Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Past contention


__ADS_3

"Tidak, aku tidak sedang ingin pergi. Kamu siapa?" Tanyanya pada asisten Rian tersebut sambil melipat kedua tangannya.


"Anda lupa dengan saya? Saya hampir setiap hari pergi ke ruangan anda untuk menyerahkan berkas. Nama saya Ramon, dokter." Ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


"Kamu sendiri mau ke mana?" Tanyanya sambil mencomot gelas di atas nampan yang berisi jus apel milik Irna. Gadis itu menenggaknya sampai tidak bersisa satu tetes pun.


Ramon melongo melihat tindakan Angelina yang baru saja dilakukan di depan matanya itu, wanita yang sebenarnya bernama Kaila Elzana itu tidak pernah melakukan tindakan seperti tadi, dia lebih menjaga sopan santunnya di depan para karyawan lain dan juga menjaga nama baiknya.


"Mengantarkan ini ke ruangan anda dokter." Ucapnya sesaat setelah kembali ke dalam kesadarannya sambil menundukkan kepalanya.


"Uhk! Uhk! Byur!" Jus dari dalam mulut Angelina mendadak muncrat membasahi wajah Ramon.


"Ah wajahmu basah, katakan saja di mana kamu harus meletakkan ini?" Tanyanya seraya merebut nampan tersebut dari tangan Ramon.


Ramon terkejut mendengar dokter berwibawa kini sifatnya berubah menjadi amburadul acak-acakan.


"Di meja anda dokter." Ucapnya lagi.


"Di mana mejaku? Maksudku meja itu ada di mana?" Ralat Angelina sambil tersenyum berusaha menutupi rasa malunya. Karena dia tidak tahu di mana ruangan Kaila Elzana berada.


"Di sini dokter." Ramon membuka pintu yang tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang, dan dia masuk ke dalam untuk meletakkan berkas diatas meja.


"Wahhh, mantan suami wanita ini benar-benar kaya raya! Ruangan bawahannya saja sebesar ini!" Ucap Angelina penuh rasa takjub, sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan di mana tempat biasa Kaila Elzana bekerja untuk menandatangani berkas nya dan juga untuk beristirahat sejenak.


"Apa maksud Anda nyonya?" Ramon terkejut mendengar Kaila bergumam seperti itu, dia tidak tahu jika wanita di depannya itu bukanlah Kaila yang selama ini dikenalnya dengan baik.


Angelina sendiri lupa Ramon masih berada di sana, dia berniat untuk mengambil nampan dari atas meja dan membawanya pergi kembali ke belakang.


"Tidak ada." Untuk wanita itu segera dia tidak ingin bila curiga kepadanya.


"Kalau anda ingin tahu mengenai Presdir Rian, beliau memang sangat loyal dan juga menyayangi anda. Bukankah anda juga tahu bagaimana selama ini beliau selalu menemani ada sepanjang waktu?" Ramon tersenyum melihat Kaila menggaruk kepalanya karena merasa canggung mendengar ucapan dan penjelasan dari asisten Rian tersebut.


"Hahaha ya mungkin aku yang tidak begitu memperhatikannya, jadi aku tidak bisa melihat semua yang dilakukannya secara jelas."


"Ah iya nyonya, maksud saya dokter." Berkali-kali pria asisten Rian salah memanggil namanya dengan sebutan Nyonya. Karena Kaila Elzana belum lama ini baru mengabarkan perceraian antara mereka berdua.


"Ini adalah jadwal operasi hari ini yang harus anda tangani. Juga beserta daftar nama para asisten yang ikut membantu anda di dalam tim, semua namanya sudah terdaftar di sini. Jika anda keberatan anda bisa mengajukan penolakan dan mengganti dengan dokter yang lain seperti sebelumnya."

__ADS_1


Ramon mengeluarkan berkas tersebut di depan Angelina agar dia segera mempelajarinya.


"Aku hanya harus menandatangani ini kan?" Tanyanya lagi pada Ramon.


Pria itu kembali menggaruk kepalanya, "Apa Nyonya kehilangan ingatannya selama libur beberapa hari ini?" Pria itu belum bisa mengerti kenapa mantan istri Presdirnya itu berubah aneh seperti sekarang.


Rian merasa terjadi sesuatu pada Angelina karena sudah hampir setengah jam Ramon belum kembali untuk melapor padanya. Pria itu akhirnya memilih untuk berdiri dari kursinya. Rian bersiap memakai jas dokternya menuju ke ruangan dimana Angelina berada menggantikan posisi Irna.


"Apa yang terjadi pada mereka berdua? kenapa Ramon tak kunjung melaporkan hasilnya kepadaku?! Apa sebaiknya mulai sekarang aku juga memasang cctv tersembunyi di dalam ruangan Angelina?? Wanita itu selalu melakukan apa saja yang dia inginkan!" Rian sedikit gusar, pria itu mengusap tengkuknya berapa kali karena sangat khawatir melihat sikap Angelina yang selalu melakukan segala sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu.


Dia sudah memakai jas putih miliknya, tapi tak kunjung keluar dari dalam ruangannya. Pria itu masih tetap dan mondar-mandir dalam ruangan kerjanya.


Beberapa menit kemudian Ramon datang, asistennya itu terlihat pucat. Rian melihat penampilannya begitu acak-acakan, dasi yang dipakainya juga melorot ke bawah sudah tidak berada pada tempatnya.


"Ternyata benar! Aku harus segera memasang cctv di dalam ruangan wanita itu!" Gumamnya sambil melotot bingung melihat Ramon masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Maaf presdir sepertinya saya, saya.."


"Saya? Saya kenapa? Cepat katakan?!" Rian memijit pelipisnya tiba-tiba saja pelipisnya terasa nyeri.


Rian segera merebut berkas tersebut dari tangan pria bernama Ramon tersebut.


"Maafkan saya presdir, saya sudah bilang agar nyonya mau menandatanganinya, tapi dia bilang itu juga tanda tangan. Saya sudah menjelaskan padanya agar dia melakukan tanda tangan seperti sebelumnya, tapi nyonya menarik dasi saya! Dia juga mengaduk rambut yang sudah saya tata rapi sejak pukul lima pagi! Tuan presdir dia bersikeras itu adalah tanda tangan miliknya. Tapi..." Celoteh Ramon hampir menangis dia takut sekali dipecat oleh presiden direkturnya itu. Belum selesai bicara Rian mendadak menyahutnya dengan suara gelak tawa keras sekali.


"Hahahaha! Hahahaha! Hahahaha! Sudah pergilah biar aku urus sendiri Kaila.." Rian tertawa melihat tanda tangan Angelina. Wanita itu menggambar simbol bintang dan bulan untuk menggantikan tanda tangannya.


"Dasar wanita jaman purbakala! Hahahaha!"


Kini Angelina tengah berada di dalam ruangan operasi, dia melihat rekan satu timnya mengganti bajunya. Dia ikut juga mengganti bajunya.


"Sialan! Kenapa mereka menatap wajahku seperti menatap wajah wanita bodoh!" Umpat Angelina saat seluruh rekan satu timnya berbisik-bisik sambil menahan tawa melihat dirinya.


Beberapa detik kemudian, Rian datang. "Apa yang kalian lihat??! Pergi ke ruangan operasi sekarang atau surat pemecatan akan kalian lihat lima menit lagi di ruangan kerja kalian berlima?!" Pria itu berkacak pinggang sambil berdiri di sebelah Angelina.


"Apa itu peme-catan? Mereka tiba-tiba pergi begitu saja mendengar kata-kata itu? Apa senjata itu lebih ampuh dibandingkan dengan pedang kristal es milikku?" Angelina masih mematung melihat Rian yang kini tengah tersenyum menatap wajah dirinya.


Pria itu melepaskan pakaian operasi yang dipakai Angelina, melepaskan talinya satu persatu.

__ADS_1


"Kenapa kamu melepaskan ini? Aku harus menangani operasi segera!" Angelina menggenggam pergelangan tangannya.


Rian masih tetap tersenyum lembut, membetulkan ikatan tersebut, Angelina membalik letak tali bajunya. Hingga dia menjadi bahan tertawaan rekan satu timnya.


"Tenanglah, aku hanya membetulkan letak talinya." Ujarnya sambil tersenyum.


"Kamu?!" Angelina tercekat karena Rian mengikat tali di punggungnya sedang posisi pria itu berada di depan wajahnya, seperti sedang dipeluknya.


"Diamlah sebentar saja, sudah hampir selesai." Ucapnya sambil mengikat tali yang terakhir di sana.


"Kamu lebih lembut dari pria yang menjadi suaminya, kamu juga hebat di Medan tempur. Kenapa kamu menyembunyikan identitasmu? Dan berpura-pura menjadi pria bodoh di depannya?"


Rian tidak menyangka jika Angelina akan mengatakan hal itu padanya. Dia sendiri merasa menikmati tampil bodoh di depan Irna. Demi kebahagiaan wanita yang satu-satunya menjadi labuhan hatinya.


Wanita yang tetap menggenggam hati dan jiwanya sejak awal sampai akhir.


"Dengarkan aku Angelina, aku tidak akan jatuh cinta padamu!" Rian tersenyum sambil membalikkan badannya melambaikan tangannya meninggalkan Angelina menatap dirinya dengan mulut menganga lebar.


"Dasar narsis! Siapa juga yang mau mencintai pangeran ingusan sepertimu!" Umpatnya sambil melangkah menuju ruangan operasi.


Saat dia melangkah masuk dia tiba-tiba menutupi kedua matanya dengan lengan tangannya, karena ruangan tersebut begitu terang benderang menyilaukan matanya.


Bagi Angelina itu adalah pertama kalinya dia masuk ke dalam ruangan operasi.


"Kenapa dokter?" Tanya salah satu rekannya melihat gadis itu tak kunjung memulai proses operasi nya.


"Hah?! Tidak apa-apa!" Ucapnya segera, setelah itu dia buru-buru berdiri di antara mereka di depan meja operasi.


"Berikan ingatanmu sedikit padaku!" Teriak Angelina pada Irna.


"Berikan tubuhku sekarang! Atau berakhir!" Balas Irna.


"Tidak suka-kah aku menyelamatkanmu! Aku sudah membuang racun-racun dalam tubuh lemah-mu!" Teriak Angelina kesal sekali.


Bersambung..


Like, like, like, thanks Readers 😘😍

__ADS_1


__ADS_2