Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Ship captain


__ADS_3

"Suami? Kamu menikah dengan manusia?" Terkejut tidak percaya dengan ucapan Irna.


Rian meletakkan berkasnya di atas meja. "Oh kamu ada tamu hari ini?" Rian tersenyum melihat ke arah Javi Martinez. Tapi tidak dengan Javi, wajahnya begitu tidak senang mendengar kabar pernikahan itu.


"Kenapa kamu terlihat gelisah? Apakah kamu tidak suka aku berkata jujur?" Irna tersenyum, merasa lucu melihat wajah Javi. Dua bersaudara yang aneh.


"Siapa bilang aku gelisah? aku cuma terkejut saja!" Elaknya, kemudian meminum kopinya untuk mengusir rasa canggungnya.


"Aku tidak pernah melihat anda sebelumnya, anda dokter dari rumah sakit mana?" Pertanyaan Rian mengejutkannya. Dia tahu Javi tidak mungkin menunjukkan jati dirinya sebagai seorang raja Interure.


"Saya Presdir dari perusahaan Jnefsy. Saya melihat dokter Kaila begitu kompeten. Saya tertarik untuk menemuinya dan menjadikan mitra bisnis perusahaan saya." Ujarnya segera dengan penuh rasa bangga mengungkapkan status dirinya.


Perusahaan Jnefsy merupakan perusahaan yang memproduksi peralatan medis, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah sakit. Produsen terbesar di London adalah milik Javi Martinez.


"Oh, saya pikir anda sedang mencari jadwal kencan, salah mengira istriku sebagai gadis lajang." Seringainya seraya melirik ke arah Irna.


Irna memijit keningnya, dia tidak tahu sampai kapan dua bersaudara itu akan terus meributkan dirinya. Keduanya saling menjatuhkan lawannya. Berusaha tampil lebih baik dari yang lainnya.


Irna berdiri dari kursinya, Javi yang refleks menggenggam pergelangan tangannya membuat Rian melotot menatap Irna dengan geram.


Irna ganti melotot ke arah Javi. Seandainya saja dia bisa bilang lebih jujur, dia ingin sekali menimpuk kepala pria bertindik itu sambil mengumpat, "Dasar ipar sialan!"


Melihat Irna melotot, dia segera melepaskan pergelangan tangannya. "Anda mau kemana?" Tanyanya santai, seakan-akan tidak ada Rian yang masih berdiri di sana.


"Saya ingin sarapan ke kantin, kalian sama-sama pria, jadi silahkan mengobrol sepuasnya." Nyengir buru-buru keluar dari dalam ruangan kerjanya.


"Kamu menyukainya?!" Bentak Rian setelah Irna keluar dari dalam ruangan.


"Wah, anda begitu jeli, dia begitu manis mana mungkin pria normal sepertiku tidak tergila-gila padanya." Ujarnya terang-terangan menyatakan perasaannya.


Ada kemiripan di antara mereka berdua, sama-sama keras kepala.


"Saya sarankan anda tidak terlalu banyak berharap, karena dia sudah menikah denganku." Ujarnya dengan gusar.


"Pernikahan bukannya hanya status? saya tidak keberatan jika dokter Kaila menjadikan saya sebagai pria simpanannya." Berdiri sambil memegang bahu kanan Rian.


"Aku benar-benar tidak tahu sampai kapan akan bertahan untuk tidak menyentuhnya!" Ucapnya lagi sebelum melangkah keluar pintu.


Rian sangat kesal mendengar kata-kata yang tidak disaring sama sekali itu. Status bohongnya pun tidak bisa membuat pria itu menyingkir dari sekitar Irna. Dia tidak tahu bagaimana kalau Fredian mengetahui perlakuan Javi pada Irna.


Rian menyusul Irna ke kantin, dilihatnya gadis itu sedang mengaduk jus jeruk miliknya di atas meja. Tatapan matanya kosong entah hinggap di mana.


"Apa yang kamu pikirkan?" Menyentuh kedua bahunya dari belakang punggungnya. Irna mendongak melihat Rian berdiri di belakang punggungnya, kemudian mengambil gelas jusnya dan mulai menikmatinya.


"Tidak ada yang aku pikirkan." Gumamnya sambil tersenyum melihat pria di belakang punggungnya telah menghabiskan seluruh isi gelasnya.


"Sejak kapan kamu menyukai jus jeruk? sudah move on dari kopi?" Ujarnya seraya tertawa ringan.


"Sejak seorang gadis terus mengaduknya dan tidak berniat untuk meminumnya."


"Sedekat apa hubunganmu dengan Javi? Apa Fredian tahu bagaimana sikapnya terhadapmu?" Berceloteh seolah dia tidak rela jika mantan istrinya dekat dengan saudaranya tersebut.


"Kamu cemburu padanya? Fredian sudah tahu jauh sebelumnya." Jelasnya santai sekali.


"Aku hanya tidak senang melihatnya terus menempel seperti kutu!" Ungkapnya, tidak bisa menyembunyikan rasa gerah di dalam hatinya.


"Apa kamu tidak ada jadwal operasi hari ini?" Tanya Rian padanya, Irna diam saja mendengar pertanyaan itu.


"Sepertinya ada, tapi kamu mau kan menggantikanku dokter Rian?" Memiringkan kepalanya menatap wajah Rian, mengukir sebuah senyuman manis.


"Hahhahaha! dasar! Presdir malah disuruh-suruh sama karyawannya." Pura-pura menggerutu.


"Tapi aku melihatmu sama sekali tidak keberatan dengan permintaan mantan istrimu ini." Masih tetap tersenyum manis.


"Oke, aku urus operasinya. Sebagai gantinya temani aku makan malam!" Ujarnya sambil menepuk bahu Irna kemudian bergegas menuju ruangan operasi.


"Siap dokter Rian!" Irna tersenyum cerah melihatnya Rian langsung bergegas menggantikan dirinya.


Di ruangan operasi.


"Oh, dokter Rian? Bukankah ini jadwal dokter Kaila?" Tanya seluruh asisten pria yang sedang bertugas di sana. Mereka sengaja berebut untuk jadwal operasi yang ditangani oleh dokter cantik Kaila.


Para asisten dokter bedah level tinggi itu terlihat sangat kecewa, karena malah Rian yang masuk untuk menangani operasinya.


"Rupanya kalian fans berat istriku???!" Tanyanya sambil menekankan suaranya pada kata istriku.


Lima dokter muda itu, langsung terdiam mendengar ucapan Presdir rumah sakit tersebut. Tidak ada yang berani berkomentar lagi.


"Padahal aku sudah siapin pesta makan-makan kalau acara operasi kali ini berjalan lancar! karena Dokter Kaila selalu sukses menangani setiap operasi." Gerutu salah satu dari mereka berlima.


Rian tersenyum mendengar ucapan salah satu stafnya itu. Dia baru kali ini mengetahui alasan kenapa setiap kali operasi, Irna tidak pernah ditemani oleh satupun asisten wanita.


Ternyata jadwal mereka sengaja dimanipulasi oleh dokter-dokter pria muda itu.

__ADS_1


Proses operasi berjalan lancar selama satu jam. Lima asisten yang seharusnya jadi pemegang peran utama di setiap operasi, memilih tempat sebagai asisten di sekitar Irna.


Rian baru kali itu mengetahui kebenarannya.


"Mulai besok, jadwal operasi harus sesuai dengan jadwal masing-masing. Jika sampai aku tahu, para dokter kompeten menjadi asisten lagi! awas kalian!" Ucapnya seraya melepaskan pakaian operasinya, kemudian mencuci tangannya.


"Baik Presdir!" Jawab mereka serempak.


"Kenapa bisa jadi begini sih?" Tanya Alex pada Redi.


"Jangan-jangan ada yang lapor?" Sahut salah seorang lagi dari mereka.


"Kayaknya enggak deh! jangan mikir terlalu jauh. Cuma kebetulan saja."


Rian bersama Irna menuju ke sebuah restoran, mereka duduk berhadapan di sana.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau setiap operasi, ada dokter muda, lima pria tampan sekaligus yang menemanimu?"


"Ah, itu salah satu staf memberikan data mereka, katanya mereka mengajukan diri sebagai asistenku dengan suka rela. Ya aku terima saja. Lagi pula, mendapatkan asisten sehebat itu siapa yang bakal menolak?" Jawabnya santai.


"Apa kamu tahu, mereka sedang merencanakan sesuatu padamu?"


"Mana ada? para asistenku sangat penurut." Kilahnya lagi,


"Kamu cemburu lagi pada mereka?" Irna mencoba menebak kebenaran dari sinar mata Rian.


"Jadwal mereka tidak benar, mana boleh dokter kompeten yang seharusnya menjadi pemegang utama saat operasi, malah menjadi asisten!" Gerutunya mengungkapkan kekesalannya pada Irna.


"Wah sayang sekali, aku harus mendapat asisten yang kurang pandai mulai besok." Pura-pura terlihat sedih.


"Bagaimana jika aku saja yang menjadi asistenmu, mantan istriku?" Tanyanya sambil tersenyum manis.


"Jangan sampai wajahmu terlihat membosankan, pria tampan selalu berada di sekitarku." Guraunya lagi.


Setelah selesai makan malam, Rian mengantarkan Irna kembali. Waktu itu Fredian sedang meeting di sebuah kafe. Irna meminta Rian untuk mengantarkannya ke sana.


Mereka turun dari mobil bersama, Rian melihat klien yang sedang duduk di depan Fredian. Seorang wanita bernama Karin, gadis Italia.


Melihat mereka berdua sibuk membicarakan bisnis. Irna mengurungkan niatnya untuk muncul tiba-tiba di tengah meetingnya.


"Kenapa?" Tanya Rian saat pria itu sudah menyalakan mesin mobil, tiba-tiba Irna kembali masuk ke dalam mobilnya.


"Dia sedang sibuk bersama kliennya." Ujarnya tanpa menoleh ke arah Rian. Irna sedikit takut, karena kliennya terlihat cantik dan juga muda.


"Antar aku pulang ke rumah Fredian saja."


Rian tanpa bertanya lagi langsung melajukan kendaraannya menuju rumah Fredian yang jauh masuk ke dalam hutan.


"Masuklah, aku akan membuatkan kopi untukmu." Tawar Irna padanya. Rian melangkah masuk, seluruh pelayan memberikan hormat padanya.


Pria itu masuk ke dalam ruang baca Fredian, dimana tempat mereka berdua membicarakan masalah penting. Irna tidak mendapati Rian di ruang tengah, dia kemudian masuk ke ruang baca menemuinya.


Irna melihat buku tua di dalam genggaman tangannya. Buku yang telah dibacanya beberapa minggu lalu.


"Buku ini diwariskan padamu?" Tanya Rian padanya. Irna tersenyum mendengar pertanyaan Rian, dia menganggukkan kepalanya.


"Kalian sudah lama pulang?" Fredian masuk ke dalam ruang baca karena tidak mendapati mereka berdua di ruang tamu.


"Sejak melihatmu di kafe bersama Karin." Jawab Rian terang-terangan, dia tidak ingin menyembunyikan sesuatu darinya.


Fredian mengalihkan pandangannya ke arah Irna yang sejak tadi cuek, sibuk memilih buku di atas rak. Sengaja mengabaikan kedatangannya.


"Karena kamu sudah pulang, aku akan pergi dulu." Rian beranjak dari kursinya sambil melambaikan tangannya pada Irna.


"Jangan biarkan burung menangkap ikanmu lagi! Mungkin kamu tidak tahu seberapa banyak burung yang sedang menunggu hasil buruanmu jatuh!" Rian mencoba memperingatkan Fredian, pria itu tidak ingin Fredian kehilangan Irna untuk kesekian kalinya.


"Sebenarnya berapa banyak pria yang sedang menunggu istriku?" Fredian sudah berdiri di belakang punggungnya, pria itu memeluknya erat.


"Tidak sebanyak gadis yang selalu mencoba mencari perhatian dari suamiku." Menoleh ke samping mencium pipi Fredian.


Mereka berdua berpagutan mesra, Irna memeluk lehernya, bermanja-manja sesekali mendaratkan ciuman hangat di bibirnya.


Fredian mengangkat tubuhnya ke atas meja baca yang ada di sana, ciuman bibirnya turun ke leher jenjangnya.


Desahan gadis itu menggugah keinginan dalam hati Fredian untuk bertindak lebih jauh lagi. Perlahan-lahan jemari tangannya menyelinap masuk di balik gaunnya, bermain di sana.


Desahan menjadi irama yang mengalun di tengah malam. Irna memejamkan matanya ketika Fredian mulai mencium bagian bawah tubuhnya, pekikan kecil mengiringi gigitan mesra seraya meremas kepala Fredian.


Punggung Fredian menjadi sasaran cakaran dan pukulan manja gadis itu, ketika dia mempercepat laju kapalnya.


Lenguhan panjang Fredian menjadi akhir dari permainan manis di tengah malam. "Kamu merindukanku?" Bisiknya di telinga Irna.


"Apa responku belum cukup untuk menjawab pertanyaan darimu?" Bisiknya masih menempelkan ujung hidungnya di leher Fredian. Jemari tangannya masih bermain di dada bidangnya.

__ADS_1


Fredian tersenyum mendengar jawaban terang-terangan istrinya. Sikap manjanya membuatnya tidak ingin melepaskan pelukannya.


Pria itu kembali memagut bibir tipisnya, kali ini berapa kali pun dia mau melanjutkannya, tidak ada lagi protes untuk menghentikan tindakannya.


Irna memilih untuk menahan pria itu untuk tetap tinggal di sisinya, dia tidak ingin mengecewakan Fredian. Dia juga membalas ciumannya tak kalah ganasnya. Gadis itu berani menjadi pemegang kendali. Mengambil alih kemudi.


Entah sudah berapa lama mereka terus beradu cinta. Sampai keduanya lemas dan duduk di atas lantai beralaskan sebuah karpet bulu.


Irna menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya. Fredian memeluk bahu istrinya mereka berdua tertidur di dalam ruang baca.


Keesokan harinya, pria itu terjaga. Irna masih tertidur pulas di sebelahnya dengan gaun tidur tipis, membalut seadanya kulit mulusnya.


Sebagian pahanya terlihat ketika dia memutar tubuhnya menghadap ke arahnya.


"Irna?"


"Hem?"


"Sudah pagi sayang."


"Aku tahu."


"Aku ada rapat pagi ini, sekitar pukul sepuluh."


"Lalu?" Masih menutup kedua matanya, malas-malasan bangun.


"Kamu tidak ingin menyiapkan pakaian kerjaku?" Pura-pura mengeluh, padahal para pelayan sudah menyiapkan segala keperluannya.


"Aku lebih suka menemanimu tanpa pakaian, daripada membantumu memakai pakaian." Ujarnya tanpa berpikir panjang, sengaja menggoda Fredian.


Mendengar rayuan manisnya, Fredian beringsut menggelitik pinggangnya.


"Akh! aduh! hentikan! Fred! akh!" Pekiknya seraya beringsut menempel pada dada bidangnya kemudian mencium bibirnya.


"Manis sekali!" Serunya sambil tersenyum manis.


"Bibirku manis?" Fredian terkejut, baru kali itu Irna begitu berani. Dan juga malam tadi terasa sangat luar biasa. Tidak pernah Irna menyatakan bahwa dirinya adalah pemilik satu-satunya tubuh pria di depannya sekarang.


"Mulai detik ini, ini, ini, ini, semuanya yang ada di sini hanyalah milik Kaila Elzana!" Ujarnya menunjuk hidung, mata, bibir, lehernya kemudian kembali merebahkan kepalanya di atas dadanya.


"Kamu yakin kita akan terus seperti ini? tidak akan berangkat bekerja? tidak ada operasi lagi?"


"Ada, tapi Rian sudah mengatur jadwal baru. Dia merubah asisten kompetenku menjadi asisten biasa. Menyebalkan sekali." Gerutunya di telinga suaminya.


"Memangnya siapa asisten kompetenmu itu?"


"Lima Dokter pria, mereka biasanya menjadi pemegang utama proses operasi."


"Ya tentu saja, harus dirubah jadwalnya. Siapa yang menangani operasi selanjutnya jika mereka semua bergabung ke dalam timmu?"


"Mereka masuk dalam timku secara sukarela, mereka juga tetap mengambil jadwal operasinya sendiri." Keluhnya lagi sambil cemberut.


"Ah, apa Karin akan datang lagi ke Resort?" Mulai bertanya pada Fredian tentang klien yang dia temui di kafe semalam.


"Iya, dia ikut dalam jadwal meeting kali ini." Jelasnya, masih memeluk Irna.


"Jangan dekat-dekat dengannya, aku mencium aroma cinta dari seorang wanita muda!" Keluhnya lagi.


"Dia seusia dengan Nira. Aku lebih menyukaimu dari pada wanita lainnya. Istriku lebih menarik dan tidak pernah membuatku bosan. Jaga kandunganmu baik-baik." Bisik Fredian di telinganya.


"Darimana kamu tahu aku hamil sekarang?" Mengerjapkan matanya, terkejut Fredian mengetahuinya lebih dulu.


"Aku mendengarnya berteriak padaku, memintaku untuk tidak bermain terlalu kasar." Serunya sambil tertawa terbahak-bahak.


"Kamu mempermainkanku! dasar penggoda! buk! buk! buk!" Irna memukulinya dengan bantal, merasa kesal sekali.


Pikirnya pria itu sedang serius mengetahuinya, tapi ternyata hanya bercanda. "Berhentilah bercanda, aku akan melakukan tes kehamilan nanti. Bagaimana jika aku benar-benar hamil?" Tanyanya lagi, dia mencoba mencari tahu bagaimana ekspresi wajah suaminya.


"Tentu saja aku sangat bahagia! aku sangat senang ketika tahu istriku hamil. Apalagi?"


"Aku pikir, aku sudah terlalu tua untuk hamil!" Gerutunya merasa malu, mengingat usianya sudah sangat tua.


"Kamu masih sama, seperti berusia dua puluh lima tahun lalu." Bisiknya lagi.


"Sepertinya kita berdua akan terlambat ke kantor!" Irna buru-buru berdiri dan berlari ke kamar mandi, Fredian ikut mengejarnya di belakang punggungnya.


"Kamu? Kenapa ikut masuk kemari?" Tanyanya saat menyalakan kran shower di atas kepalanya, dan mulai mengguyur tubuhnya.


"Sudah lama kita tidak mandi bersama." Menyeringai melangkah mendekat, berdiri menatap wajah Irna yang sudah basah kuyup.


Bersambung...


Note: jangan pelit kasih like 🤤🤤🤤🤤🤤

__ADS_1


__ADS_2