Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Farewell between friends


__ADS_3

Setelah menyatakan maksud kedatangan mereka kepada Fredian dan Rian para vampir itu kemudian kembali ke negara asalnya. Para vampir tersebut menyatakan kesetiaannya pada mereka bertiga.


"Kalian sudah menemukannya kan?" Irna melirik kedua pria yang sedang duduk berjajar di sofa.


"Ya, benar seperti apa yang kamu bilang." Ujar Rian seraya berdiri bersiap pergi.


"Aku akan kembali, apakah kamu masih mengambil cuti untuk besok? tiga hari cuti sama dengan resign. Aku butuh dokter yang terampil juga patuh pada aturan rumah sakit." Rian mulai mengeluh karena Irna terlalu banyak mengambil libur.


"Aku masuk besok!" Jawabnya cepat.


Fredian hanya bisa menghela nafas panjang, mendengar istrinya akan kembali sibuk bekerja.


"Kenapa wajahmu terlihat tidak senang? apa kamu ingin Irna berhenti dari rumah sakitku?" Rian memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celananya, menunggu keputusan dari Fredian.


"Jika saja aku bisa membuatnya resign! tapi aku menghargai keputusannya. Dia bukan tahananku!" Fredian tersenyum melihat ke arah Irna, dia tahu betul apa yang diinginkan olehnya.


"Baiklah aku pergi dulu, satu lagi! jangan membuat kakinya gemetar! jika sampai terjadi sesuatu di ruangan operasi gara-gara satu kesalahan saja! aku akan memecatnya! aku akan merekrut dokter lain untuk menggantikannya!" Gerutu Rian seraya melihat mereka berdua.


"Jadi maksudmu, aku tidak boleh melakukan hubungan intim dengan istriku?!" Fredian mulai gusar mendengar ucapan darinya.


"Apa kamu pikir aku gila?? lakukan saja sesuka kalian, tapi tahulah batasnya. Kalian juga bukan anak SD! kenapa aku harus menyatakan semua ini?" Pergi keluar dari rumah Fredian dengan sedikit kesal.


Fredian tidak bisa menahan amarahnya lagi pria itu melangkah keluar rumah menghentikan langkah Rian, "Apa kamu cemburu padaku?" Fredian mencoba menerka isi dalam hatinya.


"Apa kamu tidak waras? jika aku cemburu padamu, kenapa aku mengembalikan istriku padamu??? kenapa aku menceraikannya ketika aku sangat mencintainya! braaakkk!" Rian melompat masuk ke dalam mobilnya kemudian melajukan kendaraannya pergi meninggalkan rumah Fredian.


Rian menghela nafas panjang di dalam mobilnya, dia masih tidak mengira jika Fredian akan mengatakan bahwa dia memperingatinya karena sebuah kecemburuan.


"Sampai kapan dia akan meragukannya? belum cukupkah aku memberikan segalanya untuknya? jika aku mau! jika aku mau aku tidak akan pernah menyerahkannya padamu!" Geram Rian dalam hatinya.


"Kenapa kalian meributkan hal itu lagi?" Irna menuang air di dalam gelas, gadis itu sudah berganti pakaian dengan pakaian biasa. Ia berdiri di ruang tengah meneguk minuman dalam gelasnya.


Fredian melemparkan tubuhnya di atas sofa, pria itu melihat sekilas ke arah Irna. "Apa kalian melakukan sesuatu di belakangku?" kata-kata yang sudah bertahun-tahun tidak pernah di dengarnya lagi. Hari ini terdengar begitu merdu di telinga Irna, saking merdunya hingga membuat tusukan pedih merayap di ulu hatinya.


"Hem." Hanya itu yang meluncur dari Irna. Gadis itu menggelengkan kepalanya, dia enggan menepis kecurigaan Fredian. Mungkin karena terlalu lelah dicurigai, terlalu lelah untuk bertengkar.


"Kamu mengiyakan pertanyaan dariku?" Fredian terhenyak, pria itu melangkah mendekatinya. Dia memutar tubuh Irna mencengkeram erat kedua bahunya. Terlihat jelas amarah dan rasa cemburunya hampir meledak keluar.


Irna tersenyum kemudian memeluk pinggangnya. Apa yang dilakukan Irna membuat Fredian terdiam, dia tidak tahu apakah masih harus marah lagi padanya. Pelukan hangat Irna menjadi sebuah jawaban untuknya.


Dan dia tidak ingin bertengkar lagi dengannya, "Rian hanya menuntut profesionalisme dalam bekerja, kamu tahu hampir seluruh rumah sakit besar berada di bawah naungan keluarga Aditama? menurutmu kemana aku bisa pergi? dan dia juga bukan orang lain, Fred, apa kamu masih mencemburuinya? coba lihatlah mataku? apa aku terlihat seperti wanita penggoda di matamu?" Irna mendongak menatap wajah Fredian, pria itu melihat jauh ke dalam sinar matanya. Kemudian dia tersenyum lalu mengecup keningnya.


Pria itu memagut bibirnya dengan lembut, "Fred?"


"Hem."


"Kamu masih marah padaku?" Menggesekkan kepalanya di dada bidangnya.


Fredian mengusap lembut rambutnya, membalas pelukannya. "Aku masih marah padamu." Pura-pura merajuk, melepaskan pelukannya dan pergi menuju kamarnya.


"Fredd, kenapa kamu meragukanku? apakah kehangatan kita beberapa hari ini tidak cukup menjadi jawabannya?" Irna menyusulnya masuk ke dalam kamarnya. Dia berdiri di luar pintu kamar mandi, menunggu pria itu menyelesaikan mandinya.


Beberapa menit kemudian Fredian keluar dengan baju mandinya, rambutnya masih basah, ada handuk kecil di atas kepalanya. Dia menggunakan itu untuk mengeringkan rambutnya.


Irna kembali memeluk pinggangnya, tiba-tiba Fredian melepaskan pelukannya dari pinggangnya. "Aku harus memeriksa berkasku, kamu tidurlah dulu." Pria itu keluar dari dalam kamar meninggalkan Irna sendirian di sana.


"Huffftttt! hampir saja aku tidak bisa menahannya!" Fredian bersandar di luar daun pintu kamarnya. Mengehela nafas panjang kemudian kembali berjalan menuju ke ruang kerjanya.


"Kenapa dia selalu terlihat menggoda!" Gerutunya lagi, pria itu sudah berada di dalam ruang baca. Dia mulai membuka berkasnya, dan mempelajarinya.

__ADS_1


Irna sendirian duduk di tepi tempat tidurnya gadis itu masih bertanya-tanya kenapa Fredian menjauhinya, "Apa dia menghindariku karena dia tidak ingin melihatku sakit?" Perlahan-lahan kantuk menyerang hingga dia tertidur pulas.


Irna terjaga, dia mendapati lengan Fredian sudah berada di atas pinggangnya. Irna tersenyum kemudian membalikkan badan menghadap ke arahnya.


Dia melihat Fredian sudah tertidur pulas, gadis itu kemudian membenami kepalanya di dadanya, lalu memejamkan matanya kembali.


Fredian terjaga sekitar pukul tiga pagi, dia melihat Irna menyembunyikan wajahnya ke dalam rengkuhannya. Pria itu tersenyum mengusap kepalanya dengan lembut.


"Fred? kamu sudah bangun? pukul berapa sekarang? apa kamu akan berangkat ke kantor?" Irna mengatakan semuanya sementara matanya masih terpejam berada di dalam alam bawah sadarnya.


"Kamu mengigau? tidurlah lagi, masih terlalu pagi untuk bangun." Fredian tersenyum melihat Irna. Pria itu begitu menyayanginya, dia tidak ingin melihat air matanya menetes lagi. Baginya Irna adalah satu-satunya gadis yang dia cintai sejak awal hingga akhir.


Pagi harinya...


"Fred, bangun. Sudah pagi.." Irna mengguncang bahunya untuk membangunkannya. Pria itu begitu erat memeluknya, Irna kesulitan menyingkirkan tangannya dari pinggangnya.


"Nyaman sekali memelukmu seperti ini." Bisiknya di telinga Irna.


"Apa kamu yakin tidak akan pergi ke kantor? kita bisa terlambat untuk bekerja." Irna mencubit kedua pipinya.


"Bolehkah aku memintanya sekali saja?" Fredian membuka matanya menatap lekat-lekat wajah Irna.


Irna tidak sampai hati menolaknya, dia mencium bibir Fredian. Tangan Fredian perlahan-lahan melepaskan helai demi helai baju yang membalut tubuhnya, juga tubuh Irna.


Ciuman hangat mendarat di leher jenjangnya, turun ke bawah, dan ke bawah lagi di belahan area sensitifnya. Irna mendongakkan kepalanya menikmati permainan bibir suaminya di sana. "Akkhhh, Fred.. mmmh!"


Tidak lama, Fredian mulai memagut kembali bibirnya. Membuka kedua pahanya, memulai aksi permainannya. Decakan-decakan lembut terdengar pada pagi hari itu mengiringi permainan panas mereka berdua.


"Hanya tiga puluh menit." Bisiknya di telinga Irna kemudian segera mengakhirinya. Lenguhan panjangnya bersamaan dengan pekikan Irna seraya meremas lengannya dengan kuat.


Setelah menyelesaikannya Fredian melangkah masuk ke dalam kamar mandi, Irna tidak merasakan nyeri pada kakinya. Dia juga berniat membersihkan tubuhnya,


Setelah bersiap-siap mereka menikmati sarapan pagi bersama di meja makan. "Apa masih sakit?" Fredian tersenyum menatap Irna, gadis itu tidak mengeluh seperti kemarin.


"Kamu ingin aku mengantarmu?" Tawarnya pada Irna. Dia sudah tahu Irna akan berangkat sendiri ke rumah sakit. Tapi dia lebih senang bisa mengantarkan istri tersayangnya itu.


"Jika kamu mengantarkanku? apakah bisa dipastikan untuk pergi menjemputku? aku bahkan tidak tahu pukul berapa nanti pulang, aku akan naik mobil sendiri saja." Irna tersenyum menatap Fredian, pria itu sepertinya menyetujui jawaban darinya.


Mereka akhirnya berangkat sendiri-sendiri ke tempat kerja masing-masing.


Sampai di rumah sakit Irna masuk ke dalam ruangan kerjanya, melihat berkasnya lalu pergi menuju ruangan ICU untuk memeriksa pasien.


Rian baru sampai pagi itu, dia melihat mobil Irna di parkiran rumah sakitnya. Pria itu masuk ke dalam menuju ruangan kerjanya sendiri. Saat sampai di sana dia meminta asistennya untuk memberikan berkas daftar operasi pada Irna di ruangan kerjanya.


Irna baru selesai memeriksa pasien, gadis itu keluar dari ruangan ICU kembali ke dalam kantornya. Dia melihat asisten Rian sedang berdiri di luar pintu, "Apa ada yang ingin kamu sampaikan padaku?"


Pria asisten Rian menyodorkan berkas jadwal operasi hari itu. Ada tiga jadwal operasi yang telah menunggunya. Irna menganggukkan kepalanya, pria itu berpamitan pergi untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.


Irna menyerahkan persetujuannya untuk melakukan operasi hari itu kembali pada asisten tersebut, untuk dibawa kembali ke meja Rian.


"Apa dia mengatakan sesuatu tentangku? atau bertanya?" Tanya Rian pada asistennya itu.


"Tidak ada Presdir, dokter Kaila hanya mengangguk kemudian menandatanganinya."


Pria itu kemudian undur diri, kembali keruang kerjanya.


Rian mulai membuat batasan untuk dirinya sendiri dan Irna. Mulai hari ini dan seterusnya, sebisa mungkin dia akan menjauhi mantan istrinya itu. Sudah dibulatkan tekadnya, untuk pergi darinya, dari sekitarnya.


Dia sangat tidak nyaman mendengar perkataan dari Fredian. Dia merasa terluka karenanya, semua ucapannya disalahtafsirkan. Dia sendiri tidak tahu harus bagaimana lagi, mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk semuanya.

__ADS_1


Irna menuju ke ruangan operasi, dan partnernya adalah Rian Aditama. Rian sendiri merasa telah menjilat ludahnya sendiri gara-gara tim operasi tidak masuk bersamaan hari itu.


Sebisa mungkin pria itu tidak bertanya padanya kecuali yang berhubungan dengan pasiennya. Satu setengah jam mereka berdua berhasil menyelesaikan pekerjaannya. Irna dan Rian masuk ke ruang ganti melepaskan baju operasi milik masingmasing.


Rian tidak bertanya, atau menyapa dirinya seperti biasanya. Pria itu terlihat sangat dingin dan sama sekali tidak ingin menanyakan persoalan apapun padanya.


Setelah selesai Rian mencuci tangannya dan pergi meninggalkan Irna sendirian di westafel. Gadis itu masih mencuci tangannya, dia tahu Rian berusaha untuk melupakan segalanya. Segala hal yang berhubungan dengan dirinya.


Jika dia ingat waktu tahun-tahun sebelumnya, pria itu menangis sesenggukan memintanya untuk tetap tinggal di sisinya. Dan memintanya untuk tidak menepisnya menjauh.


Dan sekarang pria itu sudah tidak pernah tersenyum lagi. Tidak pernah menyapanya lagi sama sekali seperti orang asing yang tidak pernah terlibat hubungan apapun.


Ini adalah operasi keduanya, di mulai sekitar pukul satu siang. Irna dan salah satu fellow di sana menangani operasi tersebut selama tiga jam.


Setelah berganti pakaian, Irna menyelonjorkan kakinya di lorong rumah sakit. Gadis itu terlihat sangat kelelahan. Dan tiba-tiba seorang asisten Rian datang menyodorkan sesuatu padanya, juga sebuah kotak berisi gaun.


"Undangan pernikahan?" Irna mencermati undangan pernikahan tersebut, salah satu klien Rian mengundang mereka berdua untuk menghadiri acara pernikahan putra mereka.


Dan acara tersebut berlangsung malam ini, kini dia tahu kenapa dia memberikan gaun di dalam kotak tersebut lalu menyerahkan kepadanya.


Setelah operasi ketiganya, Irna mandi di rumah sakit. Kemudian berdandan di sana. Irna membuka kotaknya, tidak hanya gaun tapi juga perhiasan, dan high heelsnya. Irna memiringkan kepalanya memikirkanya, dia tidak mungkin pergi naik di mobil bersama Rian.


Setelah selesai bersiap-siap Irna meraih tasnya, dan menuju ke lokasi pesta pernikahan tersebut. Rian lebih dahulu datang pria itu menunggunya di luar gedung pesta pernikahan tersebut.


Irna melangkah masuk bersama dengan Rian ke dalam ruangan tanpa berpegangan tangan ataupun saling menatap satu sama lain, benar-benar seperti orang asing, kedatangan mereka berdua disambut hangat oleh tuan Boris Yeltsin.


Irna duduk di satu meja, berhadapan dengan Rian. Pria itu masih terdiam dia cenderung melemparkan pandangannya ke arah para tamu lain, dan beberapa menit kemudian berdiri bercakap-cakap dengan rekan bisnisnya di sana. Meninggalkan Irna sendirian di mejanya.


"Hahahaha, dia benar-benar menganggapku sebagai patung, ya lanjutkan saja sesuka hatimu. Aku juga tidak bisa berbuat yang lebih baik selain mengikutinya." Gumam Irna sambil meneguk minumannya.


"Triiing!" Ponsel Irna tiba-tiba berdering, gadis itu segera menuju ke toilet untuk menerima panggilan karena di ruang pesta terlalu bising.


"Ada apa Fred?" Tanyanya pada suaminya.


"Kamu kapan akan pulang?" Tanyanya pada Irna. Pria itu masih berada di dalam kolam renang Resort.


"Aku ada undangan pernikahan malam ini, mungkin aku akan pulang agak malam. Kami mendapat undangan bersama, aku dan Rian." Jelasnya pada Fredian, dia berharap pria itu tidak akan marah padanya. Irna menunggunya untuk mengatakan sesuatu padanya.


Tapi nihil, Fredian diam saja kemudian mematikan ponselnya, memutuskan sambungan telepon.


Irna meremas gaunnya, ada rasa kesal menggelayut di hatinya. "Sampai kapan kamu akan berhenti mencurigainya Fred!" Keluh Irna sambil memijit keningnya, kemudian keluar dari toilet.


Di mata publik Rian dan Irna adalah pasangan suami istri. Irna berniat membuka segalanya malam itu, jika mereka tidak terlibat satu sama lain. Dia pikir itu adalah jalan satu-satunya yang terbaik.


Irna tidak tahu jika dia membuka status lajangnya kembali apa yang akan terjadi setelah itu. Rian demi melindungi dirinya tidak membuka status tersebut di depan publik.


Irna berpamitan kepada tuan Boris Yeltsin untuk meninggalkan pesta pernikahan tersebut. Dia tahu ini sangat tidak sopan dan mungkin akan mempermalukan Rian.


"Bagaimana dengan Presdir Rian? apakah kalian tidak berangkat bersama-sama kemari?"


"Kami sebenarnya sudah lama berpisah, permisi saya harus segera kembali." Irna membungkukkan badannya bersikap hormat kemudian melangkah pergi meninggalkan pesta tersebut.


Rian mendengar ucapannya, pria itu masih terlihat sangat santai berbicara dengan beberapa orang di pesta.


Tuan Boris Yeltsin sendiri bisa memaklumi hal tersebut. Tidak ada yang tidak mungkin terjadi dalam setiap hubungan pernikahan.


Saat acara tersebut selesai, Rian berpamitan dengan tuan Boris, "Maafkan aku, jika aku tahu perpisahan kalian mungkin aku hanya akan mengundangmu seorang diri." Ujar pria paruh baya tersebut seraya menepuk bahunya.


"Tidak apa-apa tuan. Saya memakluminya, karena saya juga tidak mengabarkan pernikahan kami sudah selesai pada publik, mungkin setelah hari ini publik akan tahu kebenarannya." Rian tersenyum kemudian melangkah keluar menuju mobilnya.

__ADS_1


*Bersambung...


Tinggalkan like sebelum pergi.. thanks for reading*..


__ADS_2