Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Always one heart


__ADS_3

Rian mengulurkan tangannya membersikan makanan yang menempel pada pipi Irna. Irna mengerjapkan matanya ketika tangan pria itu menyentuh pipinya.


Rian terus menatapnya dengan tatapan lembut.


"Kenapa pria ini tiba-tiba kembali waras seperti saat sebelumnya?" Bisik Irna dalam hatinya.


Tangan Rian berhenti di sana, masih mengusap pipinya dengan lembut.


"Ehm! ehm!" Irna dengan sengaja terbatuk agar Rian menurunkan tangannya dari pipinya.


Akan tetapi tidak, dia malah menyentuh kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya. Lalu menariknya ke samping kira dan kanan.


"Hahahaha! kamu imut sekali!" Pria itu tertawa lepas melihat wajah cemberut di depannya.


"Aku akan membayar makanan, jangan melarikan diri dariku!" Pura-pura mengancam memperlihatkan wajah kejam.


"Hah! tidak cocok sama sekali!" Dengus Irna saat pria itu melangkah menuju kasir restoran.


Mereka berdua keluar dari dalam restoran bersama-sama.


"Apa yang kamu lakukan satu bulan lembur di NGM? apa ada yang menarik di sana?"


Irna memberanikan diri untuk bertanya.


"Apalagi, selain membuat vaksin." Menatap wajah Irna tersenyum lebar seperti memiliki kejutan untuk gadis di sebelahnya.


"Apa ada pesanan dari luar negeri lagi?"


"Vaksin kali ini untukmu."


"Aku? Irna membelalakkan matanya lebar-lebar. Apa kamu ingin mengubahku menjadi manusia biasa?" Irna berbisik pelan di telinganya.


"Bukan." Masih tersenyum penuh misteri.


"Jangan melakukan hal gila!"


Irna sedikit takut ketika melihatnya menyeringai lebar. Mereka kembali masuk ke dalam apartemen Irna.


"Apa kamu pikir aku pria kejam, mengerikan, lalu mengubah istri tercintanya menjadi mahluk aneh? berhentilah membaca kisah fantasi! terlalu banyak bayangan tidak masuk akal dalam pikiranmu."


Ujarnya sambil menatap ke arah langit di luar jendela.


"Senyuman di wajahmu terlihat aneh!" Ujar Irna lagi.


"Sebenarnya untuk apa kamu membuat vaksin untukku?"


Irna mengeryitkan keningnya menatap Rian penuh rasa penasaran. Dia benar-benar terkejut karena baru kali ini pria itu membuatkan sesuatu untuk diinjeksikan ke dalam tubuhnya.


"Apa kamu mau mencobanya sekarang?" Rian berjongkok di sebelah koper kecil berwarna hitam. Pria itu sedang menekan tombol sandi untuk membukanya.


Irna duduk di kursi menunggunya, gadis itu terlihat santai tanpa rasa takut sama sekali.


Rian mengambil sebotol kecil cairan berwarna biru jernih. Dan mengambil alat suntik. Rian duduk di sebelahnya, mengoleskan cairan antiseptik sebelum menyuntikkan pada lengannya.


"Ini tidak akan sakit."


Pria itu mulai menusukkan jarum pada lengannya untuk memasukkan vaksin tersebut ke dalam tubuh Irna.


"Apa kamu merasakan sesuatu?"


Rian mencermati wajah Irna menunggu reaksi yang terjadi.


"Tidak ada, aku tidak merasakan apapun kecuali, ngantuk."


Irna nyengir menatap wajah Rian yang sejak tadi serius menatapnya.


Rian mengangkat tubuhnya ke atas tempat tidur.


"Kamu menyuruhku tidur sekarang?"


"Kamu bilang ngantuk, tidurlah aku akan menunggumu sampai kamu terlelap." Tersenyum sambil mengusap keningnya.


"Dia benar-benar telah berubah, pria ini sebenarnya apa maksudnya? Aku pikir dia lembur waktu itu karena marah padaku, tapi ternyata malah membuat vaksin untukku."


Irna perlahan memejamkan matanya, Rian mengecup keningnya dengan sangat lembut.


"Maafkan aku Fred, aku tidak bisa melepaskan Irna padamu kembali. Maafkan aku.."


Rian tertunduk sambil mengusap air matanya.


Pagi hari..


Irna terjaga melihat Rian berada di sebelahnya, pria itu merengkuhnya sepanjang malam.


"Astaga! aku tidur seperti orang pingsan."


Gadis itu mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Dia lebih terkejut lagi ketika melihat keadaan dirinya dan Rian tanpa pakaian.


"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa aku tidak ingat sama sekali telah melakukan itu dengannya."


Gumam Irna sambil memunguti kembali pakaiannya.


"Apa ini karena vaksin yang disuntikkan padaku semalam?" Irna menggelengkan kepalanya berkali-kali masih tidak bisa mengingat.


Satu bulan kemudian... pagi hari.


"Rian apa ini? kamu ingin menjualnya?"


Irna melihat pria itu membawa tes kehamilan banyak sekali.


"Coba kamu gunakan itu."


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Untuk melihat hasil akhirnya!" Ujarnya sambil memakai dasinya, tersenyum menatap Irna.


Gadis itu tidak mengerti apa yang dimaksud olehnya.


"Aaaaaaaaa! tidaaaaaak! bagaimana mungkin? di usiaku sekarang ini?! Riaaaaaaann!"


Irna berteriak histeris karena melihat dua garis merah pada alat tersebut.


"Astaga memalukan sekali!" Gerutunya sambil menunjuk ke arah pria yang masih berdiri sambil berkacak pinggang menatap wajah histerisnya.


"Bagaimana? bukankah suamimu ini terbukti sangat jenius?!" Mengedipkan sebelah matanya ke arahnya.


"Astaga! pria ini! dia bahkan masih sempat tebar pesona di depanku!"


Kini Irna tahu kenapa pria itu tidak menegurnya satu bulan yang lalu, juga sengaja menjauhinya. Ternyata demi menyiapkan semuanya.


Rian tidak berubah, hatinya benar-benar terluka saat memukul Irna waktu itu.


Saat sikap posesifnya muncul dan tidak bisa dikendalikan lagi. Seribu penyesalan mungkin tidak bisa menghapus luka pada hati Irna.


Semakin hari perut Irna semakin membesar, keluarga Aditama hampir setiap bulan mengunjunginya.


"Mama.." Irna menyambut kedatangan ibu mertuanya, gadis itu memeluknya. Saat itu kandungannya sudah berusia enam bulan.


Nyonya Aditama menyiapkan jus dan makanan kecil untuknya.


"Kamu tidak boleh terlalu lelah, jangan terlalu sering bekerja."


Nyonya Aditama mencium keningnya seperti mencium putrinya sendiri. Irna melelehkan air matanya, dia seperti mendapatkan orang tuanya kembali.


Rian tersenyum melihat binar-binar bahagia pada wajah Irna. Pria itu melangkah mendekat ke arahnya.


"Mama jangan mengomel terus, nanti cucumu bisa cerewet seperti neneknya."


Kelakarnya sambil mengusap perut istrinya.


Fredian mendengar kabar kehamilan Irna, pria itu mengepalkan tangannya.


"Dia benar-benar akan mempertahankan semuanya!" Fredian mengusap wajahnya merasa sangat kesal.


"Sraaak! braaaak!"


Pria itu menjatuhkan seluruh berkasnya di lantai ruangan kerjanya.


Irna dan Rian telah kembali ke London sejak empat bulan usia kehamilannya. Mereka berdua tinggal di rumah Rian.


Malam yang sunyi, bulan di atas langit kembali bersinar bulat penuh. Menerangi ranting-ranting pohon di sekitar rumah megah Rian Aditama.


Tepat jam dua belas malam terdengar suara tangisan bayi. Rian tersenyum sambil mengusap air matanya.


Kania Aditama.. Seorang gadis belia berusia tujuh belas tahun. Gadis itu melangkah di antara kerumunan mahasiswa di universitas kedokteran Jerman.


Ketika melihat kedua orang tuanya berdiri menunggunya, gadis manis itu berlari menghambur memeluknya.


Fredian duduk di sebuah kursi tunggu. Dia melihat gadis tujuh belas tahun itu menghampirinya.


"Papa ganteng!" Sapanya sambil mencium pipinya. Fredian menatap gadis imut itu tanpa sebuah senyuman.


"Kenapa kamu menciumku? aku bukan papamu." Fredian berdiri dari tempat duduknya.


"Papa, benci sama Kania? Mama bilang kalau papa adalah ayah yang baik. Mama bilang Kania harus sayang sama papa dan kakak Alfred."


Gadis itu terus merajuk pada Fredian.


Irna melangkah mendekat ke arah Fredian sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Kania, sini sayang." Gadis itu menoleh ke arah Irna sambil menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin pergi dari sisi Fredian.


Irna tahu kenapa Fredian marah sampai sekarang. Dia tahu saat melihat Kania pasti hati pria itu sangat terluka.


Tapi Irna juga tidak bisa menjauhkan dan memberi jarak antara mereka berdua.


Rian menghampiri mereka bertiga.


"Irna kembalilah dulu, aku ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Fredian."


Irna dan Kania melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.


Rian duduk pada sebuah bangku, saat itu usia pria itu hampir mendekati tujuh puluh tahun.


"Aku tahu telah mengingkari janjiku saat kamu menitipkan gadis itu padaku. Aku bukan manusia vampir seperti dirimu. Aku punya batas waktu."


Fredian tercekat mendengar pernyataan tersebut, seolah-olah Rian sedang berpamitan padanya. Dia tidak tahu kenapa mendadak pria itu ingin menemui dirinya hari itu.


Fredian merasa itu hal yang sangat penting, karena Rian tidak pernah mengunjunginya setelah menikah dengan Irna.


"Apakah kamu sangat membenciku? melihat kamu tidak mau menjawabnya, artinya benar."


"Cepat katakan kenapa kamu memintaku datang kemari."


Rian mengeluarkan surat perceraian yang belum ditandatangani, surat dirinya dengan Kaila Elzana yang tidak lain adalah Irna.


"Aku akan mengembalikan semuanya padamu, tiga bulan lagi."


Rian mendongak menatap langit biru di atas sana. Begitu sedih hatinya ketika harus melepaskan gadis itu kembali padanya. Gadis yang sangat dicintainya, gadis yang selalu ada dalam benaknya.


Kisah romantis antara mereka berdua, cinta dan pengorbanan. Berdiri di sisinya dalam waktu yang tidak singkat.


Waktu demi waktu berlalu, tak sedetikpun berlalu tanpa mengukir kisah romantis cinta mereka berdua.


"Apa kamu sudah membicarakan ini dengan Irna? kamu tahu gadis itu akan membunuhku jika melihat ini? dia pikir aku melukaimu."


Rian tersenyum menatap Fredian.

__ADS_1


"Dia yang merawatku selama ini, tentu dia tahu semuanya."


"Apa kamu menolaknya?" Tanya Rian padanya.


"Bukan ini yang aku inginkan, aku tidak akan mengejarnya lagi. Setatusnya sebagai ratu di kalangan kami. Aku tidak bisa menawarkan diri semudah melamar seperti manusia pada umumnya."


"Sejak dia menjadi ratu, dia di bawah pengawasan yang ketat. Jika tidak aku pasti sudah berkali-kali menemuinya."


"Hahahaha, peraturan macam apa itu? lucu sekali. Masa vampir kalah sama manusia." Rian terpaksa tersenyum mendengar penjelasan dari Fredian.


"Jangan menertawaiku! menjengkelkan sekali!"


Gerutunya sambil menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi.


"Lalu bagaimana caranya agar kalian bisa bersama kembali?" Rian menatap wajah Fredian lekat-lekat.


Pria itu berharap ada penyelesaian dan kunci untuk menyatukan mereka berdua kembali. Dia merasa sudah mengambil banyak waktu yang seharusnya milik mereka berdua.


"Tidak ada jalan, kecuali dia yang datang padaku. Dan melihat gadis keras kepala itu sepertinya itu sangat mustahil."


Fredian tersenyum melihat wajah Rian yang mulai putus asa. Dia terlihat khawatir dengan Irna jika dirinya pergi suatu saat nanti.


"Kenapa kamu begitu cemas! dia itu ratu, memiliki pasukan lebih dari seribu iblis."


Fredian menggelengkan kepalanya sambil mengisap cerutu lalu menghembuskan asapnya ke udara.


"Sehebat itukah Irna?" Rian sama sekali tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Fredian.


Selama ini gadis itu menemaninya tanpa menunjukkan jati dirinya sama sekali. Dan itu yang membuat Rian berfikir kalau Irna bukan vampir.


Dia makan dan minum seperti manusia normal hanya saja dia selalu menghilang setiap bulan purnama.


Rian sama sekali tidak tahu jika Irna menyandang status sebagai ratu dikalangan vampir.


"Ikutlah bersamaku." Rian menarik lengan Fredian menuju mobilnya.


Fredian mengikutinya, saat Rian membawanya pulang ke rumahnya. Irna tidak terkejut melihat Fredian datang ke rumah.


Rian mengajak Irna dan Fredian duduk bersamanya. Dia mengatakan maksud dirinya yang akan melepaskan Irna karena usianya sudah tidak lama lagi.


Irna terlihat tidak sedih ataupun gembira. Gadis itu berekspresi datar seperti biasanya.


"Kenapa kalian berdua menatapku seperti itu?"


Irna tidak mengerti, wajah Rian yang sangat sedih, sedang Fredian duduk santai tanpa berkomentar apapun.


"Kalian sampai kapan berhenti melakukan aksi lempar melempar?!" Irna menopang dagunya menatap wajah Fredian juga Rian bergantian.


"Berhentilah bermain, kita bukan anak muda lagi."


"Aku serius."


Rian terlihat sangat sedih. Saat mendengar Irna berkata demikian. Dia tahu Irna sangat benci sekali diperlakukan seperti barang dilempar kesana-kemari.


Irna sangat membencinya, baginya itu sangat menyebalkan. Mereka selalu mengambil keputusan sendiri berdua tanpa membiarkan dirinya untuk memilih apa yang dia inginkan.


"Aku juga serius." Irna menatap Rian.


"Jadi apa peranku di sini? kalian selesaikan masalah kalian, aku akan pergi."


Fredian bangkit dari kursinya satu detik kemudian tidak terlihat lagi di sana.


"Kamu tidak ingin perceraian? bukankah kamu sangat mencintainya?"


Rian terkejut mendengar gadis itu membantah ketika dia ingin menyerahkan dirinya kembali pada Fredian.


Irna tersenyum melihat ke arahnya, dia mendekati Rian duduk di sebelahnya. Pandangan matanya jatuh ke atas langit. Begitu banyak bintang bersinar di atas sana.


Bintang itu terlihat gemerlap menyatakan rasa cintanya pada dunia yang telah hilang disergap kelamnya malam.


Angin semilir menerpa helaian rambut panjang Irna, melambai kesana-kemari meliuk-liuk jatuh di atas pipinya.


"Aku akan mengikuti aliran air, biarkan mengalir seperti apa adanya. Jangan melawan arus hingga terluka seorang diri."


Rian tidak mampu berkata apa-apa, dia melelehkan air matanya sambil memeluknya erat saat kata-kata itu meluncur dari bibir Irna.


"Jika aku punya waktu seribu tahun, aku ingin hidup dan terus berada di sisimu."


Irna memejamkan matanya saat ia mendaratkan sebuah ciuman lembut di keningnya.


Kisah romantis yang tak pernah berakhir di telan masa juga terus berjalan seiring waktu.


Irna menyandarkan kepalanya di atas bahu Rian.


Rian menepuk bahunya sambil tersenyum menggenggam jemari tangannya.


"Aku melihat bulan bersinar terang, dan aku mendapati cintaku pergi dan datang. Pergi datang silih berganti. Tapi ternyata hati itu tetap satu juga tidak tergantikan oleh yang lain."


"Tidak ada pilihan untuk pergi atau menoleh ke arah lainnya. Bukan karena tidak ada kesempatan, tapi keinginan itu benar-benar telah lenyap bak buih di atas lautan yang terhempas di tepi pasir pantai"


"Keindahan segalanya lenyap tertelan hadirnya di sisiku, lenyap dari segala penglihatan mataku."


"Kehadirannya bagaikan bunga mekar yang selalu harum dan cerah secerah senyumannya yang menghias di bibir tipisnya."


"Bagiku kamu bukanlah sekedar cintaku, bukan sekedar pelepas dahaga juga kerinduan. Kamu lebih dari itu semua. Kamu lebih dari sesuatu yang bisa aku miliki setiap aku menunjuk jari!"


"Warnamu begitu sempurna bahkan lebih sempurna dari warna pelangi yang hadir di tengah hujan dan langit cerah."


"Di tengah duka dan juga gelak tawa. Di tengah pagi dan malam. Di tengah musim semi juga musim hujan."


"Jangan lagi ada air matamu yang mengalir setelah aku pergi... aku masih ingin melihat senyuman cerahmu dari atas sana... dari tempat jauh yang tidak bisa kamu gapai."


Bisik hati Rian, saat itu...

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2