di dada Jermy, karena saat ini wajahnya sembab.


Para kru sudah tidak ada di sana, Jermy sengaja memerintahkan kepada karyawannya agar melakukan penerbangan kembali ke London seusai pemotretan.


Jadi tinggal dirinya sendiri dan Irna yang ada di sana.


"Aku janji tidak akan pernah melakukan itu padamu. Tapi jangan mengabaikanku lagi." Ucap Jermy dengan nada datar.


Dia menurunkan tubuhnya di atas sofa, Irna segera beranjak berdiri dan mencari baju ganti di dalam koper.


Dia hendak melepaskan perhiasan dari tubuhnya, Jermy menahan tangannya menghentikannya.


"Aku bilang jangan lepas." Ujarnya lagi, masih menggenggam tangan Jermy.


"Besok aku harus ke pemotretan di tempat lain, mana mungkin aku memakai semuanya sekaligus seperti ini?!" Sergah Irna sambil menatap matanya.


"Oke kalau begitu tetap pakai ini." Pria itu berjongkok di bawah kakinya menyentuh gelang kaki berlian yang membingkai kaki jenjangnya.


Irna sontak menyingkirkan kakinya karena dia mengelus betisnya.


"Kamu lupa dengan janjimu!?" Sergahnya membelalakkan matanya.


"Aku hanya menyentuh gelang kakimu, itu terlihat indah di sana."


"Kamu menyentuh betisku!"


"Itu aku tidak sengaja menyenggolnya!"


"Kamu memainkan jarimu pada kakiku! apa kamu pikir aku bodoh dan tidak bisa membedakan mana yang sengaja dan dibuat-buat???"


"Oke aku minta maaf." Ujarnya lalu melangkah keluar dari ruangan.


Irna melepaskan anting dan kalungnya, tiba-tiba pria itu berdiri lagi di sebelahnya.


"Setelah selesai kita makan malam. Kita kembali ke London besok pagi." Ujarnya.


"Dasar pria gila, dia pikir kita sedang berkencan atau semacamnya! dia menggunakan pemotretan hanya sebagai alasan!" Gerutu Irna berkali-kali.


Malam itu Irna makan dengan cepat lalu segera masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Apa kamu sudah tidur?" Jermy memanggilnya dari luar pintu. Irna malas menjawabnya. Gadis itu sengaja mengunci pintunya dari dalam dia tidak bisa mempercayai Jermy.

__ADS_1


Irna tidak akan pernah mengkhianati Fredian, tidak akan pernah.


Bersambung...


__ADS_2