Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
In the classroom


__ADS_3

Di sisi lain..


"Kita kembali ke kampus sekarang." Ujar Royd pada Kania, gadis itu malas-malasan duduk di sebuah kursi yang ada di luar ruangan operasi. Di rumah sakitnya.


"Apa sebaiknya tidak libur saja, aku ngantuk sekali pak dosen." Ujarnya masih menelungkupkan wajahnya pada dinding sebelahnya.


"Kamu mau tidur di sini?" Bertanya untuk memastikan keinginan Kania.


"Aku bisa berada di mana saja kapanpun aku mau." Gumamnya dengan sangat cuek.


"Ya, lalu aku akan menulis absen pada daftar hadir hari ini. Oke?" Tersenyum riang melangkah menyusuri lorong rumah sakit meninggalkan Kania sendirian menelungkup di kursi.


"Apa barusan dia bilang? Absen? Daftar hadirku?! Dasar Royd sialan! Dia tidak mau mentolelir ku barang sehari saja! Menyebalkan sekali!" Kania menggerutu sepanjang waktu, gadis itu terpaksa kembali ke apartemen miliknya.


Kania membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandinya, setelah itu dia bersiap-siap untuk pergi ke kampus.


Dia berpikir Royd pasti sudah mendahuluinya pergi ke kampus sekarang. Akhirnya dia tergesa-gesa menuju ke sana. Gadis itu sengaja menggulung rambutnya ke atas, memamerkan leher jenjangnya.


Dengan shirt warna biru muda. Juga celana jeans. Membuat penampilannya cantik dan komplit seperti manekin karena kulitnya yang begitu mulus, dan bersih.


Gadis itu melangkah menuju parkiran mobil, seperti dugaannya ternyata mobil Royd benar-benar sudah tidak ada di sana.


Kania melesatkan mobilnya secepat kilat menuju kampusnya. Setibanya di sana gadis itu setengah berlari menuju ke kelasnya karena takut terlambat.


Kania mengetuk pintu, Royd tengah duduk di kursi yang ada di depan ruang kelas. Pria itu melihat penampilan Kania tanpa berkedip. Baru kali ini dia melihat Kania menggulung rambutnya ke atas.


Benar-benar membuatnya ingin menggigit lehernya yang terlihat sangat halus dan bersih. Royd mengusap bibirnya sendiri, menikmati wajah cantiknya.


Tatapan matanya membuat bulu kuduk Kania meremang seketika. "Apa dia sudah tidak waras?! Kenapa menatapku seperti itu di dalam kelas?!" Geram hati Kania dalam hatinya.


Mira sahabat sebangkunya itu menatap Kania dan Royd bergantian, gadis manis itu mencium aroma cinta antara dosen dan mahasiswi di dalam kelasnya.


"Permisi pak dosen? Bolehkah saya masuk?" Pintanya pada Royd Carney. Dia sudah sejak tadi menunggu pria itu mengizinkannya untuk masuk ke dalam kelas tersebut.


"Oh iya, duduklah. Oke kita lanjutkan pelajarannya hari ini." Ujarnya pada seluruh mahasiswa di dalam kelasnya.


Pelajaran tersebut berlangsung selama dua jam. Setelah memberikan materi di dalam kelasnya, dia kembali duduk di kursinya.


Kania terlihat sedang bercanda dengan Mira, gadis itu tertawa renyah seperti teman-temannya yang lain. Tidak ada yang tahu jika Kania bukanlah manusia, tapi vampir. Keadaan itu tidak membuat gadis itu merasa rendah diri. Malah dia sangat menyayangi teman-teman sekelasnya.

__ADS_1


Beda dengan vampir pada umumnya yang takut dengan manusia, juga cenderung menjauhi manusia. Tapi tidak tahu bagaimana jika teman sekelasnya itu tahu kalau dirinya bukan manusia, pasti mereka akan takut berteman dengan dirinya.


Tepat saat bel berbunyi seluruh mahasiswa dalam kelas tersebut membubarkan diri menuju keluar kelas.


"Nia, aku duluan ya?" Pamit Mira pada gadis itu.


"Apa kita gak barengan saja Mir? Aku bawa mobil, sekalian aku antar." Tawarnya pada sahabat karibnya itu.


"Gak usah, aku mau mampir ke mall dulu membeli beberapa barang." Gadis itu tersenyum cerah seperti sedang janjian dengan seseorang.


"Ah! Kamu kencan ya?" Tebak Kania sambil menunjuk dengan dua jari telunjuknya ke arah Mira. Wajah Kania terlihat cerah melihat kebahagiaan teman sebangkunya itu.


Royd menggelengkan kepalanya seraya tersenyum melihat mereka berdua masih tinggal di dalam kelas, bercakap-cakap.


"Ternyata gadis itu begitu ceria bersama teman-temannya, aku pikir dia selalu menyendiri dan menghindari manusia." Gumam Royd pada dirinya sendiri.


Pria itu kemudian memasukkan kembali barang-barang miliknya ke dalam tasnya. Lalu melangkah keluar dari dalam kelas.


"Syukurlah pria itu sudah pergi! Aku takut sekali dia tidak akan melepaskanku hari ini." Kania mengusap dadanya merasa lega melihat pria itu sudah mendahuluinya keluar dari dalam kelas.


"Kalian terlibat hubungan?!" Tebak Mira sebelum gadis itu melangkah keluar.


"Pak dosen, siapa lagi?"


"Ah itu, dia tinggal di sebelah apartemenku. Dan.."


"Dan apa?"


"Dan aku sering melihat Lisa dan Tari pergi ke sana." Kania terpaksa berbohong, dia tidak ingin siapapun melihat mereka berdua memiliki hubungan. Apalagi mengetahui sudah berapa kali mereka bergumul di atas tempat tidur. Itu sangat mengerikan bagi Kania.


Sesaat gadis itu kembali melamun. Dia masih terbayang bagaimana Royd mencumbuinya dua hari lalu, lalu pria itu pergi selama dua hari ke rumah besar keluarga Carney menemui ayahnya.


Kania merasa bebas selama dua hari tanpa gangguan Royd. Dia hampir mual karena pria itu mengunjunginya hanya karena ingin menempel seperti lem.


"Ya sudah aku duluan," Mira melambaikan tangannya, Kania sendiri segera menyusulnya setelah memasukkan bukunya ke dalam tas miliknya.


Kania melangkah hampir sampai di pintu kelasnya, "Kamu mau pergi?" Royd berdiri di ambang pintu. Kania melirik ke sekitar, ada serbuk merah lagi.


"Dasar pria ini! Kamu kenapa belum pulang?" Kania pura-pura bersikap senetral mungkin. Supaya tidak mengundang kecurigaan Royd, karena sebenarnya dia ingin menjauhinya.

__ADS_1


"Tentu saja untuk menunggumu."


Kania menerobos keluar, hendak melangkah menuju parkiran.


"Street! Wuuushhh!" Royd melemparkannya tali, hingga tali tersebut berhasil melilit pinggang Kania lalu di tarik, dihempaskan.


Membuat tubuh Kania jatuh di pelukannya. "Pria licik!" Umpat gadis itu sambil berpegangan pada kedua bahunya.


"Aku malas berlari sayang..." Bisiknya seraya menciumi pipinya.


"Royd lepaskanlah aku, kamu menggunakan alat pemburu untuk menangkapku! Dasar jahat! aku kurang tidur, aku lelah dan ingin segera pulang." Memukuli bahunya dengan kepalan tangannya.


Royd tersenyum dan mulai memagut bibirnya, "Royd..."


"Hem.." Masih memagut bibirnya dengan sangat lembut.


"Lepaskan aku.."


"Aku merindukanmu."


"Dasar brengsek!"


"Aku akan bertanggung jawab, jadi jangan mengataiku brengsek." Sahutnya lagi, kini jemari tangannya kanannya sudah menelusup di balik shirt warna biru muda miliknya.


"Royd.. akkhhhh! Singkirkan tanganmu dari dadaku!" Kania merintih-rintih karena pria itu meremas-remas gundukan kenyal miliknya.


"Menjeritlah sekencang yang kamu mau, tidak akan ada satu orangpun yang akan datang kemari." Bisiknya lagi.


"Kamu licik sekali! Akkhhh.. ooouuhhh!" Kania terus memekik, bibir Royd telah singgah di kedua dadanya.


"Jangan gigit! Akkhhh! Aduuuh! Duaakkk!" Kania memukul kepalanya karena menggigit dadanya.


"Kenapa kamu memukul kepalaku?!" Royd menghentikan aksinya. Menarik kepalanya dari dada Kania.


Kania tidak ingin menjawab pertanyaan darinya. Gadis itu merapikan kembali bajunya, mendahuluinya melangkah menuju parkiran.


Bersambung...


Tinggalkan like sebelum pergi, jangan lupa vote juga, tunggu episode selanjutnya ya? I love you..

__ADS_1


__ADS_2